Ini Ximin

Monday, September 24, 2012

Training 'kesuraman abadi'

ini gue lagi latihan 'nulis', minta pendapatnya :)


'Masa kecil itu anugerah.

Bener kan? Bener banget. Jujur, gue dilahirkan sebagai seorang jomblo. Dan gue nggak pernah ngerasa jenuh dengan status ‘bayi jomblo’ karena saat itu sepertinya belum ngetrend kalau bayi udah pacaran. Gue masih fresh, dan semakin gue bercermin, gue makin merasa ganteng (itu dulu).

Realitanya, masa kecil itu adalah yang paling indah. Makan disuapin, kemana- mana digendong, bahkan pup aja di bersihin. Nggak lazim kayaknya kalau kita ngelupain masa kecil. Banyak pelajaran yang bisa didapat dari masa kecil. Misalnya, kita nggak perlu selalu update status BBM seperti “adUch.. b4ru3 bLj4r jl4N n1ch”.


Jauh dari alay, jauh dari cinta. Itulah masa balita yang paling indah. Saat itu nafsu kita hanya sebatas ke mainan, dan makanan. Sisanya mungkin lebih ke kolam ikan dibelakang rumah, atau tumpukan sampah di selokan seberang jalan (suer gue pernah ngubek- ngubek tempat sampah waktu masih 4 tahun).

Awal gue merangkak, gue udah merasakan chemistry yang besar terhadap kehidupan di bumi ini. Mata gue yang tergolong ‘cantik’ ini telah mampu melihat dunia kedepannya. Seolah- olah gue bisa ngeliat masa depan kalau gue.. kelak.. akan susah punya pacar (indigo yang keterlaluan).

Waktu kecil gue ingat pernah punya teman cewek (serius), dan bagi dunia gue saat itu, dia bener- bener bayi yang cantik. Namanya Shinta, keturunan India, atau Arab, atau malah Pakistan (entahlah, dimata gue semua kelihatan sama). Dia merupakan anak temennya nyokap gue dulu. Gue ingat waktu pertama liat dia, gue yakin dia itu first love gue (biasa.. bayi gitu loh).

Layaknya bayi hyperaktif lain, gue mencoba untuk berteman dengan dia. Saat udah lumayan sering bertamu kerumah dia, gue coba kenalan.

“hayoo,, nyama acu aciissss (haloo, nama aku Aziz)” gue mencoba menyapa.

“hayoo aciss.. camu towok apa tewekk?” (halo Aziz.. kamu cowok apa cewek?)”

Sedikit sulit ya untuk kenalan sama lawan jenis kalau masih bayi. Berbedanya penguasaan kosa kata dan kesulitan membedakan gender memang seringkali menjadi permasalahan bagi para bayi. Namun, sebagai bayi yang cerdas gue mencoba untuk memahami maksud pertanyaan Shinta. Gue jawab

“acis iini tewek”

Gue pilih ‘tewek’ karena kata itu lebih kedengaran unyu.

“calau camu tiapa nyamanyaa?? (kalau kamu siapa namanya?)” gue berbalik tanya.

“cinta (Shinta)”

Nah.. itulah kelebihan gue. Gue udah kenal ‘cinta’ sejak masih 4 tahun! Jadi, jangan sombong kalau kalian baru bisa pacaran setelah menyatakan cinta saat ini. Baru kenal cinta ya? Kasian, gue udah dari umur 4 tahun kaleee kenal sama cinta.

Gue makin sering pergi kerumah Shinta, dan tiap pulang dari sana, gue kangen dia (ingat, gue masih 4 tahun!). Kalau lagi bete dirumah sering banget tersirat dalam pikiran gue kalau gue pengen banget mention dia. Tapi gue sadar akan satu hal, gue belum bikin twitter saat itu.

Semua berjalan sewajarnya saja. Gue nggak berani nembak Shinta, dan kami hanya HTS. Gue yakin banyak bayi lain yang bakal iri kalau tau gue dekat sama Shinta. Dijaman gue dulu, dia bayi paling imut. Dan kenyataan bahwa kami masih kecil, membuat gaya HTS kami sedikit berbeda dari biasanya.

