Just Telling 'for Stella' Part 14; Serangan makhluk




Rasanya gue jadi kehilangan semangat buat menghibur temen- temen yang lain. Gimana bisa, sedangkan gue sendiri nggak bersemangat. Gue mulai menitikkan air mata pertama, namun gue hapus secepatnya karena gue nggak mau keliatan cengeng dihadapan yang lain. Walaupun gue sedar, yang sedang dalam bahaya ini, sahabat gue sendiri.

Sen..” kata gue, menghampiri.
Ziz..” dia ngeliat gue, dan kembali menangis sejadi- jadinya.
Polisi menyuruh kami pulang, untuk menyongsong hari esok yang ‘seharusnya’ bisa menjadi lebih indah untuk kami. Namun apa yang mau dikata, kami malah mengalami hal seperti ini. Yang lain disuruh pak polisi untuk pulang. Tersisa gue, yang bertanggung jawab atas penyewaan tempat ini. Dhike dan Sendy, juga belum mau pulang.
Jadi.. kalau sudah begini apa yang akan kita katakan kepada orangtuanya?” Pak polisi yang cukup ramah itu, mulai ‘menginterogasi gue’
Saya juga tidak tau, pak. Karena, jelas nggak ada tanda- tanda sebelumnya. Semua terjadi tiba- tiba dan.. ya begitu aja” kata gue, menjelaskan apa adanya.
Gue liat Sendy, nggak mampu lagi bersuara. Tangisannya udah berhenti, meninggalkan ekspresi sendu dan mata yang membengkak. Dhike merangkulnya sejak tadi, seolah mengerti. Dia tetap berusaha tegar dihadapan Sendy walaupun diwajahnya terlihat bekas tangisan juga.
Kalau begitu, adik bisa menunjukkan kami dimana rumah orangtuanya? Biar kami bisa langsung menjelaskan semuanya. Tim evakuasi sebentar lagi akan tiba, dan kami perlu berunding dengan orangtuanya atas kelanjutan kasus ini” kata pak polisi ramah tadi. Wajahnya menunjukkan perasaan seolah dia tau apa yang kami rasakan.
Baik pak, ikuti saya aja” gue menuju mobil, ah.. masih pusing kepala. Dhike memapah Sendy yang sudah hampir kehilangan kesadaran. Kasian, gue yakin dia sedang syok berat. Hari yang harusnya membahagiakan baginya menjadi hari yang paling menyakitkan.
Wooy.. mau kemana???” kata suara, dari arah belakang.
What???? percaya nggak percya, itu Abeck! Dan dia berjalan kearah kami terseok- seok, dengan baju compang- camping nggak karuan. Nafasnya sengal ngos- ngos’an.
Sayang…” raut wajah Sendy menjadi berubah drastis. Dia berlari menuju Abeck, lalu memeluknya erat.
Aww, aww aww..” kata Abeck, sambil melepaskan pelukan Sendy. Sendy masih tersenyum menatap wajah Abeck.
Masih sakit, nih, badan..” kata Abeck, sambil mencoba meluruskan punggungnya. Bagi gue, itu kelihatan aneh namun gue senang ngeliat dia baik- baik aja (dalam artian dia masih punya nyawa).
Gue tersenyum, begitu pula Dhike dan pak polisi yang keliatan masih nggak percaya. Gue sih, nggak terlalu kaget, karena gue percaya temen- temen gue itu orang yang kuat dan nggak semudah itu menyerah sama apapun.
Lu hampir bikin Sendy dirawat di RSJ selama tiga tahun, tau nggak? Hahahaha” kata gue, sambil berjalan kearah Abeck.
Hahaha.. kenapa emang?” Kata Abeck. Wajah sok ‘nggak ngerti’nya dipaksa buat timbul. Kampret nih anak, nggak tau apa kita khawatirnya gimana, pikir gue.
Kok.. bisa??” Kata Sendy menatap fokus mata Abeck, seolah menginginkan jawaban yang ‘keren.’ Abeck tiba- tiba memiliki sayap misalnya?
