Berjalan dari Dalam Hati

2012/07/30

Fiction 'For Stella' Part 3; Awkward Moment


         


‘For Stella’ adalah cerita fiksi bersambung dengan genre “komedi-romantis”. Penulis, Aziz Ramlie Adam, adalah seorang fans salah satu member JKT48 yang bernama Stella Cornelia. Berkat integritasnya dalam mengidolakan idol group yang satu ini, maka melahirkan inspirasi tersendiri untuk menghasilkan Fanfic for Idol ini.


Episode sebelumnya (part 2); “Kunjungan Aziz dan Budi ke rumah Ayu, berhasil mempertemukan Aziz dan Stella lagi. Kejadian kejar-kejaran di dalam rumah Ayu ternyata memberikan kenyataan bahwa Stella adalah kakak sepupu Ayu”. Selengkapnya bisa baca DI SINI.

Berikut adalah episode terbaru (part 3), happy reading, guys!


Awkward Moment


"Hoaaahm.."

Kalau dihitung- hitung, udah 9 kali gue nguap sejak tadi. Budi yang nyetir mobil disebelah gue jadi sering tutup hidung. Entah kenapa, tapi perasaan dari tadi kita nggak ada nyelip truk sampah atau pick up pengangkut ayam. Whatever, sekali lagi gue nguap.

"Hoaaahhmm.."

"Kampret. Nggak cukup lu tidur, tadi?" Budi mulai angkat bicara.

"Nggak.. gue cuma lagi bete aja, pengin cepet pulang"

Yap, masih terbayang jelas kejadian dirumah Ayu tadi. Sambil merendahkan sandaran jok, gue kembali melamun. Ternyata, Stella itu kakak sepupu Ayu dari luar kota. Dia kesini dalam rangka daftar ulang, sekalian liburan bareng adeknya, Sonia. Ini semua ngejawab pertanyaan gue kenapa dia akrab dengan Sonya yang juga dari kota yang sama dengan Stella.

Jalan P. Diponegoro, rumah Budi kurang lebih 200 meter lagi. Dia turun, lalu gue bergegas pulang pengin mandi melepas gerah ini. Ahahaha, dalam hati, gue ketawa gara- gara kebayang muka Stella waktu gue geplak pake pintu. Lucu, cantik..

Sebelum sampai kerumah, gue menyempatkan diri untuk membeli beberapa coklat kesukaan gue di sebuah supermarket. Seenggaknya, coklat dan rumah adalah 2 hal yang bisa buat gue refreshing. Gue paling suka Ferrero Rocher, kombinasi coklat susu dan wafer renyah serta tampilannya dengan plastik emas, membuat gue fanatik banget terhadap coklat ini. Gue ingat waktu SD gue sempat bercita- cita jadi Chocolate-man. Sejenis pahlawan super yang menolong orang hanya pada saat Valentine. Entahlah..

Gue sampai didepan rumah, dengan pagar rumah agak sedikit terbuka. Setelah memasukkan mobil kedalam garasi, gue masuk melalui pintu samping. Saat masuk kedalam rumah.. oh.. inilah rasanya home sweat home bagi gue. Nyaman banget. Ada bau tersendiri kalau masuk rumah. Seperti.. mie goreng rendang.

Gue iseng ngecek dapur. Sebagai anak yang kolot dalam hal memasak, tentu ini sangat aneh bagi kalian. Seperti biasa, kalau ke dapur gue cuma buka lemari es, terus gue tutup lagi. Yang kedua, selalu ngecek meja makan. Dan .. nah, makanan tersedia lengkap. 4 sehat 5 kekenyangan. Gue hapal banget yang bisa ngelakuin ini cuma 1 orang, Dhike.

Dhike adalah adek sepupu gue yang lebih muda setahun. Sekarang dia kelas 3 SMA. Gue sama Dhike udah deket mulai kita masih bayi. Gue inget, dulu pernah main bola bareng dia di belakang kebun nenek. Dia jadi striker, gue jadi bola.

Sejak dia masuk SMA, dia sering maen kerumah gue untuk sekedar iseng bersih- bersih dan masak. Nggak lama kemudian, gue ngasih dia kunci cadangan rumah gue supaya dia bisa masuk kapan aja.

Gue segera makan dengan lahapnya. Masakan Dhike emang nomer 1 bagi gue. Bokapnya yang merupakan kakak bokap gue, adalah pemilik salah satu restaurant besar di kota ini. Nggak heran kalau kehidupannya nggak jauh dari makanan. Beda sama gue, bokap memiliki sebuah hotel. Jadi nggak heran kalau kehidupan gue nggak jauh sama kasur.

Sebelum mandi, gue ngecek Blackberry,

'Ziz, Basecamp

SMS dari Adit. Dia kayaknya udah ke basecamp. Gue emang ada janji sama dia, dan Ozi. Sebenernya bukan gue yang janji, tapi mereka aja yang maksa gue supaya datang jam 7 malam ini. Ancamannya berat, kalau gue nggak dateng, mereka bakal nyebarin foto gue waktu ngupil. Gue bergegas ngambil handuk, lalu mandi.

