Berjalan dari Dalam Hati

2012/08/04

Fanfic 'For Stella' Part 8; 'Rumah Buaya'




‘For Stella’ adalah cerita fiksi bersambung dengan genre “komedi-romantis”. Penulis, Aziz Ramlie Adam, adalah seorang fans salah satu member JKT48 yang bernama Stella Cornelia. Berkat integritasnya dalam mengidolakan idol group yang satu ini, maka melahirkan inspirasi tersendiri untuk menghasilkan Fanfic for Idol ini.

Episode sebelumnya (part 7); “Ega yang meminta bantuan kepada Aziz untuk mencari Ve yang hilang, malah terlibat masalah saat mereka berdua terpisah akibat pengejaran para penjahat. Aziz yang bertemu Gaby, perlahan mulai mendekati Rumah Buaya”. Selengkapnya bisa baca DI SINI.

Berikut adalah episode terbaru (part 8), happy reading, guys!


'Rumah Buaya'

Gue panas. Kampret orang itu. Gue pengin banget ngabisin orang, yang udah bikin sahabat gue babak belur.

“Tenang, lu jangan gegabah dulu” kata Gaby kepada gue saat orang itu udah berlalu.

“Gimana gue mau tenang, kalau teman gue keadaannya kayak gitu? Lagian kenapa gue harus percaya sama elu?” Protes gue, yang mulai risih terhadap Gaby.

“Pertama, gue orang sini yang tau betul tenteng mereka. Kedua, kalau gue bagian dari mereka, gue udah manggil orang tadi buat ngabisin elo. Dan ketiga, gue jadi anak yatim piatu karena mereka..” Alasan ketiga disebutkannya dengan wajah yang terlihat sedih, gue pun terdiam. Jadi ngerasa bersalah sama Gaby. Gue sadar walaupun kami sama- sama nggak punya orangtua lagi, tapi kehidupan gue masih lebih beruntung.

“Em.. sorry, gue nggak bermaksud..”

“Nggak apa- apa kok.. sekarang terserah elu aja. Lagian gue juga udah berubah pikiran, gue bakal nemenin elu masuk rumah buaya itu” kata Gaby tersenyum.

“Ah.. makasih ya, gue jadi nggak enak sama elu”

“Nggak apa- apa kok, gue juga mau nyari seseorang disana..”

“Ooh.. ntar, yang dimaksud ‘rumah buaya’ itu apa?? Musium buaya gitu?”

“Itu sebutan warga disini, untuk kelompok penjahat terbesar dikota ini. Gue ingat, beberapa kali tempat ini di grebek polisi tapi nggak ada yang berhasil menyeret ‘bos besar’ mereka keluar. Yang elu temuin tadi cuma anak buah biasa aja”

“Waw,” gue nggak nyangka sama sekali akan masuk kesarang penjahat.

“Dan sebenernya sejak masuk kesini, elu, temen lu, dan sekarang gue juga, udah terperangkap ditempat ini. Satu- satunya jalan keluar adalah terus masuk ke rumah buaya itu”

What?

“Lu ingat waktu pertama masuk kesini? Kalian nemuin persimpangan kekanan atau kekiri?”

“Yap” kata gue, setelah mengingat.

“Sebenarnya kedua jalan itu menuju ke satu tujuan, yaitu rumah buaya. Ingat tembok besar yang ada dihadapan kalian, waktu ketemu persimpangan itu? Itu adalah bagian belakang rumah buaya”

“Jadi sistemnya, kedua jalan itu membentuk lingkaran mengelilingi rumah buaya?” Tanya gue yang udah mulai mengerti.

“Betul banget!” Gaby memantapkan perkiraan gue.

Gila, gue baru tau kalau sisi lain kota ini menyimpan hal- hal seperti ini. Kehidupan gue yang bisa dibilang royal, membuat gue nggak kepikiran hal- hal kayak gini. Setelah kenal sama Gaby, gue baru sadar akan suatu hal, ‘jangan merasa sedih dan menyesal dengan kehidupanmu, karena diluar sana masih banyak yang lebih menderita darimu.’ Disisi lain gue bahagia, karena kota ini.. ternyata mirip sama Gotham City.

