Berjalan dari Dalam Hati

2012/08/02

Fiction 'For Stella' Part 5; Party




‘For Stella’ adalah cerita fiksi bersambung dengan genre “komedi-romantis”. Penulis, Aziz Ramlie Adam, adalah seorang fans salah satu member JKT48 yang bernama Stella Cornelia. Berkat integritasnya dalam mengidolakan idol group yang satu ini, maka melahirkan inspirasi tersendiri untuk menghasilkan Fanfic for Idol ini.

Episode sebelumnya (part 4); “Adit dan kawan-kawan mengusulkan agar membuat sebuah party sekaligus untuk membuat Aziz bisa cepat sembuh. Akhirnya, berbagai macam persiapan telah dimulai”. Selengkapnya bisa baca DI SINI.

Berikut adalah episode terbaru (part 5), happy reading, guys!



Party

Gue keluar dari kamar mandi, rasanya seger banget. Demam nggak jelas yang melanda gue tadi pagi udah nggak berasa lagi buat gue. Yang muncul sekarang adalah rasa nggak sabar, gara- gara gue pengin banget ketemu Stella ntar malam.

Gue memakai sebuah kemeja hitam milik bokap dulu. Ini kemeja bokap yang paling bagus menurut gue. Rasanya kalau bercermin pakai baju ini, gue bisa ngeliat sosok bokap disamping gue sambil bilang ‘nak, kamu sudah besar sekarang.’ Haha, konyol. Berarti kalau gue pengin liat bayangan nyokap, gue harus pakai rok gitu didepan cermin? Ngaco.

Gue menuju beranda kamar. Dari sini jelas ke arah mata hari terbenam. Lama gue nggak menghabiskan waktu dirumah seperti ini. Namanya juga banyak kesibukan dan urusan yang nggak bisa ditinggal, mau nggak mau gue jadi lebih sering diluar rumah.

“Kakak..” kata Dhike seraya mengetuk pintu.

“Masuk,” jawab gue. Dhike pun membuka pintu.

“Kakak.. udah agak mendingan?”

“Bukan mendingan lagi Key, tapi udah sembuh total”

“Ahhaha.. yeey, syukur deh..” terlihat rasa senang yang besar di wajah Dhike.

“Hahaha.. iya dong, ini semua juga karena kamu.” Kata gue balik tersenyum.

“Aah.. nggak juga kak. Hehe, kak kita kebawah yuk

“Ah, boleh.” Gue pun segera mengikuti Dhike kebawah.

Gue dan Dhike menuju halaman belakang. Gemerlap lampu wana- warni yang menghiasi setiap sudut taman nampak makin terang seiring dengan makin gelapnya langit senja.

“Kak, ntar bakal ada berapa orang yang kesini?” Tanya Dhike, sambil telunjuknya sibuk bermain dengan kucing- kucing gue.

“Hmm.. mungkin 14”

“Hah, 14? 4 lagi siapa kak? Perasaan yang datang tadi pagi cuma 10 orang.” Tanya Dhike lagi.

“Yang pertama, sepupunya Budi. Yang kedua, temen sepupunya Budi. Yang ketiga, adik temen sepupunya Budi. Dan yang ke empat, temen Budi yang juga adik sepupu dari teman sepupunya Budi .” Kata gue dengan penjelasan yang agak sedikit berbelit.

“Kak”

“Kenapa?”

“Nggak ngerti”

“Ahhahahaha.. kamu ini”

Kami berdua tertawa. Hingga seseorang menepuk bahu gue dari belakang.

“Mungkin 15, hahahaha” kata Adit dari belakang gue. Disampingnya udah ada Melody yang pakaiannya serasi dengan Adit. ‘Serasi,’ bukan ‘t-shirt couple’ anak- anak alay.

“Hah? Siapa lagi? Lu bawa nyokap ?”

“Kampret, gue ngajak Shania tadi,” kata Adit santai.

“Hah?” Mata gue membesar.

“Kenapa?”

