Berjalan dari Dalam Hati

2012/12/11

Just Telling 'for Stella' Part 19; Perjanjian antar sahabat




Gue dan Budi berlari menghampiri Melo yang kayaknya udah kalap mata pengin loncat dari jembatan. Satu- satunya yang gue pikirkan saat itu adalah ‘emang lu ikan?? Mau maen lompat seenak jidat.

“Mel, lu gila???” Kata gue, lalu menarik tangannya.
“Teh, kesambet setan behel, ya, lu?” Budi menambahkan dengan pertanyaan absurdnya.
Tatapan Melo kosong banget. Dia menundukkan wajahnya yang terlihat pucat. Gue perhatikan kayaknya ni anak udah frustasi berat.
Hening. Melo nggak bicara apa- apa. Seketika badannya lemes dan hampir pingsan.
“Eeh.. Bud, jangan bengong aja. Sini bantuin” kata gue.
Gue dan Budi lalu memapah Melo keluar dari tempat ini, yang kayaknya emang dipenuhin sama arwah penasaran dari setan- setan gaul zaman dulu. Bisa- bisanya Melo yang selalu bersikap dewasa dan tegar ini, tiba- tiba pengin terjun buat sekedar berenang bareng buaya sungai.
Dimobil, Melo masih nggak banyak bicara. Serem, rambutnya acak- acakan kayak penampakkan gitu.
“Ziz, ini Teh Melo kenapa, ya, kok serem gitu?”
“Ntar aja, deh, Bud. Kita antar dia dulu kerumahnya” kata gue, sambil melirik ke arah Melo yang masih terdiam di jok belakang.
Budi mengangguk, tanda dia mulai ngerti kalau masalah ini kayaknya serius banget.
“Ziz, kita kerumah Adit, yuk” kata Melo, dengan suara parau. Nggak biasanya suara cewek ini jadi kurang merdu.
“Eh..” kata gue yang langsung kaget mendengar permintaannya. Budi juga ikutan kaget.
“Tapi…” kata gue, yang langsung terhenti.
“Udah, Ziz, ikutin aja apa maunya” kata Budi.
“Bukan gitu..” kata gue, yang jadi panik sendiri.
“Dia.. nggak ada dirumah, ya?” Kata Melo, lagi. Gue jadi nggak tau mau ngomong gimana. Masa, gue harus bilang ‘Adit nggak dirumah, cuma ada tunangannya yang lagi bersemayam disana,’ kan nggak etis banget.
“Itu..” kata gue, masih nggak tau mau ngapain.
“Uudaaah.. ikutin, ajaa” kata Budi, lagi. Nih anak emang nggak tau, sih, situasinya lagi kayak gimana. Wajar, deh.
“Bud.. lu nggak ngerti, yaa” kata gue.
“Apanya? Udah bawa ajaaaa” kata Budi, lagi.
Sesaat malah gue dan Budi, jadi terperangkap dalam adu mulut yang mulai menimbulkan berisik. Lalu..
“Ziz!! Tolongin gue!! Tolooong!!!” teriak Melo, lalu menangis. Sekarang dia jadi menggoyag- goyangkan senderan tempat duduk gue. Kasian juga ni anak, pikir gue.
“Waduhh.. Teteh jadi nangis, kan” kata Budi, yang mulai histeris kayak banci dikejar trantib.
“Lu tenang dikit, kek” kata gue yang jadi ikutan histeris nggak jelas.
Situasinya genting banget, walaupun kalau disimak secara benar, ini bener- bener situasi genting terkonyol. Melo lagi nangis, Budi histeris, gue nggak tau mau ngapain. Sampai..
“Eeeeeh” gue dan Budi teriak, mirip kuntilanak di sergap polisi.
Duak! Njessss!!
Ban depan sebelah kiri mobil gue, naik ke trotoar. Hening.
“Ziz, tadi hampir kecelakaaan, kan?? Mati, nih, mati!!” Kata Budi makin histeris.
“Lu sabar, nape??!! Gue nggak konsen, nih” kata gue yang mulai histeris bodoh juga.
“Seharusnya.. tadi kita mati, aja.. hehehehe.” Terdengar suara dari arah belakang.
Gue dan Budi menoleh ke arah Melo. Sekarang dia sedang senyum- senyum dengan rambut terurai menutupi sebagian wajahnya. Kalau gue boleh lebay, dia mirip.. nenek sihir!
“Waaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” Gue dan Budi kayak sepasang kakek- nenek yang kena serangan jantung.
Gue segera mundurin mobil. Kembali keawal untuk mendapatkan fokus. Insiden tadi sempat bikin macet jalanan dan menggembirakan para pedagang asongan, yang emang selalu muncul kalau lagi macet. Gue melaju, melewatkan semua pikiran tentang seremnya Melo, dan ke-histerisan Budi. Secepatnya menuju..
**
“Ziz, handuk lu, mana?” Tanya Budi, yang habis numpang cuci muka.
“Cari aja, di kamar gue. Di beranda, deh, kayaknya.” Budi pun lari dengan rambut basahnya, ke arah kamar gue.
“Makasih, Ziz…” kata cewek yang lagi duduk di depan gue ini.
“Haduuuh… emang perlu, ya, berterima kasih sama orang yang pasti nolongin elu? Hhaha” kata gue ke cewek itu. Melody.
Yaaa.. gue ngebawa Melo kerumah aja. Sekarang dia lagi menyeruput teh hangat setelah tadi mandi di kamar nyokap. Kondisinya, sih, udah baikan.
“Gue.. bener- bener tertekan aja..” kata Melo lalu menggenggam erat handphonenya.
“Sini” kata gue, lalu menjulurkan tangan, meminta pinjam handphonenya.
“Nih.” Dia memberikan handphonenya.
Gue cek, SMS terakhir yang masuk. Dari Adit.
‘Aku sayang banget sama kamu, dan kamu tau sendiri, kan? Karna itu aku rasa, nggak perlu panjang lebar lagi tentang perasaan ini. Namun, saat ini, perasaan itu sedang dikekang. Aku mohon pengertianmu, karena ini bukan ingin ku. Karena itu.. relakan saja hubungan ini.. mungkin, kita memang harus berakhir. Sekali lagi.. ini, bukan inginku, karena hanya kamu yang paling mengerti, untuk siapa rasa sayangku ini..’
Gue terharu. Nggak nyangka, tampang absurd Adit bisa bikin kata- kata segalau ini. Sempat kepikiran kalau kata- kata indah ini pasti nyari di google. Tapi gue tarik hipotesa itu karena gue yakin, ini, bener- bener dari lubuk hati.
“Lu.. udah tau cerita lengkapnya?” Tanya gue, ke Melo.
“Udah.. setelah SMS itu, kan, gue langsung telpon dia..”
“Hmm.. gimana, ya..” gue garuk- garuk jidat.
“Nggak apa, Ziz. Gue terima, kok. Kejadian tadi itu mungkin karena gue nggak sadar diri aja.. gue khilaf. Sekarang gue yakin, kalau gue bisa lebih tegar” kata Melo, lalu tersenyum.
Gue liat senyum kecilnya sangat menanggung beban. Tapi nggak bisa dipungkiri, kalau inilah Melody yang asli. Dalam masalah sesulit apapun, dia nggak akan gentar dan berputus asa. Gue yakin, karena gue udah kenal 6 tahun sama ni anak.
“Hehe.. bagus, lah.. gue juga akan ngebantu apa yang lu perlu, selagi gue mampu” kata gue lalu tersenyum juga. Ini bukan karena gue sok ganteng, ya, jadi ikutan senyum- senyum juga. Tapi.. senyum dari sahabat adalah salah satu obat penenang yang paling ampuh saat kita sedang dalam masalah.
“Makasih, Ziz.. “ kata Melo, lalu menyelesaikan tegukan terakhir teh hangatnya.
“Kakak!!!!” Suara teriak yang rada sengau datang dari arah pintu depan.
“Frieska?” Melo menatap adiknya dengan heran.
“Kakak… kemana, ajaaa?” Kata Frieska sedih, lalu memeluk kakaknya.
“Hehe… maafin kakak, ya.. kakak janji nggak akan ngilang- ngilang lagi.” Lalu mereka berpelukan. Lebih mesra dari telletubies.
“Kok, bisa tau kakak disini?” Tanya Melo ke Frieska. Frieska cuma ngelirik- lirik gue sambil kedip- kedip mata. Gue nyengir.
