Ini Ximin

Sunday, January 27, 2013

Fanfic "For Stella" Part 24; Seorang Lagi




‘For Stella’ adalah cerita fiksi bersambung dengan genre “komedi-romantis”. Penulis, Aziz Ramlie Adam, adalah seorang fans salah satu member JKT48 yang bernama Stella Cornelia. Berkat integritasnya dalam mengidolakan idol group yang satu ini, maka melahirkan inspirasi tersendiri untuk menghasilkan Fanfic for Idol ini.

Episode sebelumnya (part 23) : “Setelah semalam mengadakan acara ulang tahun mendadak, Aziz dan kawan-kawan pergi berlibur ke suatu pulau pribadi milik seorang teman, bernama Didit. Namun, alangkah terganggunya weekend mereka sesaat setelah Cindy … menghilang secara tiba-tiba”. Selengkapnya bisa baca DISINI.

Berikut adalah episode terbaru (part 24), happy reading, guys!



Seorang lagi ...

“Kalian duluan aja istirahat, gue sama Budi mau balik ke tempat yang tadi dulu,” kata gue, ke Adit dkk.

“Oke ... Oke .... Kabarin, ya ... kalau udah ketemu, atau pas kalian butuh bantuan …” balas Adit yang sudah tahu keadaannya, dan sekarang jadi ikut panik.

“Sip!” Gue beralih menepuk bahu Budi, “ayo, kita ke sana.”

Budi mengangguk dan kami berdua balik menuju jalan setapak tadi. Kali ini tidak terlalu teburu-buru, karena Budi sendiri kelihatan begitu memperhatikan seluk beluk jalan itu. Wajahnya terlihat sangat cemas.

“Cindy!! Cindy!!” Sesekali dia berteriak sepanjang jalan.

Kami terus menelusuri jalan itu secara lebih teliti.

“Ziz, apa nggak di dalam hutan, ya?” Budi melihat gue.

“Terlalu bahaya, Bud.” Gue melirik ke arah hutan, dan bergidik sebentar, saat melihat bagaimana seramnya. Padahal, waktu itu masih sekitar jam 2 siang.

“Kita tanya bapak tadi aja,” kata gue, memberi solusi.

 “Okedeh ...” kata Budi, lalu lanjut berjalan. Dari ekspresi wajahnya, terpancar rasa tidak sabar ingin segera bertemu bapak itu. Seolah bapak itu benar tahu keberadaan Cindy.

Akhirnya kami sampai di ujung jalan tadi, di pos kecil tempat bapak itu sedang asik meminum soft drink. Kami menghampirinya.

“Permisi, Mas ...” kata gue. Agar terlihat akrab (dan seolah bapak itu masih kelihatan muda di mata kami), gue memanggil dengan ‘Mas’.

“Ada apa?” tanya bapak itu, ketus. Budi mendekat.

“Begini, Pak, apa bapak melihat ada seorang cewek di rombongan kami, yang tertinggal atau lewat sini? Ciri-cirinya, agak kurus, putih, matanya nggak terlalu sipit, berponi, bawa tas punggung warna merah, terus ... rambutnya diikat ke belakang, dua ikatan, Pak,” kata Budi, sambil menirukan sosok cewek yang rambutnya diikat ke belakang dengan dua ikatan. Di mata gue, lebih mirip orang yang lagi menirukan gaya rusa kutub kena diabetes.

“Hemm ... agak pendek ... kurus, putih?” tanya bapak itu masih dengan nada ‘bodo amat’.

“Iya bener!” jawab gue dan Budi bersamaan.

“Kalau tidak salah tadi lewat sini. Pas saya tanya, katanya ...” lalu bapak itu menunjuk ke arah seberang jembatan, “… mau ke mobil mengambil sesuatu yang ketinggalan.”

“Ohh …. ” Budi mengelus dada dengan ekspresi lega, “Makasih, Pak!”

Lalu kami berdua kembali melintasi jembatan. Sesampainya di ujung, kami menuju basement tempat mobil diparkir.