Sebelum pergi, nggak lupa gue ngasih makanan untuk kucing Toyger gue. Kucing ini termasuk unik, juga termasuk ras mahal dan langka. 3 kucing setia ini, udah hampir 2 tahun nemenin gue. Kalau aja boleh, gue udah nikah sama mereka sejak dulu.

10 menit kemudian, gue udah sampai di basecamp. Nampak Ozi, dan Adit, sedang bersantai menikmati kopi masing- masing. Sekilas mirip om- om koruptor yang diinterogasi seorang anggota KPK. Gue menghampiri mereka.

"Aaah.. hari ini bener- bener hari yang aneh buat gue." Gue memulai pembicaraan.

"Kenapa? Maling celana dalem dikomplek lu, udah beraksi lagi? Ahahah " kata Ozi, asal nyengir.

"Kampret. Gue belum ada rencana mau beraksi lagi, kok, ahhahaha" kata gue, asal jawab.

Ozi, anak keturunan Manado ini udah berteman sama gue juga sejak SD. Jadi nggak heran kalau gue, Adit, dan Ozi, udah sangat akrab seperti ini. Pacaarnya, Ochi, merupakan seseorang yang menurut gue kelebihan gaul. Dia cenderung merubah huruf s menjadi z. Seperti, azzzeek.

"Oh, bentar ya" kata Adit, lalu dia keluar basecamp.

Gue larut dalam suasana bercanda bareng Ozi, sampai seseorang tiba- tiba nutup mata gue dari belakang. Tangan yang lembut.

"Apaan, nih?" Gue reflek narik tangannya, sampe dia tersandar di bahu gue.

"Hehehe.." kata cewek itu, seraya bangkit dan mengambil tempat duduk. Disebelahnya udah ada Adit, dan Melody, yang senyum- senyum nggak jelas. Cocok, gue yakin kalau kelak kebun teh mereka akan sukses.

Gue berpaling ke arah cewek yang nutup mata gue tadi. Yap, cewek manis ini juga nggak asing lagi bagi gue. Shania. Dia temen SD gue juga, namun setelah lulus SD gue udah nggak ada kontak karena kami pisah sekolah.

"Hey..lama nggak ketemu. Ahhaha, " sapa gue, ke Shania.

"Iya, yah.. lu makin tua aja, Ziz. Hhaha"

"Yee.. nyadar dong, kita seumuran. Gue tua, lu juga tua. Hhahaha"

"Jiaaahh.. yang CLBK. Hhahaha" timpal Ozi.

Hahaha. Gue jadi inget cinta monyet gue ke Shania, dulu. Kenangan indah waktu gue masih mirip beruk (sejenis monyet) dulu, bertahap muncul kembali. Gue jadi inget waktu jalan pulang sekolah, sering naik becak bareng. Dijaman gue dulu, anak sekolah yang pulang sekolah bareng pake becak dianggap romantis. Entah suatu kesalahan pola pikir anak- anak, atau karena emang romantis, tapi hal itu sempat ngebuat gue sering pose di depan cermin sambil berkata, 'ziz, elu ganteng.'

Reunian SD pun terjadi. Makin banyak cerita konyol yang terungkap kembali. Seperti, Adit yang pernah kelepasan pup dikelas, dan Ozi yang sempat nangis gara- gara celananya gue masukin cicak.

Nggak terasa, jam menunjukkan pukul 10 malam.

"Emm.. gue pulang duluan ya. Gue juga mau mampir ke toko buku, sebentar" kata Melody, lalu menarik tangan Adit.

"Nah.. Sang Ibu negara udah pengin pulang. Gue duluan, ya" kata Adit, seraya nepuk bahu gue.

"Elu?" Tanya gue, ke Ozi.

"Wah iya yaah.. gue lupa, ada janji mau ngajarin adik gue ngerjain PR. Gue duluan, ya, ziz." Ozi pun menghilang dalam sekejap.

Ntar. Adit, dan Melo. Ozi, sendiri. Terus? Gue melirik kearah Shania. Gue yakin ini adalah siasat jebakan mereka. Toko buku jam segini dimana? Lagian Melo mau beli buku apa? Ternak? dan Ozi? Sejak kapan dia jadi pinter sampai ngajarin adeknya segala? Setau gue, waktu masih SMA malah adeknya yang suka ngerjain PR Ozi. Banyak tanya yang muncul.

"Shan, lu tadi kesini bareng siapa?"

"Gue tadi dijemput Melo, pake mobilnya Adit" kata Shania.

Persis. Gue udah duga ini jebakan. Untung mereka nggak melibatkan tali, dan lakban, seperti yang sering gue tonton di TV.

"Yaudah.. lu pulang bareng gue aja, ya" kata gue, pasrah.

Dimobil, Shania mulai ngoceh lagi tentang masa- masa SMA-nya. Nggak, tapi tentang semuanya. Gue jadi mikir, nih anak makan apaan sampe berubah drastis begini? Perasaan, dulu dia anaknya pendiam, dan rada kalem gitu. Mungkin keseringan kesetrum, atau banyak gaul sama Ibu- ibu arisan. Entahlah..

