Ini Ximin

Saturday, August 04, 2012

Fanfic 'For Stella' Part 9; Di Balik Sosok Itu





‘For Stella’ adalah cerita fiksi bersambung dengan genre “komedi-romantis”. Penulis, Aziz Ramlie Adam, adalah seorang fans salah satu member JKT48 yang bernama Stella Cornelia. Berkat integritasnya dalam mengidolakan idol group yang satu ini, maka melahirkan inspirasi tersendiri untuk menghasilkan Fanfic for Idol ini.


Episode sebelumnya (part 8); “Ternyata Ega hanya berpura-pura tertangkap, dan itu berhasil membawa Aziz, Gaby, dan Ega, menemukan sosok Rumah Buaya”. Selengkapnya bisa baca DI SINI
.
Berikut adalah episode terbaru (part 9), happy reading, guys!


Di Balik Sosok Itu


“Tunggu!” Kata Gaby, seraya menarik tangan Ega yang nggak sabaran pengin ketemu Ve.

“Kenapa? Udah jelas Ve ada disana, kita bawa dia pulang” kata Ega setengah ngotot.

“Menurut gue juga, sebaiknya kita nggak boleh buru- buru deh. Lagian kita nggak tau Ve itu disana sebagai sandera, atau bukan. Dan juga, kita udah nyampe dirumah buaya, kita nggak tau apa yang akan terjadi.” Kata gue mulai ber-argumen.

Kami memutuskan untuk mengintip dari taman itu. Terlihat Ve sedang bersantai bersama seorang gadis muda yang sepertinya seumuran dengan kami juga. Wajah Ve terlihat tenang dan rileks, nggak seperti orang yang disandera.

Kami melihat sekeliling. Nggak ada yang berjaga- jaga di rumah seluas ini? Apa karena ini masih terlalu pagi? Lalu apa yang sedang dilakukan Ve dan gadis itu disana? Banyak tanya yang muncul di benak gue.

“Ah! Gue nggak tahan lagi!” Ega segera berlari keluar taman, tempat kami bersembunyi.

“Ega! Stop!” Teriak gue.

Dia berhenti, saat sebuah mata pisau menatapnya tepat 10 cm didepan lehernya. Dia bergidik sambil menelan ludah. Gue dan Gaby juga telah keluar dari taman itu. Kami bertiga ketahuan.

Ternyata penjagaannya memang tidak terlihat, karena mereka bersembunyi juga. Dan hanya muncul pada saat- saat seperti ini. Sekarang seluruh halaman ini dipenuhi penjaga, dan mungkin mencapai 100 orang yang mengelilingi halaman.

“Maksud kedatangan anda tuan?” Kata seorang lelaki paruh baya yang hendak menusuk leher Ega itu.

“Eem.. kami..” kata Ega gugup berat, karena pisau didepan lehernya udah siap menikam.

“Jangan!!” Kata Ve yang berlari- lari menuju arah kami. “Mereka teman- temanku!” Tambahnya lagi. Gadis yang sejak tadi bersantai bersamanya, mengikuti dari belakang.

What? Apa maksudnya ini? Nggak lama kemudian setelah Ve berbicara dengan beberapa penjaga itu, kami dipersilahkan masuk. Bener- bener seperti ‘rumah buaya.’ Gue serem aja ngeliatin para penjaga yang sebagian memegang senjata api, sebagian lagi memegang samurai, dan sebagian memegang balok- balok pemukul yang berukuran besar. Seolah sudah siap perang, dengan apapun yang terjadi.

Ve mengajak kami bertiga menuju sejenis kuil kecil tempat dia bersantai tadi. Udara terasa makin dingin. Gue lirik jam tangan, pukul 03:48 am.

“Kalian..” kata Ve dengan wajah sedih melihat keadaan kami yang kumuh berat. Perlahan matanya berkaca- kaca.

“Kenapa sih kamu pergi nggak bilang- bilang? Kasihan mama kamu nyariin tadi waktu aku kesana..” kata Ega yang tersenyum bahagia, karena udah ketemu Ve.

“Maaf..” kata Ve, lalu memeluk Ega sambil menangis.

Gaby dan gadis itu mulai terharu juga, mata mereka terlihat berkaca- kaca. Sementara, gue mulai ngaca beneran, karena kebetulan disitu ada cermin.

