Ini Ximin

Tuesday, December 11, 2012

Just Telling 'for Stella' Part 20; Cinta dan Persahabatan




Terima kasih, Om.. mungkin kalau Adit udah balik ke sini aja, kali, ya, saya kembalikan bukunya..”
TUUT TUUT.
“Gimana??” Tanya gue ke Ozi, yang baru aja nelpon Bokapnya Adit, dengan alibi mau ngembaliin buku.

“Ternyata insting lu tepat, Ziz. Mereka bakal berangkat sore ini, jam 6”
“Tuh, kan, bener” kata gue, yang emang udah memprediksikannya. Waktu gue ke rumah Adit tadi siang, kayaknya tunangan absurd Adit itu lagi terburu- buru banget, dan gue pikir, itu pasti karena pengin cepet- cepet beranngkat ke Amerika.
“Dasaarrr… nggak bilang- bilang sama kita, lagi, tu anak” kata Budi, keliatan sedikit kesal.
“Salam perpisahan itu, bisa jadi yang paling menyakitkan buat Adit. Ayo!” Kata gue, lalu mengajak mereka pergi dari rumah gue.
Sekarang kami lagi menuju alamat yang dikasih tunangannya Adit. Gue bareng Ozi, Budi, dan Melo tentunya. Temen- temen yang lain udah gue beri perintah seenak jidat. Dan untungnya, setelah semua mengerti situasinya, mereka bersedia membantu.
Tiba- tiba, handphone gue berdering. “Bud, angkatin, dong.”
“Halooo.. oke.. oke.. iyaa segala cara, deh, pokoknya.. siip” kata Budi, lalu mengakhiri sambungan telepon.
“Siapa? Abeck? Ega?” Tanya gue, ke budi.
“Abeck. Katanya udah siap di posisi, bareng Sendy, lagi. hahaha”
Yap, misi yang gue amanahkan kepada Abeck cukup mudah, yaitu ‘mengulur waktu sang tunangan Adit,’ pokoknya pake cara apapun bebas. Mau dia pura- pura jadi salesman, kek, jadi pengemis, kek, gue nggak perduli.
“Kalo Ega, gimana, Bud?”
“Ntar gue hubungin, deh. Lagian dari rumahnya ke bandara, kan, deket. Sambil ngesot juga jadi” kata Budi, lalu ngupil.
“Yakin, nih, Ziz, bakal berhasil?” Tanya Melo ke gue, dari arah jok belakang.
“Percaya aja sama gue dan yang lain. Kami ini akan berusaha semaksimal mungkin, sisanya, elu yang berperan penting” kata gue.
“Yap” kata ozi memantapkan argumen gue, sambil ngemil keripik kentang.
“Makasih, yaaa..” kata Melody, yang keliatan bahagia punya sahabat- sahabat yang peduli sama dia.
“Tinggal satu jam lagi, Ziz” kata budi, yang mengingatkan gue kalau misi ini sangat bergantung pada waktu.
“Yoshh!! Udah deket, tuh” kata gue, lalu semakin tancap gas.
**
Akhirnya, sampai juga ke alamat yang dikasih tunangannya Adit. Rumahnya lumayan gede, yah.. untuk ternak sapi 100 ekor, cukup, lah.
Gue dan Melo segera turun dan bergegas ke pintu depan, sementara Budi dan Ozi tetap di mobil.
TING TUNG! TING TUNG!
“Permisi..” kata gue,  berusaha sopan. Keliatan Melo nggak sabar pengin ketemu Adit.
Pintu terbuka. Bokapnya Adit dengan tatapan herannya, yang terlihat didepan gue sekarang.
“Om.. Aditnya, mana?” Kata gue.
“Aziz? Ini.. Melody, kan?” Kata bokapnya, lalu memperhatikan Melo.
“Iya, Om” kata Melo, seraya membungkuk memberi hormat.
“Kalian.. mau ketemu Adit? Tapi.. dia sudah pergi, baru saja..” kata bokapnya dengan agak menyesal.
“Eeh..?? Udah jalan?? Om nggak nganterin dia??” Kata gue, kaget.
“Nggak.. Om cukup ngelepas dia dari sini aja.. Om juga.. sebenarnya belum mengikhlaskan, Ziz..”
Tiba- tiba, Melo berlari ke arah mobil. Sepertinya dia pengin ngejar Adit.
“Eeeh.. tunggu!!” Lalu gue mengejar Melo. Bokapnya Adit masih stay cool di ambang pintu depan.
“Kita kejar, Ziz!! Gue nggak mau ngelepas Adit gitu aja!! Nggak!! Bahkan.. gue nggak rela sama sekali dia pergi!!” Lalu Melo terlihat lemas. Jangan- jangan.. sakit lagi, pikir gue.
Gue menggandeng tangan Melo, kemudian memapahnya bersama Budi dan Ozi, yang udah keluar dari mobil.
“Om.. kami boleh masuk? Kayaknya kondisi Melo lagi nge-drop banget”
“Ah.. silahkan..” kata bokapnya Adit, yang mulai khawatir ngeliat kondisi Melody.
Kami masuk ke ruang tamu. Ternyata, ini rumah pamannya tunangan Adit. Itu, loh.. bule yang gue liat ngobrol sama bokapnya Adit, di restoran lantai dasar hotel gue. Ternyata, tadi siang mereka janjian disana buat sekedar makan bareng. Sekarang, Si Bule itu lagi nggak dirumah, ada urusan gitu, deh.
“Kalian.. “ kata bokapnya Adit, dengan nada terharu.
“Kami nggak akan ngejar Adit sekarang. Kami disini, akan meyakinkan hati Om sebenarnya. Yap, kami akan mencegah Om buat memberangkatkan Adit! Om masih terlihat bimbang, makanya kami yang akan membantu mengambil keputusan!” Kata gue mantap, kepada bokapnya Adit.
Bokap Adit keliatan kaget karena ucapan gue. Ozi dan Budi juga kaget, dan gue hanya melirik mereka berdua sambil mengedipkan mata. Ya, itu adalah isyarat kalau ‘kita nggak usah ngejar Adit dulu, masih ada Abeck dan Ega yang bisa ngulur waktu,’ dan karena gue liat mereka berdua senyum- senyum nggak keruan, gue anggap mereka paham maksud gue.
“Om.. kami disini mau mendengar, ada apa di balik pertunangan yang tiba- tiba ini? Apa lagi, Adit sampai harus study di Amrik segala” kata gue.
“Itu.. sebenarnya..”
*19 tahun yang lalu..*