Makanya, kalau narik tangan orang tuh, liat- liat dong. Main ngelepas aja” kata Abeck, ke Sendy.
Apa?? Masa, sih? “ Kata Sendy, mulai berpikir keras.
Abeck menjelaskan semuanya. Ternyata, saat gue menarik tangan Sendy yang juga menarik Abeck tadi, Sendy terlalu ketakutan. Sehingga, genggaman tangannya ke Abeck terlepas tanpa dia sadari.
Abeck yang tadinya agak konslet karena cincinnya jatuh, ternyata kembali pulih ketika sadar kalau dirinya akan jatuh kebawah. Sontak dia mencari jalan selamat yang pas. Dia memeluk sebuah batang pohon. Mungkin mata agak sipitnya itu, membantu melihat retakan tanah, dan mampu mementukan bagian mana saja yang akan jatuh.
Alhasil, dia memanjat pohon yang di-yakin-i-nya nggak akan ikut jatuh kebawah. Sesaat setelah sampai diatas pohon, dia kelelahan, dan tidur!
Woooooww, anak ajaib anda ini, ya. Hahahaha” kata pak polisi ramah tadi.
Hahaha, ajaib banget, pak. Sampai temen sama pacarnya dibikin nangis. Padahal kita khawatir setengah mati, eh, dia malah tiduran dipohon. Hahaha” kata gue.
Kakak juga tadi pake pingsan segala, Hahaha.Dhike yang dari tadi udah mulai ‘segar’ mencoba nimbrung.
Eiit.. diem ya, ini urusan orang dewasa” kata gue, keren.
Hahahaha”
Abeck terlihat mencari- cari sesuatu dari pakaiannya.
Sen,.. ini.Ternyata, cincin itu berhasil didapat Abeck kembali. Bagian luar kotaknya udah nggak banget buat diliat. Tapi isinya, masih bening dan nggak tergores sedikitpun. Jiaaah.. cukup menggambarkan cinta mereka yang kuat, dan nggak tergores oleh apapun, menurut gue.
Sendy jelas menerima dengan hati yang sangat senang. Gue dan Dhike berpamitan pada mereka, dan juga pada pak polisi ramah tadi. Tim evakuasi dibatalkan kedatangannya. Hanya tim penangulangan bencana yang datang.
Abeck segera pergi juga, dengan Sendy. Pulang kerumah masing masing. Gue menghubungi yang lain, dan mengatakan semua baik- baik aja. Yah.. sampai dirumah, semua berakhir. Gue terlelap begitu aja di sofa ruang depan.
*
Gue garuk- garuk kepala saat sadar, gue bangun jam 3 pagi. Ini apaan serem banget? Gue di sofa ruang tengah, sendirian. Lampunya di matiin Dhike, nih, kayaknya. Serem. Gue lari kekamar.
Gue rebahan di kasur, menunggu kapan bisa ketiduran lagi. Kampret, kambuh lagi nih, mata nggak mau nutup. Ngapain dong? Pikir gue.
Gue cek Blackberry, buat iseng buka Twitter di pagi buta. Sepi juga nih, TL gue. Berulang- ulang gue refresh, tetep aja cuman 1 orang yang nongol. Ozi.
‘aduh, nggak bisa tidur lagi *salto*’
Apaan nih, anak, kasian banget. Gue mencoba untuk memejamkan mata kembali. Nggak bisa, padahal udah ngitung domba sampai 100 lebih, dan udah 73 ekor yang diterkam singa.
Telpon Ozi aja, lah.
Woy.. lu kagak bisa tidur? Suntuk, looh”
Ho’oh, ziz, gimana kalau kita jogging??”
Ha?? Dalam rangka apa, ini? Ini hari rabu, dan masih jam 3. Mau jogging, apa nambah penghasilan?”
Maksudnya?”
Ini jam yang pas, karena  tante- tante lagi pada nggak bisa tidur”
Ha?”
Suaminya lembur”
Hening.
