Berjalan dari Dalam Hati

2012/06/29

learn to create a story -part 1

Suatu kenangan..

Bagiku. Bola basket adalah salah satu benda mati yang akan aku ingat seumur hidupku. Mengapa tidak? Dalam memori kecilku ini tersimpan kenangan indah yang ada kaitannya dengan permainan bola basket ini. Yaitu Anna. Anna adalah salah satu junior perempuan yang mengikuti tim basketku. Dan hanya sebagia yang tau bahwa aku, yang seorang senior basket Anna ini,adalah juga sebagai pacar dari anak perempuan yang berparas manis itu.
Ada banyak kenangan sampai sekarang setiap aku melihat bola basket. Aku ingat saat aku kelas 2 SMA. Aku di bayar oleh bapak Gatot (Pembina olahraga di SMP1) untuk melatih basket di SMP ku dulu. Dan sekarang Anna adalah siswi kelas 3 di SMP itu. Dan tidak hanya aku. Ada dua orang sahabatku yang juga alumni dari SMP 1 ini. Yang dibayar untuk membina olahraga bola basket di situ. Yaitu Bekti dan Renaldi. Saat itu Renaldi juga sedang berpacaraan dengan salah satu sahabat Anna di gereja yang sudah ia anggap seperti saudara sendiri. Yaitu Tika.
Sore itu sedang tidak ada materi yang disampaikan kami bertiga (aku. Bekti. Renaldi). Kami memutuskan mengadakan game di antara junior kami itu. Dan siapa pemenangnya akan melawan kami. Tim senior yang akan mengambil beberapa junior yang terlihat perkembangannya.
Aku ingat saat itu ada suatu kejadian kecil yang menyejukkan bila aku mengingatnya. Sampai saat ini. Yaitu pada saat timku dan tim Anna bertanding. Aku dan Anna sempat beberapa kali saling mengolok dengan sesekali menjulurkan lidah. Kejadian sepele yang menurut beberapa orang mungkin tidak penting ini. Adalah suatu hal berharga bagiku. Karena itu adalah salah satu penyebab kenapa aku tidak bisa melupakannya sampai kapanpun. Senyuman dan tawa riang Anna benar- benar membekas sampai sekarang. Aku yakin tidak akan menemukan sosok seperti dia untuk kedua kalinya. Tidak akan pernah.
Hal serupa juga terjadi saat latihan di SMP 5. Anna yang hanya duduk dipinggir lapangan bersama teman- temannya benar-benar mebuatku tidak konsentrasi saat berada dilapangan. Mataku seolah panah pada kompas yang selalu mengarah ke utara, dan arah utara itu sendiri adalah mata indah Anna yang juga selalu memperhatikanku.
Saat itu Anna baru pulang liburan dari Balikpapan. Dia terlihat tidak biasa. Lebih manis dari biasanya. Dan dalam hati aku bersykur bisa menjadi sosok pria terindah yang ada dihatinya saat itu. Wajah polos khas SMP itu benar-benar menghantuiku. Dan seakan berkata. Mata dan senyumannya seolah berkata agar aku tidak menjauh darinya. Saat itu aku berjanji. Tidak akan pernah pergi darimu. Sampai waktu memisahkan kita.
Pernah juga pada suatu hari minggu. aku dan Anna jogging bareng. Aku ingat saat itu masih pagi sekali. Sekitar pukul 5 lebih aku sudah melangkaghkan kaki keluar rumah dan berlari kecil menuju rumah Anna. Anna meminta agar aku menunggunya tidak jauh dari rumahnya. Tak lama kemudian. Anna datang memakai kaos putih dan celana basket. Dia tampak sangat alami. Sungguh ini adalah salah satu daya tariknya. Dia tidak terbiasa tampil dengan dandanan. Namun selalu tampak bahwa kecantikannya adalah suatu hal alami yang begitu memikatku.
Kamipun memulai lari pagi itu. Saat itu aku benar- benar merasakan sesuatu yang berbeda dari yang pernah kurasakan saat aku bersama wanita lain. Langit dan embun pagi seolah tersenyum kepada kami berdua. Kicauan burung- burung yang bertebaran di langit yang masih belum cerah itu seolah mengiringi kami berdua. Dan setiap orang- orang yang kami temui selama jogging, selalu tersenyum. Seolah mereka menyetujui dua makhluk Tuhan ini untuk tetap bersama sampai kapanpun. Dan bagiku. Belum ada kata- kata indah yang pantas untuk menjelaskan seberapa indahnya Anna di hatiku.
Sepanjang jalan selama jogging. Kami larut dalam tawa dan candaan yang mengasyikkan. Yang membuat semua orang  merasa iri akan indahnya kisah kami berdua. Saat itu aku terlalu asyik sampai tidak sadar meninggalkan Anna yang berada jauh di belakang. Aku berbalik dan menghampirinya. Ternyata Anna sedang menstruasi.  Dan bagi wanita, berlari di saat menstruasi memang sesuatu yang menyulitkan. Aku pun memutuskan untuk membawanya ke pinggir jalan dan duduk diatas trotoar. Orang- orang masih banyak bolak- balik jalur utama daerah kami ini. Yang setiap hari minggu memang di gunakan untuk jogging dan jalan santai orang tua maupun anak muda disini. Termasuk aku dan Anna.