Gawat, gimana kalau Stella ngeliat Shania ada dsini, trus Shania ngaku- ngaku pacar gue lagi? Gimana ya? Batin gue protes. Emang sih yang lain nggak ada yang tau, kalau gue tertariknya sama Stella, kecuali Budi. Gue pun segera menyeret Adit ke ruang depan. Dhike dan Melody hanya saling pandang sambil mengangkat bahu.

Di ruang depan, gue jelaskan semuanya ke Adit. Tentang gue naksir sama Stella, sampai pertemuan di minimarket trus Shania ngaku- ngaku jadi pacar gue.

“Sorry ziz, terus gimana? Gue udah terlanjur ngajak. Atau, gue bilang acaranya batal?”

“Ah.. nggak usah, kalau dia datang terus liat mobil kalian pada parkir dihalaman rumah gue gimana? Ntar ketahuan bohongnya”

“Jadi?”

“Begini aja. Jangan biarkan dia terlalu deket sama gue. Intinya, gue harus punya kesempatan ngobrol berdua Stella tanpa ada dia dideket gue. Paham lu? Karena elu yang ngajak, tanggung jawab lu besar loh.” Kata gue mengancam.

“Iya iya.. muka lu nggak usah diseriusin gitu dong. Aneh tau nggak. Hahahahaha”

“Kampret.” Gue dan Adit kembali kehalaman belakang.

Di belakang, Melody dan Dhike sedang sibuk mengolesi potongan daging asap dengan mentEga, dan beberapa ramuan hasil buatan mereka. Diantara pacar temen- temen gue, Melody memang terpandai dalam hal masak- memasak. Dan saat dia di kolaborasikan dengan Dhike, maka itu benar- benar menjadi duet Master Chef Indonesia.

Gue megumpulkan kayu- kayu kecil untuk dibuat api unggun pada acara puncak nanti. Gue lirik jam tangan, pukul 7 kurang lima belas menit. Tiba- tiba BB gue berdering.

“Kenapa?” Tanya gue kepada Abeck yang menelpon.

“Sejak kapan nih, rumah Aziz Ramlie Adam pintu depannya terkunci? Gimana kita masuk nih? Hahaha”

Gue ngelirik Adit, dia nyengir. Rupanya waktu dia datang tadi, dia nggak sengaja ngunci pintu depan. Gue menuju pintu depan, dan membuka kunci.

“Tadaaaa!!” teriak mereka berempat saat gue membukakan pintu. Ya, berempat. Abeck, Sendy, Ega, dan Ve. Ditangan Abeck yang memimpin penyerbuan mereka itu, udah ada beberapa kotak coklat kesukaan gue.

“yaah.. kirain lu masih sakit Ziz, makanya kita bawain coklat ini,” kata Ega dengan muka belagak kecewa.

“Kampret, jadi nunggu gue sakit lagi gitu baru kalian jadi pada baik gini sama gue?”

“Hahaha.. becanda Ziz”

Gue mempersilahkan mereka masuk. Berarti tinggal menunggu Budi, Cindy, Ozi dan Ochi. Dan 3 tamu spesial, Sonya, Sonia, dan Ayu. Seseorang yang nggak terlalu diharapkan, Shania. Dan seseorang yang sangat istimewa tentunya, Stella.




Gue berbalik menuju kamar sebentar, pengin ngambil laptop. Sewaktu gue mau ngambil laptop diatas meja, gue melihat secarik amplop berkas, pendaftaran ulang kemarin. Gue jadi senyam- senyum sendiri. Karena kemarin adalah hari yang sangat berharga buat gue. Hari pertama ketemu Stella.

Tiba- tiba gue terpikir, Stella keterima di jurusan mana ya? Gue mengambil BB di saku celana. Hubungin nggak ya? Hati gue masih ngerasa ragu buat sekedar menghubungi dia. Padahal tadi malam, dia biasa aja ngehubungin gue. Keputusan akhir pun gue ambil, gue nggak jadi ngubungin dia.

Gue menenteng laptop kebawah. Ternyata sudah datang pula Ozi dan Ochi.

