Berjalan dari Dalam Hati

2013/02/03

Fanfic 'For Stella' Part 25; Terjebak di Poveglia


  

‘For Stella’ adalah cerita fiksi bersambung dengan genre “komedi-romantis”. Penulis, Aziz Ramlie Adam, adalah seorang fans salah satu member JKT48 yang bernama Stella Cornelia. Berkat integritasnya dalam mengidolakan idol group yang satu ini, maka melahirkan inspirasi tersendiri untuk menghasilkan Fanfic for Idol ini. 

Episode sebelumnya (part 24); “Berbagai pertanyaan perlahan timbul seiring dengan menghilangnya Cindy. Namun sayangnya, masalah semakin rumit ketika Stella juga ikut menghilang. Peringatan Kak Rica akan berbahayanya gerbang tua yang ditemukan Budi, tidak menghalangi keinginan Aziz dan kawan-kawan untuk menelusurinya”. Selengkapnya bisa baca DI SINI.

Berikut adalah episode terbaru (part 25), happy reading, guys!




Terjebak di Poveglia 


“Eeeh??! Jangan masuk seenak jidat, dong!” seru gue kepada Budi.

“Nah, loe bedua ngapain ikutan?” tanya Budi, dengan wajah sok polos.

Gue dan Didit hanya bisa saling memandang. Bukan karena kami ini memang suka lihat-lihatan, tapi karena kenyataan kalau kami berdua juga sudah… masuk ke dalam gerbang tua larangan Kak Rica.

“Mampus deh, kita, Ziz. Jadi ikutan nyasar ke sini,” kata Didit dengan wajah merindingnya. Perlu diketahui, kalau badan Didit memang tidak sesuai dengan nyali yang dimilikinya.

“Tenang… tenang… Kita harus tenang.” Gue coba menenangkan, walaupun sebenarnya gue sendiri sudah pengin pipis sekuat tenaga.

“Mau diem aja, atau ikut gue?” tanya Budi, sambil melangkahkan kakinya untuk lebih masuk ke dalam hutan.

“EEHHHH?”

Akhirnya kami malah terjebak dalam petualangan baru. Entah apa yang menjadi dasar keinginan Budi untuk menjelajah tempat ini. Namun, gue sendiri tidak merasa nyaman untuk berlama-lama di sini.

Hutan di ‘dalam’ gerbang ini sedikit berbeda dengan di luar sana. Pohon-pohon yang gue sendiri tidak tahu jenisnya apa, tumbuh dengan teratur dan terawat sekali. Gue berpendapat, kalau sebenarnya daerah ini pasti di-spesial-kan oleh siapapun pemilik terdahulunya.

Di tengah kebimbangan gue dalam memikirkan ‘yang lain pada ngapain di pantai?’, tiba-tiba monster pulau ini (baca : Didit) berteriak seperti kodok tercekik bagian tititnya.

“Uwaaa! Serem! Kaki tuh, kaki!” 

“Ha?” Gue dan Budi yang berjalan di depan sontak menoleh bersamaan dan merasa lucu sendiri melihat wajah unyu Didit.

“Hoho… kenapa Bos?” tanya Budi sambil mendekat perlahan ke arah Didit.

“Itu… itu!” kata Didit dengan muka setengah sadar.

Gue dan Budi melihat ke arah yang dimaksud Didit. 

Jreng! Jreng!

Terdapat potongan kaki yang sepertinya milik balita, tertancap dengan indahnya di batang sebuah pohon. Didit sudah hampir pingsan, sementara gue dan Budi, dengan penuh tanya, perlahan menghampiri pohon itu.

“Yaelaahh... kaki boneka, nih!” seru Budi, yang sekarang sedang memukul-mukulkan tangannya ke potongan kaki itu.

“Hahaha… ada Bison hampir nggak nafas lagi gara-gara liat boneka. Pfft.” Lalu gue tertawa.

“Kampret! Mana gue tau. ‘Kan tadi jelas-jelas keliatan serem banget,” kata Didit dengan wajah sok tegar.

Kami tertawa, dan segera melanjutkan petualangan. Budi masih dengan kegiatan rutinnya : memanggil-manggil nama Cindy dengan intonasi yang salah gaul.

Akhirnya perjalanan terhenti. Perlahan kaki kami tidak sanggup melanjutkan langkah. Kami terdiam, bergidik, dan seketika menggeliat. Bagaimana tidak? Di depan kami sekarang terdapat ratusan pohon yang… dipenuhi boneka tua.

