Berjalan dari Dalam Hati

2012/08/02

Fanfic 'For Stella' Part 7; Pencarian




‘For Stella’ adalah cerita fiksi bersambung dengan genre “komedi-romantis”. Penulis, Aziz Ramlie Adam, adalah seorang fans salah satu member JKT48 yang bernama Stella Cornelia. Berkat integritasnya dalam mengidolakan idol group yang satu ini, maka melahirkan inspirasi tersendiri untuk menghasilkan Fanfic for Idol ini.

Episode sebelumnya (part 6); “Siapa sangka bahwa tanda-tanda perhatian dari Stella, untuk Aziz, ternyata hanya proses 'bantuan' untuk sahabat Stella, yaitu Sonya”. Selengkapnya bisa baca DI SINI.

Berikut adalah episode terbaru (part 7), happy reading, guys!



Pencarian

Gue masih kepikiran hal barusan. Sejak ngantar Sonya pulang sampai saat ini (sekarang gue lagi nongkrong di toilet), gue nggak bisa menerka apa maksud Stella. Ah, bodo amat. Gue kan sukanya sama Stella, bukan sama Sonya. Hati gue memberontak.

Selesai melaksanakan kewajiban dadakan ini, gue bergegas menuju dapur. Laper cuy. Gue lirik jam tangan, pukul 23:48 pm. Udah hampir tengah malam. Rumah sebesar ini udah nggak bikin gue takut lagi walaupun gue tinggal sendirian. Alasannya bukan karena gue udah gede, namun karena jelas muka gue lebih serem dari setan, mungkin.

Padahal, malam sebelum ini, gue masih ngerasa enjoy tanpa beban. Kenapa gue jadi galau gini sekarang? Yah, gue memutuskan untuk nambah makan.

Masih jam setengah 1 waktu gue balik ke kamar. BB gue berdering. Ada yang nelpon tengah malam gini? Gue liat, nomer baru?

“Halo, selamat malam” kata gue.

“Ziz!!! Bisa keluar nggak!! Bantuin sini! Turun- turun!”

What? Apa- apan nih? Ntar, gue kayaknya kenal suara ini. Ega???!

“Iya- iya.. bentar nih gue keluar.” Gue menuruni tangga dan bergegas keluar dari rumah. Langkah gue udah sangat sempoyongan seolah- olah bisa terbang.

Dihalaman depan udah ada Ega yang keliatan panik dan ngos- ngos-an. Gue menghampiri dia.
“Eh! Lu kenapa capek banget kayaknya? Habis lari- lari lu kesini?”

Ega bangkit, “nggak sih, gue naik mobil tuh” kata Ega sambil nunjuk ke arah pinggir jalan didepan rumah gue.

“Terus? Muka lu nggak banget deh kalau begitu” kata gue yang udah mulai ngantuk, lalu duduk dikursi teras depan.

“Temenin gue!! Ve hilang!!” Kata Ega yang mendadak mukanya jadi lebih panik ribuan kali lipat.

“Ha???! Tenang lu , bentar- bentar! Tunggu disini!” Gue bergegas masuk menuju kamar sambil ikutan panik, sekilas mirip jaguar yang kebelet pipis trus lari- lari nyari toilet.

Nggak sampai 2 menit, gue udah balik kedepan menemui Ega. Sebenarnya gue masuk cuma ngambil jaket, handphone, dan dompet.

“Terus?” Tanya gue bengong.

“Ya, ikut gue!! Ayok buruan” kata Ega yang mukanya jadi mirip om- om ronda malam.
Kami memasuki mobil Ega. Beberapa menit kemudian kami udah keluar dari kompleks perumahan gue.

Di mobil, Ega menceritakan semuanya. Ternyata Ve sedang berantem sama bokapnya, karena Ve membela nyokapnya, saat mereka sedang ada suatu konflik kecil.

“Tadi gue pengin nganterin makanan kesukaan Ve kerumahnya, kebetulan nyokap gue bawa oleh- oleh gitu. Gue sengaja nggak ngehubungin dia karena mau kasih kejutan. Tapi pas gue sampai kerumahnya, di teras, gue ngeliat nyokapnya nangis sendirian”

“Waduh.. terus nyokapnya ada ngomong apa?”