“Ziz, udah seger? Hahaha” Tanya Ozi.

“Belum Zi, bentar lagi paling mati. Haha”

Huss.. nggak boleh begitu” Ochi ikut nimbrung.

“Terus? Situ azzek??” kata gue pada Ochi.

“eeeh.. gue kayak kenal kata- kata itu!”

“Hhahaha”

Gue segera menuju halaman belakang. Dibawah tenda yang lebih mirip tenda promosi Telkomsel kalau lagi road show itu, Adit sedang mengotak- atik laptopnya. Gue datang menghampiri.

“Itu siapa, yang cowok?” Tanya gue.

“Ya gue lah, emang bokap gue?” Jawab Adit ngasal.

Haha. Adit sedang memandangi fotonya, dan Melody. Gue ingat foto- foto ini diambil waktu ultah Melody ke- 17.

Nih, katanya ada Mp3 yang mau lu minta,” kata gue sambil memberikan laptop gue kearahnya. Adit segera  mengambil sebuah flashdisk dari saku bajunya. Nggak lama kemudian, dia udah ngubek- ngubek laptop gue juga.

Gue pergi kearah dapur, dan gue mencium bau masakan yang sangat menarik indra penciuman gue.

“Waaah! Apakah ini? Wangi banget, ahahaha” kata gue, mengagetkan para wanita penghuni dapur itu.

“Kakak, ini baru selesai looh, hehe” kata Dhike sambil menyodorkan sepiring kecil cake coklat kesukaan gue.

“Wah.. hahaha, makasih Key.” Gue segera melahap potongan cake itu.

“Key, cake-nya langsung aku taruh di halaman belakang ya. Kayaknya Aziz belum puas tuh, pasti mau nambah” kata Melody senyum- senyum ngeliatin gue.

“Ahaha.. tepat kak, bawa gih.. liat, kak Aziz udah mau habis tuh, ahahaha” Dhike… lu adeknya siapa sih?

Melody dan Ve segera menuju halaman belakang. Di meja belakang udah menunggu Ochi dan Sendy. mereka mempersiapkan hidangan.

“Kak, pas baru bangun tadi pagi kayaknya kakak ada nyebut nama seseorang ya?” Tanya Dhike, sebelum gue meninggalkan dapur.

“Yakin? Perasaan, kakak nggak ada  ngomong apa- apa tuh” gue ngeles.

“Ahahaha.. kakak udah bisa naksir cewek ya?”

“Dasar kamu yaaa“ gue mencubit pinggangnya, lalu lari keluar dapur.

“Kakak..” Dhike mengejar gue. Dan akhirnya jadi kejar- kejaran.

Saat sedang sibuk dikejar Dhike (apaan), tiba- tiba terdengar bunyi bel pintu depan. Ada yang datang lagi. gue akhirnya harus pasrah dipukulin dulu sama Dhike. Terlihat senyum bahagia diwajahnya. Hahaha. Dari dulu kami emang sering jahil- jahilan kayak gini.

Gue buka pintu. Budi, Cindy, dan Sonya. Gue sempat kecewa. Namun, beberapa detik kemudian menyusul sebuah mobil memasuki halaman rumah gue. Pincanto pink. Dalam hati, gue teriak kencang- kencang. Bukan, tapi hati gue udah jingkrak- jingkrak kesenengan.

“Sstt..” kata Budi pelan. Gue pun mengangguk sambil tersenyum. Mereka bertiga gue persilahkan masuk duluan.

Gue menunggu didepan pintu. Keluarlah dari mobil itu, Ayu, Sonia, dan Stella.

“Kakak..” kata Ayu begitu turun dari mobil, dan langsung menghampiri gue. Stella dan Sonia mengikuti dari belakang.

“Terima kasih ya udah diundang, hehehe” kata Ayu lagi.

“Hahaha.. acara kecil- kecilan aja kok, masuk gih. Silahkan. Maklum ya kalau rumah gue berantakan, namanya juga tinggal sendiri. Hahahaha”

“Hehe.. makasih kak.” Ayu segera masuk kedalam, disusul Sonia.