Iya, potongan kaki tadi hanya permulaan saja, sebelum akhirnya kami menemukan tempat yang semua pohonnya terdapat boneka. Ada yang hanya kepala, kaki, tangan dan badan. Ada juga yang utuh namun matanya tidak ada dan badannya tercabik-cabik. Seram, deh.

“Ini… apaan??” kata Budi dengan wajah tidak percaya akan pemandangan yang dilihatnya.

“Ih… tempat apa sih, ini…” ucap Didit, yang sekarang sudah bersembunyi di balik punggung gue. Karena kapasitas tubuhnya lebih besar dari gue, otomatis persembunyiannya sia-sia saja.

Setelah sempat terhenti, nyali gue kembali bangkit karena satu alasan : ‘Stella’. Kami tidak akan menemukan Stella dan Cindy kalau hanya terdiam tanpa melakukan apa-apa. Secepat mungkin, kami harus mencari tahu ada misteri apa di balik pulau ini.

Kami terus berjalan mengikuti jalan yang menurun itu, karena bentuknya memang seperti perbukitan. Di sekeliling kami masih terdapat ratusan, atau mungkin ribuan, pohon yang tertancap boneka. Semakin jauh, semakin seram penampakan boneka-boneka itu.

“Kaki gue udah mau patah…” kata Didit sambil memegangi lututnya.

“Sama, sih… gue juga…” Budi berseru, lalu menunjuk ke suatu batang pohon yang tumbang, dekat semak-semak. “Istirahat di sana, Yuk.”

Gue dan Didit mengangguk bersamaan tanda setuju. Sekilas gue perhatikan jam tangan. ‘Udah setengah enam…’ pikir gue kacau, yang sadar kalau ternyata ini sudah hampir malam.

Bro, udah deket jam enam…” kata gue, sambil meluruskan kaki dan menggerakkannya, berharap kalau otot kaki gue masih mampu untuk kembali ke villa.

“Iya, sih. Langit juga makin gelap…. Gimana, dong?” Didit mulai mengatur nafas.

“Ziz, loe nggak pengin Stella ketemu?” tanya Budi ke gue. Ini pertanyaan bodoh.

“Yaiyalaaahh… pengin…” jawab gue dengan penuh rempong ala finalis Be A Man.

“Kalau gitu…” Budi bangkit dari duduknya, “Kita lanjut! Gue juga nggak sabar… pengin meluk Cindy!”

Hening. 

Sikap ksatria Budi memang keren sekali jika tujuannya untuk ‘peluk-sayang’ Cindy. Oke… oke… gue paham. Namun sedikit merasa tidak adil juga. Karena… ‘apa Stella ntar mau peluk-peluk gue juga?’. Hanya Tuhan yang tahu.

Setelah beberapa percakapan dan pembuangan akan keringat, kami memutuskan untuk masuk lebih jauh lagi. Ini benar-benar malam minggu tersuram yang pernah gue rasakan. Terakhir, malam minggu suram seperti ini gue rasakan waktu masih kelas 3 SMP. Waktu itu gue galau karena hari Senin bakal menghadapi Ujian Akhir Nasional.

Kami terus masuk lebih jauh. Jauh… dan…

JGERRR!

“Waduh, petir tuh! Badai nih, badai!” Didit mulai histeris.

Tidak lama kemudian, rintik hujan sukses membasahi bumi. Iya… kami tidak bisa mengelak dari hujan kali ini.

“Gimana, nih? Balik aja atau ngapain?” Budi kelihatan ikut panik. Yaelah… padahal tadi dia yang paling semangat. Sekarang malah mengajak pulang.

“Yaudah… balik aja,” kata gue sambil sibuk menutupi kepala dengan tangan, karena hujan sudah makin lebat.

Akhirnya kami berbalik arah menuju gerbang tadi. Boneka-boneka yang tertancap di pepohonan terlihat jauh lebih seram di saat hujan seperti ini. Gue mau teriak.

Selama kami berlari, khususnya gue, selalu mendengar suara aneh. Seperti memanggil.

“Loe denger ada orang manggil-manggil, gak?” tanya Budi. Ternyata bukan cuma gue yang merasakannya.

“Denger… denger…” gue menoleh ke Didit, “Loe denger juga?”

“Iya… jelas banget!” jawab Didit. Hmm… jelas saja dia lebih mendengar. Tidak menutup kemungkinan kalau telinganya yang besar bisa menampung lebih jelas frekuensi suara.