Bokapnya Adit (sebut saja ‘Bapak Renaldi’) adalah seorang pebisnis yang cekatan. Saat baru- baru saja menikah, dia terpaksa meninggalkan istri dan anaknya (Adit ; waktu itu masih dalam kandungan) untuk sementara, karena ajakan sahabatnya (sebut saja ‘Bapak Frans’) untuk membuka peluang bisnis di Amerika.
Bapak Renaldi, pun, pergi dan tinggal di Amerika, tepatnya di Washington, untuk membuka sebuah rumah makan khas Indonesia di sana. Karena terbilang sukses, jadi kesempatan Pak Renaldi untuk pulang bisa terbilang nol persen.
Beberapa bulan kemudian, Ibu Susi (nyokap Adit) pergi menyusul suaminya ke Washington. Hingga detik- detik sebelum kelahiran Adit, mereka tinggal disana. Ya, Adit dilahirkan di sana.
Pak Frans yang merupakan sahabat, sekaligus Rekan bisnis Pak Renaldi pun, ternyata juga sedang menanti kelahiran anak pertamanya. Dan selang 2 hari setelah Adit dilahirkan, putri dari Pak Frans juga lahir ke dunia ini. Kebahagiaan menyelimuti dua keluarga besar tersebut.
Satu bulan semenjak hari bahagia mereka, tanpa di duga ternyata Pak Frans menjadi korban ‘peluru nyasar.’ Sesegera mungkin, Pak Frans dilarikan kerumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif.
Pak Renaldi, Ibu Susi, dan Adit kecil, ikut menemani istri Pak Frans yang ternyata seorang bule (istri sahabat Pak Renaldi itu, adalah kakak dari bule yang rumahnya gue singgahi sekarang). Mereka bergantian menjenguk dan menjaga Pak Frans.
Sudah hampir satu minggu Pak Frans tidak kunjung bangun dari status ‘koma’nya. Menurut pemeriksaan Dokter, selain karena insiden ‘peluru nyasar,’ faktor lain adalah, karena Pak Frans memang mengidap semacam penyakit besar, yang merupakan bawaan dari lahir.
Saat memasuki hari ketujuh, di suatu tengah malam, terdengar Pak Frans menangis. Pak renaldi, yang saat itu sedang menginap sambil membawa Adit, terbangun dan menghampirinya.
“Syukur, lah… Frans, kamu sudah siuman” kata Pak Renaldi, tak sanggup menahan kebahagiaan.
“Mungkin.. ini yang terakhir..” kata Pak Frans seraya tersenyum.. sambil meneteskan air mata.
“Kamu bicara apa..? Kamu pasti sembuh, Frans.. pasti..” Pak Renaldi tidak dapat menahan air mata juga.
“Rey.. kamu mau berjanji satu hal, untukku..?” Kata Pak Frans, kepada Pak Renaldi yang biasa dipanggil ‘Rey’ ini.
“Apa itu..?? Katakan..”
“Putramu..” kata Pak Frans, lalu menunjuk ke arah Adit kecil yang sedang tertidur pulas, “.. suatu saat akan menjadi dewasa yang baik.. aku yakin itu.. karena itu.. mau kah kau, untuk tidak ‘melepas’ persahabatan kita??”
“Maksudmu, apa? Frans..”
“Putramu.. dan putriku.. kelak.. satukan, lah, mereka..” kata Pak Frans dengan suara yang semakin terdengar lirih, dan putus- putus.
“Aku mengerti.. tapi.. kau juga akan hadir, kan, saat itu?” Kata Pak Renaldi, yang mulai merasakan suatu pertanda buruk.
“Aku.. mungkin hanya sampai disini saja.. Rey.. sahabatku..” lalu Pak Frans mengukir senyum. Senyuman terakhir, sebelum dia menutup mata, untuk waktu yang tak ada ujungnya..
“Tidaaak.. Frans!!! Doctor!! Help!! Nooo!” Pak Renaldi berteriak, memecahkan sunyinya malam karena ditinggal pergi oleh sahabat seperjuangannya. Saat itu, Adit kecil terbangun dan ikut menangis, seolah.. bisa merasakan penderitaan sang ayah.
**
“Sejak saat itu, Om pergi meninggalkan Washington dan menyerahkan bisnis itu seutuhnya pada istri mendiang Frans.. dan sampai sekarang, Om masih ingin mewujudkan janji itu..” kata bokapnya Adit, mengakhiri cerita galaunya.