“Ziz” kata Stella yang berhenti disebelah gue, sebelum masuk.

“Ya…” kata gue agak grogi.

“Mudah- mudahan jadi malam yang menyenangkan ya,” dia lalu meninggalkan gue.

Nyesss.

What? Tuh cewek makin bikin gue penasaran karena sifatnya yang unik. Hmm.. gue nggak mau ambil pusing, dan segera masuk juga.

“Dit, tamu elu mana?” Sindir gue ke Adit. Tentu saja yang gue maksud adalah Shania.

“Kampret lu. Dia katanya nggak bisa datang. lagi ada acara juga sama temen- temen SMA-nya”

“Woowww!!” Gue hampir sujud dikaki Adit, tapi gue urungkan karena sadar kalau surga ada di telapak kaki ibu, bukan kaki Adit.

“Aman kan? Sekarang lu bisa leluasa ngedeketin Stella.” Adit menoleh kearah gue seraya mengacungkan jempol.

“Siip laaaah!”




Gue keluar, mengunci gerbang dan pintu depan. Semua lampu gue matikan, kecuali kerlipan lampu kecil yang menghiasi setiap sudut taman. Perfect, suasananya perlahan berubah menjadi romantis. Kerlipan lampu warna- warni yang lebih didominasi warna kuning itu, benar- benar membuat suasana menjadi hidup. Seolah dikelilingi kunang- kunang.

Adit dan Budi memutar beberapa musik jazz diselingi dengan beberapa genre fushion yang membuat suasana semakin terasa hangat. Ve dan Ega terlihat sedang asik memanggang potongan daging asap di sebelah kolam, sambil sesekali mereka bercanda. Ayu dan Cindy yang juga berada disana kadang membantu, kadang juga malah tambah bikin rusuh. Nggak ada kata ‘nggak tertawa’ kalau kami udah ngumpul kayak gini.

Nggak jauh dari tempat gue sekarang, Sonya, Dhike, dan Ochi sedang menikmati jus sambil sibuk bercerita. Naluri gosip mereka sepertinya udah mulai terlihat sebagai calon ibu- ibu pejabat.

Gue, Abeck, dan Ozi sebenernya sedang sibuk menyusun api unggun, namun pandangan gue nggak bisa pindah dari 4 wanita itu. Yap, Melo, Sendy, Sonia, dan Stella. Tentunya fokus gue ya ke Stella. Mereka sedang menari- nari mengikuti irama musik. Rupanya Melo berhasil membujuk Adit untuk mengubah lagu yang dia putar tadi, menjadi lagu- lagu dance pilihan Melo. Cocok. Melo dan Sendy tentunya baru kali ini mengenal Stella. Namun seperti yang gue perhatikan, Stella itu sosok yang cepat bergaul dengan seseorang. Terlihat, sekilas mereka seperti temen lama yang baru aja ketemu.

“Cindy.. laper niihh” kata Budi yang udah muncul menghampiri Cindy yang sedang barbeque-an.

“Hahaha.. nggak boleeeeehhh” kata Cindy ngakak, sambil menahan wajah Budi yang sejak tadi pengin nyosor aja ke arah potongan daging yang udah masak.

“Hahahahaha.. nih, makan ini aja Bud,” kata Ega seraya menjepit sepotong bara api ke arah Budi.

“Yeeeee” Budi menyenggol bara api itu, dan terhambur kearah Ve.

“Budiii!!” Ve teriak- teriak kayak orang habis liat Irfan Bachdim lagi nge-dance.

“Hahaha.. marahin cowok lu tuh” Budi ngacir, satu potong daging berhasil dia ambil.

Akhirnya Ega dan Ve malah main ‘perang-tiup-asap-pembakaran.’ Sebuah permainan yang cukup langka bagi gue. Sementara Cindy, Ayu, dan Budi bermain ‘tangkap-maling-daging-itu’ karena mereka tau kalau Budi berhasil mendapatkan sepotong daging curian.