Berteduh, lah…’

“Eh!” seru gue, “Loe denger? Katanya kita disuruh berteduh gitu…”

“Kalo yang ngomong ini setan, dia pasti baik banget,” sahut Budi. 

Hujan semakin lebat. Tidak terelakkan lagi, jalan setapak hutan ini semakin licin dan dipenuhi lumpur. Gerbang tua pun belum terlihat sama sekali. Langit semakin gelap.

Tidak lama kemudian… kami bertiga sukses tersesat.

“Ke mana, nih? Suer gue udah buta arah,” kata Budi, lalu menghentikan langkahnya.

Sekarang kami sudah tidak melakukan adegan ‘tutup-tutup-kepala’ lagi. Karena… kami sudah basah kuyup di sekujur tubuh.

“Tadi kalian ada lihat itu nggak?” tanya Didit, sambil menunjuk sesuatu. Gue dan Budi melihat ke arah yang dimaksud Didit.

Yang terlihat di hadapan gue adalah, sebuah gubuk kecil yang kelihatannya sudah sangat tua. “Emang tadi ada, ya?”

Budi dan Didit cuma bergeleng kepala. Akhirnya… tanpa pikir panjang kami menuju gubuk itu karena tidak tahu lagi akan pergi ke mana. Dengan langkah terseok-seok layaknya korban perkosaan om-om hidung papan catur, kami sampai juga ke depan gubuk itu. 

“Masuk nggak, ya?” Gue bicaara sendiri sambil memegang-megang pintu gubuk itu yang masih tertutup.

“Dingin…” ucap Budi, lalu berdiri dari duduknya. “Masuk aja, yuk.”

Yap. Tanpa menunggu perintah dari siapapun lagi, kami bertiga memasuki gubuk itu. Di dalam, tata ruangan gubuk ini begitu simple. Cukup satu ruangan berbentuk persegi, selebar kira-kira 4-5 kali meja billiard

“Serem amat…” Didit bergumam sambil mendekap tubuh sendiri. Gue pikir, ketebalan badannya bisa melindungi dari hawa dingin. Ternyata tidak. Sebentar! Kalau begitu… gue dan Budi yang jauh lebih ‘kecil’ dari Didit…

“Hasyim!!” Budi bersin-bersin sambil menggetarkan bibir dengan binalnya. “Masih dingin banget.… Hasyim!”

Gue juga demikian. Perlahan hidung gue mengeluarkan (maaf) ingus. Uhh... untaian (maaf) ingus gue keluar dengan indahnya. Bukan! Ini bukan sesuatu yang indah dan layak untuk ditayangkan di televisi. Ini… lebih dari sesuatu. BIB. Bukan (maaf) Ingus Biasa.

Kami memeriksa setiap sudut ruangan itu. Tidak ada apapun yang bisa dijadikan petunjuk tentang pulau ini. Jangankan petunjuk, menemukan sesuatu yang bisa menghangatkan badan saja tidak ada.

Duk! Duk! Duk!

“Kenapa, Bud?” tanya gue ke Budi, yang sibuk menginjak-injakkan kakinya ke lantai di salah satu sudut gubuk ini. Gaya penginjakkannya keren sekali. Seperti menemukan sesuatu.

“Suara lantai ini… beda dari bagian lain,” kata Budi, sambil terus menginjak dan memasang ekspresi wajah penasaran.

“Masa’, sih?” Gue mendekat ke arah budi.

Duk!Duk! Duk!

“Iya… kayaknya sih, gitu…” Gue bergumam, lalu menoleh ke arah Didit. “Dit, coba loe injek, deh.”

Didit mendekat. Gaya dia berjalan menghampiri kami, mirip sekali seperti banteng jantan yang haus akan cinta. Perlahan dia meraba lantai itu dengan sepatunya. Dia mulai mengangkat kaki… dan menarik nafas seolah ingin menginjak kecoa.

DUK!!!

“Eh?!”

Bruaaaakkk!!!!!

Tidak perlu dipertanyakan lagi. Kami bertiga… sukses jatuh ke bawah.…

**

“Pantat gue! Aduh, pantat gue!” teriak gue saat baru bangun dan merasakan cenat-cenut yang tidak merata.

