Ini Ximin

Sunday, February 10, 2013

Fanfic 'For Stella' Part 26; Rica, Stella, dan Sebuah Boneka




‘For Stella’ adalah cerita fiksi bersambung dengan genre “komedi-romantis”. Penulis, Aziz Ramlie Adam, adalah seorang fans salah satu member JKT48 yang bernama Stella Cornelia. Berkat integritasnya dalam mengidolakan idol group yang satu ini, maka melahirkan inspirasi tersendiri untuk menghasilkan Fanfic for Idol ini.

Episode sebelumnya (part 25); “Petualangan Aziz, Budi dan Didit di dalam hutan bagian belakang pulau, membawa mereka pada kenyataan mengerikan tentang suasana di sana, yang sebenarnya. Kejadian Adit dan kawan-kawan yang menemukan Cindy di pantai, semakin membawa banyak tanda tanya yang membuat weekend mereka semakin diselimuti misteri ”. Selengkapnya bisa baca DI SINI.
Berikut adalah episode terbaru (part 26), happy reading, guys!



Rica, Stella, dan sebuah Boneka


“Jadi… udah saatnya kita bergerak,” Jelas Didit, menutup pembicaraan.

“Yap… gue sama Budi udah siap!” Gue menoleh ke Budi, “Oke?”

“Yosh!!” seru Budi dengan penuh semangat.

Kami telah melancarkan suatu rencana baru. Karena yang hilang adalah Stella dan Cindy, lalu Cindy dikabarkan Adit dan kawan-kawan ada di pantai, maka gue dan Budi yang akan pergi ke sana. Lalu, kami tentu membutuhkan Didit yang lebih tahu daerah ini. Awalnya… memang hanya bertiga. Namun, seiring rasa “persahabatan” dari Sonya, ia memaksa untuk ikut. Kami tidak bisa melarang.

Sejenak kami melupakan keanehan di belakang pulau. Berpencar malah akan menyulitkan kami. Selain kami berempat, yang lain menunggu di villa.

Malam ini adalah malam minggu tersuram. Setelah sukses terisolasi, kami bahkan belum menemukan dua rekan yang hilang. Sial. Gue jadi merasa kalau ulang tahun kali ini sepertinya membawa sial banget.

Akhirnya, kami ber-empat telah sampai di pantai. Ada keanehan. Sangat… aneh.

“Dit, beneran tadi loe bilang kalau kita kejebak di sini?” tanya Budi, dengan tatapan heran.

“Bener, sih…” jawab Didit dengan penuh keheranan juga.

Gue juga sudah tidak bisa bicara. Bagaimana tidak, keadaan pantai sekarang… ramai sekali. Musik di mana-mana. Orang-orang yang kebanyakan berwajah asing dan kebarat-baratan, banyak yang menari-nari sambil memegang berbagai macam minuman. Ada yang membakar api unggun sambil bernyanyi, bahkan ada yang pacaran sama ikan hiu.

“Kok… rame?” Sonya mulai berbicara juga.

“Nggak tau, deh...” Gue juga menggelengkan kepala.

Gue lihat, perlahan Budi menghampiri salah seorang pria bule.

Excuse me, Sir. How do you get here?” tanya Budi kepada bule itu. Tidak ada jawaban.

Sir?

Budi berbalik ke arah gue. “Nggak dijawab,” dia mengeluh.

Ah. Gue kembali berpikir kalau sebenarnya ini semua tidak perlu dipermasalahkan. Yang jadi masalah, Stella dan Cindy belum ditemukan!

Kami berjalan menelusuri pantai dengan masih dipenuhi tanda tanya. Sesekali Didit dan Budi menghampiri turis-turis yang sibuk bergoyang. Namun, tidak pernah mereka memberikan respon akan kehadiran kami. Aduh, horor banget, sih.

Tiba-tiba… pundak gue ditepuk oleh Sonya, dari belakang.

“Kenapa?”

“Itu… mereka kok, pada kemari?” kata Sonya, sambil menunjuk ke salah satu sisi pantai. Iya… ‘mereka’. Adit, Ega, Abeck, Ozi, Melo, Ve, Sendy, Ochi, dhike, Ayu, dan Sonia.

“Bud, lihat deh! Anak-anak, tuh!” seru gue ke Budi yang sedang menirukan bahasa isyarat kepada salah seorang turis. Gerakannya imut sekali.

Akhirnya kami menghampiri teman-teman. Namun, alangkah terkejutnya karena mereka bersikap sama seperti orang-orang lain yang ada di sini : tanpa respon. Mereka sibuk dengan gerakan tari masing-masing.

