Teman Lama


Rasanya baru 3 hari gue berada di kampung halaman gue ini, karena emang baru segitu. Tapi rasanya udah lama banget. Kumis dan jenggot gue mulai mekar kembali walaupun masih berupa rambut- rambut halus.

Kondisi rumah yang suram abis seringkali menghalangi niat gue buat nulis. Yaaah.. lebih pengin santai- santai gitu. Secara gue ragu aja, kapan lagi bisa ngerasain kasur unyu zaman gue SMA ini.

Gue mencoba untuk berfikir, apa makna dari pulang kampung kali ini. Ada pelajarannya, atau nggak. Apalagi untuk anak seperti gue. Kalau untuk ketemu keluarga (selain bokap nyokap gue) itu udah pasti. Terutama kalau ke rumah nenek, trus di kasih duit. Itu sesuatu banget.


Tapi ada hal lain yang ingin gue “beber”-kan (bukan “bibir”, ya), yaitu masalah pertemanan. Seperti yang selalu terjadi, semenjak lulus SMA, pasti banyak pertemanan yang “terpecah.” Faktornya banyak. Kadang ada yang udah nikah, kerja, dan tentu yang paling mainstream, kuliah.

Ini tentu nyerempet ke masalah merantau. Emang mirip filmnya Bang Iko Uwais, tapi kita bicara hal yang lebih nonfiksi, terutama seperti yang gue alami sekarang.

Perantauan anak “baru gede” biasanya emang dimulai setelah lulus SMA. Ya, itu masa dimana ke-macho-an seseorang udah mencapai tahap hampir sempurna. Perlahan pertemanan yang udah dibangun di kampung halaman, mulai pecah karena perpisahan. Tentunya, berpisah demi cita- cita.

Realita yang terjadi (di hidup gue), yang dulu di kampung nggak terlalu berteman dekat, bisa aja pas ngerantau di tempat yang sama malah jadi bersahabat. Itu biasa. Karena saat kita merantau, kita sangat butuh teman dari kampung walaupun dulunya kita nggak deket.

Yang jadi permasalahan adalah, jika sebaliknya. Ya, dulu dikampung deket banget sampe malah di sangka homo. Tapi pas udah ngerantau di tempat yang sama, malah jadi kayak pasangan homo yang udah talak 3. Nggak akrab lagi. Em.. kalau dalam kasus ini, sih, alhamdulillah, gue nggak termasuk.

Kasus baru yaitu, kalau dulunya sahabat baik di kampung, lalu merantau (di tempat yang berbeda). Ini yang sulit. Kurang komunikasi dan salah gaul lainnya bisa menyebabkan kita lupa akan “teman lama.”

Gue nggak bermaksud sombong atau membeda- bedakan. Tapi.. kok, kayaknya banyak yang berubah dari temen- temen yang merantau keluar Kalimantan. Jujur, gue anak Kalimantan, dan gue bangga. Gue ngerantau nggak jauh- jahu dari rumah. Sekitar hampir 300 kilometer doang.

Beberapa kali waktu gue masih di Samarinda (tempat perantauan gue), gue kadang ber-mention ria ala Twitter atau komen- komen-an di Facebook sama temen- temen gue yang ada di luar Kalimantan. Rasanya beda, walaupun gue selalu mengambil bagian positif otak gue, untuk mencerna perbedaan itu. Mungkin, mereka lagi sibuk ngapain gitu (sikat gigi pake oli bekas misalnya).

Tapi, kok, perlahan mulai keliatan, ya. Ada beberapa temen gue sesama dari kampung (yang juga merantau ke Samarinda) yang mulai ngerasain perbedan dari anak- anak lain, yang ngerantau keluar Kalimantan. Yaah.. mungkin lebih kece, aja, kali ya. Tapi, kan nggak mesti belagak juga mentang- mentang jarak rantaunya lebih jauh dari gue dan yang lain.

Entah apa yang mendorong gue untuk bikin tulisan yang mungkin agak “menyinggung” ini. Tapi gue cuma mau bilang, kalau gue, belum berubah sedikitpun (kecuali rambut gue yang udah nusuk- nusuk mata). Kemana pun gue melangkah, kemana pun gue berlabuh (ciee) gue masih “Aziz yang dulu.”

Sederhananya ni, ya, tulisan ini dibuat untuk “siapapun” yang ngerasa perantau, untuk tetap menjalin hubungan baik ke sesama temennya dari kampung halaman. Nggak peduli loe lagi pada dimana. Di jamban kek, mall kek, di parit kek, gue nggak perduli. Yang jelas, koreksi diri aja, lah, kalau loe ngerasa sombong atau minimal ngejauhin temen- temen dari kampung halaman dulu.

Gue cuma mau meyakinkan satu hal. “Sejauh apapun loe merantau, saat pulang kembali ke kampung halaman, teman lama adalah orang yang akan loe cari!” Gue percaya, karena gue udah mengalaminya. Jarak kampung halaman dengan tempat perantauan gue yang bisa dibilang “standar” aja, bisa bikin gue menyimpulkan hal itu. Apa lagi “kalian” yang berada di luar pulau. Please guys.. masa kecil kita di kampung halaman adalah akar bekal kita buat ngerantau. Tanpa temen- temen lama dikampung, kita bukan apa- apa sekarang.

Muaaach. Camkan!

2 comments:

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)