Aku dan Anna kembali terbawa dalam suasana cinta yang indah. Hanya bersama Anna aku bisa merasakan suatu kebahagiaan yang berbeda pada saat apapun dan dimanapun. Itulah uniknya Anna. semua yang berada disekitarny selalu merasa nyaman. Terutama aku..
Selesai jogging, aku dan Anna segera memutuskan untuk pergi latihan basket bersama. Belum saja menginjakkan kaki di lapangan. Baru saja memasuki gerbang SMP 5 (pada hari minggu pagi, latihan basket berlangsung di SMP 5). Semua yang ada dilapangan menyoraki kami. Mengolok dengan penuh tawa. Kami merasa malu. Malu bahagia. Karena teman- teman di lapangan menyambut kami dengan penuh bahagia. Dan saat itu. Akulah yang paling bahagia karena aku menggandeng seorang wanita manis yang sangat di inginkan pria- pria lain ini.
Aku juga ingat saat aku mempraktekkan lay up kepada juniorku. Saat itu Anna memperhatikanku dengan seksama. Aku menjadi gugup dibuatnya. Yang lain hanya bisa tertawa melihat sifat gugupku itu. Dan dibalik mereka. Senyuman manis Anna mengembang penuh cinta kepadaku. Aku senang.. senyumanmu Anna.. adalah penghidup dari kematian hatiku dan pengokoh dari retaknya jiwaku. Kamu benar- benar sosok bidadari yang ada dalam dongeng hatiku. Aku sayang padamu..
Maih banyak kejadian dilapangan yang ada didalam memoriku. Aku ingat saat itusedang libur. Anna datang kerumahku dan mengajak untuk sarapan bubur ayam. Saat itu dia memakai pakaian yang sederhana. Apa adanya. Hanya t-shirt biasa dan celana basket. Aku kagum padanya yang seperti ini. Benar- benar sosok wanita impianku. Selagi makan bubur ayam di warung yang tidak jauh dari rumahku. Kami menyempatkan diri berfoto bersama sewaktu makan bubur ayam itu. Dan dalam memoriku. Masih teringan jelas raut wajah Anna yang tersenyum bahagia pada saat itu.
Setelah itu aku dan Anna beranjak pergi menuju sekolahku (SMA 1). Lebihi tepatnya ke lapangan basket. Disana ada beberapa teman sekolah Anna yang juga junior di klub basket ku. Anna mengajakku untuk keliling sekolah ku ini. Aku mengiyakan saja. Sampai didekat parkiran guru yang memang sepi itu. Anna mengajakku berhenti dan duduk sejenak disitu. Anna mengajakku melihat hasil foto sewaktu di warung bubur ayam tadi. Saat kami berdua. Kami malah lebih terbuka dan mampu memperlihatkan sosok diri kami yang sebenarnya. Aku dan Anna benar- benar terbawa suasana saat itu.
Saat sedang asik bercerita dan bercanda. Anna reflek mencium pipi kiriku. Aku terdiam. Saat aku menatapnya. Hanya senyum kecil dan rangkulannya yang menjawabku. Dan saat dia berbicara. Suara lembutnya mengatakan ‘’aku kangeen bangeet’’. Ah, memang aku dan Anna sangat jarang untuk bisa jalan berdua seperti ini. Selain harus main kucing- kucingan dari orang tua Anna. anna sendiri sudah kelas 3 SMP dan harus focus ujian dengan giat belajar dan les di berbagai tempat. Aku pun spontan membalas ciuman itu dengan ciuman di pipi kanan Anna. saat itu tidak ada niat sama sekali untuk melecehkan atau pun berpikiran nakal dengan Anna. sungguh tidak ada. Itu hal yang tulus kulakukan seperti yang dilakukan Anna kepadaku. Ciuman di pipi itu benar- benar membekas sampai sekarang. Memang bekas nyata ciuman itu bisa hilang dengan cuci muka biasa. Namun bekas di hati ini tidak akan hilang walau dengan apapun.
Sepulang dari lapangan basket. Anna bergegas pulang. Aku mengirimkan SMS kepadanya bahwa aku ingin meminjam baju basketnya. Saat itu tim basketku mempunyai 2 kostum. Biru muda untuk cowok. Dan hitam untuk cewek. Aku dan Anna memesan nomor yang sama. Nomor 1. Karena itulah anggka 1 merupakan angka kesenanganku sampai sekarang. Entah kenapa tapi saat angka 1 ada dihadapan mataku. Aku selalu teringan akan Anna. aku meminjam baju itu untuk kubawa pulang dan ku foto berdampingan dengan baju milikku.
Terlalu banyak kenangan terindah saat bersama Anna dulu. Hal- hal kecil seperti saling ejek saat bermain basket. Makan bubur ayam. Jogging. Pinjam- pinjaman baju. Sesungguhnya merupakan detik- detik terindah yang sangat sulit tuk diungkapkan dan dilupakan. Mungkin kalian akan sulit menerima atau membayangkan kisahku ini. Namun aku. Masih bisa melihat Anna dengan jelas dihatiku. Walaupun kami sudah tidak memiliki hubungan dan tidak pernah berkomunikasi lagi. Ditambah lagi dengan sekolah yang berbeda kota. Aku masih mengingatmu.. anna.

1 comment:

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)