Kami berempat mulai merasakan sesuatu yang aneh. Perlahan kami menjauh dari tepi pantai.

“Ini gila! Gue yakin ini pasti ada apa-apanya!” Budi mulai frustasi. Gue juga sebenarnya sudah lelah dengan semua ini. Puitis banget, ya, kata-kata gue. Kayak lagu.

Sekarang kami sedang duduk bersama, berada agak jauh dari pantai. Saat merenung dalam lamunan masing-masing, Sonya tiba-tiba seperti teringat sesuatu dan raut wajahnya terlihat sangat tergesa-gesa. Ia bangkit dari duduk, dan segera beranjak pergi.

“Kak, mau ke mana?!” teriak Budi.

“Gue… sakit perut. Iya… gitu,deh. Gue… balik duluan, ya... Emm... ntar, ya…” jawab Sonya dengan agak berteriak. Langkahnya terburu-buru banget.

Gue lihat Didit masih tidak melepaskan pandangannya dari Sonya, yang kini mulai menjauh.

“Woy, kejar gih, kalo khawatir!” kata gue sambil menepuk pundak Didit.

“Eh?”

“Loe takut dia kenapa-kenapa, ‘kan? Kejar gih. Temenin. Lagian kayaknya kakak loe di villa lagi sendirian, tuh…” kata gue lagi.

“Emm!” Didit mengangguk, lalu mengikuti langkah Sonya dengan sedikit berlari.

“Ahaha…” gue tertawa.

“Kenapa loe?” tanya Budi.

“Lihat deh,” kata gue, lalu menunjuk Didit, “Cocok tuh, sama Sonya. Kalo mereka bisa gue jadiin, gue aman ngedeketin Stella”

“Halah… ngawur loe. Tapi, bener juga sih..” Budi menghela nafas.

Hening.

“Ntar. Stella mana, ya?” kata Budi dengan wajah datar.

“Iya, ya…. Cindy juga nggak kelihatan...” gue pasang muka yang sedatar mungkin.

Hening.

“Kampret! Cewek gue hilang!!!” kami teriak bersamaan. Oke, gue memang belum menjadi pacar Stella. Mengharap sedikit, boleh dong.

Kami bangkit dari duduk. Sesaat tadi, kami seperti hanyut oleh suasana pantai ini. Seolah lantunan musik pantai ini masuk menyelimuti diri.

“Gawat, Ziz!” kata Budi sambil membersihkan celana bagian pantat yang tertempel pasir pantai, “Kita hampir kejebak juga”

“Maksud loe?!”

“Kita hampir aja kebawa suasana. Lihat mereka, udah kena tuh.” Kata Budi lalu menunjuk ke arah teman-teman yang sedang sibuk bersenang-senang.

“Ini berarti…”

“Yap! Kalau pun kakak gue sama Didit ntar kena pengaruh juga, kita jangan sampai kena! Gue nggak tau harus gimana lagi nyari Cindy kalau kita berdua juga ikutan nggak sadar!” seru Budi, dengan nada bersemangat. Seolah nyawa Stella, Cindy, dan teman-teman yang lain, ada di tangan kami.

“Yaudah… saling mengingatkan aja,” kata gue. Budi mengangguk dan kami beranjak dari tempat itu. Menuju… pencarian yang sebenarnya.

**

“Ziz, bentuknya aneh, deh. Kayak upil loe…” kata Budi, sambil memegang timbunan lumut di salah satu pohon.

“Kampret! Jadi loe mau gitu, pegang-pegang upil gue?”

Budi segera menarik tangannya dari kumpulan lumut.

Kami sekarang sedang menelusuri jalan setapak yang kami temukan di salah satu sisi pantai. Bentuk pulau ini sepertinya persegi empat. Bagian depan adalah pantai. Bagian belakang adalah jembatan tempat kami datang. Di bagian kanan pulau ada villa milik Didit. So, gue dan Budi sekarang sedang menelusuri bagian sebelah kiri pulau ini.

Tanpa sadar, kaki kami terus melangkah sehingga tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Tidak! Tidak akan ada kata ‘menyerah’ sebelum kami bisa menemukan petunjuk lagi.

Gue sesekali melirik handphone. ‘Seandainya ada sinyal, bisa komunikasi sama Didit, nih’ pikir gue, yang mulai mengkhawatirkan Didit dan Sonya.

“Ziz, lihat deh!” seru Budi, tiba-tiba.