Dhike, Ochi, dan Sonya tertawa terbahak- bahak melihat kekonyolan Budi. Sementara Adit mulai melakukan dansa bareng Melo. Mereka menari- nari layaknya dancer profesional. Stella dan Sonia mengikuti sebagai penari latar, dan Sendy bertepuk tangan kegirangan menyaksikan tingkah mereka. Sementara itu, Ozi dan Abeck berusaha menyalakan api unggun. Mereka.. menggosok- gosokkan 2 bilah kayu. Berharap akan muncul api.

Gue menghampiri Ega yang telah kalah dalam permainan ‘perang tiup asap pembakaran,’ mendadak dia terlihat seperti penderita asma kronis.

“Gimana nih, udah selesai?” Tanya gue ke Ega dan Ve.

nih yang terakhir” kata Ve, “habisnya Ega ngajak berantem mulu sih,” tambahnya.

“Yeeey, kamu kan tiup- tiup asap duluan” kata Ega nyengir.

“Tapi kan kamu duluan yang mulai”

“Budi kok,”

“Apa? Aku nggak denger” kata Ve siap- siap menyerang Ega, lagi.

“Sayang , kamu lucu deh kalau marah- marah”

“Apa? Ahaha. Becanda ya..?”

Nggak lama perang asap pun dimulai kembali. Gue tertawa terbahak- bahak liat pasangan yang satu ini. Lain cerita dengan Budi, dia sukses guling- gulingan ditanah setelah kepeleset waktu dikejar Ayu dan Cindy. Namun sayang, dagingnya udah kelar ditelen Budi.

“Kak” panggil Dhike dari arah belakang. Gue menghampiri.

“Cobain deh, buatanku sama kak Melo loh.” Dhike menyodorkan segelas jus aneka buah yang dikomposisikan dengan takaran yang pas, sehingga rasanya tidak terlalu aneh. Malah sangat nikmat.

“Hebaaattt!! Ikey sama Melody kalau udah duet masak emang nggak ada saingannya” kata gue seraya menikmati jus tersebut.

“Hehehe.. Ochi sama kak Sonya juga jago masak loh kak, tadi kita sempat sharing tentang hal- hal memasak.

“Hah? Kalau Sonya sih kakak yakin bisa.. kalau Ochi? Kakak nggak yakin, megang panci aja pasti nggak pernah, ahahaha”

“Lu bilang apa barusan??” Kata Ochi menatap gue sangar.

“Hahahahaha..” gue kabur menuju arah Abeck dan Ozi. Sonya dan Dhike melepas tawa.

“Beck, Zi, kita susun meja dulu, ntar aja tuh” kata gue kepada Ozi dan Abeck yang masih ingin membuktikan, apakah bener kalau orang jaman dulu bisa bikin api dari gesekan kayu dan ranting pohon.

“Oke sip! Yang empat itukan?” kata Ozi.

“Yap, bawa aja kesini, kursinya pas 16 loh, 1 meja empat orang”

“Yoii.. !!” Kata mereka berdua, lalu berlari mengambil meja- kursi sambil main pukul- pukulan pake ranting.

Nggak lama kemudian kursi dan meja sudah kami susun. Api unggun baru saja dinyalakan oleh Sendy dan Ochi (pakai pemantik dong). Jarak tiap meja dengan api unggun sekitar 2 meter lebih. Dan keempat meja ini membentuk tanda plus (+) dengan api unggun berada ditengah- tengahnya.

Gue menyuruh Dhike mematikan lampu kunang- kunang taman, serta lampu belakang. Pokoknya yang berhubungan dengan listrik. Gelap total, hanya tersisa api unggun yang menyala ditengah- tengah. Natural sekali suasana seperti ini. Melambungkan setiap orang pada khayalannya masing- masing.

“Tadaaaa.. hidangan daging asap ala Ve siap dihidangkan,” kaya Ve sambil tersenyum membawa setumpuk BBQ. Seolah- olah dia adalah pesulap yang baru selesai pertunjukkan, terus bilang.. ‘sempurna sekali.. daging asap ini..’

