Gadis penjual kopi




Uhuk! Judulnya memang berkesan FTV banget. Gue pernah beberapa kali menonton FTV yang mempunyai judul serupa, seperti : Gadis Manis Penjual Galon, Pacarku Sopir Angkot, Cinta dan Nasi Jagung. Malah, ada yang paling aneh : Gadis Penjual Nasi Angkot yang Bawa-bawa Galon. Oke, untuk yang terakhir memang karangan gue sendiri.

Sebenarnya, judul di atas itu mewakili perasaan gue malam ini. Iya… perasaan ‘suka’ pada seorang penjual kopi (gue tidak minta loe untuk membayangkan Ibu-ibu penjaga warkop, ya). Ini semua terjadi tiba-tiba sekali, tanpa ada unsur kesengajaan, dan… FTV banget. Suer, ini pertama kalinya gue ngerasa main FTV.

Jadi ceritanya bermula dari sebuah pasar malam yang selalu ada setiap malam kamis, di bagian depan gang, kost-kost-an gue. Awalnya tidak pernah gue bayangkan, kalau gue bakal belanja di pasar malam. Bukan… gue bukan meremehkan persoalan barang dagangan di pasar malam. Karena semurah apapun barang dagangannya… gue tetap tidak mampu membeli (iya... ini alasannya).

Tapi tadi malam (malam Kamis), gue dan tiga orang sahabat : Adit, Cholis, Roni; berencana untuk menjelajah Kota Samarinda sekedar membuat senang kamar kost gue yang sepertinya sudah bosan melihat kehadiran kami di dalam badannya. So, kita niat pengin jalan-jalan kalau perlu sampai dapat pacar #uhuk


Sebelum keluar dari gang kost gue, kami tercengang dengan adanya pasar malam yang memang selalu hadir pada malam kamis. Akhirnya, setelah meneliti sejenak, dan perut kami mulai cenat-cenut, kami memutuskan untuk mampir sebentar ke pasar malam itu.

Terdapat berbagai macam aneka jajanan yang khas pasar malam banget. Gue tidak perlu menyebutkan, ya, apa jajanan-nya, karena loe semua pasti sudah pada tahu apa saja yang menjadi jajanan khas pasar malam. Benar… ada Salad, Beef Burger, L’escargot, La baguette, Soupe a I’ oignon dan Batagor. Hm... entah menu mana yang benar, kalian berhak menentukan.

Kami berempat mulai jenuh dengan keadaan pasar malam itu yang memang benar-benar seperti ‘pasar’. Karena oh, karena, lebih banyak om-om lusuh yang nongkrong di depan toko kaset bajakan, ketimbang keberadaan cowok-cowok sekelas Boyband seperti kami. Akhirnya, dengan wajah yang tidak kalah lusuh seperti om-om tersebut, kami memaksa kaki untuk tetap berjalan hingga sampai di ujung pasar malam itu.

And... Story is begin...

“Kopi, Mas... Kopinya.... “

Gue mendengar suara merdu ala bidadari yang mandi di kamar mandi. Gue mencari asal suara itu, dan ketika menoleh sedikit kebelakang…

Nyess… pantat gue di kecup Big Show. Tidak, maksudnya, hati gue dikecup cinta. Pffft.

‘Itu cewek...’ pikir gue dalam hati, ‘cantik banget...’

Gue mimisan.

“Balik, yuk,” kata gue kepada tiga mamalia yang berjalan di depan gue. Mereka sudah menderita menahan lapar karena pengin mencicipi apa itu La baguette.

“Kenapa?” tanya Cholis.

“Lihat cewek itu, deh…” kata gue, sambil menunjuk seorang cewek yang dikelilingi om-om penggemar kaset bajakan.

Iya… itu adalah cewek yang gue maksud dalam judul di atas. Cewek itu berkulit putih, wajahnya mulus alami, body-nya nggak usah ditanya.… Tau Mbak Jupe, kan? Nah... yang jelas bukan seperti itu.

