Berjalan dari Dalam Hati

2012/12/15

Juat Telling 'for Stella' Part 21; "Sang Pahlawan"




Mobil gue sedang melaju menuju bandara. Normalnya, sih, bisa membutuhkan waktu hampir setengah jam, kalau dari rumah paman tunangannya Adit. Tapi, karena gue adalah driver yang pernah gagal tes uji praktek SIM sebanyak 4 kali, maka itu akan jadi lebih singkat.

“Gimana, Ziz?” Kata Budi, ke gue.
“Yaaah.. 15 menit, bisa, lah” kata gue, lalu mengeluarkan jurus andalan pengemudi jalanan.
“Waaaaa…. Om, takut, Om takuuuut” keliatan bokapnya Adit histeris di jok belakang.
“Hahaha.. om.. ini, adalah style anak muda zaman sekarang” kata Ozi, yang berada di antara bokapnya Adit, dan Budi.
Lagi asik rebut di belakang, gue melirik ke arah Melody yang duduk di samping gue.
“Gimana?? Janji persahabatan kita, terbukti ampuh, kan?” Kata gue, lalu ketawa.
“Iya, Ziz.. makasiiih banget, buat kalian semua. Hehehe.. kayaknya gue mesti punya hutang sama kalian..” kata Melo.
“Yaaah.. traktiran di Hoka Hoka Bento kayaknya asik, tuh. Hhahha” kata Budi, maen nyahut dari belakang.
Melo tertawa “boleh, deh.. hehehe” katanya dengan nada ceria. Yap, nggak ada sedikitpun tanda- tanda akan jatuh sakit lagi. Gue sekarang yakin, kalau kekuatan cinta.. begitu besar imbasnya bagi kehidupan.
“Nggak usah dihiraukan, ah, si Budi itu” kata gue.
“Yeee.. kalo ditraktir makan, lu juga yang paling cepet, dan paling beringas waktu nelen, ya, kan?” timpal Ozi.
“Hahahahaha” semua tertawa, dalam hati gue cuma bisa ngomong, kampret!!
Akhirnya, setelah keributan yang cukup absurd dari bangku belakang, kami sampai di bandara. Melo lebih dulu turun, dan berlari masuk ke dalam. Gue dan yang lain mengikuti.
“Adit!!!” Teriak Melo ke arah Adit, yang lagi duduk santai bareng Ega dan Ve, nggak jauh dari loket penukaran tiket. Di sebelahnya udah ada 2 buah koper besar, tanda kalau dia udah siap buat hidup di Amerika.
“Melo” lalu Adit berdiri, dan.. Melo langsung memeluknya tanpa sempat Adit mengeluarkan kata- kata lagi. Bahkan, Adit sampai nggak sempat membalas rangkulan rasa sayang itu.
“Aduh.. aduh.. sakit, remuk, nih, tulang. Hehehe” kata Adit, lalu tersenyum ke arah Melo. Perlahan Melo mulai menangis. Bener- bener tangisan bahagia yang udah sejak tadi ditahannya.
“Pokoknya.. kamu jangan pergi- pergi lagi.. aku nggak mau..” kata Melo, sambil sibuk mengelap pipinya yang mulai basah karena titikan air mata.
“Nggak akan..” kata Adit, lalu berganti memeluk Melo. Suer, ini sinetron banget.
“Sempat juga lu, Ga!” Kata Budi, ke Ega.
“Iya laaah..  gue gituu.. “ kata Ega, lalu mereka melakukan tos ala anak SD.
“Romantis abisss..” kata Ozi, mulai ngeledek moment bahagia antara Adit dan Melo.
“Hhahahaha” gue cuma ketawa.
Mungkin orang- orang pada heran ngeliatin kami, para mamalia bahagia yang sedang diselimuti kabut cinta. Tapi, nggak kami perdulikan, karena ngeliat sahabat kami bisa happy ending kayak gini, merupakan sesuatu yang membahagiakan banget.
“Hmm.. nih” kata Adit sambil mengeluarkan tiket menuju Amerika, dari saku jaketnya, lalu di tujukan pada Melo.