“Eeh, aku juga bantu loooh…” protes Ega.

“kalau gitu, bantuin nyusun piring yaaa.. hohoho”

“Iya deh,” muka Ega pasrah banget kayaknya.

Dhike, Sonya, dan Ochi membagikan gelas per gelas jus buatan Dhike yang gue cicipin tadi ke setiap meja. Nggak lupa Melo minta bantuan Adit untuk mengiris cake, dan Stella serta Sonia yang membaginya ke tiap meja.

Kelar dengan persiapan, kami mulai duduk tenang. Dimeja satu ada Melo, Adit, Ochi, dan Ozi. Dimeja dua ada Abeck, Sendy, Ega dan Ve. Di meja tiga ada Budi, Cindy, Sonya, dan Ayu. Sementara dimeja empat, gue bersampingan dengan Dhike, dan berhadapan dengan Stella dan Sonia.

Suasana makan berlangsung dengan agak ‘tidak tenang.’ Tawa mereka terdengar jelas di telinga gue.

“Kakak, yang namanya Stella ya?” Kata Dhike memulai pembicaraan.

“Iyaa” jawab Stella, sembari melayangkan senyumnya yang khas.

“Ooh.. berarti kakak yang.. “ belum selesai Dhike ngomong, gue memotong.

“…yang berantem sama kakak diparkiran pas daftar ulang. Yaap, ini nih Key orangnya, ahahaha” kata gue sambil melotot kearah Dhike. Sekilas mirip Joker yang jatuh cinta sama Batman.

Gue tau betul apa lanjutan kata- kata Dhike. ‘Ooh.. berarti kakak yang namanya dipanggil- panggil sama kak Aziz tadi pagi.’ Pasti. Untung Dhike ngerti.

“Oooh.. dia toh kak, ahahaha” ketawa Dhike terdengar serem.

Stella dan Sonia bingung, mereka menanggapi dengan tertawa.

“Ziz!” Teriak Adit dari mejanya.

“Apa??”

“Usahanya mana??!” Teriak Adit, sambil bibirnya diarahkan ke Stella. Pada saat dimonyong- monyongin gitu, Adit makin terlihat aneh. Budi yang mengerti maksudnya, langsung ikutan nyahut

“iiya nih! Gregetnya mana??!”

“Greget pala lu!” Gue jawab sambil ketawa.

Stella tiba- tiba tersenyum. Entah karena dia sadar ada sesuatu, atau dia merasa aneh aja ngeliat kelakuan temen- temen gue. Gue memutuskan untuk meyakini pilihan kedua.

Gue beranjak menuju meja panjang dideket pintu belakang rumah, tempat tersedianya cake dan jus. Rencananya mau nambah gitu. Yang dibawa kemeja deket api unggun kan cuma hidangan utama, sama minumnya doang. Sisanya ditaruh disini.

Sedang asik menuang jus kedalam gelas, muncul seseorang di sebelah gue. Stella. Dia keliatan serius banget memilih- milih cake mana yang ingin dia makan.

“Suka makan juga?” Tanya gue.

“Hahaha.. setiap orang pasti suka makan Ziz”

“Ah.. iya ya. Bukan , bukan itu maksud gue, yaaahh lu ngerti aja kan maksudnya”

“Iya iyaa, maksudnya ‘rakus’ gitu kan? Hahaha”

“Yaa.. masih satu makna kok sama itu”

“Hmm gimana ya.. lu liat Sonia deh, dia tuh suka makan sampe tembem gitu. Dan lu liat gue, gue lebih kurus dari dia. Tapi kalau soal makan, dia bahkan nggak sanggup ngabisin setengah porsi makanan gue, hahaha”

“Waaah.. ganas dong,” lalu gue balas tertawa. Nggak lama kemudian, kami larut dalam pembicaraan.

Kami berjalan berdua, menyusuri pinggir kolam. Ditangan, gue memegang segelas jus apel, sedangkan Stella masih tetap membawa- bawa cake dipiring kecilnya sambil sesekali memakannya (makan cake, bukan piring).