Budi segera memanggil-manggil nama Cindy dengan nyaring hingga menggema di seluruh basement. Hingga sampai di mobilnya. Ternyata, pintu mobil masih terkunci rapat. Gue lihat Budi langsung merogoh saku untuk memeriksa sesuatu.

“Kenapa?” tanya gue.

“Ini .... ” Budi mengeluarkan kontak mobilnya dari saku. “Kunci mobil ada sama gue, nggak mungkin Cindy mau ngambil barang, tapi nggak ngomong ke gue.”

Kami seketika merasa kalau semua ini terlalu aneh. Akhirnya, setelah memeriksa seluruh basement, kami kembali ke jembatan. Gue berinisiatif untuk bertanya pada para penjaga di situ. Ada dua orang.

“Permisi, Mas-nya ... ada melihat seorang cewek yang balik dari arah pulau itu nggak?”

“Loh ... Mas, yang tadi berombongan melewati jembatan ini ‘kan?”

“Benar!” jawab Budi.

“Setahu saya, yang balik ke sini semenjak rombongan Mas melintas ke sana, ya hanya Mas berdua ini,” kata salah satu penjaga itu dengan ramah.

“Ha? Nggak ada yang lain?” tanya gue.

“Nggak, Mas. Kami ber-dua dari tadi stay di sini. Tapi cuma kalian yang balik,” kata penjaga yang satu lagi.

“Kampret!” Budi lalu berlari melintasi jembatan menuju ke arah pulau.

“Ah ... makasih infonya, Mas,” kata gue, lalu berlari mengejar Budi. “Tunggu, Bud!”

Sesampainya kami di ujung jembatan, Budi segera menuju pos bapak yang mengantar kami tadi. Setelah dicari, ternyata ... tidak ada seorang pun. Gue lagi-lagi berinisiatif untuk bertanya pada dua orang petugas di dekat jembatan itu. Iya ... jembatan ini, ‘kan, dijaga dari dua sisi.

“Mas, bapak-bapak di pos itu tadi, ke mana ya?” tanya gue, sambil menunjuk ke arah pos.

“Bapak-bapak? Jangan bercanda, Mas. Hanya kami berdua yang ada di sini dari tadi,” jawab mas penjaga itu, dengan ekspresi yakin.

“Ciyus? Eh, maksudnya ... serius? Mas nggak lagi pada bercanda, ‘kan? Terus bapak itu tadi yang mengantar kita masuk, siapa?”

“Bapak-bapak yang mana, Mas?? Saya beritahu, ya, hanya kami berdua yang berjaga di sini. Lagipula, siapa yang mengantar kalian? Bukannya kalian tadi masuk sendiri setelah berhenti sebentar di pos itu?”

“Loh ... kami berhenti di sana karena minta diantar masuk oleh bapak itu, Mas. Mas nggak lihat?”

Kedua penjaga itu cuma geleng-geleng kepala. Mirip Ondel-ondel yang bedaknya luntur.

Gue lagi-lagi merasakan ada ‘sesuatu’ (efek dari kata ‘bedak’) yang aneh. Gue menuju ke arah pos, di mana Budi masih sibuk mencari-cari bapak itu.

“Bud ... ” kata gue, lalu menceritakan kalau sebenarnya bapak itu tidak pernah ada.

“Apa????” Budi kelihatan mau pingsan. Matanya terbelalak walaupun tetap saja sipit.

“Sabar dulu.” Gue menepuk bahunya, “ntar sore kita cari lagi, oke! Kita balik dulu. Cuacanya juga makin panas”

“Yaudah .... ”

Budi terlihat sedih. Bagaimana pun, yang hilang itu Cindy! Cewek yang paling disayangnya. Gue perlahan mengerti juga gimana perasaannya. Gue jadi ingat ekspresi Ega juga begitu waktu mencari-cari Ve. Walaupun tentu saja, ekspresi Ega jauh lebih abstrak dari Budi, dan ... jauh lebih tua.

Gue berjalan di depan, sementara Budi di belakang gue sambil sesekali memanggil nama Cindy. Tiba-tiba..

