Fiction: "Kembali"





Aku membuka mata. Tangisan adikku kembali memecahkan sunyi malam. Aku tengok jam digital, yang berada di atas sebuah meja, di samping tempat tidurku. Masih pukul 2.. gumamku dalam hati.

Aku bergegas keluar kamar, sekedar mengingatkan Ibu ku kalau Adik menangis lagi. Kamar kami memang terpisah. Aku menempati kamar di lantai dua. Dari tangga, kamarku berada paling ujung. Tepat di jendela kamarku, pemandangan beberapa pohon pisang dan petai cina, lah, yang akan terlihat. Yah, keluargaku memang belum sempat membersihkan daerah belakang rumah yang baru kami tempati sekitar 1 minggu ini.

Kamar Adik tepat berada disamping kamarku. Kamar Ibu ku tentunya di bawah. Ibu memang sudah mendidik anaknya untuk mandiri sejak kecil, termasuk masalah penempatan kamar ini. Karena itu, lah, Adik ku yang umurnya masih belum mencapai 2 tahun ini, telah dibiarkan tidur sendirian. Sebenarnya aku dulu juga seperti itu.


“Mama.. Silvia menangis lagi!” Aku berteriak dari arah tangga. Untuk turun ke bawah, aku merasa takut sendiri. Dari arah tangga sini hanya terlihat beberapa sinar sendu dari rangkaian lampu meja yang ada. Sisanya, hanya kegelapan.

“Ma?” Kata ku, lagi.

Aku memang paling tidak suka mendengar tangisan Adik ku yang selalu pecah di tengah malam. Khususnya.. selama seminggu di rumah ini. Aku juga merasa malas untuk segera menenangkan Silvia, adik ku, karena tidak pernah berhasil. Karena hanya Ibu lah, yang bisa membuatnya tenang.

Pintu kamar Ibu ku terdengar berbunyi, tanda kalau dia sudah bangun dan hendak menuju ke atas. Seperti biasa, Ibu selalu terlihat dengan wajah datar. Sering aku berpikir, semenjak pindah kesini, Ibu jadi jarang bicara dan selalu memasang wajah biasa.. tanpa mimik yang jelas.

“Tuh, anak cerewet Mama, mulai nangis lagi” kata ku, lalu berpaling menuju kamar. Beberapa menit kemudian, tangisan Adik ku menghilang.

Aku bersyukur akhirnya bisa mulai tidur kembali. Namun, baru saja aku hendak memejamkan mata, lagi, jendela kamar ku seperti ada yang memukulnya.

Siapa? Tanya ku dalam hati. Ya, ini sudah ketiga kali aku mengalaminya. Aku bahkan tidak sanggup mengeluarkan suara ku. Karena seperti biasa.. saat aku menoleh ke arah jendela, hanya sosok ruang hampa yang kudapat. Kali ini, pun, begitu.

Aku menarik selimut menutupi seluruh tubuh. Perlahan hawa dingin mulai menghampiri ku. Ku rasa, ini adalah dingin yang berbeda. Namun, lagi- lagi.. suara ketukan di jendela kamar ku, telah kembali.

“Aaaah..” aku berdesah kecil. Suara itu sungguh menakutkan bagiku. Namun, entah kenapa.. aku malah makin mengantuk, dan tertidur pulas..

**

Pagi hari. Aku membuka mata saat jam digital di kamar ku menunjukkan pukul delapan. Semoga masih sempat bertemu Mama, hatiku berbicara. Ya, semenjak pindah ke sini aku memang jarang bertemu Ibu di siang hari. Ibu selalu berangkat kerja pagi sekali, dan pulang malam sekali saat aku sudah beranjak tidur. Aku tidak tahu pasti apa pekerjaan Ibu ku, sekitar satu minggu terakhir. Yang jelas.. ini demi kebaikan ku dan Silvia.

