first time when i see you


Banyak hal yang pengen gue ceritakan, yaah.. selama gue ‘cuti’ ngeblog  banyak banget kepala ini menampung cerita- cerita non fiksi yang ala kadarnya. salah satunya tentang temen gue yang sukses menggait beberapa wanita saat baru aja jadi maba, atau tntang gue sendiri yang lagi berusaha PdKT namun belum menunjukkan hasil (baca: belum ada usaha) 

Kenyataannya, kuliah ini nggak sesulit yang dibayangkan namun sangat sulit dan lebih rumit dari yang gue kira. dalam sehari gue herus menempuh 2 mata kuliah dengan jangka waktu tiap mata kuliah 1 sampai 2 jam. Padahal, sekali masuk mata kuliah Cuma 1 stengah jam, dan sisanya dihabiskan dengan ngegembel dikampus.


Kesibukan gue kuliah plus makan dan begadang membuat gue kehabisan banyak waktu luang. deadline ‘just telling’ gue jadi berantakan, komen pembaca di sana sini. Waktu gue untuk ngadmin fanbase juga jadi terkikis. Followers berkurang 1 per 1. Banyak deh.. bahkan otak gue mulai males ngikut dikepala, dan alhasil gue jadi ngerasa tambah bego.

sedih? Kagak.. baru juga minggu pertama jadi mahasiswa. gue lagi belajar ngatur waktu dan keuangan aja. Ngegembel di kota orang emang paling nggak enak. Batasan fasilitas dan kesengajaan manajer gue (baca: si botak) untuk memacetkan keuangan membuat gue mendidih. Niat baiknya untuk mengajari gue mandiri, perlahan gue serap sebagai ajang ‘bunuh diri’.

Awal tiba disini semua masih berjalan sesuai rencana, sampai tiba saat- saat krisis yang harus gue lewatin dengan jeritan bayi. Menu apa adanya gue serap dengan terpaksa. bahkan, sampai sekarang tumpukan pakaian kotor gue udah mencapai titik jenuh.

Ada duka, tentu ada cerita bahagianya. Yah.. paling nggak itu merupakan suatu warna baru  yang buat gue semangat buat ngampus. dan jika kalian masih bingung itu tentang apa, silahkan tatap foto gue. gimana? Keliatan playboy atau mesum? Benar! Ini tentang wanita! Love! Cinta! Lelaki! Ah.. apaan.
hari pertama prosese belajar mengajar sebagai mahasiswa adalah seminggu yang lalu. kalau di sMA namanya ‘senin kelabu’ karena itu adalah masa suram dimana lu harus meninjakkan kaki kelapangan dan menatap matahri pagi. dan sebagai maba yang ekstrim, gue nggak datang telat. Tapi kepagian! Kalau lu pikir gue rajin karena kepagian berarti lu terlalu cepat mengambil kesimpulan. gue datang kepagian, karena emang gue nggak tau jadwal. Jadwalnya jam 09.40, dan gue datang setengah 8! Perlahan otak gue mulai menyerap suatu kenyataan. Ternyata, nggak ada yang namanya baris berbaris seperti di sekolah dulu.

Temen pertama gue di jurusan dan sekelas, adalah sosok abu- abu kecoklatan yang tampangnya sangat welas asih. gue kenal ni cowok blesteran (jawa- lampung) dari sejak PAMB (percepatan Adaptasi Mahasiswa Baru). Kebetulan karena gue Cuma kenal dia, gue jadi selalu menghabiskan waktu ngampus bareng dia. Mungkin kedengaran romantis, tapi suer kami belum pernah ciuman.
Entah sudah takdir atau emang pola pikirnya lebih parah dari gue, sosok abu- abu kecoklatan itu bahkan udah dikampus saat gue datang. sebut saja namanya mukti. sosok ideal bagi kaum hawa yang sedang sakit jiwa itu membuat gue terharu. Akhirnya.. bukan Cuma gue yang bego..

saat kami sudah mulai menyadari kebodohan, akhirnya kami pergi ke kontrakkan mukti dulu. dan parahnya, hari pertama gue ngampus harus dihabiskan dengan membuang ion tubuh karena motornya mogok dijalan (so, gue jadi tukang ngedorong motor). dan ketika sampai di kontrakkannya, khayalan gue langsung menari nari.. oh, bakalan adem nih. dan ternyata listrik disana lagi padam, untuk kelanjutannya lebih baik nggak usah dibahas.

