Ini Ximin

Tuesday, July 31, 2012

Fanfic 'For Stella' Part 4; Menuju Sabtu Malam




‘For Stella’ adalah cerita fiksi bersambung dengan genre “komedi-romantis”. Penulis, Aziz Ramlie Adam, adalah seorang fans salah satu member JKT48 yang bernama Stella Cornelia. Berkat integritasnya dalam mengidolakan idol group yang satu ini, maka melahirkan inspirasi tersendiri untuk menghasilkan Fanfic for Idol ini.

Episode sebelumnya (part 3); “Aziz yang sedang bersama Shania, bertemu dengan Stella. Dengan sengaja, Shania mengatakan kalau Aziz adalah pasangannya. Sampai akhirnya Stella tahu kebenarannya dan merasa bersyukur atas kebenaran di balik ucapan Shania”. Selengkapnya bisa baca DI SINI.

Berikut adalah episode terbaru (part 4), happy reading, guys!


Menuju Sabtu Malam

Pening. Semua kayak mimpi. Entah itu nyata atau cuma khayalan gue doang, tapi kayaknya kemarin gue bener- bener ngelewatin hari yang aneh. Kenal dengan seseorang yang bernama Stella, lalu jatuh hati. Heh, bener- bener otak gue udah diracunin FTV SCTV. Tapi dalam hati, gue seneng aja gitu kalau ngebayangin Stella. Ada perasaan berbeda setiap gue ngebayangin cewek yang tulang pipinya terlihat, bila sedang tertawa ini.

Perlahan gue angkat kepala dari bantal, dan gue masih duduk di tempat tidur. Pusing, pandangan gue buram. Terlihat sosok seorang wanita sedang beres- beres kamar gue.

“Stella?” Kata gue ngasal.

“Hayo!! Siapa Stella!!?? Ahahaha..” teriakan anak itu berhasil bikin gue nggak sengaja buang angin. Sial, ternyata Dhike.

“Dhike.. kamu main masuk aja pagi- pagi gini..” protes gue sambil ngucek- ngucek mata.

Kamar gue emang nggak pernah gue kunci, toh gue juga tinggal sendiri. Dan satu- satunya orang yang bisa leluasa keluar- masuk rumah gue ya cuma Dhike.

“Pagi?? Kakak.. ini udah jam sepuluh kak, jam sepuluh”  kata Dhike sambil menunjuk- nunjuk jam tangannya.

“Kalau sampai jam segini nggak ada tanda- tanda kehidupan, ntar disangka tetangga, kakak sekarat, atau malah diculik. Hehehe“

“Ngawur ah, hha.. kakak laper deh kayaknya,” kata gue memancing Dhike untuk segera mengeluarkan jurus masaknya yang menurut gue setara dengan juri Master Chef Indonesia itu.

“Hahaha.. kakak tuh telat bangun sih. Tuh, udah siap dari tadi dibawah. Sana buruan, ntar keburu dingin”

“Yeey.. adek yang baik lu, hhahaha” kata gue sambil memencet hidungnya, Dhike pun balik narik daun telinga gue. Gue kabur kelantai bawah.

Itulah gue dan Dhike. Kami sama- sama anak tunggal, karena itu kami sudah seperti saudara kandung.

Saat menuruni tangga, tiba- tiba gue ngerasa mual. Tanpa pikir panjang gue meneruskan langkah kebawah. Bukan menuju meja makan, namun segera menuju kamar mandi. Persis seperti yang udah gue bayangkan, gue muntah. 

Gue masih menundukkan wajah, lalu gue bercermin. Ahh.. sial, gue kayaknya demam. Gue perlahan keluar kamar mandi dengan langkah terseok- seok, namun bukan seperti layaknya orang sakit, tapi lebih mirip orang nyawer di konser dangdut.

“Kak?” Panggil Dhike dari arah tangga.