“Lu nggak apa- apa ziz? Kayaknya parah tuh ,” tanya Ve kepada gue, setelah dia melepas pelukan dari Ega dan menghapus air matanya, berusaha tersenyum.

“Bawel, ini mah nggak ada apa- apanya kalau demi kalian. Hahahaha” kata gue tersenyum.
“Bisa aja lu” kata Ve yang semangatnya udah keluar lagi.

“Oh iya, kenalin ini adek gue. Namanya Vania, kalian bisa panggil dia Jeje” kata Ve sambil menunjuk ke arah gadis yang bersamanya sejak tadi itu.

What? gue baru tau kalau Ve punya adek, dan gue yakin Ega juga baru tau. Tapi gue mencoba bersikap senatural mungkin.

“Oh.. Jeje.. salam kenal, gue Aziz dengan dua huruf z” kata gue sambil tersenyum.

“Gue Ega, calon kakak ipar kamu” kata Ega yang kayaknya berhasil bersikap lebih natural dari gue.
“Hahahahahaha….” yang lain pada tertawa.

“Gaby.. makasih ya” kata Ve tersenyum pada Gaby.

“Sama- sama.. gue juga kebetulan lagi nggak ada kerjaan aja, hahahah” kata Gaby ketawa.

What?? apa lagi ini?? Kenapa Ve kenal sama Gaby? Otak gue udah mulai konslet mikirin ini.
“Kalian saling kenal?” Tanya gue, heran.

“Iyaa.. gue Gaby, anggota ‘rumah buaya.’ Kakak gue, Brian, juga anggota kelompok ini”

What??” Kata gue dan Ega, nggak percaya.

“Dan ini Veranda, putri bos kami” lalu Gaby berkata lagi, sambil menunjuk kearah Ve. Ve hanya tersenyum.

Mati, gue hampir mati.

“Tolong.. siapa yang bisa ngejelasin semua ini” kata gue mulai kepanasan otak.

Ve dan Gaby memulai ceritanya.

Ternyata bokap kandung Ve adalah pemimpin sekaligus pemilik ‘rumah buaya’ ini. Itu menjawab pertanyaan kenapa bokap Ve yang dirumah sering kasar terhadapnya dan nyokapnya.

Saat usia Ve masih belum mencapai setahun, ayah kandungnya meninggalkannya dikarenakan merasa tidak bisa menghidupi Ve dan ibunya, yang berstatus sosial lebih tinggi dari ayahnya. Ibu Ve menikah lagi dengan ayahnya yang sekarang.

Begitu pula ayah kandungnya. Ia menikah lagi dan mempunyai seorang anak bernama Jeje. Kenyataan ini diketahui Ve dari ibunya saat mereka sedang liburan berdua. Ve juga pernah diajak ibunya kesini, dan semenjak itu Ve jadi sering pergi kesini kalau lagi ada masalah, apa lagi sejak ibu dari Jeje meninggal dunia 3 tahun yang lalu.

“Jadi sebenernya nyokap lu tau kan kalau lu ada disini?? Kok dia nggak ngasih tau kita ya??” tanya gue pada Ve.

“Itu..”

“Itu pasti karena nyokapnya Ve nggak mau liat kalian babak belur kayak gini. Yaah.. kaliannya aja yang bandel, padahal nyokapnya Ve tau dan yakin, kalau Ve pasti pulang” kata Gaby.

“Tapi waktu gue datang kerumahnya, nyokapnya lagi nangis dan terlihat sedih banget” kata Ega.

“Itu bukan karna gue kok, nyokap gue selalu merasa aman kalau gue kesini. Masalah ada pada suaminya sekarang, nyokap sayang banget sama suaminya sekarang. Dia nggak mau kejadian bokap dulu terulang lagi, makanya dia sedih.” Kata Ve dengan wajah sedihnya.

Ternyata walaupun disakiti bagaimanapun, nyokapnya Ve nggak mau pergi dari rumah itu karena perasaannya ke suaminya. Padahal Ve udah sering ngajak kabur ke rumah buaya ini, tapi nyokapnya nggak mau.

“Terus? Kok lu tau banget kalau gue sama Ega mau ketemu sama Ve?” Tanya gue ke Gaby.

