Fanfic "For Stella" Part 23; Insiden Ulang Tahun




‘For Stella’ adalah cerita fiksi bersambung dengan genre “komedi-romantis”. Penulis, Aziz Ramlie Adam, adalah seorang fans salah satu member JKT48 yang bernama Stella Cornelia. Berkat integritasnya dalam mengidolakan idol group yang satu ini, maka melahirkan inspirasi tersendiri untuk menghasilkan Fanfic for Idol ini.

Episode sebelumnya (part 22); “Seharian Aziz menghabiskan waktu bersama Stella, setelah Stella memberikan hadiah sebelum hari ulang tahun Aziz, yang ‘katanya’ dari Sonya”. Selengkapnya bisa baca DI SINI.

Berikut adalah episode terbaru (part 23), happy reading, guys!



Insiden Ulang Tahun

01.03 a.m.

Gue terbangun. Saat gue lihat jam digital di atas meja dekat tempat tidur, gue tercengang. Ah.. bangun jam segini lagi, pikir gue.

Gue sering banget terbangun jam segini. Entah kenapa, tapi jam-jam segini emang jadwalnya gue buat pipis. Gue menuju kamar mandi. Seusainya, gue ngucek mata sambil terseok-seok menuju tempat tidur karena nyawa gue masih 85% nempel di bantal.

Klik!

 Lampu dinyalakan.

“Yeeee….!!! Happy birthday..!!!”

Gue kaget. Seketika para nyawa gue yang tadinya nempel di bantal, langsung pindah ke hidung. Jangan tanya kenapa, gue juga nggak tau kenapa harus masuk ke hidung.

“Waduh!” Ya, itu adalah ekspresi kaget gue yang pertama, saat mendapat surprise dari..

“Selamat ulang tahun, Kak.. “ kata Dhike.

Budi, Cindy, Adit, Melo, Ega, Ve, Abeck, Sendy, Ozi, Ochi, ada semua. Satu-satunya yang gue pikirkan adalah.. ‘mereka siapa?’ 

Ini semua tentu kejutan banget. Mereka lengkap berada di rumah gue malam-malam gini. Gue liat si pemimpin barisan: Dhike, sedang memegang sebuah cake besar dengan lilin angka 1, dan 8. Hahaha, gue tersenyum.

“Kalian..” Gue terharu. Sebenernya ini ultah pertama gue yang sampe dikepung di kamar begini. Tahun dulu-dulu, nggak ada surprise. Satu-satunya surprise dari temen-temen gue ini adalah: ‘Ziz, kan loe ultah, nih. Traktiran dong.’ Ya, cuma itu, surprise yang gue rasakan selama ini. Sesuatu, ya.

“Kakak Aziz udah makin tua..” kata Cindy. “Hus, dia bukan tua, Beb. Tapi baru mau tua,” Budi membantah.

“Jenggot loe jangan dicukur lagi, ya..” Kata Ega. “Emang kenapa? Kalo dia cukur jenggot?” Ve membalas. “Ya nggak keliatan tua dong,” kata Ega lagi.

“Selamat ulang tahun, my best-best pren, deh,” kata Adit, lalu menyalami gue. “Say.. aku boleh salamin dia juga?” Tanya Melo, ngajak becanda. “Boleh lah.. Aziz itu nggak naksir cewek kok. Tenang aja..” balas Adit.

“Weee… Ulang tahun kali ini dikasih surprise, yaa.. Hahaha,” kata Sendy. “Jadi ingat hari ulang tahun seseorang yang mengenaskan,” Abeck menyahut. “Apa? Kamu tadi ngomong, ya?” Sendy melirik Abeck, sinis.

“Panjang umur bro. Keren kan, kita kasih kejutan! Hahaha..” Lalu Ozi memeluk gue. “Jangan kelamaan, ntar Aziz kesenangan,” kata Ochi sambil ketawa. “Tenang.. butuh seribu alasan sesat buat selingkuh dari kamu. Ohohoho..” jawab Ozi, dengan muka absurd-nya.

“Kakak.. tiup lilinnya gih, ntar pas tanganku nggak kuat, kuenya bisa jatoh loh. Trus lilinnya mati. Hehehe,” kata Dhike, yang kini beranjak ke depan gue.

Dan.. demi piyama yang lagi gue pakai, gue meniup lilin di kue itu. Gue terharu. Sejenak gue ngerasain gimana indahnya punya sebuah ‘keuarga’.

Thanks guys… Gue..” Bicara gue terhenti. Gue segera menuju kamar mandi.