“Oke, kalau gitu kita kemana dulu?” Tanya gue.

“Jalan, sambil ngikutin temen elu yang babak belur tadi. Itu langsung menuju kerumah buaya”

“Oke deh!”

Kami melanjutkan perjalanan. Gue cek BB gue, ternyata disini nggak dapat sinyal operator sama sekali.

“Percuma lu mau ngubungin siapapun, karena tempat ini selain jauh, juga dijadikan ‘bebas gelombang’ oleh salah satu anggota mereka yang paling jenius,namanya Brian” kata Gaby yang melihat gue ngecek handphone.

BB gue udah masuk saku celana lagi. Gue mengikuti Gaby sambil berjalan pelan. Sedikit saja berisik, pasti akan langsung kedengaran, di tempat yang sesunyi ini.

“Coba liat” kata Gaby sambil menunjuk kearah pondok tempat mereka mengumpulkan orang- orang yang berani masuk kesini, dan tentunya dalam keadaan yang ‘nggak’ baik. Diantara 6 orang yang luka parah itu, gue melihat sosok Ega dengan keadaan yang paling mengenaskan. Wajahnya udah nggak berbentuk lagi. Ega, sorry seharusnya gue tadi nggak ngajak mencar kalau gini jadinya. Sorry, kata gue dalam hati.

Gue dan Gaby masih bersembunyi disemak- semak, deket pondok tempat ‘tawanan’ mereka.

“Setelah kita ngelewatin ini, tinggal selangkah lagi menuju rumah buaya”

“Terus? Kita ngapain dong?” Tanya gue.

“Mereka berlima tuh, lu berani ngabisin berapa?” kata Gaby sambil menunjuk kearah 5 penjahat yang berjaga di pondok itu.

“Karena nggak bisa dibagi dua, gue ambil empat deh” kata gue mantap. Masa SMA gue yang tergolong nakal dan sering tawuran, membuat gue merasa percaya diri.

“Gue akan memancing mereka, lu muter lewat sana dan sekap dari belakang” kata Gaby memberi arahan pada gue.

Deal. Gaby muncul begitu saja dihadapan mereka dengan santainya. Nyali cewek yang satu ini memang nggak perlu di ragukan lagi.

“Hey, kamu kan..!”

Saat mereka menoleh serempak kearah Gaby, gue dari belakang menghantam telinga kiri salah seorang penjahat itu, saat ia telah hilang keseimbangan, gue memutar kepalanya dan menghantam tepat di rahangnya. Telak, gue yakin yang satu ini K.O.

Gaby pun nggak mau kalah dari gue, dia segara menyerang ulu hati salah seorang yang keliatan paling kecil. Dengan satu hentakan, kepala orang itu dia arah kan kebawah, lalu sekuat tenaga dia melayangkan lututnya ke atas, dan tepat menghantam wajah penjahat itu. Bibir pecah, tulang hidung patah. Gue yakin.

2 sudah nggak mampu bicara lagi, dan sisa melumpuhkan 3 orang. Salah satu dari mereka pun berteriak.

“Bantuan!! Pos jaga!!” Entah kenapa terdengar suara gemuruh langkah yang besar, dari arah rumah buaya, mungkin sekitar 10 orang lebih.

Gue nggak mau buang waktu. Gue memulai perkelahian lagi dengan salah seorang dari penjahat itu. Tinjuan tangan kanan? Basi. Ternyata mereka tetep orang kampung yang asal main kekuatan. Gue menghindar lalu perlahan melawati bagian kanan tubuhnya, dan seketika pundaknya sudah ‘bertemu’ dengan siku gue. Tersungkur kebawah, gue menambah dengan satu injakan kaki kiri tepat di dadanya. seenggaknya 2 atau 3 tulang rusuknya berhasil gue bikin patah.