Cewek itu memakai jersey Manchester United warna putih. Dilengkapi jeans warna hitam dan sepatu yang serasi, serta rambut lurus indah yang diikat ke belakang. Itu jelas membuat dia semakin terlihat seperti DEWI KOPI. Jelas saja, karena dia sedang sibuk membawa ber-sachet-sachet kopi yang ditawarkan ke setiap pengunjung. Cantik… pertama gue lihat, mirip banget sama Sonya Pandarmawan. Tapi setelah lebih diteliti lagi, dia lebih ‘natural’, ‘sederhana’, dan kopi banget.

Gue meminta teman-teman untuk berbalik ke cewek itu. Gue pengin beli kopi jualan cewek itu dengan mengumpulkan keberanian. Dan... akhirnya gue berlalu tanpa bisa menyapa dia untuk beli kopi.

Beberapa kali gue dan ketiga mamalia korban makanan ‘France’ tadi (baca : Adit, Cholis, dan Roni), bolak-balik di depan cewek itu. Mirip setrika-an kecebur di ketek Dajjal. Tapi tidak satu pun yang berani membeli kopi-kopi-nya. Sampai akhirnya gue memutuskan untuk pergi saja dari pasar malam itu walaupun hati ini agak menyesal.

Sepanjang perjalanan keluar dari pasar kaset bajakan itu, gue selalu menoleh ke arah belakang. Ya, ke arah si cewek penjual kopi yang kini sedang berjalan menuju…

“Dia kesini! Cewek itu ngikutin kita!” seru gue kepada teman-teman yang sekarang sedang sibuk menghancurkan pentol goreng ke dalam mulut mereka.

“Bukan ngikutin, tuh..” kata Adit, “Liat deh. Dia ‘kan lagi nawarin orang-orang buat beli kopinya”

“Cerewet loe, ah…” gue mencoba menyangkal perkataan Adit. “Oke deh, kalau dia sampai jalan ke sini, gue bakal beli semua kopinya”

“Bener, ya…” tambah Roni dan Cholis.

“Bener...”

Semakin lama, semakin cewek itu mendekat ke arah kami, sambil sibuk menawarkan kopi-kopi yang dibawanya di tangan. Semakin dekat… dekat… dan…

“Yuk, cabut!” Gue menarik tangan mereka bertiga untuk segera pergi dari abang penjual pentol goreng (beberapa menit kemudian kami dihajar karena belum bayar).

“Hedeeeh... katanya tadi mau beli…” sahut Adit dengan tampang ala ‘Kungfu-Panda-Menstruasi’.

“Emang mau beli... tapi...” Gue menoleh ke belakang, melihat cewek itu.. “Malu..”

“Yaaah... cemen..” seru Cholis.

“Yaudah, loe aja yang beli,” gue keluarin duit. “Nih, pake duit gue. Beli sana”

Cholis cuma diam kayak boyband yang gagal rekaman karena ketahuan menggoda waria.

“Setelah berdiskusi cukup lama, akhirnya tidak ada satu pun, yang berani membeli kopi cewek itu. Ini bukan masalah malu karena kita beli kopi sachet-an yang sistem penjualannya salesman banget. Tapi... sales-nya itu, loh.… FTV.…

Gue masih berpikir keras, layaknya boker batu hasil makan reruntuhan Piramid. Sampai akhirnya teman-teman gue mundur secara perlahan, dan mulai menjauh. Gue heran. Karena mereka tadi berada di hadapan gue, dan sekarang menjauh, gue semakin yakin kalau ada sesuatu di belakang gue. Gue berbalik.

Jreng! Jreng!

Ada sosok Pak Tarno lagi ngunyah asbak. Eh, bukan. Maksudnya… ada sosok cewek… penjual kopi.

Gue bingung harus berbuat apa. Perlahan lagu-lagu Kangen band bermain di kepala gue. Entah apa hubungannya, namun gue mencoba berpikir positif.. ‘ini cewek, pasti seumuran sama gadis yang menyebabkan vokalis Kangen ditangkap lagi.