“Eh, maksudnya?” Kata Melo, nggak ngerti.
“Kamu pegang disini..” kata Adit, lalu mengarahkan tangan Melo ke satu sisi tiket, lalu dia memegang sisi lainnya.
“Pegang kuat- kuat, ya, sayang” kata Adit lagi. Lalu..
Sraaaak!!!! Adit menarik tiket itu, sehingga jadi terbelah dua.
“Hahaha.. ngaco lu, ah” kata gue, lalu menghampiri Adit.
“Hahaha.. benda mengerikan ini, gue nggak suka. Harus dimusnahkan” kata Adit, lalu melanjutkan merobek- robek tiket itu menjadi ratusan bagian kecil.
Melo tersenyum melihat kelakuan macho pacarnya itu.
“Bro..” kata Adit, ke arah gue. “Thanks!” Lalu dia menyalami tangan kanan gue.
“Eeeeh.. apa- apaan, lu?” Kata gue yang seolah merasa dituakan.
“Elu, bos dari semua rencana konyol ini, kan? Kata Ega, sih”
“Yoooy” kata Ega, nyengir.
“Iyaaaaaa…. gue, tapi nggak gitu jugaa kaleee” kata gue.
“Hahaha” yang lain pada ketawa.
Tiba- tiba handphone Budi berdering. “Haloo… iya, bentar, bentar.. nih, buat elu, Ziz”
“Eh? Haloo” kata gue, kepada Abeck yang menelpon.
“Wooooooy… buruan ke sini, doong. Nih, cewek nangis- nangis nyariin elu. Dia mau ketemu, nih, sama elu!” Kata Abeck dengan suara paniknya. Samar- samar, emang terdengar suara cewek nangis kayak orang kesambet gitu, deh.
“Eeh.. iya, iya.. entar, ya. Gue kesana sekarang”
TUUT TUUT
“Kenapa, Ziz?” Tanya Budi, yang langsung ngambil HP-nya buat balasin BBM Cindy.
“Itu.. Si Tunangan.. Eh, maksud gue, Cewek yang hampir menunangi Adit, nyariin gue” kata gue panik.
“Waduh! Mau ngamuk kali, tuh” kata Ega, dengan muka sok serem. Karena  muka dasarnya emang rada serem, jadi ini seremnya berkali- kali lipat.
“Ya sudah, kita kesana bareng, aja. Lagian, om jadi nggak enak sama dia” kata bokapnya Adit, tiba- tiba.
“Papa…” kata Adit, dengan masang tampang bengis juga.
“Eeh, maksud papa, kita.. omongin baik- baik sama dia, Dit. Hehe” kata bokapnya Adit, nyengir.
“Eeh.. nggak boleh gitu sama orang tua” kata Melo, lalu memukul bahunya Adit.
“Eh, iya.. iya.. apa lagi sama calon Papa Mertuamu, ya, kan? Hehehe” kata Adit, lalu berubah jadi makhluk aneh yang sok manja.
“Yooossshh!!! Kita kerumah Adit!!!” Teriak Budi, disusul dengan langkah kaki kami menuju luar bandara.
**
Sampai dirumah Adit, gue turun pertama, lalu disusul Adit, Bokapnya, Melo, Budi, dan Ozi. Ega dan Ve menyusul juga dari mobil mereka. Kami masuk rumah.
Di ruang tamu, Si cewek yang hampir bertunangan sama Adit itu, lagi nangis dengan Sendy disebelahnya, berusaha menenangkan.
“Beck, kenapa, tuh, cewek?” Kata gue.
“Nggak tau, tuh. Waktu gue bilang elu bikin rencana buat ngebatalin pertunangannya sama Adit, dan berhasil, dia langsung nangis sambil nyebut- nyebut nama lu”
“Em.. permisi, mbak” kata gue, lalu mendekati perempuan itu.
Dia mengangkat kepalanya, menatap gue secara bengis dengan mata yang merah menyala. Serem abis, deh, pokoknya. Gue yakin kalo tim masih dunia lain ngeliat dia, maka acara itu nggak akan di tayangkan lagi.
Dia menuju ke arah gue. Mampus, nih, pikir gue.
“Eh?”
Dia memeluk gue. Lalu sambil menangis dibahu gue, dia mulai berbicara “Terima kasih… Aziz Sang Pahlawan…”