Melewati diskusi yang berat, ngalahin telponnnya ABG yang lagi pacaran, akhirnya diambil sebuah keputusan pasti yang akurat. Kita jogging.
Gue mengenakan jaket yang lumayan tebal, karena hawa sekarang sedang sangat dingin. Bukan seperti khayalan lu yang membayangkan salju turun, trus kita ice skating bareng sambil bawa lampion, trus ciuman sama pohon Natal. Tapi lebih ke situasi yang bakal bikin lu rawat inap, karena flu kronis. Suram.
Setengah jam kemudian, gue dan Ozi udah ketemuan di sebuah taman kota. Udaranya masih terasa ‘seger’ dalam artian, saking segernya bisa bikin kita menari- nari karena kedinginan.
Menggunakan style jogging seadanya, jaket, celana olahraga, IPod plus earphone, dan celana dalam super hangat, gue dan Ozi siap keliling kota. Gue tengok jam tangan, masih jam 4 kurang 15 menit. Gue udah bisa memprediksi, bakal jadi seperti apa kaki gue nanti.
Ziz, kita lewat sana, yuk” kata Ozi, menunjuk ke arah tempat nogkrong di sekitar anak sungai dipinggir kota. Nggak terasa, kami udah lumayan jauh dari pusat pemerintahan (apaan).
Buat apa, coba? Itu tempat, kalau malam kan, banyak preman yang lagi nongkrong. Gue nggak mau sampai harus nulis novel, karena selalu terlibat sama preman, ya”
Hahaha.. nggak ada, kok. Liat, noh. Lagian ini bukan malam, ziz, ini subuh. Yuk”
Ozi menarik tangan gue. Sekilas seperti sepasang kekasih, ketika sang cewek menarik cowoknya sambil berkata “cepetan dong sayang, aku kebelet boker”
Kami menelusuri tempat ‘gaul’ yang suram ini. Berbeda dari biasanya, hawa disini tuh berasa amis, sekarang. Seperti ada sekumpulan ikan sungai lagi mabuk- mabukan.
Nah, ikannya muncul beneran! Karena apa? Karena ikan itu, nggak bisa ketebak jenis kelaminnya. Dan sosok yang muncul setelah keluar dari semak- semak ini, emang bener- bener nggak ketebak jenis kelaminnya.
Boooo’ mabuk bareng eyke, yuuuuk” kata wanita berbulu kaki (dan ketek) itu, sambil memegang sebuah botol minuman. Terlihat behel indahnya yang mengkilat dan warna- warni mirip lampu disko. Ternyata, selain kelainan, dia juga ‘gaul.
Waaaa..!” sontak, gue dan Ozi berbalik arah. Nggak lama kemudian, muncul sosok ‘mamalia baru’ lainnya.
Ciin, eyke mau yang jaket merah ini, loh!” Kata makhluk yang satu ini, kepada makhluk sejenisnya yang ada dibelakang gue dan Ozi.
Waaaa..!” Yap. Teriakan itu lagi yang keluar dari mulut kami, karena nggak ada kata lain, seperti ‘mamah..!! Tolong!! Kami dikejar banci!! Kami bahkan belum jadi anak alay!!’ nggak banget, kan.
Kami lari kearah lain yang nggak dijaga sama mereka. Gue yakin, Bang Iko Uwais juga bakal nyerah kalau musuhnya se-perfect ini. Dalam artian, mereka menguasai semua gender.
Zi, lu tanggung jawab sama gue. Kalau sampai perawan gue, eh, perjaka gue direnggut mereka, hidup lu bakal  nggak aman. Hosh, hosh” kata gue terbata- bata, sampai salah ngomong. Kita lagi lari men.
Iya gue juga, kaleeee. Jangan salahin gue, lah. Salahin mereka kenapa ngejar kita??”
Gue dan Ozi masih berlari. Sedikit nggak adil sama jumlah mereka yang lebih banyak dari kami berdua, kami mulai protes.
Jangan cucuk kamiiii!!!!! Aaaaaaaa!!!!!!”
