Berjalan dari Dalam Hati

2012/10/01

just telling 'for stella' part 16



‘zi lu emang udah tau dia kemana?”

“kayaknya sih kesana, udah ikut aja” kata ozi yang makin mempercepat langkahnya buat keluar mall.

Kalau aja kami ninja, mungkin sudah melompat kelantai dasar dengan sekali nafas. Tapi kami urungkan, selain ini dilantai 4, kami juga bukan ninja.

gue terus mengikuti langkah ozi. segera kami ke parkiran, mengambil motor dan pergi ke sebuah taman. Ini adalah taman kota tempat anak muda emang biasa nongkrong. sesekali terlihat orang yang pacaran. Rame banget.


“zi, kok kesini?”

“ini tempat pertama kali gue sama ochi ketemuan, waktu itu dia lagi ngegalau gitu sendirian. Yaah.. gue yang kebetulan sendirian juga jadi nyoba ngobrol deeh” kata ozi lalu kepalanya tengok sana- sini.

“hmm..”

Kami menyusuri tempat demi tempat di taman ini.

“eeeh.. itu tuh” kata gue nunjuk ochi yang lagi duduk di bangku taman yang paling ujung. Kayaknya tu tempat yang palingterpencil karena udah dekat sama semak- semak.

“ntar” ozi berhenti tiba- tiba

“kenapa?”

“ntar gue ngomong apaan ya? Bingung nih”

“elu sih.. jelasin apa adanya aja lah” kata gue.

“gue takut, gimana kalau di langsung nolak gue?”

“derita lu, pacaran sama game aja” kata gue mengacungkan jempol

“kampret”

“hahahahaha”

Kami mengendap- endap mendekati ochi, semakin dekat keliatan ozi semakin berkeringat.

“ziz”

“apaan lagi?”

“gue lupa beli hadiah buat nembak dia” kata ozi lalu nepuk hadi (dahi dia, bukan dahi gue)

“aaah.. lu gimana sih? sekalian beli banyak gih, buat minta maaf juga noh” kata gue member nasihat.

“yaudah lu tunggu sini ya ziz” kata ozi lalu ngacir hendak pergi

“cepetan!” kata gue agak berteriak ke arah ozi.

Nah.. sekarang gue mau ngapain ya? sebagai anak smp aneh yang nggak pernah pacran, gue bahkan belum sempat belajar ‘cara berbicara dengan cewek’. Kolot banget sih, selama ini temen gue Cuma kasur plus bantal gulingnya.

gue menghampiri ochi.

“eem.. permisi mbak, sendirian?”

Ochi ngeliatin gue. serem, kayaknya dia sedang galau abis.

“lu nggak liat gue emang lagi sendirian?”

Jleb.. hebat banget ni anak. Berhasil melumpuhkan gue dalam satu kalimat. Pilihannya Cuma dua. dia yang pinter, atau gue yang goblok karena siapapun yang ngeliat pasti bakal bilang dia lagi sendirian.

gue mondar- mandir didepan ochi, dia keliatan udah pusing banget merhatiin gue. dia pun berdiri dan ingin segera pergi dari tempat itu.

“eeeh.. mau kemana?” tanya gue mencoba menghalangi dia pergi

“ya suka- suka gue lah mau kemana? Masalah buat loe?”

Idiiiiihh.. gue semakin ngerasa kecil karena dikatain begitu. gue membuat sebuah perkiraan, mungkin dia anak anggota partai politik yang memang hobinya melumpuhkan argumen setiap orang.

gue berjalan mengikuti ochi, merasa sedikit terganggu dengan tingkah gue yang mencurigakan,  dia mempercepat langkahnya. Lama gue ikutin, dia berbalik.

“lu mau apaan ha?? jambret ya?”

Kampret, gue pendek gini lu bilang mau ngejambret. Yang ada gue malah melayang duluan kalau di tendang sama elu.

“bukaan.. gini loh sebenarnyaa..”

Tiba- tiba saat gue belum selesai ngomong, seorang pria yang bertubuh agak besar muncul dari semak- semak dan membungkam mulut ochi. dia mengarahkan sebuah pisau kecil kearah tenggorokan ochi.

“diem, kalau lu teriak, mati ni anak” kata pria itu sambil menatap gue sangar.

Idih, sebagai anak smp yang masih unyu hal beginian sempat bikin gue gemetaran. gimana enggak, gue anak smp dan masih ‘pendek’. Lagian ini udah dekat maghrib , udah pada sepi dan kebetulan lagi nggak ada siapa- siapa! gue panik.

“em.. sabar pak..” kata gue yang belum selesai ngomong, langsung di potongnya.

“sabar apa???! Mana duit loe, serahin semuanya!” kata dia ngancem gue. Ochi perlahan memberikan tasnya yang gue yakin isinya nggak sedikit.

“bagus bagus.. anak pinter.. elu mana?” kata die ke gue.

“ehmm.. Cuma punya ini bang..” gue mendekati. sambil mau ngasih hp yang gue bawa dari tadi. sebagai anak smp yang imut, gue belum bisa bawa barang- barang mahal.