“Ziz, sini, deh!” Budi memanggil.

“Kenapa?” Gue berbalik, dan segera menggeliat ke arahnya.

“Itu ...” kata Budi, lalu menunjuk sesuatu di dekat semak-semak, “Punya Cindy.”

“Ha?”

Budi mendekati benda itu. Iya ... sebuah benda berbentuk seperti bingkai foto. Namun, bukan bingkai itu masalahnya, tetapi sapu tangan yang membungkus foto itu. Sapu tangan yang selalu di bawa Cindy.

“Ini selalu dibawanya ke mana-mana ...” kata Budi, sambil menatap sapu tangan yang kini sudah ada di genggamannya.

*Lagu ‘Tak Gendong’ Mbah Surip terdengar dari kejauhan*

“Em … coba gue lihat itu,” kata gue sambil menunjuk sebuah benda yang dibungkus dengan sapu tangan Cindy tadi. Budi memberikannya ke gue. Sebuah kondom. Eh, maaf, sebuah foto maksudnya.

Ada tiga orang di foto ini. Sudah kusam banget, sampai laba-laba yang menempel di situ sudah tidak ber-ereksi. Di foto itu terdapat dua orang pria dan seorang wanita. Salah satu pria terlihat menggandeng tangan wanita tersebut.

“Ini ... kayakya gue pernah lihat ....” Gue coba mengingat.

“Siapa?” tanya Budi.

“Oh iya, yang ini bokapnya Ve! Iya, gue yakin. Walaupun di sini masih kelihatan muda banget!” seru gue, sambil menunjuk foto seorang pria (bukan pria yang bergandengan tangan). Mungkin waktu itu bokap Ve masih jomblo.

“Kok ... foto itu bisa ada di sini??”

Gue geleng-geleng kepala, “Yaudah ... kita balik dulu.”

Akhirnya gue dan Budi hanya kembali dengan membawa sapu tangan dan sebuah foto ... (tidak ... tidak ada kondom).

**

“Iya! Ini bokap gue!” seru Ve setengah kaget. Sekilas mirip Empu Gondrong yang gagal membuat Keris. “Loe nemu di mana foto ini?”

“Di jalan setapak waktu mau ke villa ini,” kata gue, “Trus? Loe kenal nggak, cowok sama cewek yang gandengan ini siapa?”

“Itu …. ” Ve mencoba mengingat, dan sekarang mirip Empu Gondrong yang lupa kalau Keris-nya sudah dibeli oleh Ken Jorok. “Kayaknya gue pernah lihat foto mereka juga di rumah bokap ...”

“Di rumah buaya?” tanya Adit, yang datang sambil membawa minuman dingin.

(Lebih jelas tentang ‘Rumah Buaya’ bisa baca di : part 7, part 8 dan part 9)

“Iya. Di mana lagi?” kata gue.

Sekarang kami sedang berada di sebuah beranda kamar yang luas. Gue, Ega, Ve, Adit dan Melo (iya ... gue tau, cuma gue yang nggak punya pasangan). Dari sini, pemandangan ke arah hutan tadi terlihat sangat indah, berhubung ini di lantai tiga.

“Masih nggak ingat?” tanya Melo kepada Ve.

“Oh, iya!” seru Ve, “Ini bokap-nyokapnya Gaby! Iya gue yakin. Bokap pernah cerita.”

“Eh??” Gue heran. ‘Kenapa foto ini bisa ada di sini?’ pikir gue.

“Yaudah, gue ke bawah dulu,” kata gue, lalu mengambil segelas minuman yang dipegang Ega. Sekilas wajahnya kelihatan lebih seram dari kloset.

Gue menggelinjang menuruni tangga ke lantai dasar. Di ruang tamu, terlihat Stella, Sonia, dan Sonya sedang bercengkrama. Gue tidak terlalu perduli (padahal mata sudah cenat-cenut pas lihat Stella).

“Mau ke mana? Oh iya, kabar Cindy gimana?” tanya Stella. Ya, semua sudah tahu kalau Cindy hilang.