Dhike segera menghampiri gue, lalu memapah gue menuju meja makan. Gue masih sibuk megangin kepala gue yang rasanya muter- muter ini.

“Kak? Makan dulu gih, ntar aku cariin obat. Trus kakak bisa langsung istirahat,” kata Dhike sambil mengarahkan sesendok makanan ke arah mulut gue. Gue terpaksa makan. Dengan kondisi kumuh seperti ini, keadaannya mirip seorang cucu lagi nyuapin kakeknya yang udah sakaratul maut. Whatever..

Gue hanya sanggup menelan beberapa sendok hingga akhirnya gue batuk- batuk lagi.

“Udah key.. kakak kenyang,  pengin istirahat aja dikamar” kata gue kepada Dhike yang juga sering dipanggil ‘Ikey’ ini.

“Yaudah.. aku cariin obat ya kak?”

“Ah.. nggak usah. Penyakit kecil itu nggak boleh dibesarkan- besarkan. Ntar juga sembuh sendiri, hhaha”

Gue berusaha menenangkan Dhike yang keliatan lebih panik dari gue. Gue bersyukur punya sosok adek sebaik Dhike.

“Kak” panggil Dhike dari arah pintu. “Aku mau bersih- bersih dibawah yaa.. ntar kalau ada apa- apa kakak teriak aja, hhe..”

“Iya bawel, hhaha”

Dasar Dhike, sehebat apapun dia nyembunyiin rasa khawatirnya ke gue, tetep aja dari wajahnya keliatan. Hahaha, tapi syukurlah dia udah bisa belajar begitu.

Gue menutup mata sejenak, sampai BB gue berdering. SMS.

Ziz, kerumah Ega yuk. Gue sama Ozi lagi dirumah Budi nih, kita mau kerumah Ega bareng- bareng

Dari Adit. Gue balas aja kalau gue lagi nggak enak badan, dan nggak bisa ikut tentunya. Kena demam nggak jelas begini emang paling bikin bete. Entah kenapa gue jadi kepikiran 3 kucing gue. Tanpa butuh waktu lama, gue udah kembali ngambang didunia lain.



Berisik..! 5 detik yang lalu gue sukses terbangun. Rasanya dibawah lagi ada acara demo masak ibu- ibu. Ah!.

Gue tengok BB gue, jam 1 siang.. trus gue ngecek SMS, dari Adit.

Ntar kalau lu udah bangun, turun aja kebawah

Kampret, gue bangun dari tempat tidur aja butuh perjuangan berat, apa lagi mesti turun tangga kebawah. Ah… seenggaknya gue udah bisa nebak dibawah ada siapa aja. Gue memutuskan untuk tiduran lagi.

“Kak?” Sapa seseorang dari arah pintu. Dhike, tau aja kalau gue udah bangun.

“Iya.. kenapa key?” Kata gue dengan mata ketutup sebelah.

“Ada temen- temen kakak tuh pada dateng”

“Iya.. kakak tau kok, palingan juga Adit, Budi, sama Oji yang tadi pada ngajakin kakak jalan.” Gue berbalik, dan posisi tidur gue sekarang membelakangi arah pintu.

“Iya sih.. tapi kak..”

“Taaadaaaaa… !!” Teriakan yang nyaingin yell- yell suporter bola itu, nyaris bikin gue diare. Gue berbalik.

Ternyata, lengkap. Adit dan Melody, Budi dan Cindy, Ega dan Ve, Abeck dan Sendy, serta Ozi dan Ochi. Gue garuk- garuk kepala.

“Kalian.. kesini pada mau ngapain? Maen bola?” Tanya gue asal. Memang sih jumlah mereka tambah gue, sama dengan 1 tim pemain sepak bola.

“Ya buat ngejenguk temen kita ini lah..” kata Budi.

“Iya dong, siapa lagi yang jenguk kalau bukan kita? Ceweknya? Ahahahahha” Ozi menambahkan, yang lain pada ketawa habis- habisan, termasuk Dhike.