Gue cuci muka karena gue sadar, air mata mengalir dengan indahnya. Iya, ini adalah air mata bahagia yang keluar dari rasa ‘sepi’ yang selama ini menghantui. Semenjak orang tua gue nggak ada, gue sangat mengharap surprise dari sebuah ‘keluarga baru’. Dan mereka.. hadir membawa itu.

Gue keluar.

Loh, kok sepi? Kampret! Pikir gue.

Gue segera keluar kamar dan menuruni tangga. Di bawah, sudah rame temen-temen gue pada makanin kue ulang tahun tadi sambil karokean.

“Eeeh.. baru bangun, ya?” Kata Adit. Yang lain juga ikut memandang gue dengan tatapan aneh.

“Kalian…!!!” Gue nyengir, “Pada ngapain, haaaaa???” Lalu gue menerjang mereka.

Yang jelas, malam itu menjadi perayaan ultah gue yang nggak terlupakan. Kami bersenang-senang. Karena pada dasarnya rumah gue ini luas, dan kedap suara, mau karokean sekenceng apapun juga nggak masalah. Gue terbawa suasana..

“Key, kalian kok bisa nongol di sini?” Gue bertanya pada Dhike.

“Hehehe… Dari tadi pagi aku udah rencanain ini. Pas kakak lagi jalan seharian..”

“Wow!” Gue kaget.

“Jadi pas kakak pulang tadi, jam setengah 11-an, sekitar sejam kemudian kami ngumpul ke sini, Kak. Aku udah izin sama mama papa juga buat nginap di sini, buat surprise-in kakak”

“Hmmm..” gue mulai manggut-manggut. “Tapi kok, jam satu gitu ngasih surprise-nya? Biasanya kan di pelem-pelem, ngasih surprise ultah itu jam dua belas.”

Semua ngeliatin gue dengan tatapan bengis. Gue nyengir. Budi menghampiri gue.

“Eeeeeeeh… Kita udah mau ngasih jam 12 kaleee. Tapi apa? Loe nggak bisa dibangunin. Rencananya kita bakal nakutin loe pake hantu-hantuan. Nah, loe-nya kagak bisa bangun. Terpaksa deh, gue sama Dhike nungguin di depan kamar loe sampe loe bangun buat pipis.” 

Penjelasan Budi bikin gue  stroke.

“Kok? Kalian emang pada tau gue sering pipis jam 1 malam?”

Semua ngeliat ke arah Dhike.

“Oh iya.. gue lupa. Ada stalker,” gue senyum masam. Dhike senyum bangga.

“Yaudah.. Muka loe makin jelek kalo pasang ekspresi gitu. Mending sini, deh. Ikutan makan, karokean kita..” kata Ega.

“Hahaha.. Bener, bener..”

**

Akhirnya pagi datang juga. Gue dan temen-temen udah memutuskan untuk pergi menikmati weekend di salah satu pulau punya temen gue. Biasa lah, orang kaya, punya pulau pribadi gitu (temen gue, bukan gue).

Gue lagi sibuk masukin barang-barang ke bagasi mobil. Yang lain juga melakukan hal yang sama. Sebagian masih pada numpag mandi di kamar gue, dan di kamar ortu gue. Ya.. enggak perlu ditanya lagi ‘mereka’ datang dari mana. Karena nggak mungkin pulang sehabis ngasih gue surprise, mereka nginep di sini. Lagian, bisa sekalian pergi hangout dari pada harus bolak-balik ke rumah masing-masing.

“Eh, Cin. Budi mana?” Tanya gue ke Cindy, yang lagi menenteng tas Budi menuju pintu depan.

“Ooh.. jemputin kak Sonya. Trus dia juga mau ngajakin Ayu sama kakak sepupunya itu, loh. Si..’

“Stella!” Kata gue, mantap.

“Iya, itu.. Nggak apa-apa, kan?”

“Yaiyalaaaahhh… Bangeeeeeeet,” kata gue, masang muka mesum. Cindy berlalu.

Hm.. Stella ikut, nih. Seperti yang gue harapkan, pikir gue. Akhirnya gue malah ngopi-ngopi dulu bareng Adit, Ega, Abeck dan Ozi, di halaman belakang. Kesannya kayak Boyband yang gagal rekaman. Para cewek? Mereka sibuk beres-beres. Pffft.

“Ziz, kita bakal ke mana, nih?” Tanya Ega, sambil menyeruput kopinya. Yang lain ikut pasang muka penuh tanya.

“Ke pulau pribadi seseorang. Katanya weekend ini bakal rame di pantainya..”

“Seriusan? Pulaunya siapa??” Tanya Abeck.

“Siapa lagi coba, temen tajir kita yang punya pulau sendiri?”

“Oooohhhh..” Mereka mengangguk bersamaan.

