Ini Ximin

Thursday, January 31, 2013

Kembali Dengan Cerita~



            Hello, hehehe. Dua hari belakangan ini kayak gue jarang memberi makan blog ini. Maklum, akhir-akhir ini banyak urusan karena persiapan berkas-berkas imut ala mahasiswa, untuk menuju ke semester dua. Capek? Pasti.

            Hmm … untuk memulai kegiatan blogging lagi, gue akan membukanya dengan sebuah cerita fiksi romantis yang gue buat dengan banyaknya tumpahan air mata dan tetesan kopi mocca. Huehuehue … yuk, disimak

Malam Terakhir

Nama gadis ini, Stella. Dia pacar ku. Entah apa yang membuat ku bangga akan kenyataan bahwa aku bisa memilikinya. Walaupun baru berjalan satu minggu, aku sangat bahagia karena dia menerimaku sebagai ‘pacar’ yang benar-benar dianggap. Mungkin karena selama ini aku selalu gagal dalam masalah asmara, makanya aku bisa sesenang ini.

Stella adalah anak seorang pejabat pemerintah. Aku sering merasa minder kalau menjemputnya untuk jalan, dengan motor butut ku. Tapi dia tidak pernah memikirkan itu. Tidak sedikitpun dia menatap ku sebelah mata hanya karena aku seorang anak dari kalangan menengah. Lagipula, Stella mengenal ku akrab sejak kami masih duduk di bangku SD. Mungkin itu, penyebab ia bisa menerima ku apa adanya.

Stella sekarang sedang duduk di samping ku. Sejak tadi ia terus berceloteh tentang banyak hal. Seperti liburan semester lalu ia pergi ke Osaka, sampai tentang anjing peliharaannya yang baru saja melahirkan 4 ekor anak. Lucu. Stella memang gadis yang bersemangat.

“Trus ... kemarin aku dikasih Ella Noil gitu. Yang sabun dari Paris itu, loh. Tapi nggak suka ah, nggak enak baunya menurut ku,” kata Stella sambil menggelengkan kepala.

“Hahaha ... Papa kamu udah beliin jauh-jauh, masa nggak kamu pakai ...” aku menjawab.

“Ih ... bukan gitu, mungkin karena nggak terbiasa aja kali, ya .... Hehehe”

“Dasar kamu ini. Emm ... kita pulang, yuk. Udah sore banget.” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.

Sejak tadi siang, kami sudah berada di sini, di kantin kampus Fakultas Ekonomi yang cukup elite dan ramai pengunjung. Aku agak risih juga, karena Stella yang bayar. Mungkin orang lain akan mengira aku ini pembantunya. Hahaha.

Akhirnya aku mengajak Stella untuk mengantarnya pulang. Sudah beberapa jam dan ku rasa sudah cukup lama kami bertengger di kantin. Aku segera mengambill kontak motor ku, dan mempersilahkan Stella untuk naik.

“Hm ... kita mampir ke rumah Andre dulu, ya ...” pinta Stella saat aku sudah mulai menarik gas motor.

“Oke ... oke ...” kata ku.

Andre adalah teman sekelas Stella sesama Prodi (program studi) Akuntansi, sedangkan aku adalah mahasiswa Manajemen. Aku tidak terlalu mengenal Andre, tapi menurut cerita Stella, dia adalah keluarga jauh nya. Aku sudah beberapa kali menemani Stella menuju rumah Andre, sehingga bagi ku ini biasa saja.

Sesampainya di sana, tiba-tiba saat hendak mematikan kontak motor, Stella berkata keapada ku ...

“Kamu pulang duluan aja, ya. Hm ... aku ada urusan keluarga gitu. Ntar papa aku yang jemput ke sini”

“Yaudah …. Aku pulang, ya. Kamu jangan lupa hubungin aku kalau butuh apa-apa..”

“Iya sayang ...” lalu dia tersenyum.

Ya, itulah aku. Aku rela melakukan ‘apa yang aku bisa’ untuk Stella. Dia mau menerima ku saja, sudah suatu anugerah, masa’ aku tidak melakukan apa-apa untuknya? Pikir ku. Aku berlalu, segera menuju rumah, dan sesaat senyuman ku terbawa arus angin senja.