Sekedar noleh kebelakang, nih, sepertinya.. mereka makin banyak! Ini bener- bener kandang zombie dalam Resident evil! Hanya saja, dengan spesies baru.
Sambil berlari, sambil memperhatikan sekitar. Jujur, gue punya banyak temen cowok yang ‘kemayu.’ Tapi mereka masih normal, dan nggak pakai baju cewek. Berbeda dengan ini, macam jenis udah mereka pakai. Ntar, itu kok, nggak pakai celana? Ah, ngaco. Lagian, kenapa kalau nggak pakai celana??? Gue horny, gitu? Uwaaa, pikiran gue udah nggak konsen.
Gue lari sekencang- kencangnya. Tapi, Ozi mana?? Loh? Kenapa sih, minggu ini gue jadi sering terlibat hal mengerikan kayak gini?? Aaahh.. gila.
Gue menyusuri gang kecil yang rasanya makin ngebawa gue nyasar. Dalam hati, gue bergumam, kalau Ozi hamil, gue nggak sudi jadi bapak dari anaknya.
Tiba- tiba kaki gue tersandung sesuatu. Jatuh? Pasti lah,gue jadi gugup setengah mati. Dibelakang gue..
Iih, iyey ni ya.. eyke kan, cuma mau ngaajak iyey bermain- main.” Kata salah seorang bencis. Kenapa gue bilang ‘salah seorang’? Karena, mereka berlima! 5! Lima!
Ampun bang, ini saya punya jam tangan. Asli buatan Paris. Oh, atau ini, jaket ini saya beli waktu lagi study tour ke Australia” kata gue gugup, sambil nawarin jaket merah gue yang bercorak Melbourne.
Iih.. cin, masa’ kita dikira mau nyopet. Dipanggil ‘bang,’ lagi. Hihihi” mereka tertawa sambil mengoceh.
Tawa mereka lebih serem dari pada kuntilanak yang udah punya cucu. Gue harus ngapain lagi?? nawarin celana dalam? Nggak! Itu  lebih fatal! Gue berpikir keras.
Tiba- tiba, salah satu dari mereka udah mencengkram gue dari belakang. Gue memberontak, tapi apa daya, pertahanan mereka lebih kuat dari gue. Mungkin sebelum ‘tercipta’ menjadi makhluk absurd ini, mereka dulunya atlit olimpiade.
Nih, minum dong, boy..” kata salah seorang dari mereka, lalu mengarahkan botol itu ke mulut gue”
Emm, emm…” gue hanya bisa bergumam sambil nutup mulut. Sekilas terlihat seperti adegan pemerkosaan, namun artisnya cowok semua. Sekali lagi, COWOK SEMUA!
Badan gue lemes. Setelah jogging, lalu lari, dan sekarang sedang berusaha meloloskan diri dari penyekapan makhluk asing, akhirnya gue bener- bener ngerasa nggak ada daya. Minuman itu sukses masuk ke tenggorokan gue. Tanpa sadar, gue melahap habis minuman memabukkan itu.
Kepala gue terasa berat. Mereka jadi kelihatan makin aneh dimata gue. Gue tertelungkup, terasa banget perut gue mulai memompa sesuatu ke arah tenggorokan. Gue sukses muntah.
Ih cin.. kasihan dia muntah, iyey sih, kasar sama dia” samar- samar, gue ngedenger mereka ngobrol.
Yaudah.. eyke ngaku salah. Giniin aja, yuk” kata mereka dengan nada ‘centil,’ yang paling mengerikan yang pernah gue dengar.
Gue udah nggak bisa gerak lagi. Lumpuh total. Mereka perlahan membalikkan posisi telungkup gue menjadi terlentang. Mati rasa, deh. Sampai saat seseorang dari mereka meraba leher gue. Dalam hati, gue cuma bisa teriak
Ya Tuhan.. AMBIL .. AKUUUU!!!!!!!!!!!!!

Bersambung, Part 15...

No comments:

Post a Comment

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)