“Wooow!”

Di depan kami terdapat sebuah bangunan tua berbentuk tabung. Terbuat dari batuan lama yang sudah berlumut dan ditumbuhi tanaman liat. Walau terlihat seperti sudah lama sekali, tembok yang melingkar itu seolah memancarkan sesuatu yang menyatakan kalau masih ada kehidupan di dalamnya.

Gue dan Budi mengelilingi bangunan itu. Tidak ada pintu. Bangunan setinggi kira-kira 3 sampai 4 meter itu, terlihat kokoh. Perlahan gue mencium sesuatu.

“Cih! Loe kalo kentut parah banget, ya, Bud!” seru gue sambil menutupi hidung dan sedikit menggelinjang.

“Kampret! Bau mulut loe, nih!!” Budi juga melakukan hal yang sama.

“Gila! Cabut, yuk!” seru gue lagi, dengan nada mirip finalis Be A Man yang tereksekusi. Maklum, gue tutup hidungnya terlalu bersemangat.

Akhirnya gue dan Budi berlari menjauhi tempat bau itu. “Huek!”

Kami terus menjauhi daerah yang semakin lama semakin menyengat baunya. Tanpa sadar, kami sudah berlari hampir ke belakang pulau. Bau itu pun sudah mulai menghilang.

“Haaaaaahhh…..” kami berdua menghela nafas sebesar-besarnya, setelah sempat menutup hidung untuk waktu yang tidak sedikit. Benar-benar sesak.

“Gue kayak kehabisan oksigen, tau nggak…” kata Budi yang terlihatsudah lelah.

“Gue apa lagi… “

Disela-sela penghelaan nafas kami, tiba-tiba terdengar seperti ada sesuatu di semak-semak.

“Eh, apaan tuh? Babi hutan, ya???!!” Budi histeris.

Gerakan. Iya, ada yang bergerak. Menjauh dari kami. Perlahan terdengar seperti langkah seseorang.

“Stell?!” gue dan Budi berteriak bersaamaan. Tentu saja, dia berteriak “Cind?!!”

Kami mengejar suara langkah kaki itu. Lagi. Iya, kami berlari lagi. Tidak perduli sudah sebesar apa energi yang kami keluarkan dalam pencarian malam ini. Untuk gue sendiri, ini demi kami semua juga. Rencananya, saat setelah Stella dan Cindy ditemukan, kami semua akan mengurung diri di villa dengan saling menjaga, sampai esok pagi kami bisa mencari bantuan untuk keluar dari sini.

Demi kami semua!! Demi Stella!’ pikir gue, mulai bergejolak.

“Ah!”

“Heh!”

Kami berdua terhenti, dan seketika terkejut dengan pemandangan yang terjadi di hadapan kami berdua. Stella…

“Stell? Loe ngapain di situ??” teriak gue yang sebenarnya gugup, dan takut untuk mendekat.

Stella sedang bermain boneka di atas sebuah… makam. Tatapan matanya kosong dan hanya sesekali tersenyum terhadap boneka tua yang dipegangnya.

“Dia nggak jawab, Ziz. Jangan-jangan kesambet.”

Gue bingung harus melakukan apa. Tiba-tiba, dari balik pepohonan, terlihat… Kak Rica.

“Ah, Kak Rica? Lagi ngapain di sini?? Bahaya, Kak!” teriak Budi.

Kak Rica hanya menatap kami berdua dengan senyuman.

“Kak...?”

Gue hendak menghampiri Stella. Namun, baru beranjak satu langkah. Kak Rica sudah membentak agar gue berhenti. Sembari duduk di samping Stella, di atas makam itu, ia berkata…

“Hentikan, atau kalian yang kena akibatnya…” seru Kak Rica sambil membelai rambut Stella yang sekarang makin terlihat bahagia saat bermain dengan boneka tua itu.

“Kenapa… Kak…?” Gue mulai gemetar dan hampir jatuh.

“Ziz!” teriak Budi, lalu memapah gue untuk berdiri.

Kak Rica menatap gue dan Budi.

“Sebentar lagi sudah tengah malam… sama seperti lima tahun yang lalu… arwah pulau ini akan tenang. Hahahahaha” Kak Rica mulai bicara sendiri.

Gue merinding. (Sewaktu gue menulis ini, benar loh, gue merinding)

“Lima tahun… yang lalu? Jangan-jangan, kakak tau soal meninggalnya anak cewek itu??” tanya Budi.