Ayah dan Ibu ku telah bercerai beberapa tahun lalu. Saat itu, aku sudah beranjak SMP. Sampai saat ini, aku sudah kelas 2 SMA, aku masih dapat mengingat kejadian itu dengan jelas. Pertengkaran mereka berujung pada suatu insiden dimana aku, dan Silvia, harus pindah rumah dengan Ibu. Sejak saat itu kami jadi sering pindah rumah untuk menjauhi Ayah.

Ini pindah rumah kami yang ke- 3 dalam satu tahun terakhir. Karena aku sedang libur pergantian semester, aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk sekedar membersihkan rumah ini. Ya, sendiri, karena Silvia selalu di titipkan ke rumah pengasuhnya jika Ibu bekerja.

Aku menuju kamar mandi, sejenak kegalauan ku muncul. Rasanya.. seminggu ini berbeda dari yang sebelumnya. Sebelum pindah kerumah ini, keceriaan selalu timbul terutama dipagi hari seperti ini. Ibu ku selalu bangun pagi sekali sembari membuatkan aku sarapan, hingga aku dibangunkannya untuk pergi sekolah. Kami biasanya juga berkumpul sekedar bersenda gurau, bersama Silvia yang sudah makin besar.

Tapi kini.. nihil. Jangankan sarapan, suara tawa Silvia pun, tidak terasa sama sekali.

“He he he..” terdengar suara tawa bayi, di telinga ku. Rasanya sangat dekat.

“Silvia? Itu kamu, ya?” Kataku, sedikit berteriak. Waktu itu aku sedang di kamar mandi, mencuci muka.

Aku keluar dari kamar mandi. Handuk masih ku lilitkan di sekitaran leher. Aku mencari, asal suara tawa bayi itu.

“Silvia? Mama? Udah pulang, ya?” Aku mencari.

Aku melirik ke arah sebuah ruangan kecil dibawah tangga. Ya, ini adalah gudang mainan milik Silvia. Ibu memang selalu membawa semua mainan Silvia kemana pun kami pindah rumah. Entah itu baru, atau sudah tua sekalipun.

!DUAKK!

Pintu kecil di bawah tangga itu terbuka. Aku melihat sosok boneka kesayangan Silvia, dulu, perlahan mulai keluar sendiri. Boneka itu tidak berjalan, namun seperti diseret oleh seseorang, atau lebih tepatnya.. oleh sesuatu.

Aku terperanjat kaku melihat pemandangan ini. Keadaan boneka perempuan dengan mata sebelah kanan yang sudah rusak itu, benar- benar membuat ku ingin segera pergi. Kaki boneka itu sedikit terangkat, sedangkan bagian kepalanya tergesek di lantai. Ya, seperti ada yang menyeretnya.. ke arah ku!

!TOK TOK TOK!

Aku kaget mendengar bunyi bel dari pintu depan. Sesaat, aku kehilangan fokus ke boneka itu. Dan ketika aku kembali melihat ke arah boneka itu, dia.. lenyap.

Aku tidak mampu berteriak lagi. Aku bergegas lari menuju pintu depan.

“Loh?” Aku merasa semakin bertanya- tanya. Karena saat aku membuka pintu.. hanya kehampaan yang ku dapat. Aku semakin bergidik. Pikiran ku tidak menentu, dan segera pergi menuju kamar.

Kepindahan ku kali ini memang berbeda. Karena rumah kali ini, ada di luar tempat kelahiranku. Ya, selain pindah rumah, aku juga pindah kota, sekaligus pindah sekolah. Karena itu, aku belum mengenal siapa- siapa disini. Sendiri.. ditengah suasana pagi yang mencekam ini.

**

Aku kembali membuka mata saat merasa hawa dingin yang semakin pekat menyelimuti tubuh ini. Aku takut. Sejujurnya, kepindahan kali ini adalah yang paling tidak menyenangkan buat ku.

