mahasiswa 'ngondek'


Tadi waktu istirahat dikampus (lagi nunggu jam kedua, dan suer, itu ngenes banget)gue dan beberapa teman sekelas udah mulai menjadi langganan abang penjual ‘pentol’. sensasi kenyal dan saos kacang pilihan itu membuat kami merasa nyaman bila didekatnya (terutama, saat memakannya).

Abang pentol ini orangnya baik. Buktinya, dia menaruh gerobak pentol dan dapur untuk membuat es teh secara terpisah. Kenapa bisa dikatakan baik? saat kami datang menghampirinya dan memesan es teh, dia pergi ke arah ‘dapur’nya. dan gerobak pentol yang ditinggal begitu saja terlihat lebih menggiurkan dari biasanya. Alhasil, kami semua makan sepuasnya dan hanya membayar 5000 rupiah per orang (baik banget kan abang pentolnya, 5000 sepuasnya bro..)


sambil berteduh dibawah pohon beringin yang super besar dan rindang tepat bersebelahan dengan pohon jengkol juga, kami mulai ngobrol tentang kehidupan sehari- hari yang absurd dan penuh keanehan.

Layaknya mahasiswa kece, kami mengambil tempat duduk dengan stand yang oke. dan itu berhasil menarik perhatian para mahasiswi yang melihat (kebetulan waktu itu lagi pakai stand boyband). Kami mulai diskusi siang hari itu dengan penuh semangat. tanpa sadar, kalau maba ini telah membuat kehebohan di sekitarnya.

Mulai dari masalah remaja zaman sekarang, drugs, minuman keras, dan lain sebagainya. Otak jenius kami sepertinya mulai terpakai sebagai calon ‘pemimpin’ masa depan (hidup FISIPol), kami berdiskusi. selesai topik yang satu, ganti lagi dengan topik lainnya. sungguh brilian.

Lama kelamaan, semua rahasia dunia mulai terungkap dan dibahas. Masalah ‘bencis’, lalu masalah ‘di sunat’, sontak menjadi trend utama kami siang itu. Mulai mengerikan dan merinding sedikit ketika membahas soal perempuan jantan ini. Apa lagi masuk kebagian ‘sunat’ dimana kami menceritakan pengalaman disunat masing- masing. hening.

Usai berdiskusi dan berhasil mendapatkan 1 kesimpulan yaitu ‘semua yang kami bicarakan tidak penting sama sekali’ kami pun memutuskan untuk pergi ke ruang mata kuliah sosial dan budaya dasar. Kelas dimulai kurang lebih setengah jam lagi.

Memasuki gedung baru tempat kami akan belajar, tiba- tiba dari kejauhan tepatnya di depan gerbang tempat para mahasiswa keluar masuk, terlihat sosok dugong luar angkasa yang menyeramkan. Nah kan.. baru tadi dibicarakn, ternyata kami harus berhadapan dengan dunia nyata yang keras. Kakak tingkat kami.. ‘ngondek’ (bahasa simpel : kelainan; bencis).

Tubuh ‘pria’ ini lumayan tambun dan bongsor banget. Rambut pendeknya agak ikal dan bergelombang. Kulitnya lumayan putih, dan dia memakai baju ketat warna pink dengan bagian dadanya terbuka setengah. Celananya agak ‘gantung’, sejenis karet yang hanya tiga perempat dari kakinya saja yang tertutup. diujung kakinya terlihat sedikit bulu kaki yang sepertinya lupa dicukur (nah kan, gue jadi ngebayangin lagi *mati*)

dia sibuk menyanyi, dan teman- temannya merekam. sungguh pemandangan yang absurd bagi gue karena teman- temannya sendiri menertawakannya sambil merekam. Tapi nggak segokil dirinya sendiri, yang tertawa karena kelakuannya sendiri. Miris.

Cukup hyperaktif untuk ukuran ‘raksasa’ maho seperti dia. serem.. dia sukses jadi tontonan mahasiswa yang keluar masuk pada jam siang itu.

salah seorang teman gue mengajak gue dan yang lainnya untuk menonton lebih dekat ‘pertunjukkan’ bakat nyanyi mas/mbak  tersebut. Waktu kami melotot kearahnya, dia agak sungkan untuk melanjutkan tarian abstraknya. dia salting.

Kampret, gue dan yang lainnya ngakak habis- habisan. Ternyata saltingnya mba/mas itu lebih serem dari saltingnya cewek. seolah mereka ingin menghancurkan apa saja yang ada disekitarnya. hiiiiyy.

Keadaan yang paling serem waktu mba/mas itu nyamperin gue. Keliatannya dia marah tuh karena kami ejek. Kebetulan gue lagi sebelahan sama gila gue yang bernama aldi. makhluk itu semakin mendekat. Lebih dekat, lebih mirip mas makmur temennya sule.

Mukanya makin dekat, awas berani macam- macam, gue cincang lu. Ternyata dia ngajak ‘toss’. dan dengan muka masamnya kami terpaksa buat toss sama dia. Keliatannya dia bahagia banget dapat menyentuh tangan gue dan aldi. sontak kami berdua pun mengelapkan telapak tangan ini ke pipi teman teman yang lain. sekedar.. buang sial



No comments:

Post a Comment

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)