“cepetan!” kata  pria itu.

Tiba- tiba, ozi nongol dari semak- semak juga. hebat, mungkin dia udah berhasil jadi ninja.

“loooh.. lagi pada disini toh? gue nyariin kemana- mana. hahha” kata ozi.

Akward moment banget. gimana nggak, muka polos tu anak jadi nggak sistematis banget sama suasana perampokan kayak begini. LOL.

“ngomong apa lu barusan??!” kata preman itu melotot ke arah ozi.

“hey hey.. tenang- tenang,saya ini cucunya pak kapolres loh bang” kata ozi santai. Emang sih, kakeknya emang ‘mantan’ kapolres.

“terus kenapa?? hahahaha!” kata abang itu.

“looh.. saya tinggal pencet tombol ini, dan seratus pasukan akan datang mengepung anda” kata ozi memperlihatkan sebuah alat. Ntr, itu kayaknya gue kenal. Itu PSP.

“kalau dia gue bunuh??” kata pria itu balik mengancam sambil menyodorkan pisaunya ke arah ochi. keliatan ochi tegang banget.

“ya nggak apa, bunuh aja. Toh habis itu abang juga bakal ketangkap, serem loh bang kalau dipenjara itu, hiiiy..” kata ozi nakut- nakutin. stres ni anak. gimana kalau beneran dibunuh, gue liat ochi semakin bergetar. Ozi bego.

Ini bener- bener moment yang nggak banget dimana gue dan mereka semua terlibat dalam situasi aneh dan nggak akan sempat kepikiran sama orang. gimana nggak, realitanya, disini ada seorang penjahat dengan pisau dan badan atletisnya, sedang diancam sama anak smp cebol yang berdiri dengan penuh percaya diri.

“hayooo… gimana???” kata ozi menatap pria itu.

gue mulai mengerti rencana ozi. Ternyata gretakan itu berhasil membuat pria itu goyah. Naaah kaaaan..

“ampun deh.. ampun deeh.. “ kata pria itu lalu melepaskan ochi, dia terduduk setelah melemparkan diri sendiri kearah belakang.

“maafkan saya mas, saya nggak tau harus ngapain lagi. anak istri saya pergi, saya harus apa??” kata dia setengah menangis. gila, kesannya absurd banget kalau ternyata pria sebesar ini menangis dihadapan sekumpulan anak smp.

Ochi terlihat masih ketakutan, dia mematung. Ozi menghampiri dia.

“lu nggak apa kan?”

“apanya yang nggak apa ??” kata ochi lalu nangis .

“eeh.. jangan nangis dulu, ini gue punya sesuatu “ kata ozi lalu memberikan sebuah cincin yang baru aja dia beli. Wooow, emang sebagai anak smp dan nggak tau apa- apa soal cewek, kami Cuma taunya ‘cincin’. Mungkin kebanyakan nonton sinetron.

Mata ochi keliatan berkaca-kaca saking terharunya.

“maksud kamu apa?” tanya dia ke ozi.

“emm.. gue suka sama loe.. dan.. gue mau lu juga gitu. hehehe, mau nggak jadian sama gue?” kata ozi mukanya sok cool

“iih.. kamu ah..” kata ochi manja

“hmm?” ozi mencoba meyakinkan.

“iyaa..”

“apa? Kurang kencang. hhahaha”

“iyaaa..” kata ochi agak nyaring. hhahaha, keren banget, bagi gue yang oon soal cewek ini, ngeliat proses ‘nembak’ kayak gini bener- bener membawa suasana tersendiri.

Mereka senyum- senyum sendiri. gue menghampiri.

“naah.. sekarang udah kan zi? hhahaha”

“oh.. jadi dia teman kamu?” tanya ochi ke ozi.

“yap.. kenalin, ini aziz. dengan dua huruf z. aziz, ini ochi, pacar gue” kata ozi dengan bangganya.

“hhahahha.. baru juga jadian lu, gaya amat. hahha” kata gue ke ozi. Ochi cuman senyum malu- malu.

gue teringat sesuatu, gue noleh ke arah abang preman tadi yang lagi ‘nangis’. Bener, dia masih nangis. gue memberanikan diri buat mendekati.

“bang, kenapa abang nangis?”

“nggak.. sungguh kisah cinta yang indah.. huhuhu” kata preman itu.

Jiaaah.. lu gede banget bang. Tapi kalau nangis emang chabi sih. hahaha. nggak lama kami bertiga mendengar curhatan abang preman itu. Ternyata dia itu stres karena nggak punya pekerjaan, istri dan anaknya meninggalkannya karena nggak tahan dengan status penganggurannya. gue iba juga jadinya. gue ngasih alamat hotel bokap gue.

“ini bang, datang aja kesini. Kalau ntar abang ketemu petugasnya, bilang aja ‘aziz ramlie adam’ yang nyuruh datang kesitu, trus jujur aja kalau abang butuh pekerjaan” kata gue

“waah.. makasih ya nak.. baik banget kamu” katanya lalu menangis sejadi- jadinya.