Tanpa sengaja... bibir gue yang bekum pernah merasakan cinta ini, mengeluarkan kata-kata tidak teratur.

“Emmm… mbak… beli… itu… ini… kopi… beli… mbaknya… berapa… ya…”

Sesaat pandangan cewek itu terlihat bingung karena kata-kata gue itu malah berkesan seperti mau membeli-nya.

“Kopi, Mas?” kata cewek satunya. Iya… mereka berdua. Cewek jersey MU itu yang cantik, dan satunya… yang… *tidak sanggup bicara*

“Ah, iya! Kopinya berapa, ya?”

Cewek cantik MU itu perlahan membuka bibir seksinya. Suer, gue pengin banget kalau ini adalah FTV. Karena biasanya… cowok keren yang ketemu sama cewek cantik yang jualan, pasti bakal menjalin cinta dan bahagia selamanya.

“Ini… satu begini…” kata cewek kopi itu, tapi terpotong oleh temannya yang *uhuk* kurang secantik dia.

“Tiga pack... tiga puluh bungkus, tujuh belas ribu!”

“Tujuh belas ribu, yaa?” Gue memberikan uang receh yang gue pegang dari tadi, dan memang pas berjumlah tujuh belas ribu.

Dan loe tau? Cewek-unyu-MU-kopi tadi lah, yang mengambil uangnnya. Perlahan jari-jari kami bersentuhan. Gue menggeliat karena berhasil ‘menyentuh’ tangan selembut itu. Perlahan gue menoleh ke arah teman-teman di belakang, dengan tatapan mesum. Dari sini gue lihat, mereka sudah menyiapkan bensin dan korek untuk membakar gue nanti.

“Oh... dibungkus dulu, ya, Mas,” kata cewek-unyu-MU-kopi tadi. Sejenak lamunan gue tentang bensin dan korek, telah buyar.

“Wah… jadi banyak banget…” kata gue, sambil diselingi ketawa mesum yang tidak sempurna. Sekilas gue terlihat seperti penderita wasir di bagian jidat.

“Hehe... ‘kan lumayan, tuh, buat begadang sambil nonton bola...” jawab cewek-unyu-MU-kopi. Lalu dia memberikan se-plastik penuh yang terisi oleh kopi sachet-an. Dan... sekali lagi… jari-jari kami bersentuhan. Saat itu teman-teman gue sudah ada yang menyiapkan kain kafan untuk bekal gue kelak.

Gue akhirnya berhasil senyum bangga karena berhasil ‘menyentuh’ jari cewek itu sebanyak 2 kali. Iya… gue nggak bilang tangan, ‘kan? Gue bilang… jari.

Sampai kami pulang sekitar jam satu malam, gue masih kepikiran perkataan cewek tadi,

Kan lumayan, tuh, buat begadang sambil nonton bola…

Gue pun menyelidiki maksud perkataannya. Clue pertama, dia pakai jersey MU. Clue kedua, dia bilang ‘nonton bola’. Dan clue ketiga, dia jualan kopi keliling. Itu tandanya… kata ‘lumayan tuh, sambil nonton bola’ memiliki arti sebagai berikut : “Mas ganteng, kamu harus bisa menyukai sepak bola, ya. Agar kelak kita bisa berjualan kopi di stadion Bung Karno, dan hidup bahagia selamanya”.

Tenang saja, calon istri(mengkhayal)ku, kita pasti… akan berjualan bersama.

Tanpa sengaja, pertemuan itu membuat gue memiliki dua kebiasaan baru, yaitu :

1.       Menanti Rabu malam (malam Kamis)

2.       Mencoba memahami sepak bola walau sebenarnya gue ini termasuk satu dari triliyunan cowok yang tidak menyukainya.

Untuk kopi itu sendiri, gue punya foto bersama Adit dan Cholis. Semoga Mbak kopi melihat ‘Mr.Kopi Indonesia’ ini. Muach.. *cium cafein*



2 comments:

  1. untung nggak pipis di celana waktu nyentuh tangan emaap jari maksudnya

    ReplyDelete

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)