“Belum ada kabar ... emm, kalian lihat Budi?” tanya gue.

“Itu ada di halaman belakang, bareng Ayu sama Didit,” jelas Sonya.

“Oke, thanks,” kata gue sambil masih membawa segelas minuman di tangan kanan, dan foto tadi di tangan kiri. Gue menuju halaman belakang.

Di sana sudah ada Ayu, Budi dan Didit. Wajah Ayu terlihat makin sedih. Bagaimana pun juga, Cindy adalah sahabat dekatnya.

Gue menghampiri mereka bertiga, yang ternyata, Budi dan Ayu sedang mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang pulau ini, dari Didit. Gue ikut menyimak, sambil sesekali meneguk minuman.

“Jadi ... kasus kayak gini pernah kejadian juga?” tanya Budi.

“Iya ... lima tahun yang lalu. Waktu itu pemilik pulau ini masih yang sebelum gue,” lalu Didit memberikan sebuah koran dan memperlihatkan headline halaman depan. Tulisannya : ‘Seorang anak gadis dikabarkan hilang saat berlibur ke Poveglia Island, kurang-lebih setengah jam saat melintasi jembatan di bagian belakang pulau’.

(Nama ‘Poveglia’ diambil dari nama sebuah pulau misterius yang terletak antara Venezia dan Lido, Italia)

“Gila! Ini persis banget kayak Cindy!” seru gue, yang kaget membacanya.

“Em ... Kak, terus gimana kasusnya? Gadis itu ketemu?” tanya Ayu.

“Iya ... satu minggu setelah itu, dia ditemukan di daerah belakang pulau. Kalau dari jalan setapak tadi, agak masuk ke dalam hutan ...” jelas Didit.

“Alhamdulillah ...” Ayu menghela nafas.

“Iya ... walaupun sudah berbentuk mayat.” Didit menghempaskan diri ke sandaran kursi.

“Ha?” Gue, Budi dan Ayu seketika kaget bersamaan.

“Ma ... mati?” kata Budi dengan sedikit terbata-bata (bukan ... kita bukan mau bikin rumah). Gue perhatikan tangan dan kaki Budi mulai gemetar. Gue coba menenangkan dengan menepuk-nepuk bahunya.

“Em ... loe udah hubungin pihak berwajib?” tanya gue, ke Didit.

“Udah, kok. Polisi lagi di perjalanan ke sini.”

“Baguslah .... ” Gue merasa sedikit lega, “Yaudah ... ntar sekitaran jam 4 kita keliling lagi, ya, Bud. ‘Kan udah agak sore, tuh. Gue ke atas dulu. Loe yang sabar”

“Iya ... Thanks bro ...” jawab Budi, lesu.

Gue segera beranjak dari sana menuju kamar di lantai tiga. Saat gue lihat di ruang tamu, hanya ada Sonia dan Sonya.

“Em ... Stella mana?” tanya gue ke mereka berdua.

“Katanya tadi mau jalan-jalan sebentar. Tapi kakak kayak nggak mau ditemenin gitu. Bahkan, dia sempat marah-marah pas aku sama Kak Sonya mau ikut,” jawab Sonia.

“Loh ...? Kalian nggak ngikutin diam-diam gitu?” tanya gue lagi, sambil sekarang mendekati mereka, lalu duduk di atas kompor (di sofa maksudnya).

“Dia marah, Ziz .... Kita sempat takut juga. Tapi gue yakin, dia baik-baik aja. Dia cewek yang kuat. Walaupun gue jadi khawatir ...” kata Sonya.

“Ntar. Sekuat apapun, dia tetap cewek ...” Belum selesai gue bicara, Sonia menyahut.

“Oh, iya! Tadi katanya kakak nggak mau diganggu. Dia pengin nostalgia karena pernah ke sini lima tahun yang lalu. Walaupun aku sebenernya nggak ingat kapan Kak Stella pernah ke sini ...”

“Lima tahun ... yang lalu ...?” Gue merinding. Seketika gue panik dan beranjak dari sofa.