Belum sempat gue menoleh kebelakang, saat seorang lagi mencoba mengincar punggung gue dangan balok, namun tiba- tiba..

“Ahh!!!!!!!!” Teriak penjahat itu lalu kehilangan keseimbangan.

Gue melihat ke arah gaby, dia tersenyum. Karena karet gelang yang ‘diluncurkan’nya berhasil mengenai mata penjahat itu. Gue yang sadar kalau itu suatu kesempatan, nggak mau nyia- nyiain ini. Gue tarik balok itu kearah gue, mematahkan sikunya, merebut balok, dan membalas serangan tepat diperutnya. Balok berukuran 5 x 5 cm dan panjang hampir 1 meter itu berhasil membuatnya muntah darah.

Gue berbalik, sisa 1 orang. Dia memakai topi hitam dangan rambut acak acakan menutupi wajah.  Dia, yang menyeret Ega tadi. Balok pemukul yang dipegang orang ini cukup besar, sekitar 7x7 cm dan panjang mencapai 1 setengah meter. Belum sempat gue dan orang ini ‘satu lawan satu,’ dari belakangnya sudah bermunculan anggota lain kurang lebih 10 orang. Sial! Mereka malah berdatangan seenaknya.

Namun hal yang nggak gue duga, terjadi. Orang yang memegang balok besar itu berbalik arah dan segera membabi buta melayangkan baloknya ke arah teman- temannya. Suasana semakin gila malam itu, sampai tiba- tiba orang itu menarik tangan gue dan Gaby. Tujuan kami tetap, rumah buaya!




“Haaah.. gue capeeeek” gerutu gue sambil garuk- garuk rambut yang kusut karena semalaman, olahraga bareng penjahat. Nafas gue keluarnya udah setengah- setengah.

“Gue juga, pokoknya setelah Ve kita dapatin, kita pergi dari sini!” Ucap lelaki yang tadi narik tangan gue sama Gaby.

“Brengsek. Gue pikir lu udah mati tadi, hahaha” kata gue kepada lelaki itu.

Yap, dia Ega. Sebenarnya waktu dikejar, semenjak dia dan gue memutuskan untuk berpencar, dia berhasil lolos. Namun ada yang menemukannya dan terpaksa mereka terlibat perkelahian. Ega yang berhasil melumpuhkan penjahat itu sengaja menukarkan baju dan sepatunya agar bisa lebih leluasa bergerak dalam daerah itu. Ide yang cukup kreatif menurut gue.

“Jadi lu bermaksud masuk kesana sendirian gitu, kalau gue nggak datang?” Kata gue pada Ega.

“Iya lah, apa pun demi Ve..” dia lalu tersenyum sok keren ke arah gue. Rasanya pengin gue lempar pakai sepatu, tapi gue urungkan karena gue bisa ngerasain kesungguhannya pada Ve. Gue memutuskan untuk balas tersenyum, dan mengacungkan jempol.

“Oke.. syukurlah, temen lu selamat” kata Gaby yang juga merasa senang.

“Yaah.. gue juga makasih buat elu. Ah.. gue Aziz, dengan 2 huruf z,” kata gue menyodorkan tangan, mengajak bersalaman.

“Yap, salam kenal Ziz” katanya sambil tersenyum. Dia juga berkenalan dan berjabat tangan dengan Ega.

Yah.. setelah insiden Ega ‘membabi buta’ tadi, kami memutuskan untk bersembunyi dulu sekaligus beristirahat mengisi tenaga. Gue melirik jam tangan, pukul 03:20 am.

“Pagi masih lama ya?” Tanya Gaby ke gue.

“Iya.. kurang lebih begitu” jawab gue.

“Sebelum pagi kita harus ngebawa temen kalian keluar dari sini. Karena kalau pagi sudah tiba, tempat ini akan berubah dan kalian harus menunggu malam selanjutnya untuk bisa nyelamatin dia lagi” kata Gaby, yang wajahnya udah mulai terlihat lelah.

“Berubah..? maksudnya?” Tanya gue dan Ega hampir bersamaan.