Yang lain juga udah pada selesai makan. Gue perhatikan dari sini, Ega dan Abeck nampak kekenyangan, dan mereka terkulai lemas di kursi masing- masiing. Sekilas mirip om- om koruptor yang baru aja makan duit. Gimana nggak, karena Ega dan Ve yang memasak, otomatis meja mereka paling banyak makannya (belajar korupsi sejak dini).

Lain lagi dengan Budi yang nambah makanan ke meja panjang, sambil sesekali bercanda dengan Cindy. Ayu sibuk mengumpulkan piring bekas makan anak- anak. Sementara Sonya mulai akrab dengan Melo dan Ochi, mereka bercerita banyak hal. Adit hanya memakai earphone-nya sambil mendengarkan lagu- lagu kesukaanya. Jalan pintas yang pas, kalau ngadepin cewek- cewek yang lagi ngumpul (berisik men).

Ve dan Sendy bernyanyi bersama di dekat api unggun. Sendy memainkan gitar acoustic milik gue sambil bernyanyi. Nggak lama kemudian, Ega dan Abeck datang menghampiri mereka. Mereka bernyanyi bersama- sama.

“Ziz” sapa Stella yang sejak tadi memang ada disebelah gue. Nampaknya gue terlalu asik memperhatikan temen- temen gue yang kelakuannya emang rada aneh (walaupun yang paling aneh masih tetep gue).

“Iya? Hahaha.. sorry, gue terlalu asik ngeliatin temen- temen gue, lama nggak ngumpul selengkap ini,” kata gue lalu meneguk tetesan terakhir jus apel ditangan gue.

“Hmm.. cewek yang kemarin sama kamu itu mana? Gue pikir lu pasti ngundang dia”

“Wahh.. nggak tau tuh. Temennya Adit kok, dia katanya nggak bisa datang karena ada acara juga bareng alumni sekolahnya” jawab gue memastikan. Setelah itu, gue pun menceritakan apa yang terjadi sebenarnya tadi malam.

“Ohh.. gituu.. gue kaget loh sebenarnya. Gue pikir itu cewek lu. Ahahaha”

“Hahaha, bukan.. eh, lu keterima dijurusan mana?”

“Ilmu Hubungan Internasional.. elu?”

“Wah sama doong! Hahaha.. dunia emang sempit ya,” kata gue biasa aja. Dalem hati, gue udah pesta- pesta.

“Sonya juga looh..” tambahnya.

“Hemm..” gue mengangguk. “Oh iya , kayaknya lu tadi jago bener dance- dance gitu. Obsesi penari ya? Hehe”

“Aah.. itu cuman hobi aja kok Ziz, tau nggak gue belajar dari siapa?”

“Siapa? Agung Hercules? Hahahaha,” gue ngakak sejadi- jadinya. Gue juga nyaris jadi gila.

“Iih.. gokil ya nih anak, hahaha” katanya sambil menyenggolkan tanggannya ke tangan gue. “Itu, tuh” katanya lagi sambil menunjuk kearah Sonya.

“Sonya?”

“Iyaa.. dia jago banget loh kalau soal nge-dance. Lu suka nggak, sama cewek yang hobi nge-dance?”

“Lumayan.. tergantung sih, hahahah. Suka kok, suka”

“Wow.. bagus dong..”

“Kenapa?”

“Nggak apa- apa kok, hehehe”

Setelah itu, kami kembali melanjutkan pembicaraan. Kebanyakan tentang masa SMA-nya, lalu kisah persahabatannya dengan Sonya.

“Oy! Yang lagi gelap- gelapan! Sini buruan, ntar dikagetin setan loh!” Teriak Ozi dan Budi dari arah api unggun.

“Hahaha.. aman kok! Setan nggak bakal berani nakut- nakutin iblis!” Gue balas teriak.

“Hahahaha..” yang lain pada tertawa.

“Sini buruan! “ Kali ini, Adit yang berteriak.