“Huhu..” Budi dan Ozi, mulai menangis karena terharu.
“Persahabatan yang indah, Om..” kata Budi, yang keliatan cengeng abis.
Bodoh.. pikir gue. Tapi, memang, sih, cerita bokapnya Adit cukup menyentuh.
“Ini.. demi sahabat, kan, Om?” Kata gue.
“Ah? Iya.. Ziz”
“Kalau begitu, kami.. akan melakukan apapun juga demi sahabat kami!” Kata gue, mencoba meyakinkan bokapnya Adit.
“Maksud kamu?”
“Kami nggak mau kehilangan sahabat kami, Om. Untuk kali ini, kami nggak akan membiarkan Om egois!”
“Bener, Om!” Kata Ozi dan Budi berbarengan, sambil ngelap- ngelap air mata.
“Kalian…” kata bokapnya Adit, dengan lirih.
“Maaf sebelumnya, Om.. saya, sebagai sahabat, sekaligus.. orang yang menyayangi Adit.. bener- bener nggak rela. Mungkin Om menganggap perjanjian dengan sahabat Om itu, sebagai suatu hal yang penting, tapi, apa Om pernah memikirkan kami? Memikirkan Adit? Om seharusnya paham, karena disini, Adit punya sahabat. Bagaimana pun juga, sahabat Om itu, telah lama hilang.. apa Om juga mau, Adit merasakan hal yang sama? Yaitu.. kehilangan sahabat..”
Bokapnya Adit tertegun mendengar suara isi hati Melody, tadi.
“Kamu..” kata bokapnya, sambil memandang Melody.
“Saya adalah.. satu- satunya perempuan yang Adit mau, Om! saya yakin!” Kata Melody, lagi, lalu menangis. Sepertinya, semua kejujuran yang dilontarkannya barusan, memang menghabiskan cukup banyak energi untuk di keluarkan.
“Om liat sendiri, kan? Bagaimana perasaan Melody. Dan Om juga pasti tau.. bagaimana perasaan Adit ke Melo, juga rasa sayangnya ke pada kami, para sahabatnya” kata gue, memantapkan argumen Melody.
“Om.. sadar, ini suatu paksaan. Adit punya kami disini, Om.. jangan biarkan kami terpisah begini aja” kata Ozi.
“Bener Om.. lagi pula, apa Om sanggup, ngeliat Adit yang pasti bakal menderita kalau terpisah dari kami? Apa Om sanggup, menghadapi kenyataan kalau nasib Adit bakal sama seperti Om dulu, yang kehilangan sahabat?” Kata Budi juga.
“Pliss.. Om, batalkan ini semua..” kata gue, memberikan kata penutup yang gue rasa, cukup pas untuk mengakhiri pembicaraan ini.
“Tapi..” kata bokapnya Adit, lalu melihat jam tangannya. Gue juga melihat jam tangan, pukul 17.49.
“Tenang aja, Om.. pasti Adit bakal terkejar, hehe” kata gue.
“Tapi.. sudah jam segini, lagi pula, Adit nggak bawa handphone..” kata bokapya Adit.
“Tapi.. ini pasti batal kan, Om??” Kata gue, nyengir.
“Iyaa… kalian bener- bener anak bandel yang pinter menghasut orang tua, ya” kata bokapnya Adit, lalu tersenyum.
“Yeeess!!!!” Kata Budi, dan Ozi, lalu melakukan tos.
“Gimana? Hehehe” tanya gue ke Melo, yang sekarang mulai terlihat bahagia seratus persen. Dia mengangguk. Sekarang suasana haru telah hilang. Yap, cara lembut dan penuh perhitungan seperti ini memang yang paling pas buat membujuk orang tua mengubah pikiranya. Memang nggak ada yang ngalahin kekuatan persahabatan, dan.. cinta..
“Yuk, buruan kita ke bandara. Om mau ikutan?” Tanya gue, ke bokapnya Adit.
“Ah.. mau saja.. asal masih sempat”
“Sempat, kok..” gue lalu menoleh ke arah Budi. “Bud, segera hubungi agen Ega untuk mencegah keberangkatan Adit, sekalian sampaikan pesan kalau ‘pertunangan serta keberangkatan Adit ke Amerika, DIBATALKAN!’ Okeh!!”
“Siap, bos!!”


Bersambung, part 21…

No comments:

Post a Comment

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)