“Eh, tunggu!” kata Sonya, lalu dia bareng Sonia mengikuti gue dari belakang.

Gue berlari menuju halaman villa, mencari-cari di manakah sosok Stella. ‘Ke arah kiri ... jalan setapak. Ke arah kanan ... ke depan pulau, gue ke mana nih???’ pikir gue, kacau.

“Kak!” teriak Sonia dari belakang gue.

“Sabar ... gue juga ngerasa nggak enak, nih!” seru gue, panik. Mimik wajah gue sudah mirip Einstein yang mendadak lupa; 1+1= berapa?

Karena keributan di luar, seketika Budi, Didit dan Ayu, datang menghampiri. Budi bertanya dan gue menjelaskan, kalau Stella mengalami hal yang sama seperti Cindy. Menghilang ....

“Yaudah ... kita cari, ya .... Lagian udah cukup sore. Panasnya udah berkurang. Emm ... Ayu, bisa panggilkan Adit, Ega, Abeck, sama Ozi?” kata Didit.

Ayu mengangguk, lalu pergi ke lantai atas untuk memanggil ‘para cowok’.

Akhirnya telah dibuat suatu kesepakatan. Semua cewek : Dhike, Sonia, Sonya, Ayu, Melo, Ve, Sendy dan Ochi, menunggu di villa, ditemani seorang penjaga : Abeck. Sedangkan para cowok (selain Abeck) mencari ke dua arah. Ke arah jalan setapak : Gue, Budi, Didit. Ke arah pantai (bagian depan pulau) : Ega, Adit, Ozi.

“Pastikan semua pintu dan jendela dikunci, ya. Sampe kita balik!” perintah Didit ke para cewek. Gue sempat kasihan juga sama cewek-cewek, masa’ disuruh mengunci semua pintu dan jendela villa berlantai 4 ini??! Rempong, deh. Tapi itu tidak penting sekarang.

Akhirnya gue, Budi dan Didit pergi memeriksa jalan setapak tadi. Gue mulai memanggil-manggil nama Stella juga. Gue seketika galau.

Tiba-tiba, handphone gue berdering.

“Ziz, kasih telepon ke Didit!” kata Adit, dari seberang sana.

“Dit, buat loe,” lalu gue memberikan handphone ke Didit. Budi masih terlihat memandangi hutan di sekitaran jalan setapak.

“Halo ...” kata Didit, “Ah ... Kakak ...?? Tapi ... temen aku hilang dua orang .... Iya ... sebentar, ya ...”


TUT TUT TUT.


“Siapa?” tanya gue.

“Kakak gue, rupanya yang lain tadi pada ketemu dia di depan”

“Oh ... Kak Rica .... Terus? Dia ngomong apa?”

“Katanya ... jangan main ke hutan di belakang pulau, apa lagi kalau ketemu …”

Tiba-tiba Budi berteriak.

“Hey! Ada gerbang tua, nih!! Penasaran gue!” teriak Budi yang sudah masuk ke arah hutan.

“Ntar ... kalau ketemu ... apa? Tadi loe mau bilang apa?” tanya gue ke Didit.

“Itu ...” lalu Didit menunjuk gerbang tua yang ditemukan Budi, “kata kakak gue jangan ... masuk ke sana ...”

Seketika gue dan Didit melihat ke arah Budi, yang sudah memasuki gerbang itu. Sontak kami berteriak, lalu mengejarnya.

“Budi!!!”

**



Untuk episode selanjutnya (part 25) : “Aziz, Budi dan Didit nekat memasuki ‘Gerbang Terlarang’ yang sudah diperingatkan oleh kakak Didit, Kak Rica. Di tempat lain, arah pantai, Ega dan lainnya menemukan Cindy yang sedang membawa sebilah pisau ...”

Tunggu kelanjutannya, ya!


4 comments:

  1. Nyimak ajha dah sob,,, ditunggu kunjungan baliknya...

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. Makasih :)
      walaupun kalau diurutkan dari episode 1, bukan jdi 'cerpen', tapi 'cerpaaaaaaaan' *panjang*

      hehehe

      Delete

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)