“Aduhh… jidat gue!” Terdengar suara Budi. Tidak lama kemudian, terdengar lagi raungan yang lebih dahsyat, dari Didit. “Aduh!! Kenapa Bang Raffi Ahmad??! Kenapa harus narkotika?? Kenapa??!!“

Gue juga tidak yakin apakah Didit sedang berhalusinasi tentang infotainment atau apa. Yang jelas… gue lebih kaget saat pandangan mata sudah mulai jelas. Iya, penampakkan menegangkan muncul di depan mata gue.

“Ega??!!” 

Gue bergidik. Seram wajah Ega memang mampu membuat Genderuwo sekalipun, akan merasa tersaingi. “Kok… gue ada di sini?”

Sekarang gue merasa seperti kenal tempat ini. Hmm… ini villa milik Didit. Entah bagaimana caranya gubuk tadi bisa men-transfer kami ke ruang tengah villa ini, karena yang jelas… kami bertiga : gue, Didit, Budi; sudah terkulai lemas di sofa.

“Tadi waktu hujan udah selesai, kita khawatir loe semua kenapa-napa. Makanya gue, Adit, sama Abeck pergi nyariin kalian,” kata Ega dengan penjelasan seadanya.

“Trus, kalian malah ditemuin nggak berdaya gitu di jalan setapak…” tambah Abeck.

“Di mana?” Budi merasa kurang jelas.

“Di jalan setapak yang dari jembatan itu, loh…” Adit menambahkan.

Gue, Budi, dan Didit saling berpandangan. Bagaimana tidak heran? Rasanya, terakhir kami kehujanan di hutan, lalu berteduh di gubuk, sampai akhirnya jatuh ke bawah lantai gubuk karena hentakkan kaki Didit yang penuh birahi. ‘Kok, bisa terkapar di jalan setapak?’ pikir gue.

“Kalian sebenernya dari mana aja…?” tanya kakak Didit, Kak Rica. “Masih ingat apa larangan kakak, ‘kan?”

Didit cuma senyum-senyum, lalu dengan segenap jiwa raga dia menyahut, “Maaf kak, kami… terlanjur…”

Wajah Kak Rica terlihat sangat berbeda dari sebelumnya. Entah apa maksud reaksinya, yang jelas wajah itu kini menunjukkan rasa takut, sedih, dan dicampur sedikit galau karena mungkin sedang bertengkar dengan pacarnya.

“Kalian ini…” seru Kak Rica. Dia pun segera beranjak dari ruang tengah, lalu menuju tangga ke lantai atas. Didit segera mengikuti kakaknya dengan wajah penuh tanya.

Sekarang, kami ber-14 : Gue, Budi, Adit, Ega, Abeck, Ozi, Dhike, Sonia, Sonya, Ayu, Melody, Ve, Sendy, Ochi; sedang menggalau bersama di ruangan ini.

“Jadi… kalian ada nemuin apa di arah depan pulau?” tanya gue ke Adit, Ega, dan Ozi. Budi menganggukkan kepalanya, tanda kalau dia juga membutuhkan jawaban.

“Emmm….” Ega terlihat bingung ingin bicara apa. Sejenak mereka saling melihat.

“Hellooo…” seru Budi, yang sontak saja membuyarkan lamunan mereka.

“Ah,” Ozi mulai angkat bicara. “Jadi… tadi kita nemuin Cindy gitu…”

“Beneran??! Mana??! Kenapa nggak dibawa balik??” Budi histeris karena merasa beruntung bisa mendengar nama ‘Cindy’ dari mulut Ozi.

“Emm… itu dia, Bud. Kita belum bisa ngebawa dia balik…” kata Adit, lalu menghela nafas sebentar, “Dia ngancam bakal ngebunuh kita kalau berani deketin atau ngebawa dia pulang.”

Gue kaget. Semua kaget. Yuni Sarah kaget. Budi apalagi.

Adit pun melanjutkan ceritanya. “Jadi tadi itu…”

**

Saat baru saja berpencar untuk mencari Cindy dan Stella, Adit dan rekan-rekannya : Ega, Ozi; pergi menuju arah depan pulau.

Awalnya tidak ada yang salah saat mereka menginjakkan kaki di pantai, sampai mereka bertemu Kak Rica yang sedang sibuk jogging sambil menikmati angin laut. Sampai akhirnya, Kak Rica mengetahui permasalahan hilangnya dua teman kami, lalu memutuskan untuk menelepon Didit perihal berbahayanya gerbang tua yang kami masuki.

Selesai itu, mereka (Adit, Ega, Ozi), pergi berkeliling pantai ditemani Kak Rica. Hingga akhirnya menjelang senja, hujan turun lebat. Mereka yang berada lumayan jauh dari villa memutuskan untuk berteduh di bawah sekumpulan kebun pohon bakau.