Panggilan sayang kami berbeda dari ‘sayaang’, atau ‘bebeb’, atau ‘honey’. Kami punya panggilan sendiri dalam hubungan tanpa status ini. Agar orang tua kami dan para bayi lainnya tidak tau kalau kami sedang saling jatuh cinta, gue memanggilnya

“lambut.. (rambut)”

Dan dia memanggil gue

“jambul baabiii (jempol kaki)”

Mengapa demikian?? Karena setelah kami mengadakan rapat untuk meresmikan hubungan tanpa status ini, kami merumuskan sebuah motto, sebuah prinsip. Yaitu

‘cinta kita ini lebih dalam dari bumi yang kita pijak, dan lebih tinggi dari helai rambut teratas’

Itulah alasan gue memanggilnya rambut. Tapi jujur, sampai sekarang gue nggak ngerti kenapa gue di panggil jempol kaki. Rahasia Illahi.

Nggak seru kayaknya kalau nggak main ‘masak- masakan’. Entah loe cewek atau cowok, kalau waktu kecil nggak pernah main masak- masakan, tandanya lu kuper abiss. Kenapa? Realitanya, 85 persen balita selalu main masak- masakan. Sisanya adalah balita kutu buku yang kurang pergaulan.

Main masak- masakan bareng Shinta juga nggak bakal gue lupain. Sekitar 1 tahun lebih gue HTS-an sama dia, nggak pernah gue ngelewatin hari tanpa permainan itu. Sekarang gue udah berani kerumahnya sendirian. Untuk balita, itu merupakan suatu pencapaian yang berharga. kebetulan waktu itu rumah gue dan rumah Shinta sebelahan.

Panci dari plastik, kompor dari plastik, penggorengan dari plastik, dan peralatan dapur lainnya yang berbahan plastik. Segala peralatan yang berbahan dasar plastik ini memang lebih aman untuk keluarga muda seperti gue dan Shinta. Warnanya juga oke, seperti wajan berwarna merah, kompor warna kuning , piring warna biru muda, banyak deh. I miss it.

Sebelum memulai permainan keren ini, biasanya gue dan Shinta mengadakan briefing terlebih dahulu. Sketsa demi sketsa, skenario demi skenario, harus kami hapal agar permainan ini dapat berjalan lancar. Jika terdapat sedikit saja kesalahan, gue yakin permainan ini nggak akan menarik. Misalnya, kita meletakkan wajan dibawah kompor, itu berarti kita memasak kompornya. Dan gue berani taruhan, kompor itu rasanya nggak enak.

Bahan utama kalau main masak- masakan itu biasanya daun. Suer. Mungkin balita lain memakai bahan pokok lainnya, seperti.. pupuk? Tanah tandus? Atau eceng gondok misalnya? Gue nggak peduli, yang jelas gue dan Shinta udah mengambil keputusan untuk menjadikan daun (khususnya daun ‘belimbing’) sebagai makanan pokok.

Pohon belimbing halaman rumah Shinta memang paling menggiurkan saat itu. Sempat gue berfikir buat nyolong buahnya, tapi gue sadar, gue masih terlalu pendek. Dari pohon belimbing itulah kami berdua bisa mendapatkan stok bahan pokok yaitu daun belimbing. Tiada hari tanpa bertemu pohon itu. Dan

sebagai sosok pohon yang rindang dan besar (menurut gue, itu dulu besar banget), kami punya kesepakatan baru, yaitu menjadikan pohon itu sebagai ‘rumah’ kami saat main masak- masakan. Yap, kami berdua .. dibawah pohon belimbing.

Shinta sedang sibuk memasak, sementara gue yang baru pulang kerja sekarang udah merebahkan diri di sofa sambil membaca Koran. Sebagai balita, imajinasi kami sudah tergolong maju bukan?

Tidak lama kemudian Shinta datang membawakan makanan kesukaan gue (daun belimbing). Dan tiba saat yang paling ditunggu. Jika kalian sedang bermain ‘masak- masakan’, maka akan kurang sensasinya kalau nggak dilanjutkan dengan main ‘makan bohong- bohongan’.

Makan bohong- bohongan adalah penutup yang ‘sah’ dari permainan masak- masakan. Ini adalah sebuah kondisi dimana loe harus ‘memakan’ apa yang telah di masak di permainan sebelumnya. Sebuah situasi dengan tingkat kesulitan yang lumayan tinggi.

*step one : ambil makanan (bahan dasar sesuai selera masing- masing) menggunakan tangan atau sendok

*step two : arahkan ke mulut. Pastikan mulut sudah terbuka lebar sambil mengatakan ‘’aaaaaaaaa’’

*step three : saat makanan sudah dekat dengan mulut maka tutup mulut dan buang makanan itu kebelakang melawati sisi samping mulut (bisa lewat kanan pipi, atau kiri), jangan lupa sertakan suara yang berbunyi ‘’HAP’’ saat menutup mulut.