**

Seperti biasa, aku bangun pagi dengan langsung mengecek handphone. “Tidak ada lagi,” gumam ku. Iya, sejak kemarin sore, Stella tidak menghubungi ku sama sekali. Aku hubungi dia pun, nomor nya seringkali tidak aktif. Tapi aku mencoba berpikir positif, toh aku baru seminggu berpacaran dan belum tahu kegiatan apa saja yang sering Stella lakukan. Aku bergegas menuju kamar mandi.

Seusai mandi dan bersiap-siap, aku segera menuju kampus karena ada kelas pagi. Kali ini aku sedikit memakai gel rambut, agar terlihat lebih fresh di mata Stella. Hehehe.. aku tidak sabar bertemu lagi. Setelah berpamit pada Ibu, orang tua ku satu-satunya, aku beranjak pergi.

Di kampus, sesaat setelah aku baru saja menempatkan motor di parkiran, handphone ku menerima sebuah pesan. Stella!

‘Tunggu aku di kantin kemarin, ya.. aku pasti datang. Aku sayang kamu :*

Aku tersenyum dan bergegas menuju kelas dengan niatan ‘pengin cepat pulang’. Selama di kelas pun, tidak henti-hentinya aku tersenyum layakya penderita gangguan jiwa. Hahaha ... ada apa dengan ku ...?

Aku tidak tahu, yang jelas.. perasaan sayang kepada Stella sekarang sudah tidak sekecil dulu. Perlahan.. perasaan ini kian membesar seiring senyum Stella yang selalu menyemangati hari ku.

**

Usai dari kelas, aku segera menuju kantin tempat kami bertemu kamarin. Aku lihat cuaca tidak begitu mendukung. Perlahan langit semakin mendung tidak terkira. Hmm.. semoga Stella datang.. pikir ku.

Aku masih menunggu nya. Sudah cukup lama aku berada di kantin ini, dan sekarang sudah menjelang jam 4 sore sejak tiga jam lalu aku menunggu. Ku hubungi pun, handphone nya tetap tidak aktif. Ah! aku mulai kesal.

Lama aku menunggu, hingga akhirnya hampir senja juga. Aku mulai ragu apakah Stella akan datang. Lagipula hujan sudah turun selama beberapa saat. Kantin ini juga sudah akan tutup karena memang tidak buka sampai malam. Aku menyerah..

“Bu, berapa semua?” kata ku, yang menanyakan bill pesanan makan dan minuman selama aku menunggu Stella sejak tadi.

“Lima belas ribu, Mas ....”

Aku merogoh saku, membayar dan kembali menuju meja ku tadi. Niat ku untuk menunggu, telah muncul kembali.

“Saya masih boleh duduk di sini Bu??” kata ku dari arah meja, “masih hujan ...”

“Iya silahkan, Mas ...” jawab ibu penjaga kantin sambil sibuk membereskan dagangannya. “Saya juga belum mau pulang”

“Ah ... terima kasih Bu ....”

Aku masih menunggu. Sesaat aku termenung, seperti merasakan suatu firasat buruk. Aku mencari handphone ku di saku jaket. Ternyata benar, ada SMS dari Stella. Rupanya selagi aku melamun, tidak terasa handphone ku bergetar.

‘Aku sedang menuju ke sana …. Tunggu aku ...’

Hah? Aku mencoba menghubunginya. Aku khawatir, kalau-kalau terjadi sesuatu sementara hujan sudah semakin lebat. Tapi lagi-lagi ... handphone nya tidak aktif. Ah ... aku hanya bisa menarik nafas tanda berpasrah.

Kurang lebih jam 7, hujan masih turun dengan sangat lebat. Ibu kantin sudah menutup sebagian warung dan membereskan beberapa kursi dan meja, kecuali tempat ku ini. Kelihatannya ibu itu juga belum mau pulang karena dia juga memakai motor. Aku bisa sedikit bernafas lega, karena aku masih bisa duduk di sini.

Tidak lama kemudian ...

“Sayang ....” Seseorang menepuk punggung ku.

“Stella?! Kamu hujan-hujanan?” Iya, Stella, dia berada di belakang ku sambil menyedekapkan tangan dengan tubuh yang basah. Saat aku bertanya, ia hanya tersenyum.