Tiba- tiba diasta nongol entah dari mana

“lohh.. kalian pada ngapain disini? Udah mau malem looh” katanya.

“laah.. elu juga ngapain?” tanya gue

“kebetulan rumah gue deket sini, hehe” kata diasta.

“eeh.. ini cewek yang sama kamu tadi kan?” tanya ochi ke arah ozi dengan mata melotot.

“aduh.. ochi santai dong.. jadi gini..” gue lalu meceritakan semuanya kepada ochi. keliatan ochi cemberut memajukan mulutnya begitu tau kalau ozi lupa sama dia gara- gara games.. begitulah..

****************************************************************************


“masih pacaran ya mereka?” tanya diasta ke gue.

“yaiyalah.. udah nempel nggak mau dipisahin. hhahaha” kata gue

“hahaha..”

Tiba- tiba ozi datang bersama ochi. mereka kayaknya lagi pengen dinner bareng.

“eeh.. ketemuan disini ya kalian?” kataa ochi

“nggak, kbetulan ketemu kok tadi, hehe” kata diasta.

diasta menyalami ozi dan ochi.

Kami berbincang- bincang tentang masa lalu ozi nembak ochi dulu. Juga masa- masa sMA. Tentunya tentang games yang memang merupakan dunia ozi ini. gue udah latihan keras buat jadi pendengar setia. dan itu berhasil.

selesai kami makan dan sekedar nyantai, kami memutuskan untuk pergi kesuatu tempat. Taman tempat pertama kali ozi dan ochi jadian.

“tiga tahun itu lama banget ya” kata ochi menatap ozi mesra

“iyaa..walau kedengaran lama, tapi nggak berasa. tau tau udah 3 tahun aja. hahaha” kata ozi

  Ceileeeh.. kayak kakek nenek yang udah nikah ratusan tahun aja mereka ini. gue jadi kepikiran juga deh, kapan gue bisa kayak mereka. Bukan, tapi kayak semua temen- temen gue (gue nggak perlu ngebahas lagi kalau Cuma gue yang jomblo kn?).

Kami menuju tempat kejadian 3 tahun yang lalu. Nggak kerasa kami sekarang udah sebesar ini dan emang waktu itu terus berjalan. Tanpa sadar, kita udah mau kuliah aja. Perasaan kemaren masih smp (padahal kemaren masih kena gempa, pffffftt)

Banyak yang kami bicarakan ditaman itu. sampai tiba- tiba muncul sosok ‘mengerikan’ yang rasanya nggak asing lagi bagi gue dan ozi. Bayangkan, kami baru aja terlibat suatu insiden bersama spesies mereka waktu jogging tadi subuh. Benar, bencis.

“iiihh… iyey sekalian pada mau kemana ??” kata makhluk itu dengan suara yang dipaksa imut. Iya, dia ngomong begitu karena gue dan ozi udah siap start jongkong buat melarikan diri.  Ochi dan diasta santai aja. Karena menurut penelitian, bencis nggak suka cewek.

“eem… maafin mereka ya ciin.. sini gabung, hehehe” kata ochi

gila, ni anak kok bisa nyuruh tu bencis buat gabung bareng kita?

“iya nihh.. uh.. kaki eyke pegel- pegel dari tadi keliling nyari temen eyke.. pada kemana yaa?” katanya sambil ngibasin rambutnya. Mendadak gue flu, ketombenya ngalahin debu padang pasir.

Nggak lama ochi, diasta, dan makhluk itu sudah saling akrab. Mereka membicarakan banyak hal, gue dan ozi hanya mangut- mangut nggak jelas dengar mereka ngomong. dan kami berdua, mengambil posisi agak jauh dari mereka.

“eh.. iyey berdua.. masa lupa sama eyke?” katanya sambil menatap gue dan ozi. Maskaranya udah ngalahin ekor burung merak.

Mampus, jangan- jangan dia komplotan ‘banci mabuk’ tadi subuh. hiiiiiy. gue dan ozi mendadak merinding. Tiba- tiba kita jadi pengen punya ilmu santet buat memusnahkannya.

“kok diem..? kita kan pernah ketemu disini ciin.. 3 tahun yang lalu..” kata dia lagi.

“oh ya, ketemu mereka?” kata ochi sambil menunjuk gue dan ozi.

“nggak Cuma mereka aja, tapi iyey juga ciin.. kalian berempat.. masa lupa?” kata makhluk itu dan terlihat wajahnya mulai galau karena kita menganggap dia nggak penting.

Kami bingung mau menjawab apa. Kami dia serempak.

“eyke.. 4 tahun yang lalu..  sempat jadi perampok disini.. dan selama 1 tahun lebih, kalian lah buat eyke insyaf jadi perampok” katanya menjelaskan.

“what????” kami menjawab dengan kompak.

“jambret yang nangis dulu???” kata gue.

“iya ciiiin , hehehehehe”

Lu insyaf jadi perampok.. tapi nggak gini juga kaleeeeeee




Bersambung ke part 17


1 comment:

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)