“Hhahahah.. kampret. Iya iyaa.. suka suka kalian lah

“Jangan ngambek kak..” goda Cindy. Gue menatap dia sinis, sekilas mirip adegan penerkaman serigala kepada gadis berkerudung merah.

“Ziz” kata Adit ngedeketin gue. “Udah lama kita nggak bikin party disini, terakhir kan waktu seminggu sebelum Ujian Nasional.”

Iya ya. Dulu kami sering bikin party dirumah gue. Tentu aja karena rumah gue situasi dan kondisinya emang cocok banget.

“Ntar. Kalian mau bikin party kok pas gue sakit sih? Curang nih

“Bukan gitu Ziz. Justru ini moment yang tepat, dengan kita ngadain party pas lu lagi sakit. Siapa tau bisa bikin lu cepet sembuh,” kata Ve maen nimbrung aja.

“Azzzzek tuh, hhahahaha” Ochi menambahkan.

“Oke okee.. tapi kali ini kalian full nyiapin apa- apanya ya, gue kan lagi sakit..” muka gue sok melas. Biasanya kalau kita mau party, gue selalu kebagian tugas berat (sejenis angkat besi).

“Iyaaa.. dispensasi buat Aziz kook, iyakan temen- temen? Hehehe,” kata Melody.

“Yeee…” teriak yang lain, persis banget kayak mahasiswa yang udah termakan kata- kata sang profokator, pas lagi demo.

Semua turun kebawah. Samar- samar gue denger mereka mulai membagi tugas, memasak, sound system, belanja, dan lainnya. Tersisa Dhike duduk disamping gue.

“Rame banget ya temen- temen kakak” kata Dhike sambil tersenyum.

“Hhahaha.. emang gitu mereka. Key, bantuin kakak bediri dong, hhaha”

Dhike memapah gue. Sampai dideket tangga, gue mencoba jalan sendiri. Gue berjalan sampai daerah belakang rumah. Gue perhatikan yang lain udah pada nyiapin meja dan kursi serta dekorasi- dekorasi lainnya.

Rumah gue emang paling fleksibel buat hal ginian. Peralatan pesta seperti meja, kursi, serta aksesoris, dan dekorasi lainnya emang udah tersedia semuanya (sebenernya juga bekas pesta yang dulu-  dulu). Halaman belakang rumah gue emang daerah yang paling pas. Tamannya cukup luas, dan terdapat sejenis gazebo dan kolam khas Jepang dengan pipa bambunya. Rumput halus khas lapangan sepakbola melengkapi pandangan. Tanamannya beragam, mulai dari pohon- pohon besar hingga tanaman hias. Lebih indah karena ada daerah yang memang khusus ditanamin bonsai yang kebanyakan berbentuk unik dan langka dicari. Dan taman seluas 2 kali lapangan basket itu jelas cukup untuk menampung puluhan orang.

Gue duduk disebuah bangku belakang dekat pintu. Gue perhatikan di arah kanan, Ega dan Abeck sedang mengangkat panggangan menuju sekitar kolam. Di kiri, ada Ozi yang sedang menyusun kembang api raksasa untuk nanti malam. Nggak terlalu jauh didepan gue, Adit dan Budi sedang memasang sebuah tenda kecil untuk tempat sound system dan beberapa laptop milik temen- temen gue ini.

Lain dengan lelaki, lain lagi dengan perempuannya. Nggak jauh dideket gue juga, dibawah pohon mangga yang cukup rindang, ada Cindy, Ochi dan Ve yang sedang sibuk mengupas berbagai jenis buah- buahan. Mereka duduk beralaskan kain kotak- kotak persis seperti camping anak SD. Sisanya, Melody dan Sendy, tentu sedang didapur mambantu Dhike memasak.

“Kak,” Dhike menepuk pundak gue. Gue menoleh.