“Bodoh..” kata ku, lalu melepaskan jaket dan ku pakaikan ke Stella. “Kenapa mesti hujan-hujanan sih??”

“Aku kan nggak mau buat kamu kecewa.. Aku yang janji mau ketemu kamu, kan?” kata Stella, dengan muka yang pucat dan bibir nya yang terlihat menggetar.

“Tapi begini kan, jadinya.. aku khawatir nanti kamu sakit..” kata ku, lalu memindahkan tempat duduk tepat ke sebelah nya. Aku mendekap Stella, dan melingarkan tangan kanan ku di punggungnya. Seketika, dia menyandarkan kepala di dadaku. Aku rasakan.. dingin.

Iya tubuh Stella masih terasa dingin walaupun aku sudah memberikan jaket ku kepadanya. Aku rasakan.. sejenak semesta ku hanya mengizinkan satu nama yang ada di batin ku. Stella..

“Permisi, Mas, saya pulang duluan!” tiba-tiba ibu penjaga kantin membuyarkan lamunan ku. Ekspresinya telihat sangat tergesa-gesa. Padahal, hujan masih sangat lebat dan kini disertai hentakkan petir yang dahsyat.

“Ah.. ibu buru-buru sekali.. hati-hati ya!” kata ku, sambil tersenyum.

Ibu itu tidak menjawab, seketika menaiki motornya dan berlalu membelah rintikan hujan. Aku bingung, namun mencoba kembali mengambil fokus pada gadis di sebelah ku ini.

“Kayaknya belum bisa pulang, nih.. “ aku mencoba menenangkan Stella dengan sedikit membuka topik pembicaraan.

“Biarlah.. aku masih pengin lama-lama sama kamu..”

“Woow.. ya Tuhan.. ini nggak ngimpi, kann??” tambah ku, dengan sedikit bercanda.

Dia hanya tersenyum, dan kini membalas pelukan ku semakin erat. Kami saling menyandarkan kepala. Perlahan… banyak kisah yang terlontar dari mulut kami. Indah… dan aku hanyut sekali lagi.

**

Perlahan, aku merasakan pening dan seketika bergumam, “aku di mana..?”

“Mas.. gimana sih, kok malah tidur di sini,” seru seorang satpam yang berdiri di depan ku. Aku perlahan mengangkat kepala. Ya.. aku tertidur di meja kantin. Sesaat aku melihat jam tangan. Ah.. udah jam tujuh pagi..

“Waduh!!” Aku teringat sesuatu yang lebih penting. “Pak, lihat cewek yang sama saya nggak? Di sini!” kata ku sambil menunjuk bangku yang Stella duduki semalam.

“Cewek mana toh, Mas?? Wong situ sendirian aja. Atau jangan-jangan mas semalem habis mesum, ya? Ngaku!”

Aku malah semakin bingung mau bicara apa. Ck ah.. aku berlalu, kalau diteruskan, aku bisa dapat masalah jika masih berurusan dengan satpam itu.

“Dadah bapak!!! Hohohoho,” kata ku sambil melambaikan tangan. Mengambil kontak motor, dan pergi.

“Woalaah… dasar bocah gendheng!” teriakan pak satpam terdengar di telinga ku. Aku hanya tertawa.

Di perjalanan pulang, aku mendapat telepon. Aku angkat.

“Kamu ke mana aja??? Ini jasad Stella sudah mau dimakamkan!!” kata Hanna, teman ku yang menelepon.

“Apa??!!” Seketika aku merasakan motor ku tidak seimbang. Dan jelas saja, aku terdiam dan sesaat menabrak trotoar. Aku pasrah..

Setelah bangkit dari jatuh, aku segera berlari menuju Tempat Pemakaman Umum yang tidak jauh dari tempat ku jatuh. Aku sudah tidak perduli pada apapun. Yang hanya ada dalam pikiran ku sekarang adalah berita kematian Stella.

Akhirnya aku telah sampai. Dan benar saja, di sana ramai sekali, terutama dari kalangan pemerintah. Aku menangis.. Luka pada siku akibat jatuh tadi, tidak terasa lagi. Hati ku.. jauh lebih tersiksa.