“Nyokap sama bokapnya ada masalah gitu, bokapnya sempat mukul nyokapnya Ve. Yaah.. karena Ve ikut campur, malah dia juga kena imbas tamparan bokapnya”

“Terus? Ve ada bilang, kabur kemana?”

“Kata nyokapnya sih dia cuma bilang mau pergi, karena bokapnya yang ngusir”

‘’Terus bokapnya dimana? Nyokapnya?”

“Bokapnya pergi entah kemana setelah ngusir Ve, sementara nyokapnya yang masih dirumah coba ngubungin Ve tapi nggak bisa”

“Ntar, trus kita mau nyari kemana? Udah malem banget loh

“Bentar”

Ega segera menghentikan mobilnya di pinggir jalan, dekat sebuah warung kecil. Dia turun, dan terlihat dari mata gue dia sedang sibuk berbincang dengan seorang ibu- ibu. Nggak lama kemudian dia balik ke mobil dan segera tancap gas.

“Siapa?” Tanya gue dengan penuh rasa heran.

“Itu mantan pembantu dirumah Ve dulu”

“Terus?”

“Dia itu emang yang paling tau soal kebiasaan Ve, dan gue udah sangat akrab ke dia sama seperti dia akrab dengan Ve”

“Terus, lu dapet info apa dari mbok itu?”

“Katanya kalau lagi ada masalah, Ve sering pergi ke daerah .. ini!” Ega berhenti tiba- tiba.

“Ha!?” Tanggap gue nggak percaya.

Dihadapan gue udah ada gang kecil, serem, dan gelap. Sekilas gue kayak pemeran Resident Evil yang lagi silaturahmi ke Silent Hill.

“Lu yakin?”

“Turun aja dulu”

Ega kalau soal Ve, emang nggak pernah setengah- setengah. Apapun dilakukan. Gue ngikutin Ega keluar mobil. Maklum, mobil nggak bisa masuk ke gang sesempit itu.

Beberapa langkah kami berjalan, kami sampai di persimpangan jalan. Gue diem, menatap Ega.

“Jangan bilang lu nggak tau jalannya kemana,” kata gue, berharap Ega bilang ‘tau kok.’

“Gue tau.. tapi.. lupa” kata dia sambil melotot ke arah gue.

JGEEERRR!!!

Ega memang paling lemah dalam bidang ini. Gue lirik jam tangan, 01:33 am.

“Jadi? Kita balik gitu?” Tanya gue.

“Tanggung Ziz, kita ke.. arah sana deh” kata Ega sambil menunjuk ke arah  kanan.

“Yakin?”

Belum sempat gue selesai minta penjelasan dari Ega, dia udah narik tangan gue supaya ngikutin dia.

Nggak jauh didepan, gue ngeliat banyak preman yang samar- samar keliatan lagi mabuk- mabukan. Mampus. Ega malah makin ngeyel ngelewatin gang sempit yang dikuasain preman- preman tengil itu.

“Permisi bang, numpang lewat” kata Ega seraya menundukkan badan. Gue cuma bisa ngekor dibelakang. Awalnya mereka nggak ‘ngeh’ mungkin karena faktor mabuk berat. Sampai tiba- tiba..

PRANNG!

sebuah botol minuman baru aja dibanting salah seorang preman itu. Gue dan Ega berbalik perlahan, berharap akan ada Panji Manusia Millennium, yang datang menolong.

“Anak mana lu berani masuk sini!!!??” Teriak salah satu preman yang mukanya paling serem. Mereka berlima, dan yang ngomong tadi kayaknya bos mereka. Dimata gue, mukanya persis seperti tali sepatu yang kelilit di rantai sepeda.

“Em.. kami ada urusan sebentar mas, boleh kan?” Tanya Ega, yang tiba- tiba jadi sopan.

“Eh iya iya.. hehehe” kata gue gugup nggak karuan, sambil senyum senyum nggak jelas.

Para preman itu membuat sebuah lingkaran. Mereka nampak sedang berdiskusi tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya, kepada gue dan Ega. Sekilas mirip klub cheers yang lagi berdoa sebelum perform.

“Gimana kalau kita lari?” Bisik gue, ke Ega.

“Kalau mereka ngejar?”

“Ya kita tambah kecepatan,” kata gue meyakinkan.