Pukul 23.00

Ya, sepertinya aku tertidur. Cukup lama untuk sekedar disebut “tertidur,” mengingat aku baru saja merasa kalau pagi telah tiba.

“Ah!” Aku tidak sengaja terkaget dengan suatu suara. Ya, suara tangisan Silvia, lagi..

Mama dan silvia sudah pulang, pikiran ku berbicara. Aku segera keluar kamar dan seperti biasa, ingin memanggil Ibu.

Namun berbeda. Entah kenapa aku jadi ingin masuk ke dalam kamar Silvia. Rasa penasaranku semakin memuncak ketika aku mendengar tangisannya semakin besar. Aku.. masuk kedalam kamar Silvia.

“Hey.. sudah.. jangan menangis lagi” kata ku, dengan nada serius yang khas akan intonasi seorang kakak, kepada adiknya.

Aku menuju ke arah tempat tidur Silvia, dan aku kembali  menghempaskan badan ke arah belakang setelah mengetahui bahwa yang menangis itu adalah.. boneka. Ya, boneka dengan mata kanan rusak, yang ku temui tadi pagi. Aku menggigil. Tangisan boneka itu semakin nyaring.

Tiba- tiba, dari arah belakang ku muncul sosok.. Ibu. Ya, dia datang seperti biasa. Tanpa melihat ke arah ku, dia menuju ke arah boneka itu dan menggendongnya. Ibu menyanyikan beberapa lagu yang dengan sekejap dapat membuat tangisan boneka itu berhenti.

“Ibu! Dia hanya boneka! Apa yang sebenarnya terjadi?! Mengapa Ibu menganggap dia sebagai Silvia?!!” Aku perlahan berdiri. “Ibu! Jawab aku!”

Ibu ku mengalihkan pandangannya. Kini dia tepat berada menghadap ku. Rambutnya terurai menutupi sebagian wajah. Kelihatan mukanya pucat sekali.

“Mama..? Mama sakit, ya?” Aku perlahan mendekatkan diri ke arah Ibu ku.

Tiba- tiba.. gemuruh angin kencang mulai bertiup melalui jendela kamar Silvia. Angin sesaat itu mebuat rambut Ibu ku tersibak dalam beberapa detik. Aku menjerit. Ya, sosok pucat dengan wajah terdiri dari lapisan daging yang terkikis tidak merata itu, jelas bukan Ibu ku.

“AAAAAHHHHHHHH!!” Aku berlari dan segera menuruni tangga. Aku menuju pintu depan.. dan pergi keluar dari rumah itu.

“Aku pasti sudah gila!!!” Kata ku, sambil memegangi kanan- kiri kepala ku dengan erat. Perlahan aku mulai merasa menderita. Aku mencengkram kepala ku sendiri hingga perlahan ku rasakan.. kepala ku mengeluarkan darah.

“Aaaah!!’ Aku kembali berteriak, berharap ada yang mendengarkan ku. Namun nihil. Daerah ini.. sepi.

“Kembali..” aku mendengarnya, suara seorang wanita yang sepertinya ada dibelakang ku. “Kembali..” katanya lagi.

Aku berlari, sekuat yang aku mampu.

“KEMBALI!!!” Teriak suara wanita itu, dengan lebih kencang. Perlahan aku merasa kalau kepala ini akan pecah. Aku tidak tahan.

“Aku tidak mau kembali ke rumahmu yang terkutuk itu!!!” Aku menjerit, sambil beralih kebelakang. Ya, aku mencoba untuk melawan sosok itu. Perlahan kuberanikan mataku untuk terbuka. Lalu..

“KEMBALI!!!”

Jelas. Tepat di depan bola mataku. Sosok itu menyeramkan. Rambut terurai dengan wajah pucat yang mengerikan. Terlihat di sekitar bola matanya di kelilingi oleh belatung.

“TIdaaak!!” Aku berteriak. Dan mulai berlari sekencang- kencangnya dari sana.