“Mau makan? Kakak belum makan siang loh..”

“Iya deh”

Yuk ke dalam”

Gue ngikutin Dhike menuju meja makan. Gue duduk dan mulai makan, sementara Dhike kembali ke dapur. Perasaan gue jadi tenang aja karena tau masih banyak orang- orang yang peduli sama gue. Hm.. gue nggak sendiri.

Gue liat jam dinding, pukul setengah dua. Oh, gue baru inget sesuatu, kalau malam ini satnite. Pantesan mereka semangat banget mau bikin party malam ini. Karena memang hanya satnite lah yang bisa mengumpulkan kami semua, lengkap.

“Ziz,” kata Budi sambil nyolong sepotong ayam goreng dari piring gue, lalu dia duduk.

“Kenapa?”

“Gue ajak sepupu gue ya. Sonya,” kata Budi.

Agak tertarik dengan perkataan Budi, gue menambahkan.

“Oh! Sekalian kasih tau Sonya buat ngajak temennya, yang kakak sepupu Ayu itu, atau sekalian Ayu juga ajak kesini”

“Stella?” Tanya Budi tentang yang gue maksud ‘kakak sepupu ayu.’

“Iyap.” Jawaban menggebu- gebu gue itu kayaknya bikin Budi khawatir, apakah gue masih waras atau nggak.

“Iya deh ntar gue ajakin Ayu sama sepupunya juga,” kata Budi sambil melanjutkan gigitannya kepada sepotong ayam yang diambilnya dari piring gue tadi.

Dalam hati gue tersenyum. Ada stella ntar malem.. gue nggak mau nyia- nyiakan kesempatan. Wohwoo..!

Diluar udah mulai kedengeran cek sound yang dilakukan Adit. Sementara keributan dari dapur yang dilakukan Melody, Sendy, dan Dhike makin nyaring kedengeran. Kayaknya asik banget mereka masak, sampe ngalahin demo masak ibu- ibu kelurahan. Sementara dari arah belakang, Cindy, Ochi, dan Ve membawa masuk potongan buah- buahan yang mereka buat di halaman belakang tadi. Sebagian menjadi hidangan penutup, sebagian lagi mereka olah menjadi aneka jus.

“Bud, gimana?” Tanya gue ke arah Budi yang masih makan sambil ngotak -atik BlackBerry-nya.

Nih” kata Budi sambil memberikan BB-nya ke muka gue.

Terlihat SMS dari Sonya.

Oke.. ntar kakak ajak Stella , Sonia, dan Ayu J

“Gimana?” Tanya Budi.

“Sip!” Jempol gue melayang.

“Kayaknya seneng banget lu”

“Hahahahahaha.. emang keliatan gitu?”

“Iya lah, habisnya kalau lu lagi seneng, muka lu jadi aneh tau nggak. Hhahahaha”

“Kampret”

Budi pun pergi kearah dapur sambil tertawa. Tujuannya jelas si Cindy yang lagi sibuk nge’blender buah- buahan yang ramuannya dikerjakan oleh Ve.

Suasana semakin sore. Sekitar hampir pukul 6, mereka semua pamit pulang dulu untuk mandi dan minta izin pada orangtua masing- masing. Semua nampak sudah disiapkan. Makanan, kue- kue, minuman, panggangan untuk barbeque, kembang api, musik, semua hanya tinggal pakai nanti malam.

“Key, kamu nggak pulang?”

“Ntar malam aja kak sekalian, lagian aku udah bawa baju ganti dan tadi udah nelpon mama kok. Hmm.. aku pake kamar mandi di kamar tante ya kak.” Tentu saja yang dimaksud adalah kamar orangtua gue dulu.

“Iya.. pake aja. Kakak juga mau balik kekamar”

Gue duduk diatas kasur, nggak lama gue terlentang. Ah.. nggak sabar ketemu stella..


**

3 comments:

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)