Di tengah hujaman petir, mereka melihat seseorang yang memang sudah tidak asing lagi. Cindy. Terlihat Cindy sedang melintasi pinggiran pantai sambil sesekali tertawa dan meminum air hujan. Mereka yang merasa ‘beruntung’ bisa menemukan Cindy, perlahan menghampirinya.

Namun entah kenapa, Cindy dengan tatapan kosongnya, tiba-tiba menyodorkan sebilah pisau dari balik punggungnya. Sontak Adit dan kawan-kawan merasa kaget sekaligus takut melihat kenyataan kalau Cindy… bukanlah Cindy.

Sosok ‘Cindy’ itu mengancam akan membunuh mereka jika berani mendekat. Saat sedang klimaks seperti itu… petir yang paling dahsyat datang, diiikuti suara yang menggelegar. Membahana. Cetar. 

Sesaat setelah kagetnya Adit dan kawan-kawan, karena petir, sosok Cindy sudah tidak bisa ditemukan. Akhirnya, dengan perasaan yang bercampur aduk, mereka (Adit, Ega, Ozi, Kak Rica) membelah rintikkan hujan menuju villa

Sekitar setengah jam kemudian, saat hujan lebat sudah mulai berhenti, mereka yang sudah berkumpul di villa mulai khawatir karena gue, Budi dan Didit, belum juga kembali. Sampai akhirnya mereka mencari, dan menemukan kami sedang terkulai lemas di jalan setapak. Penuh (maaf) ingus….

**

“Aaah!! Sial!!” seru Budi, seraya memukulkan kepalan tangannya ke meja. Wajahnya gusar dan tidak unyu lagi.

Gue lihat, beberapa cewek seperti Melody, Ayu, Sonia, Dhike, mulai menitikkan air mata karena keberadaan Cindy dan Stella masih tidak diketahui. Gue terenyuh, lalu bangkit dari sofa.

“Masih bisa.… Kita pasti bisa nemuin mereka. Baru jam setengah delapan. Kita masih punya waktu.” Gue memberi sedikit semangat. Yang lain mulai mengangguk, tanda kalau pendapat gue perlahan bisa menenangkan mereka.

“Oke… oke…. Gue tadi enggak sempat ikutan bertualang. Kali ini, gue bantu semaksimal mungkin!” seru Abeck yang tadi sore memang bertugas sebagai ‘bodyguard’ para cewek. 

“Sip…!” seru Adit. 

“Hmm… kenapa kita nggak nunggu bantuan polisi aja?” Ve mulai memberi saran. 

Belum sempat kami semua menanggapi pendapat Ve, tiba-tiba Didit menyahut dari arah tangga.

“Gawat…” kata Didit, lalu mendekat menghampiri kami. “Jembatan di belakang pulau, putus. Kemungkinan kena petir. Di pantai, ombak lagi besar-besarnya. Nggak mungkin ada kapal yang bisa melintas. Trus… parahnya lagi, helikopter petugas juga nggak bisa mendekati pulau ini karena gangguan radar dan berbahayanya cuaca. Terakhir... sinyal komunikasi sukses terputus…”

Kami semua refleks mengambil handphone masing-masing. Benar saja, tidak ada sinyal sama sekali.

“Kalau gitu… kita terperangkap di sini??” kata Sonya, yang mulai mendekat ke Melo dan kawan-kawan.

“Iya…” Didit menghela nafas.

“Nggak apa!” Tiba-tiba Budi menyahut. “Itu tandanya… Cindy dan Stella juga nggak akan ninggalin pulau ini. Kita… harus nemuin mereka!”

Malam itu, sembari menyingkirkan kondisi kami yang ‘terisolasi’, telah dibuat suatu rencana baru….

**








Untuk episode selanjutnya (part 26); “Petualangan semakin menegangkan. Seiring dengan ditemukannya Stella, perlahan memberikan petunjuk tentang sejarah pulau yang menurut Aziz, benar-benar ‘berbeda’ untuk ulang tahunnya kali ini”.

Tunggu kelanjutannya, ya!

















4 comments:

  1. Replies
    1. ini fiksi, Ga... walaupun kenyataannya mungkin lebih serem. Huehehehe

      Delete
  2. Replies
    1. aduh... pelan-pelan beck. kayak film dewasa yg pake cerita pembuka dulu. #apaan sih

      Delete

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)