"Ziz, mampir kesitu sebentar, yuk, gue mau beli sesuatu" kata Shania, sambil menunjuk kearah suatu mini market dipinggir jalan.

Gue memarkirkan mobil. Shania minta temenin masuk kedalam. Dengan langkah berat mirip pecandu narkoba, gue langsung masuk kedalam ngikutin Shania.

Shania berkeliling sambil membawa trolli kemana- mana. Sekilas mirip tukang becak gue waktu SD. Sementara itu, gue menunggu di sebuah bangku disebelah rak tumpukan susu untuk ibu- ibu hamil. Entah kenapa, namun gambar ibu menyusui yang ada pada kotak susu tersebut menarik perhatian gue, hingga gue memilih duduk disitu (lalu hidung pun kembang kempis)

Nggak lama kemudian, Shania menghampiri gue. Terlihat setumpuk barang memenuhi trolli-nya. Sebagian bahan makanan, sebagian lagi kebutuhan wanita. Ngeliat itu, entah kenapa gue jadi pengin nyoba pakai pembalut. Nah kan, otak gue udah mulai mikirin hal yang aneh- aneh. Penyakit gue kalau udah malam, ya begitu.

Gue dan Shania berjalan menuju kasir. Saat Shania sedang sibuk menyusun barang- barangnya dikasir, gue dikejutkan dengat kedatangan seseorang.

"Aziz.." kata cewek itu. Tulang pipi yang terlihat saat dia tersenyum itu, ngebuat gue berasa hampir mati.

"Stella.. hhe.. adek lu, ya ?" Kata gue, sambil nunjuk gadis manis berpipi tembem yang berada disebelah Stella.

"Iya.. namanya, Sonia. Ehm.. rasanya dunia ini kecil ya. Sehari ini, kita udah ketemu 3 kali, ahhaha" 

Tawa kecilnya itu bener- bener membuat gue berasa kembali muda (apaan)

"Eh.. itu.. pacar elu?" Katanya lagi, sambil menunjuk ke arah Shania.

"Oh..dia.." belum sempat gue ngomong, Shania datang, dan memotong

"Iya.. gue pacarnya aziz.." kata Shania nyengir, sambil megang pundak gue.

Waduh! bahaya nih, pikir gue. Gue udah ada rasa ke Stella. Kalau gini, gimana gue bisa ngedeketin Stella. Kampret, gue cuma bisa gigit bibir bawah. Mau nangis, rasanya. Dan ekspresi terbodoh gue dihadapan Stella muncul. Gue ikutan nyengir nggak jelas. "He, he" kata gue, terpaksa. Saat itu bener- bener saat dimana gue pengin masak orang.

"Hmm.. lucu. Hehehe" kata Stella.

"Ahaha.. iya, iya. Kalau gitu, gue duluan ya" kata gue kelabakan. Secepat kilat, gue pergi dari situ. Sesaat setelah gue keluar dari sana dengan secpat kilat, hujan pun turun.

Dimobil, perasaan gue campur aduk nggak jelas. Wes.. gue lebih milih diem. Sampai dirumah Shania, nggak ada satu kata pun yang terucap selama dijalan tadi. Shania turun dari mobil.

"Hem.. Shan, gue pulang, ya" kata gue, dari dalam mobil.

"Iya.. sorry ya, tadi.. gue cuma.."

"Hem??" Ekspresi gue penuh tanya.

"Nggak.. makasih ya, udah nemenin dan nganterin pulang. Hhehe daah..” kata Shania tersenyum, seraya melangkahkan kakinya memasuki rumah.




Gue diem. Nggak kerasa sekarang udah guling- guling nggak jelas, dikamar. Gimana nih? mendadak pencegah galau gue habis. Rasa aneh itu mulai menghantui gue lagi. Sial. Gue masih nyium- nyium bantal, sampai BB gue berdering. Sebuah SMS, masuk.

'Ini Stella.. :)

Hah? Stella? Gue nggak yakin. Gue ngebalas SMS itu dengan pertanyaan paling terkenal dikalangan anak- anak alay.

'Oh ya? Waah.. dapet nomer gue dari mana, nih?'

'Dari, Ayu :)

Nah, gue udah ngerti skemanya. Nomer gue > Budi > Cindy > Ayu > Stella. Gue nggak banyak tanya lagi. Gue segera minta pin BB Stella. Setelah dia mengirimkan, gue invite kontaknya, dan ternyata bener, Stella.

'Yang tadi, beneran pacar kamu?' BBM pertama, dari Stella.

Gue mengelak. Terserah dia, mau percaya atau nggak, tapi gue udah ngejelasin semuanya panjang lebar di BBM. Dan setelah beberapa menit gue tunggu, balasan dari dia, akhirnya dateng juga.

'Syukurlah .. :)

Hah??? Mimpi apa gue, ya Tuhan? Ini beneran? Maksudnya 'syukurlah itu, apa? Malam itu, gue larut dalam tidur dan mimpi yang indah.


**



















5 comments:

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)