*step four : tersenyumlah dan katakan “ini masakan terindah yang pernah aku makan” .

Cukup sulit bukan. Gue latihan 4 tahap itu dalam waktu kurang lebih satu bulan. Yang paling sulit adalah tahap ke tiga. Karena membutuhkan konsentrasi lebih banyak ditahap itu. Bayangkan, salah sedikit saja, makanan itu bisa masuk ke dalam mulut!.

Gue termasuk anak manja yang suka menangis dan suka minta dibelikan mainan apapun. Apapun! gue ingat pernah nangis habis- habisan karena minta dibelikan boneka Barbie, suer, Barbie! Boneka itu sekarang udah menghilang keberadaannya. Yang gue ingat, waktu kelas 2 SD gue masih sering mainin tu boneka.

Mainan yang paling gue sayang adalah figuran sosok ultraman. Ultraman ini berwarna biru, setinggi kurang lebih 15 centi meter, dan berbahan dasar elastis. Saking elastisnya, mulut ultraman itu bisa mencium bokongnya sendiri.

Gue sering memainkannya di tumpukan pasir didepan rumah. Entah dari mana, tapi tumpukan pasir itu benar- benar membuat hati gue senang. Ultraman biru gue sering mendaki disana. Dia merupakan sosok yang gagah berani. Ultraman biru gue ini juga pernah mengarungi kolam ikan (kecemplung). Namun sayang, sampai kami berpisah gara- gara gue pindah rumah (dan dia ketinggalan), dia masih jomblo. Gue harap kalau dia udah mau nikah, dia ngundang gue ke pernikahannya.

Balik lagi ke masalah Shinta. HTS gue dan Shinta nggak bertahan sampai 2 tahun. Dia pindah rumah, ke komplek sebelah. Bagi seorang balita, itu merupakan jarak yang lumayan menyakitkan. Karena itu, status HTS kami dirubah menjadi LDR.

Menjalani LDR di kala itu memang merupakan sesuatu yang berat. Karena itu, sejak awal masuk TK, gue sempat selingkuh dengan beberapa cewek sekelas. Namun nggak bertahan lama, gue masih aja kebayang Shinta.

Sering gue ngajakin nyokap buat mampir kerumah Shinta, tapi nyokap nggak pernah punya waktu lagi saking sibuknya. Gue merana, merasakan pedihnya menjadi anak TK yang udah bisa menjalani LDR. Gue galau.

1 tahun kemudian, gue masuk sekolah dasar (SD). Shinta nggak 1 sekolah lagi sama gue. Perlahan gue mulai ngelupain dia. Dan saat semester 2 waktu masih kelas 1, gue pindah keluar kota. Gue sukses ngelupain Shinta. LDR kami putus begitu saja. Tiada kabar. Tiada cinta. Hening.

Apapun yang terjadi sama gue waktu masih kecil, nggak pernah gue rasa sebagai musibah (kecuali waktu ultraman biru gue masuk kolam ikan belakang rumah). Gue selalu enjoy dan have fun aja dalam menjalani kehidupan. Yang gue kenal saat itu Shinta, bukan cinta.

Itulah ‘beberapa’ kenangan masa kecil gue. Nggak mungkin gue ceritakan semuanya, karena emang nggak ada yang penting.

Nah, masih ngerasa masa kecil loe kurang bahagia? Coba ingat lagi, pasti ada kenangan yang indah dan sayang kalau di delete dari memori otak. Apa lagi kalian yang hidup seumuran gue atau malah lebih tua dari gue, itu masih sangat menyenangkan.

Keterbatasan fasilitas dan tekhnologi dijaman kita kecil dulu emang ngasih tantangan tersendiri tau nggak. Bukan hanya sebatas diam dikamar sambil maen games dilaptop seperti anak jaman sekarang (semua sepupu gue yang masih kecil rata- rata begitu), tapi kita lebih cenderung aktif dan mendapat pengetahuan langsung dari alam. Misalnya, menghambur tong sampah diseberang jalan, menangkap ikan di selokan samping rumah, memelihara kecebong sampai jadi kodok, mandi hujan lalu dihajar nyokap, menumpahkan susu dilantai, pup tapi nggak bilang- bilang, waaah.. menyenangkan.






No comments:

Post a Comment

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)