Singkat kata, Budi kembali dengan membawa ‘hadiah’ buat gue. Siapa lagi kalau bukan My Princess Stella Cornelia. Uwow!!!! Gue hampir pingsan dan kesedot vacuum cleaner waktu liat mukanya lagi. Dia-nya? Cuek.. 

Gue mau nangis.

“Hemm.. Yaudah.. karena ke sana lumayan jauh, kita berangkat secepatnya aja,” kata gue, saat melihat semua udah berkumpul. 

Seketika gue melihat ke arah Sonya. Saat melintas di depannya, dia narik tangan gue. 

“Emm.. Ziz..”

“Iya? Kenapa?”

“Gue..”

“Eh! Ntar. Poni loe lucu ya? Aahahah.. “

“Eh? Jelek, ya?” Kata Sonya, lalu memperbaiki poni rambutnya.

“Ahaha.. nggak kok! Cantik malah. Udah.. kayak tadi aja.” Gue tertawa, lalu membenahi poninya ke posisi semula.

Sonya terlihat malu. Gue? Ya.. biasa..

“Ini..” kata Sonya, sambil memberikan sebuah kado. 

“Ha?” Gue kaget. Bukannya dia udah ngasih kado ke gue kemaren?

Tiba-tiba gue pengin liat ke arah pintu depan. Ya, ke arah temen-temen gue yang sibuk menyeret barang masing-masing menuju ke luar rumah. Terlihat Stella. Dia.. menoleh ke arah gue sambil tersenyum.

“Ah..! Makasih, ya, Onya. Special banget buat gue.” Gue tersenyum, lalu segera lari menuju kamar.

Iya, ternyata.. kado kemarin bukan hadiah dari Sonya. Tapi dari.. Stella. 

Gue bongkar-bongkar daerah sekitar meja belajar. Dan.. ketemu bungkusan sebesar kotak rokok. Yap, ini kado dari Stella kemaren. Apa isinya? Hati gue bersemangat.

Gue buka, ada secarik kertas kecil..

‘I love you.. but..’

Gue kaget. Hanya ada empat kata sederhana yang dalem banget maknanya. Walaupun gue nggak tau apa lanjutannya, yang jelas, gue yakin kalau ‘I love you’ adalah suatu hal yang menggembirakan. 

Gue pengin teriak, tapi keduluan sama teriakan Dhike dari arah pintu kamar.

“Kakak!!! Cepetaaannn!!! Kakak yang suruh buru-buru, eeeh.. malah asik senyum-senyum di atas kasur”

“Iya… Iya… Baweeeeel..” Gue turun. 

Selama perjalanan, gue menyetir dengan penuh rasa bahagia.

**

Sekitar tiga jam perjalanan, kami sampai di tempat tujuan. Lebih tepatnya di ‘jalan menuju tempat tujuan’. Kami nggak pake kapal, tapi melewati jembatan yang menghubungkan daerah perbatasan dengan sisi belakang pulau yang terjal. 

Kami memarkir mobil di sebuah basement restaurant, yang lagi-lagi, punya temen gue yang tajir itu.
“Jalan kaki, nih?” Tanya Cindy.

“Iya, laaah.. Mau ngesot?” Gue menjawab.

Kami melintasi jembatan itu. Iya.. kami ber-16 : Gue, Dhike, Stella, Sonya, Sonia, Ayu, Budi, Cindy, Adit, Melo, Ega, Ve, Abeck, Sendy, Ozi dan Ochi.

Jembatan ini cukup tinggi dari arah lintasan air laut di bawah. Bentuknya masih agak jadul. Memakai konsep jembatan gantung dengan kombinasi papan dan tali. Walaupun kesannya zaman dulu banget, ni jembatan dijaga sama beberapa petugas, loh. Sekali lagi, petugas itu juga ‘bawahan’-nya temen tajir gue.

Kurang lebih 200 meter kami melangkahkan kaki. Akhirnya sampai juga di seberang. Di bagian ini, juga dijaga beberapa petugas yang badannya atletis sekelas Agung Hercules. Gue dan temen-temen cowok yang lain, jadi nunduk-nunduk pas melintas di depan mereka. Gugup coy.

Selanjutnya, kami menuju ke sebuah pos kecil di mana seorang pria lusuh sedang menunggu.

“Em.. Permisi, Mas..” kata gue, menegur bapak itu. “Kami..”

“Tamunya Tuan, ya?”

“Iya.. Mas.. Hehehe,” jawab gue.

“Mari.. ikuti saya..” 

Kami pun mengikuti bapak itu melewati jalan setapak. Yah, maklum lah, kami ini ada di posisi belakang pulau. Mau kepantai? Lintasin dulu nih hutan-hutan!

“Banyak nyamuk, ih.” Ochi sibuk menepuk-nepuk jidatnya.