Jauh. Aku sudah berlari dengan sangat jauh. Kini suara itu makin terdengar keras di telinga. Bahkan, kini diiringi dengan beberapa tawa dan nyanyian sinden dari arah belakang ku.

Terlalu lama.. terlalu jauh.. terlalu.. menyakitkan..

**

“Disinilah.. seharusnya, kamu kembali..”

Aku terbangun. Lagi- lagi aku mendadak pingsan. Aku merinding. Tubuh ini serasa sangat kaku, lebih pekat dari biasanya. Sebelum aku bangun .. aku sempat mendengar suatu kalimat..

Kenapa.. aku harus kembali kesini? Hatiku bergumam kecil.

Sekarang aku berada di bahu jalan yang tepat berada di tepi jurang. Aku bergidik. Yang aku ketahui, ini adalah daerah perbatasan kota antara rumah lama, dan rumah baruku..

“Aziz.. anak ku..”

Suara itu.. tidak! Ini bukan suara parau yang terdengar seperti sebelumnya. Aku mencari arah datangnya. Hingga aku menatap sosok rindu ku selama ini. Ibuku.. berada tidak jauh dari ku. Aku menghampirinya.

“Ma? Sedang apa disini..” lalu aku menatap Adik ku yang tertidur pulas dalam pelukannya. “Kasihan kan, kalau Silvia sampai masuk angin, Ma”

Ibu melihat ke arah ku. Dia tersenyum. Sungguh aku merasa seperti melihat malaikat. Aku benar- benar bersyukur mempunyai sosok ibu, dan Adik, yang mampu membuat ku tersenyum setiap aku bersama mereka.

Tidak lama kemudian, aku mendengar suara sirine khas Kepolisian, dan beberapa ambulance. Aku tercengang, karena seketika saat suara itu terdengar, Ibu menarik tanganku menuju.. ke arah jurang.

Jauh kebawah.. aku melihat mobil Ibu dibawah sana. Ya, sudah tersangkut dibeberapa tanaman liar dengan kondisi yang bisa dibilang, lebih dari buruk.

Aku lihat Ibu ku menatap mobilnya dengan penuh haru. Aku tidak begitu mengerti. Perlahan bibir Ibu ku mulai mengatakan sesuatu..

“Akhirnya.. selesai. Mari anak- anak ku.. kita harus pindah ke tempat yang semestinya..”

Perlahan tubuh Ibu ku menghilang. Sedikit demi sedikit bagai pasir yang menghilang terkena sentuhan angin lembut. Indra peraba ku tidak sanggup lagi memegang tangannya. Ibu dan Adik ku.. lenyap begitu saja.

Aku perhatikan ke arah mobil sambil menahan tangis. Di bangku pengemudi, aku melihat tubuh Ibu ku sudah tidak menyerupai manusia utuh. Dari matanya mulai keluar banyak belatung yang sepertinya bersarang di sana. Aku lihat Adik ku, Silvia, dibangku sebelah Ibu. Matanya kanannya hancur dan tidak layak untuk dipandang. Bekas darah suci miliknya masih melekat jelas di sekitaran wajah.

Perlahan aku merasa tubuh ini melayang. Lebih tepatnya.. menghilang..

Aku sekilas melihat ke arah jok belakang mobil. Disana sudah ada tubuhku.. yang sampai sekarang masih mengeluarkan darah segar..

Akhirnya aku mengerti.. apa maksud dari panggilan kembali ini. Hasratku untuk hidup memang terlalu besar sehingga membuat ku berkeliaran sendiri. Seharusnya, aku, Silvia, dan Ibu, sudah pergi menginggalkan dunia ini.. sejak seminggu yang lalu..

***

Np: Karya original : Abdul Azis Ramlie Adam. Dengan mengandalkan imajinasi yang “mungkin” terpengaruh oleh rekaman syaraf dari film, atau cerita yang pernah di ingat.

No comments:

Post a Comment

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)