“Gue sama Ve bisa dibilang temen dekat disini, dia sering banget cerita tentang kalian. Walaupun gue belum pernah ngeliat kalian, tapi dari pandangan pertama aja gue udah tau kalau kalian temen- temennya ve, hehehe” kata Gaby.

“Pacar” kata Ega meyakinkan.

“Iya pacar.. hahaha” kami pun tertawa.




Nggak terasa langit semakin terang. Kabut mulai menipis. Tawa kami sejak tadi subuh sampai menjelang pagi berhasil membangunkan seseorang.

“Veranda, Jeje, Gaby.. kayaknya kita lagi kedatangan tamu” sapa seseorang yang tinggi besar. Wajahnya nampak sangat ramah, dengan kumisnya yang lumayan lebat.

“Papa..mereka temen- temenku” kata Ve sambil tersenyum kearah ‘papa’ kandungnya itu.

“Aah.. Aziz, om..” kata gue menundukkan badan tanda penghormatan.

“Ega om.. pacar.. eh, maksud saya temen Ve, om” kata Ega yang masih takut- takut, ngaku pacar Ve.

“Hahaha.. rileks aja kak, kalau sama papa. Pah, ini pacarnya kak Ve loooh. Hehehe” kata Jeje yang mulai angkat bicara.

“Hahahaha, anak muda jaman sekarang, nggak apa- apa. Nggak usah malu sama om. Hahaha” tawa bapak itu terdengar nyaring.

“Hehe.. iya om” kata Ega malu- malu.

Gue ngelirik ega. Yaiyalah, siapa berani macam- macam sama anak Yakuza begini. Ega emang nggak salah pilih. Kelak kalau dia udah nikah, nggak akan ada yang berani ganggu keluarganya lagi karena dia adalah menantu Mafia.

“Ve, kamu mau pulang sekarang?” Tanya bokapnya. Gue ngelirik jam.. udah jam 06:12 am.

“Yaudah pah.. lagian Ve juga udah puas, curhat semaleman sama Jeje. Ve juga kangen mama” kata Ve pada bokapnya.

“Lewat belakang, atau lewat depan?” Tanya bokapnya.

“Depan aja gih pa, mau ngeliatin daerah sekitar sini ke mereka” kata Ve sambil tersenyum, lalu pamit pulang.

“Dadah kakak… main kesini lagi yaaaa!!!” Teriak Jeje dari teras rumah. Ve tersenyum sambil melambaikan tangannya “iyaaa!! Pastii!!”

Gaby menuntun gue, Ega, dan Ve menuju pintu depan. Terdapat sebuah pintu kecil pada tembok besar yang mengelilingi rumah itu. Gaby membuka kunci, dan mengajak kami memasuki pintu kecil itu. Kami masuk, lalu Gaby kembali mengunci pintu itu.

Takjub. Itu yang gue rasakan pertama kali. Pada saat masuk, kami seperti memasuki sebuah mini market. Berbeda suasananya. Disini ramai dengan orang yang berjualan, dan para pembeli. Kami menelusuri ruangan itu, ribetnya seperti labirin. Hanya Gaby yang hapal jalan itu menuju luar. Kalau gue, pasti udah nyasar sejak tikungan pertama.

Kami keluar ruangan itu, dan matahari menyinari tubuh gue yang mulai ngerasa sakit gara- gara gulat sama kawat besi tadi. What? Seketika tempat yang super serem tadi malam itu berubah menjadi pasar tradisional. Gabungan ruko, dan warung- warung kecil. Nggak keliatan seremnya sama sekali. Suasananya jauh 180 derajat dengan semalem.

Gue noleh kebelakang, nggak ada sama sekali tanda- tanda adanya rumah buaya.

“Seperti nggak keliatan kan?” Kata Ve kepada gue yang bengong.

“Iyaa yaa..” gue mengangguk.

“Itu lah hebatnya bos, dia mendesain rumah itu tepat ditengah tengah daerah ini dan berhasil membuatnya nampak kasat mata kalau disiang hari” jelas Gaby.

“woooow… bokap lu emang the best Ve!” Gue mengacungkan jempol.

“Tapi , apa para pedagang ini nggak takut sama rumah buaya itu? Bahkan kesannya, mereka malah ‘melindungi’ keberadaannya?” Kata Ega bingung.