Kami mengambil nafas dalam- dalam. Saat kami udah mulai melangkah, para preman itu nampaknya telah selesai berdiskusi. Dan saat melihat kami yang udah mulai kabur, mereka pun tanpa ragu mengejar kami.

“Ega! lu tau tempat yang jadi persembunyian Ve, kalau lagi ada masalah itu??!” Kata gue dengan nada agak nyaring karena kita lagi lari.

“Gue nggak tau, tapi kata mbok tadi, rumahnya warna kuning persis disebelah musium buaya!”

“Ha?? Buaya??” kata gue, yang mulai bingung. Emang daerah ini jauh dari kota, karena itu gue jarang kesini dan rada belum hapal daerah sini. Sejak kapan disini ada musium buaya??

Gue sempatkan menoleh kearah belakang. Busyet! Mereka membawa balok masing- masing. Mampus gue kalau kena. Kami terus berlari kearah depan sampai nampak persimpangan jalan, satu kekiri, satu kekanan.

“Ziz?” kata Ega, yang gue paham, maksudnya adalah ‘gimana nih?’

“Yaudah,” kata gue yang masih ngos- ngos’an. “Lu kekiri, gue kekanan!”

“Yakin?”

“Yap. kita cuma buang- buang waktu kalau begini”

“Oke.. jaga diri masing- masing!” Kata Ega, sambil menyodorkan jempolnya.

“Sip! sampai ketemu, dirumah buaya!!!”




Mata gue terus memperhatikan sekeliling, mana musium buaya? Gue memutuskan untuk berhenti sebentar di belakang sebuah pohon. Lemes, gila. Ini bener- bener pengalaman pertama gue olahraga, tengah malam.

“Gue tau lu disekitar sini! Dapet gue, gue hancurin lu!” Teriak seseorang dari arah belakang gue.

Mampus. Gue pun bersandar dipohon itu, merapat, dan semakin merapat. Gue menutup mulut gue sendiri. Nafas gue udah sengal- sengal bebek nggak beraturan. ‘Mudahan dia nggak liat.’

“Bos, ngapain kita ngejar yang ini, toh duit dari anak yang satunya tadi udah lumayan banyak” kata salah satu dari mereka. Gue nguping. Ega ketangkep? Sial, pikiran gue semakin nggak tenang!

“Eee.. bodoh kau, mereka itu datang berdua kesini, kalau salah satu berhasil keluar, pasti bakal ngadu yang macam- macam sama orang. Sikat abis pokoknya!”

kamprettt!!! Dalam hati, gue menggumam. Gue liat jam tangan gue, 02:15 am. Gila, jam segini mereka masih aja pengin makan orang. Tiba- tiba gue ada ide.

Gue ngambil batu yang ada di sebelah gue, lalu gue lempar menuju arah semak- semak yang berlawanan arah dari gue. Jadi, kalau saat ini posisi gue ada di sebelah kanan mereka, gue melempar batu itu ke arah kiri mereka.

“Bos, liat tuh semaknya goyang- goyang!” Kata salah satu dari mereka, yang melihat ke arah terlemparnya batu gue tadi.

“Berarti itu! Ayo kejar!” Perintah bos mereka. Mereka pun berlalu. Gue membuka mulut dan menarik napas dengan brutal.

Hah.. hah.. kampret! Penjahat gila! Sumpah gue dari dalam hati.

Gue liat mereka bertiga. Berarti 2 lagi pasti, yang nangkap Ega. Gue berbalik arah menuju jalan yang Ega pilih tadi. Gue ngeliat sebuah balok yang ukurannya cukup mengenaskan kalau kena kepala. Gue putuskan untuk membawanya.

Gue jalan pelan – pelan, berusaha nggak menimbulkan suara. Disekitar gue bukan lagi rumah- rumah panduduk, melainkan bekas warung- warung yang nampaknya sudah lama ditinggal. Berbagai macam botol minuman keras dan filter serta bungkus- bungkus rokok bertebaran dimana- mana. Kampret, gue terjebak.

Perlahan ada bayangan Stella muncul lagi dikepala gue. Shit! gue nggak mau disaat begini malah mikirin dia. Dia udah mainin gue parah banget! Gue nggak peduli! Lupakan!