“Ya… saat itu, seharusnya aku yang mati. Ahahahha… kutukan keluarga ini benar-benar menghancurkan  hidupku! Ahahaha!”

“Haaaah!!!” Gue emosi. Gue berjalan menuju arah Kak Rica… lalu…

Plak!

Gue menampar pipi kirinya. Lalu gue pegang kedua bahunya dan menggoyang-goyangkan. “Sadar woy!!! Loe kesambet, Kak!!! Heloooo!!!” kata gue, marah.

Namun, Kak Rica tidak seperti merasakan sakit. Dia mengangkat tangannya dan dalam sekejap mencekik gue.

“Aaargh…” Gue mulai tidak bisa bertahan. Cekikan Kak Rica kuat sekali, walaupun dia perempuan dan gue sudah berusaha menyingkirkan tangannya.

Budi segera berlari ke arah Stella, mengambil boneka di tangan Stella, dan menginjaknya.

“Kak Stell!!! Sadar, dong!!!”

Gue merasa kalau ini adalah kesempatan. “Bud… bawa… di..a.. cabut dari… sin..i…” kata gue, di tengah cekikan Kak Rica yang semakin membuat gue lemas.

Budi mengangguk dan memapah Stella menjauhi makam. Namun, belum beberapa langkah, Stella terjatuh dan mengeluarkan darah dari mulutnya.

“Kak! Kakak!” teriak Budi histeris.

Gue masih berusaha menyingkirkan tangan Kak Rica. ‘Kampret!! Mau gue hajar, tapi dia kan kakak-nya  temen gue!!’ Gue menggerutu dalam hati.  Tidak lama kemudian, Kak Rica melepaskan cekikannya.

“Aaah…. Haaaaaaah… aduh… uhuk! Uhuk! Uhuk! Hoek!” teriak gue, lalu menjauhi Kak Rica menuju Budi dan Stella yang sedang tersungkur di tanah. Perlahan Kak Rica meninggalkan kami. Sepertinya ingin pergi ke tempat lain.

“Stella!!!” teriak gue.

“Loe jagain sendiri bisa, ‘kan?” tanya Budi, lalu mulai berdiri.

“Loe mau ke mana??” tanya gue, sambil perlahan memapah Stella untuk berdiri juga. Wajahnya pucat dan bibirnya masih meninggalkan sisa-sisa darah.

“Gue mau ikutin Kak Rica. Gue nggak tau ada apa ini… tapi kayaknya, kita udah bikin gagal dia, buat jadiin Stella ‘tumbal’. Mungkin dia tau Cindy ada di mana. Atau lebih parah lagi…” Budi berhenti sejenak.

“Kenapa?”

“Gawat! Nggak cuma Cindy! Yang lain juga bisa bahaya!!! Gue cabut dulu!!!” lalu Budi berlalu mengikuti arah kepergian Kak Rica.

“Hati-hati, loe!!” teriak gue.

“Yoo!!!”

Budi sudah berlalu ke balik pepohonan. Gue merasa merinding sendiri karena tepat di depan gue ada sebuah makan tua. Memang gue tidak sendiri, tapi Stella ‘kan sedang tidak sadarkan diri.

“Aaah.” Gue menggelengkan kepala, untuk menyingkirkan semua pikiran tidak penting.

Gue menggendong Stella, menuju ke arah villa. Sekilas mirip jomblo mesum yang menyelamatkan temen sekelasnya, yang pingsan karena tertimpa papan tulis.

Berat juga, nih, anak’ pikir gue.

Tiba-tiba… perlahan Stella membuka mulutnya. “Aa… Aziz… ‘kan?”

“Ah, Stell!! Untung loe udah sadar. Iya, ini gue!”

“Hehe… “ dia tersenyum tipis. “Aku… ta..kut… Aku mau… pulang… aku....” belum sempat selesai bicara, Stella terhenti dan mulai batuk-batuk.

“Udah... udah… loe jangan kebanyakan ngomong dulu! Kita pasti bisa keluar dari sini! Kita bakal pulang! Hehehe….”

Karena menyadari keadaannya sudah serumit ini, dalam hati, gue melanjutkan,

“Semoga….”

**

Untuk episode selanjutnya (part 27); “Cindy telah ditemukan dalam keadaan tidak sadarkan diri. Perlahan, hubungan antara hutan boneka, bangunan yang berbau aneh, serta para turis yang berpesta di pantai, mulai menemukan titik terang. Namun, keadaan semakin diperparah dengan perbuatan Sonya”.

Tunggu kelanjutannya, ya!











No comments:

Post a Comment

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)