Aku berlari menuju ke arah segerombol orang yang sedang mengelilingi kuburan yang masih belum berisikan jasad. Aku lihat keranda mayat berlapiskan kain hijau masih dipanggul oleh beberapa pria termasuk ayah Stella.

“Stella!!!” aku berteriak, tangisan ku sudah semakin menjadi-jadi sehingga aku tidak perduli terhadap siapapun yang menatap ku.

Sesaat, ayah Stella memberikan posisi nya yang semula mengangkat keranda, kepada orang lain. Lalu beliau menuju ke arah ku dengan tatapan kosong.

Plakk!

Dia menampar ku. “Kenapa Oom?? Apa salah saya??!!”

“Kamu!! Gara-gara kamu, dasar anak miskin tidak tahu diri! Kurang ajar kamu!”

Seketika orang-orang termasuk ibu Stella, menghampiri dan berusaha menenangkan ayah Stella. Ada apa ini? Pikir ku, sambil masih memegangi pipi yang terkena tamparan cukup kuat dari beliau.

“Sudah, Pak..” kata ibu Stella, lalu ia menatap ku, “nak.. sebaiknya kamu pergi dulu, ya.. tante minta maaf atas perlakuan suami tante. Mohon pengertiannya..”

“Tapi tante.. Saya..”

“Pergi!!” bentak ayah Stella, tiba-tiba. Aku hanya bisa berbalik.. dan meninggalkan pemakaman dengan hati yang semakin pedih.

**

Tiga hari berlalu semenjak kejadian memilukan itu. Sekarang, aku sedang meng-amin-kan doa di makam Stella. Ini pertama kali aku berani berkunjung ke sini karena ku rasa sepi.

“Hey..” tedengar suara wanita dari arah belakang ku, “sudah ku duga, kamu pasti di sini”

“Hey..” kata ku, pada Hanna, teman baik ku sekaligus Stella.

“Oh, iya, kamu belum cerita kenapa ini semua bisa terjadi?” tanya ku, yang baru saja sadar kalau selama ini belum mengetahui perihal kepergian Stella untuk selamanya.

“Jadi begini..” lalu Hanna bercerita kepada ku..

Alangkah terkejutnya aku yang mengetahui, bahwa Stella telah mengalami koma saat aku sedang menunggunya di kantin. Ternyata hari itu adalah hari pertunangan Stella dan Andre, yang secara mendadak dibuat oleh ayahnya. Selama ini ayahnya hanya memberitahu kalau Andre keluarga jauh, padahal, Andre adalah calon menantu incaran ayahnya.

Stella yang marah akan perlakuan ayahnya, mendadak hilang akal dan berlari meninggalkan rumah. Hingga tanpa diduga.. sebuah mini bus menabraknya hingga mengakibatkan pendarahan di kepala. Sesaat setelah itu, ia dilarikan ke rumah sakit dan mengalami koma dengan keadaan yang sangat kritis, hingga paginya.. harus terpaksa meninggalkan dunia.

Aku masih merinding mendengar cerita dari Hanna. Lalu.. siapakah yang menemani ku malam itu? Hatiku terperanjat memikirkannya. Aku menangis.

“Apa itu.. cara mu untuk tetap meyakinkan aku bahwa sebenarnya aku lah yang kamu ingikan..?” ungkap ku sambil di selingi isak tangis.

Perlahan Hanna mengajak aku untuk pulang. Aku mengikuti. Namun.. sesaat seletah membalikkan badan dari makam, aku mendengar..

‘Iya..aku hanya ingin, malam terakhir ku, bersama kamu…’

Aku menoleh ke arah makan Stella. Perlahan aku tersenyum. Semerbak wangi melati menyegarkan indera pernafasan ku. Aku bergumam kecil..

“Terima kasih.. telah menyayangi ku..”


TAMAT.








2 comments:

  1. karangan sendiri nih?
    follow ya...http://onkapuas.blogspot.com/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya,, cerita itu bikinan saya...
      hmm.. masih baru belajar bikin cerpen aja sih. apa lg yg romantis. hahaha

      saya sudah follow blog anda ..
      info-infonya menarik :)

      Delete

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)