“Eh.. buat, apa?” Gue heran, dan gemeteran karena menurut gue, cewek ini imut juga, kalo lagi nangis.
Dia ngelepasin pelukannya, lalu mengeluarkan sebuah foto dari dompetnya. Foto dia.. dan seorang cowok bule.
“Ini pacar aku.. aku sudah sayang banget, sama dia..”
“Oooooooooooooooooooooooooooooooooooooohhhhhh” semua menyahut serempak, begitu tau kalau ternyata, cewek ini juga nggak mau di jodohkan dengan Adit.
“Adit, emang cakep.. tapi lebih cakep Michael, dong. Dan ceweknya Adit juga cakep, walaupun lebih cakep aku, huhuhuhu” lalu dia menangis lagi.
“Ya, ya, ya..” kata Adit dengan muka datar, lalu disusul dengan tawa yang lain.
“Yap, beresss” kata gue, lalu ngupil.
“Belumm..” kata Budi.
“Hem?? Ada apaan, lagi?” Tanya Ega dan Abeck hampir berbarengan.
“Cewek ini.. kok bisa lancar Bahasa Indonesia?” Kata Budi. Emang, sih, setau gue, nih cewek kan anak bule, tinggalnya juga di Amerika.
“Oooh.. itu karena..” belum selesai bokapnya Adit bicara, Si cewek itu maen nyosor aja ngejawab pertanyaan Budi.
“Itu karena, aku udah tinggal 3 tahun di Indonesia! Perkenalkan, semuanyaaa!! Nama aku.. Anastasya Beby! Alumni SMA 48!!!” Lalu dia tersenyum lebar, lebih lebar dari panci penggorengan daging kambing buat acara tasmiyahan.
“Eeeeeeh????!!!! Itu, kan, SMA kita!!!” Kata gue, Adit, Budi, Ozi, Ega, Abeck, Melo, Sendy, dan Ve, berbarengan.
“Hehe.. wajar aja, sih, kalau kalian nggak kenal aku, selain karena kita beda kelas, aku juga masuk SMA 48 pas tiga bulan terakhir. Aku juga nggak ikut acara perpisahan angkatan, waktu itu. Sebenernya, sih, tiap tiga bulan, aku pindah sekolah keliling Indonesia” lalu dia meletakkan telunjuk tangan kanannya di bibir. Sok imut.
“Pantesan kita nggak kenal..” kata Ozi.
“Bener, bener..” kata Ve menyusul.
“Eh, waktu lu dikejar anjing, lu bilang udah dapet tempat, kan, buat weekend kita ini” kata gue berbisik ke pada Budi.
“Hem! Gue udah dapat tempat yang pas!” Kata Budi, lalu menyodorkan jempolnya ke hidung gue.
“Okeeehh.. untuk melengkapi kebahagiaan ini, maka gue punya kabar menarik!” Kata gue, lalu menaikkan kaki kanan ke atas meja, mirip gitaris rocker yang siap beraksi.
“Yeaaah!!!” Kata Budi dengan lantang.
“Apa itu??!” Kata Abeck, yang juga ikutan bersemangat.
“Yeeeeeeyyy.. Aziz Sang Pahlawan akan melakukan apa lagi, nih???!!” Kata Anastasya antusias.
“Eeeeh???!!” Yang lain pada bingung mendengar kata ‘sang pahlawan’ yang diucapkan dengan intonasi spesial.
“Kenapa?? Aziz ini, kan, pahlawan aku!” Kata Anastasya lalu melingkarkan tangan kanannya ke bahu gue.
“Ini.. kenapa jadi gini?” Ega pusing sambil megang kepala.
“Eeeeh..” kata gue, lalu melepaskan rangkulan Anastasya. “Ntar dulu, belum juga selesai ngomong yang tadi” kata gue, ke cewek Amrik itu.
“Oh, iya.. lanjut” kata Anastasya, lalu cengar- cengir nggak jelas.
“Naaah.. untuk weekend ini.. kita akan hangout ke sebuah pulau!!! Yuhuuuu!!! Pesta pantai!!!”
“Yeeeeeyyy!!!!!!!”


Bersambung, part 22..


No comments:

Post a Comment

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)