“Itu karena, semua pedagang disini adalah para pedagang yang bos kumpulkan untuk berjualan disini. Rata- rata mereka, adalah para pedagang kaki lima yang terkena gusuran pemerintah dan tidak mendapat ganti rugi. Sebagian malah diberi modal oleh bos,” kata Gaby seraya membangga- banggakan ‘bos’nya, ayah kandung Ve.

“Wooow.. berarti bokap lu baik banget ya Ve” kata gue.

“Baik banget lah. Kalau bukan karena ayah Ve, tingkat pengangguran di kota kita akan semakin bertambah. Lagi pula para pedagang disini nggak perlu membayar uang sewa untuk jualan, semua gratis” kata Gaby menambahkan.

Haa??!! Kok bisa?? kata gue dan Ega kaget.

“Itulah alasannya polisi takut masuk kesini, selain anak buah bos yang nggak terhitung jumlahnya. Tanah ini juga merupakan tanah ‘sah’ milik bos”

“Wowwww..” gue dan Ega bengong. Merasa kagum akan keberhasilan ayah ve.

“Bisa dibilang kalau bos, adalah pahlawan bagi rakyat seperti kami” kata Gaby lagi sambil tersenyum.

“Ehm! Ega juga pahlawan kok..” kata gue.

“Hem??” Mereka bertiga bingung.

“Dihati Verandaa” kata gue melanjutkan.

“Ahahahahahahahahaha….” kami semua tertawa.

Kami berjalan terus menelusuri ‘pasar buatan’ itu, atau lebih kerennya gue sebut ‘pasar buaya’ aja ya?

Terlihat dari sini, Ega dan Ve jalan bergandengan tangan. Mesra. Gaby didepan mereka sambil sesekali becanda bersama. Sedangkan gue berjalan paling belakang.. jauh dibelakang. Bukannya gue iri liat kemesraan Ega dan Ve, hanya saja….. gue lagi nunggu abang penjual donat buat ngebungkusin donat yang gue beli, hahahha. Dari tadi gue udah ngeborong banyak makanan. Habisnya kue- kue tradisional disini terlihat lebih menggiurkan dari biasanya. Sejak tadi, gue udah membeli 3 bungkus nasi kuning, 4 buah lumpia, 10 pastel, 5 kue bolu, dan 10 biji donat yang akan gue habiskan begitu pulang kerumah nanti.

Nggak kerasa setelah terlena dengan keramaian pasar ini, kami sampai didepan gang. Terlihat mobil ega basah termandikan embun, lalu ega bergegas memanaskan mesin sebentar. Selagi ega memanaskan mesin, masih ada satu pertanyaan di benak gue.

“Gaby, gue mau tanya sesuatu? Sorry sebelumnya, tapi tadi lu sempat bilang kalau lu jadi anak yatim piatu karena komplotan rumah buaya itu.. sebenarnya kenapa ya? Kalau boleh tau sih..” kata gue dengan enggak enak hati ngucapinnya.

“Oh.. itu karena orang tua gue sahabatan sama bokapnya Ve, kejadiannya udah lama. Tapi menurut gue, orang tua gue itu bener- bener yang terhebat. Mereka rela berkorban demi sahabatnya..” kata Gaby tersenyum.

“Oh, udah- udah, gue terlalu banyak ikut campur. Gue cukup tau alasannya aja, sebabnya nggak perlu kok, hehe” kata gue memotong kata- kata Gaby.

“Hehehe.. nggak apa- apa kok

“Yaudah.. gue pulang dulu ya, kapan- kapan gue balik lagi kesini. Makanannya enak- enak” kata gue sambil ngunyah pastel.

“Hahaha.. iya iyaa.. jangan sungkan- sungkan datang kesini. Dan jangan takut buat kesini lagi malam- malam ya, jagoan. Ahahahaha” kata Gaby, lalu meninju bahu gue.

“Hahaha.. siiip!!” Gue melangkahkan kaki ke mobil Ega. Kami pun berpamitan pulang.

Dimobil, gue mulai berfikir kembali. Banyak pelajaran yang gue ambil dari kejadian semalam. Tentang persahabatan, pengorbanan, dan cinta. Tentang sesuatu yang kita nggap rendah namun kenyataannya merupakan sesuatu yang memiliki nilai yang sangat tinggi. 



**

2 comments:

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)