“Kasian tau. Adek lu, tuh, khawatir banget” kata gue.
“Iya.. iyaaa… makasiiih” kata Melo, lalu tersenyum.
“Eeeh.. lu ngapain??” Kata gue ke seseorang lagi, yang tadi datang bareng Frieska.
“Yeeee… kalo nggak boleh, aku pulang, nih” kata cewek imut, yang cepet ngambek itu.
“Hahaha… lu makin cepet ngambek, ya, sekarang” gue ketawa. Lalu dari arah tangga..
“Sayaaaang.” Budi nyengir, lalu meluncur mirip banci yang baru ngerasain gimana indahnya jatuh cinta sama wanita. Ya, cewek ini..Cindy.
“Sayang, sayang, pala mu! Kemana aja kamu?? Dihubungin nggak bisa” lalu Cindy menuju ke arah Budi.
Hahaha, gue ketawa dalam hati.
“Lu, kok, bisa bawa cucu nenek sihir itu, sih?” Kata gue, ke Frieska.
“Tadi ketemu di jalan, kak. Hehehe” kata Frieska.
“Ooh.. nemu. Pantesan.. hahaha”
“Eeeh… kakak ngomong apa barusan????” Cindy menatap gue. Serem.
Keliatan dari sini, Budi lagi sok- sok manja dihadapan Cindy. Dia ngeliatin luka lecet segede upil, dan dibalas Cindy dengan sebuah pukulan di kepala Budi. Absurd, deh, pokoknya. Namanya juga pacaran ala cinta putih abu- abu.
“Lucu..” kata Melo, lalu tersenyum.
Gue ngeliatin Melo dengan penuh tanya. Budi dan Cindy, juga melihat ke arah Melo dengan tampang bengong khas anak SMA. Frieska juga keliatan heran.
“Aah.. nggak apa- apa, kok, hehehe” kata Melo, lalu keliatan salting nggak jelas.
“Ingat masa- asa kayak gitu juga, ya?” Kata gue ke Melo. Gue senyum, karena gue adalah satu- satunya mamalia disini, yang tau betul gimana pacarannya Melo sama Adit. Masa- masa pas kelas 2 SMA kayak Budi sekarang, pasti jadi yang paling seru buat Melody.
“Iya.. hehehe. Kalian cocok, yaa.. semoga langgeng, ya.. adik- adikku.. hehe” kata Melo, dan tanpa sadar ngeluarin setetes eir mata.
“Eh..” Cindy kaget.
Budi pun berjalan ke arah Melody, lalu menyodorkan jari kelingking tangan kanannya.
“Kenapa..?” Tanya Melody, heran.
Budi masih terdiam seolah menanti jari kelingkingnya di sambut oleh kelingking Melo juga. Lalu dia senyum- senyum sok keren. Gue mulai paham maksudnya.
“Udah.. itu lambang perjanjian, deh, kayaknya” kata gue, lalu tersenyum ke arah Melody. Melo masih nggak ngerti.
Cindy dan Frieska perlahan juga mulai mengerti maksud dari Budi. Mereka tersenyum seolah memaksa Melo untuk melingkarkan jari kelingkingnya.
“Sini..” kata Budi, lalu mengambil jari kelingking, tangan kanan Melody. Yap, kini simbol janji itu sudah terjadi.
“Teteh nggak usah khawatir. Aku.. termasuk Aziz juga, sih, akan membantu Teh Melo supaya bisa balik lagi sama Adit!! Janji!! Hehehe!” Lalu Budi senyum sok pahlawan. Tapi gue terima senyuman sok itu, karena ini.. Untuk sahabat!
“Okeeh.. karena nama gue di sebut- sebut juga sama Budi, gue ikut! Tenang aja.. hehehe” gue bersemangat.
“Kalian… makasih, ya..” keliatan Melody terharu banget.
“Yap!” Kata Budi, mantap, lalu melepaskan perjanjian kelingkingnya.
“Untuk rencana selanjutnya…” kata Budi lagi, lalu ngeliatin gue, “…kita serahkan pada Aziz”
“Yaaaaaaahhhh… lu kerennya cuma di awal, Bud. Yang mikir gue jugaa” kata gue, lalu disusul tawa yang lainnya.
“Hehehe” Budi nyengir.
“Yaudah.. kalo gitu, kita mulai rencana pertama!” Kata gue, dengan mantap.


Bersambung, part 20…

No comments:

Post a Comment

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)