Sekarang yang harus gue lakukan adalah, nemuin Ega dan Ve, lalu keluar dari sini. Titik.

“Coy! Ada tikus tuh!” Kata seseorang dari arah belakang gue. Anjrit, mereka ada dibelakang!
Mereka melayangkan balok yang mereka punya kearah gue, tapi gue refleks menangkis itu dengan balok yang gue punya. Mungkin karena mereka berdua, dan badannya emang lebih gede, gue pun sampai tersungkur ke tanah. Gue nggak diam disitu aja, gue pun menggenggam pasir sebanyak-banyaknya dan gue hamburkan ke muka dua orang preman yang muka dasarnya memang aneh itu.

“Aaaaahh!!!!!” Mereka berteriak.

Kesempatan itu nggak gue sia- siakan, gue memukul bagian belakang lutut mereka satu- persatu dengan balok, sekuat tenaga gue. Setelah mereka sampai pada posisi berlutut, gue udah khilaf, batok kepala mereka jadi sasaran gue berikutnya.

“Aaaaahhh!! Kampret!! Mampus lu!!” Teriak gue yang kayaknya udah mulai kehilangan akal sehat. Gue terduduk sebentar. Sial! Malam apa ini!? Bener- bener nggak banget!! Gerutu gue dalem hati.

Gue lirik jam tangan gue, jam 02:33 am. Masih terlalu pagi, lagipula nggak ada rumah orang yang bisa dimintain tolong disini. Gue bergegas berdiri, dan mengikuti naluri aja kemana gue harus pergi.

Saat sedang jalan terseok seok, tiba- tiba ada sebotol air mineral jatuh dari langit. What? Gue nengok kearah atas, tapi nggak ada apa- apa tuh. Karena kebetulan gue lagi haus, gue minum aja karena minuman itu masih bersegel, belum dibuka.

“Seger??” Kata seseorang dibelakang gue. Ternyata air mineral itu bukan jatuh dari atas, tapi dari arah belakang gue. Saking lemesnya, gue jadi nggak sadar hal sesederhana itu.

Gue noleh. Nampak sosok seorang perempuan yang lumayan manis, rambutnya diikat mirip samurai jepang. Pakaiannya acak- acakan.

Sorry, kalau lu bagian dari mereka, gue nggak punya urusan sama elu” kata gue seraya membalikkan badan menuju arah depan kembali.

“Hem.. justru harusnya lu pikirin diri sendiri dong. Jelas- jelas bukan orang sini, tapi nekat masuk kesini” kata cewek itu santai.

“Trus?” kata gue, lemes.

“Gue bisa bantu lu keluar dari sini, karena gue hapal banget jalanan sini. Tapi tolong katakan maksud, dan tujuan elu kesini!”

“Gue pengin nyelamatin temen gue yang ditangkap sama preman- preman jelek tadi, dan seorang lagi yang ada dirumah buaya” kata gue ngasal.

“Hah?? Oke gue bantu lu nyari temen lu yang ditangkap. Tapi kalau dateng ke rumah buaya, silahkan dateng sendiri. Oh iya, lu bisa panggil gue, Gaby” kata cewek itu.

“Ya, Gaby.” Gue pun lanjut berjalan, nggak perduli siapa itu Gaby. Atau malah dia juga bagian dari para preman itu? Nggak perduli, karena tujuan gue cuma ngebawa Ega dan Ve pulang.

Tiba- tiba.

“Belok kanan!” Kata Gaby saat kami menemukan sebuah persimpangan lagi. “Biasanya, mereka membawa orang- orang yang dirampok itu, ke arah sana” kata Gaby.

Gue ragu apa tuh cewek bisa dipercaya. Kalaupun dia niat menjebak gue, gue udah siap.

Tiba- tiba, lagi. Ada sesuatu yang bergerak dibalik semak- semak. Gue dan Gaby bersembunyi di balik reruntuhan sebuah warung.

Sosok laki- laki yang wajahnya samar, karena tertutup rambutnya yang panjang, dia menyeret seseorang yang wajahnya penuh luka- luka. Darah memenuhi wajah orang yang di seret pria itu. Nyaris tidak bisa dikenali. Namun, ada yang membuat gue bergidik ngeri.

Baju orang yang wajahnya dilumuri darah itu, Ega..



**

No comments:

Post a Comment

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)