Cukup dengan kesuraman diatas, kita akan masuk bagian bahagianya (bagi gue). Kelas pertama, mata kuliah pertama, jumpa pertama #eaaa. Namanya farah. Ntar, waktu gue pertama ketemu gue belum tau namanya. gimana caranya gue tau namanya? Ntar bakal gue jelaskan. 

Jadi pagi itu sehabis kerumah mukti, gue dan dia balik ke kampus untuk masuk jam pertama. dan seiring berjalannya waktu, kami berdua sukses telat. Lirikan mata dosen yang melihat mahasiswa barunya datang terlambat membuat gue merinding, dan saat dia tersenyum, gue jadi ingat matahari di telletubies.

Penuh, sesak. hampir 50 mahasiswa dikelas gue, dan seperti kebanyakan orang yang masih malu- malu semuanya mengisi tempat mulai belakang. hanya tersisa barisan depan yang kosong, gue dan mukti sukses jadi pemimpin barisan depan.

Baru aja duduk bersiap memanaskan bokong, datanglah sosok wanita yang tidak terlalu tinggi namun berisi dan uuhhhhh.. wajahnya berhasil ngebuat gue pengen jadi mahasiswa selamanya. Tanpa lirik sana sini, tanpa ada kesan ‘malu’ di hadapan temen- temen yang lain, dia main nyelonong aja duduk di sebelah gue!. gue jadi merasa diapit 2 benua. dikiri ada sosok benua asia yang cantik, dan dikanan ada sosok benua afrika pedalaman yang abstraktif (baca: mukti).

Momen ini memaksa gue berkeringat sesaat. Curi pandang? Jelaslaaah.. gue kasmaran saat pertama jumpa #eaaaa. Masih teringat jelas saat saat dia ngeluarin buku dan pulpen dari tasnya. sedangkan gue, terpaksa sok keren sambil berkata ke mukti

“broo, pulpen gue tadi mana?”

dan dengan penuh pengertian mukti ‘meminjamkan’ pulpenya tanpa melunturkan gaya macho gue. sadar akan ketotololan ini, gue menyerah. gue kagak bawa buku sama sekali.

Lirikan sang dosen yang makin tajam hanya karena gue adalah satu- satunya mahasiswa yang nggak bawa buku tulis saat itu (problem?) mmbuat gue jadi semakin risih.. oh no.. mbak cantik, lindungin gue.

selama pelajaran berlangsung, gue yang kebetulan memakai kemeja biru milik manajer gue itu (suer, itu bukan baju gue) selalu menjadi sasaran dosen dalam setiap khotbahnya. Misalnya..
“naah.. jadi contoh politik itu misalnya.. si baju biru itu membicarakan si mbak baju merah ini. Itu juga termasuk politik..”

gue nggak ‘ngeh’ sama sekali sama penjelasannya. satu- satunya yang gue ngerti di cerita ini adalah, gue ‘si baju biru’ dan mbak cantik itu ‘si mbak baju merah’. gue merasa kalau ibu itu kayaknya cocok jadi mak comblang.

sepanjang perkuliahan pertama itu, gue sukses terkenal sebagai ‘si baju biru’. dan sampai saat ini, banyak temen sekelas yang udah tau nama gue. sedangkan satu- satunya yang gue kenal Cuma mukti. satu lagi, Farah A. Winadya.

Nyari tau namanya ternyata mudah banget. Karena saat pertama itu dia duduk disebelah gue, pas dia ngisi absen, gue udah tau namanya
Jadi begini, apa adanya aja deh. *bersambung*



No comments:

Post a Comment

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)