“Ayuk Ziz” kata Stella sambil menarik tangan gue. Uwwoooowww! Gue hampir pingsan saat itu.

Yang lain udah pada ngumpul dideket api unggun, yang posisinya tepat ditengah- tengah taman. Gue dan Stella datang menghampiri mereka.

“Beck, matikan api unggunnya” kata Ega kepada Abeck, seraya berlari kearah tempat Ozi mempersiapkan kembang apinya.

Terdapat 5 buah kembang api langit dengan masing- masing 8 letusan. Gelap, karena api unggun telah padam. Sunyi.. sampai akhirnya terlihat percikan pemantik.

Whus!! Kembang api pertama meluncur dan bersinar dilangit dengan indahnya. Kembang api itu meluncur bergantian. Total 40 ledakan tercipta dilangit malam itu. Indah..

Saat semua pandangan tertuju kelangit, semua seolah memiliki keinginan yang sama. ‘Aku ingin tetap bersamanya.’ Dengan hanya bercahayakan letupan kembang api, gue berhasil memperhatikan beberapa detik yang sangat berarti bagi temen- temen gue.

Adit merangkul Melo dengan eratnya. Usia berpacaran mereka memang yang paling lama dari yang lain. Terlihat senyum tipis dari mereka berdua. Begitupun Ozi dan Ochi, yang nampaknya belum melupakan pertemuan mereka 3 tahun lalu. Saat dimana mereka berjanji, untuk saling memperhatikan satu sama lain. Genggaman tangan mereka terlalu kuat untuk dipisahkan.

Pelukan Sendy di samping Abeck jelas sulit untuk dilepaskan. Keduanya merasakan saat- saat romantis yang jarang mereka rasakan. Tidak berbeda jauh dengan Ega dan Ve. Pasangan yang malah sering terlihat berantem dan saling ejek ini, sekarang benar- benar tenang menyaksikan letupan kembang api yang beraneka ragam itu. Samar- samar gue mendengar Ve bebisik ‘jangan pernah tinggalin aku..’ Ega pun membalas dengan senyuman tanda setuju.

Budi merangkul Cindy dengan erat, dan tangan Cindy tidak pernah melepaskan gandengannya pada Budi. pasangan ‘kecil’ ini memang yang paling kocak. Mereka cenderung memperlihatkan ‘persahabatan’ dari pada ‘berpacaran.’ Kesannya itu mereka seperti nggak pacaran, namun berhasil meyakinkan satu sama lain kalau rasa sayang mereka itu sudah sangat besar. Sangat. Disebelah kanan Cindy nampak Ayu yang sepertinya sangat senang malam ini, dia menggandeng tangan kanan Cindy dan tangan kiri Sonya yang berada disebelah kanannya.

Dhike menyandarkan kepalanya dibahu kiri gue. Senyumnya terlihat sangat bebas malam itu. Gue banyak berhutang sama adik gue yang satu ini atas semua bantuannya selama ini. Gue melingkarkan tangan gue dibahunya, tanda bahwa gue sebagai kakak, bener- bener sayang sama dia. Disebelah kanan gue, ada Stella yang juga melakukan hal yang sama terhadap Sonia yang berada di sebelahnya. Kasih sayang seorang kakak kepada adiknya memang bener- bener nggak terkalahkan.

Semua hening. Semua terdiam menatap langit. Hanya senyuman dan khayalan masing- masing yang kami lakukan saat itu.

Tiba- tiba telapak tangan kanan gue merasa disentuh sesuatu. Jari – jari gue mulai digenggam erat. Sangat erat. Stella? Gue memutuskan untuk tidak menoleh ke arahnya. Gue memilih untuk membalas genggaman itu dengan genggaman yang lebih erat dari gue. Sambil menatap langit, gue tersenyum dan berkata dalam hati.

           ‘Stella, sesuai keinginanmu. Malam ini telah menjadi malam yang sangat menyenangkan.. khususnya, buat aku..


**



No comments:

Post a Comment

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)