Oke. Gue akan membeberkan sesuatu yang jelas- jelas sangat unyu. Gue.. anggota PKI! Dalam konteks ini, gue bukanlah orang kece yang hobi ngeden di lubang buaya. Gini, PKI adalah.. "Perantau Keren Indonesia." Ini adalah masa dimana semua kutil, dan berbagai macam jerawat yang dulu selalu mengintai kita di kampung, harus segera dimusnahkan.

Gue udah ngerasa keren karena berhasil menjadi salah satu member PKI. Apalagi sekarang, gue jadi punya beberapa kebiasaan baru. Ya, kebiasaan yang dulunya sangat gue "nggak pikirkan," sekarang malah jadi bagian dari hidup gue yang nista ini. Yuk,simak sedikit "perubahan besar" pada kebiasaan gue, semenjak jadi perantau;
Bukan.. TBU disini bukan berarti "Tante Ber-make up Unyu," tapi merupakan akronim mengenaskan yang berarti, "Tidak Boleh Ujian." Gue sarankan, agar sedia minyak kayu putih sebelum baca tulisan ini. Takutnya ntar hidung loe bakal melar setelah mengetahui kenyataan kalau TBU loe banyak.

Jadi begini, gue ganteng. Jujur. Maksudnya, gue pergi ke kampus sekitar jam setengah sepuluh. Setelah pulkam kemarin, mental gue buat melintasi area kampus udah cukup terasah. Sumpah demi bubur Haji Sulam, gue sudah ngerasa nyaman kalau kekampus (tentunya nggak untuk belajar).

Gue menuju rektorat. Pertama kalinya gue menginjakkan kaki disini, kesannya adem banget. Gue jadi berpikir pengin pindah kos disini. Tujuan mulia gue, tentu aja.. bikin KTM. Bukan.. itu bukan akronim dari "Kelamin Tidak Memadai," tapi.. "Kartu Tanda Mahasiswa."

Rasanya baru 3 hari gue berada di kampung halaman gue ini, karena emang baru segitu. Tapi rasanya udah lama banget. Kumis dan jenggot gue mulai mekar kembali walaupun masih berupa rambut- rambut halus.

Kondisi rumah yang suram abis seringkali menghalangi niat gue buat nulis. Yaaah.. lebih pengin santai- santai gitu. Secara gue ragu aja, kapan lagi bisa ngerasain kasur unyu zaman gue SMA ini.

Gue mencoba untuk berfikir, apa makna dari pulang kampung kali ini. Ada pelajarannya, atau nggak. Apalagi untuk anak seperti gue. Kalau untuk ketemu keluarga (selain bokap nyokap gue) itu udah pasti. Terutama kalau ke rumah nenek, trus di kasih duit. Itu sesuatu banget.

Semalem gue terlarut dalam suasana haru. Bukan karena ada bencana alam, atau gue lagi diputusin pacar, ya (ehm! pacar gue mana, ya?), tapi karena gue habis ngegalau setelah nonton “Kimi ni todoke.” Itu film Jepang, dan unyu habis. Entah kenapa gue jadi ngerasa, kalau status jomblo ini jadi makin mengerikan saat nonton film itu.

Filmnya bukan baru rilis. Malah kayaknya udah agak lama, menurut gue. Ya, nggak tau, sih, yang jelas gue baru nonton film itu tadi malam. Di laptop, di kasur favorit gue, di kamar sendiri!

22 desember 2012. – 15.40 WITA

Gue nulis ini sewaktu lagi nangkring duduk manis, sambil nonton film “Teamlo the Movie” di sebuah kapal Ferry. Ya, ini lagi diatas laut. Untuk pulang ke kasur empuk gue (yang sekarang mungkin udah jamuran) di kamar rumah, emang harus menyebrangi laut.

Jarak kampus gue dengan rumah, bisa dibilang macho, sih. Sekitar 250 kilometer (itu baru jalan darat), di tambah lagi jarak antara gerbang selamat datang, di Kabupaten gue, dengan rumah. Yah.. mesti ngelewatin 3 Kecamatan gitu, deh.



Zaman dulu, belum ada internet. Eh, maksud gue, zaman dulu emang belum ada komputer. Walaupun begitu, gue tetep bisa ngejaga penampilan, dan muka gue bebas jerawat (ini hubungannya apa, sih).

Nama gue, Sangkuriang. Gue anak seorang putri raja. Nyokap gue namanya, Dayang Sumbi. Hobi kece gue yang macho, yaitu berburu, membuat gue makin terlihat tampan. Gue sering keluar- masuk hutan buat nyari babi hutan, atau kingkong, kalau ada.



Mobil gue sedang melaju menuju bandara. Normalnya, sih, bisa membutuhkan waktu hampir setengah jam, kalau dari rumah paman tunangannya Adit. Tapi, karena gue adalah driver yang pernah gagal tes uji praktek SIM sebanyak 4 kali, maka itu akan jadi lebih singkat.



Terima kasih, Om.. mungkin kalau Adit udah balik ke sini aja, kali, ya, saya kembalikan bukunya..”
TUUT TUUT.
“Gimana??” Tanya gue ke Ozi, yang baru aja nelpon Bokapnya Adit, dengan alibi mau ngembaliin buku.



Gue dan Budi berlari menghampiri Melo yang kayaknya udah kalap mata pengin loncat dari jembatan. Satu- satunya yang gue pikirkan saat itu adalah ‘emang lu ikan?? Mau maen lompat seenak jidat.