“Waaaaa!!” Cindy menjerti pas kakinya nyangkut di bebatuan.

“Serem, deh..” Melo bergidik sendiri.

“Aduh, capeeeekkk..” Ve mulai menggerutu.

“Jadi haus.. “ kata Sendy, lalu meneguk air mineral yang digantungnya di leher.

“Langitnya cerah..” Dhike berbicara sendiri, sambil menengadah menatap langit.

“Ih.. itu apa, Kak??” Kata Ayu, sambil menarik-narik tangan Sonia. “Yaelah.. ranting pohon doang,” Sonia bergumam.

“Onya, liat deh. Unik, kan?” Kata Stella sambil tunjuk-tunjuk tanaman berbentuk aneh. “Iya.. Eh, gue pernah lihat itu di ensiklopedia, loh..” Sonya menimpali pernyataan Stella.

Gue, Budi, Adit, Ega, Abeck dan Ozi, hanya dapat menyimpulkan: cewek emang doyan rumpi.

Nggak lama kemudian, sampailah kita di depan sebuah villa yang lumayan keren. Berada tepat di tengah-tengah pulau.

“Makasih, Mas..” kata gue, ke bapak yang mengantar kami. Lalu bapak itu pergi ke arah tempat semula dia berada, tanpa bicara sepatah katapun. 

“Serem juga bapak-bapak itu..” bisik Ozi ke gue. Gue hanya bisa menaikkan bahu sambil geleng-geleng kepala.


Ting tung! Ting tung!

Adit sibuk memencet bel pintu utama villa itu. “Mana sih, tu anak?” Dia bergumam.

Tiba-tiba handle pintu terlihat bergerak. Dia keluar.

“Heeey… Rame banget!! Hahahaha”

“Ahahaha.. Loe makin besar, bro!” Kata Abeck sambil mukul-mukul bahu temen tajir kita itu. 

Namanya Didit. Seorang anak konglomerat yang apapun keinginannya, pasti dikabulkan sama bokap-nyokapnya. Gue inget, waktu kelas 2 SMA, kita pengin liburan gitu deh. Nah, dia tanpa mikir panjang (karena otaknya emang pendek) ngebeli pulai ini.. pribadi. Iya! Ni pulau punya anak unyu ini! Dia emang nggak tinggal di sini, karena cuma tempat liburan aja. Lagian rumahnya di tiap jalan, ada kok. Badannya yang ‘agak besar’ udah cukup menggambarkan gimana makmurnya hidup dia.

“Masuk dulu, gih… Hehehe. Pasti capek, kan, loe pada.”

Kami masuk ke dalam villa itu. Megah.. Awal masuk, gue ngerasa kayak ikutan casting film Hollywood. Gue juga nggak tau kenapa, mungkin karena terlalu terobsesi sama Harry Potter (maaf, gue mulai ngelantur).

“Bud, loe kenapa?” Tanya gue, yang ngeliat Budi masih belum masuk. Gue samperin dia.

“Eh, loe liat deh rombongan depan,” kata Budi, sambil nunjuk temen-temen yang udah pada masuk.

“Kenapa?” Tanya gue, lagi, setelah celinguk-an ke arah temen-temen.

“Cindy nggak ada..”

“Ha??? Bukannya dari tadi ada di sebelah elo???”

“Iya.. Seingat gue sampe kita keluar dari situ..” lalu Budi menunjuk ke arah jalan setapak, “..dia masih pegangin tangan gue. Tapi pas udah sampe depan sini, gue kan lagi sibuk ngecek barang. Eh, taunya udah kagak ada..”

“Jadi…?”

“Iya, Ziz.. Cindy hilang..”

** 


Untuk episode selanjutnya (part 24); “Menghilang-nya Cindy membawa banyak tanda tanya tentang sejarah pulau milik Didit. Di tengah kebingungan, siapa sangka.. ada seseorang lagi yang menghilang..”

Tunggu kelanjutannya, ya!





3 comments:

  1. pengen bikin nyang kaya ginian juga nih mas broo...gimana caranya yee?? *maklum blogger pemula...
    caranya gmna siih?? *keppo

    ReplyDelete
  2. hehe.. gue aja belom setahun nulis blog. cerita gini jg baru brapa bulan. ..
    hmm.. apa ya? yg penting itu imajinasi yg "liar" aja. wahahaha..
    trus saran gue, tiap mau nulis crita gini cuma butuh Mc Word, kasur, kopi, sama foto cewek yg disukain *eh.

    nah.. atau.. bisa liat posting gue sebelumnya, tentang langkah menulis di blog..

    *kok gue jadi kebanyakan ngomong gini ya..*

    ReplyDelete

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)