“Iya.. karena kalau pagi….’’ belum sempat melanjutkan kata- katanya, kami dikejutkan oleh suara beberapa orang yang datang.

“Bener tadi lu liat, mereka kesini!!!!??”

“Beneran bos!!! Gue yakin banget tadi mereka kearah sini!” Kata salah seorang lagi.

Didengar dari langkah kaki mereka, mungkin sekitar 3 orang. Yap, kami bersembunyi dibawah lantai sebuah ‘rumah-panggung’ zaman dulu. Kami pun menutup mulut masing masing, dan hanya desiran nafas yang terdengar perlahan. Nggak lama kemudian, tidak ada suara lagi. Kami mulai lega.

DASH!!!

Suara itu muncul bersamaan dengan tembusnya mata kapak kurang lebih 1 meter dari depan mata gue. Gila! Mereka mulai menghancurkan lantainya dengan mengayun - ngayunkan kapak secara acak kelantai. Ega memberI instruksi untuk tiarap.

Persis seperti latihan tentara, kami menuju arah belakang rumah itu sambil merayap. Sekilas mirip buaya lagi senam lantai. Sementara, mata kapak itu perlahan mulai menghancurkan lantai di titik yang berbeda- beda.

Lolos! Kami sampai dibelakang rumah itu. Terlihat hanya hutan sejauh mata memandang. Gue melirik seekor ayam yang kebetulan ada disitu, dan ayam itu juga menatap gue tajam.

“Peetooook!!! Petok petok!! Pepepe toktoktok!!! Petok tokpe!!” Bunyi ayam rapper itu. Ayam gila!!!!

Terdengar suara dari dalam rumah, “bos!! Ada suara ayam yang nggak wajar dibelakang!” Kata salah seorang yang mengejar kami. Kampret, sampai ayam juga termasuk komplotan mereka? Kami memutuskan untuk lari memasuki hutan, tergantung hoki aja lah. Kami pasrah.

Kami berlari sekencang mungkin sampai gue yang larinya paling depan tersandung sesuatu seperti kayu, yang sengaja ditancapkan disitu (sejenis pembatas hak milik tanah) lalu gue jatuh menubruk pagar yang terbuat dari kawat besi! Dan hasilnya badan gue sukses lecet- lecet. Aaaah!!!! Gue menjerit dalam hati, sambil menggigit bibir bawah gue hingga hampir berdarah.

“Ziz!” Teriak Gaby dan Ega sambil nolongin gue.

“Banyak banget luka nya” kata Ega kepada Gaby.

“Adduhh.. gimana ya??” Kata Gaby, mulai terlihat panik.

Gue bangkit, membersihkan tanah yang menempel dibadan gue, kumuh banget. Suer. Gue mencoba menahan dan tetap terlihat biasa.

“Haha, gue biasa aja kok. Nggak apa- apa. Sekarang.. apa kita nyasar??” Kata gue sambil tersenyum lalu memalingkan tanya kepada Gaby.

Gaby hanya diam, lalu perlahan dia melangkahkan kakinya ke depan. Dan dia berbicara
“Nggak. Justru kita.. udah nyampe. Sini liat” katanya sambil memainkan tangannya sebagai tanda kalau kami harus mendatanginya.

“Waaaw.. “ Gue dan Ega terkagum.

Ternyata kami sudah sampai di taman sebelah kiri ‘rumah buaya.’ Terlihat halamannya yang luas serta penuh nuansa keraton kerajaan. Di tengah- tengah, terdapat sebuah kolam besar dengan air mancur berbentuk buaya raksasa.

Nggak jauh dari sana, ada 2 orang wanita sedang bercengkrama sambil menikmati teh hangat.

“Ternyata, hutan ini jalan pintas untuk masuk ke dalam..” kata Gaby.

“Ziz.. liat..” kata Ega, sambil menunjuk ke arah dua gadis itu.

“Iya.. kok bisa dia disana…?”

Ve..



**

No comments:

Post a Comment

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)