Fanfic 'For Stella' Part 27; Pembongkaran Misteri 'Bagian Awal'




‘For Stella’ adalah cerita fiksi bersambung dengan genre “komedi-romantis”. Penulis, Aziz Ramlie Adam, adalah seorang fans salah satu member JKT48 yang bernama Stella Cornelia. Berkat integritasnya dalam mengidolakan idol group yang satu ini, maka melahirkan inspirasi tersendiri untuk menghasilkan Fanfic for Idol ini.

Episode sebelumnya (part 26); “Akhirnya Stella ditemukan walaupun dalam keadaan yang tidak sehat. Budi mengikuti Kak Rica yang kemungkinan besar sedang mengincar teman-teman di arah pantai”. Selengkapnya bisa baca DI SINI.

Berikut adalah episode terbaru (part 27), happy reading, guys!


Pembongkaran Misteri ‘Bagian Awal’

“Aku... bisa jalan sendiri kok, Ziz...” pinta Stella yang tadi gue gendong, dan kelihatannya tidak mau merepotkan gue. Padahal sih, tidak merepotkan sama sekali. Pffft.

                “Hmm... yaudah. Pelan-pelan aja, ya” kata gue, sambil masih memapahnya.

                Akhirnya gue dan Stella tiba juga di depan villa milik Didit. Gue sebenarnya tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk membantu Budi dan menyelamatkan teman-teman yang lain. Tentu saja karena sekarang gue berada di dekat Stella dan seolah telah menjadi tanggung jawab, gue harus turut menjaga dia juga. Lagipula kondisinya sedang tidak baik.

                Sesampainya di depan pintu utama, terdengar seseorang menjerit dari arah jalan setapak.

                “Argh...” keluh suara itu.

                “Ziz, itu suara siapa...?” tanya Stella dengan lirih.

                Gue mencoba menerawang. ‘Kayaknya gue kenal tuh, suara’. Gue menoleh ke Stella, “Kamu bisa ikut jalan ke sana? Kayaknya aku kenal suara itu, tapi aku nggak mau ninggalin kamu sendiri di sini”

                “Iya...” jawab Stella sambil mengangguk lalu mulai melangkahkan kakinya. Sungguh cewek yang kuat. Dalam sekejap, dia sudah seperti dalam kondisi normal.

                Kami berdua menuju ke arah suara yang terdengar seperti korban perkosaan para sasaran Kantib itu. Alangkah terkejutnya saat gue melihat sesosok Dugong sedang terkulai lemas di sela-sela jalan setapak. Maaf, bukan Dugong. Ternyata Didit.

                “Eh... Kenapa loe?!” seru gue sambil membantunya berdiri. Karena komposisi tubuhnya lebih tebal dari gue, bukannya dia yang gue berdirikan. Malah gue yang dia buat jatuh juga.

                “Tadi... Onya mukul gue gitu,” jelas Didit yang sudah mulai berdiri.

                “Gila... badan loe segede gini, masih bisa tepar juga dipukul cewek.” Gue menggelengkan kepala.

                “Dia cewek... Tapi tenaganya tiba-tiba ngalahin Ade Ray gitu, tau nggak...” kata Didit sambil membersihkan percikan tanah dan lumpur di bajunya.

                Akhirnya kami bertiga kembali jalan menuju villa. Didit bercerita banyak hal yang terjadi tadi. Ternyata, sejak di pantai tadi, Sonya pergi menuju ke suatu tempat yang Didit sendiri belum pernah tahu. Tiba-tiba pandangan mata Sonya terlihat kosong dan saat Didit mencoba mencari tahu maksud keinginan Sonya, dia malah dibuat sekarat.

                “Trus dia pergi ke arah sana...” kata Didit, memberikan petunjuk terakhir. Dia menunjuk ke arah samping pulau tempat bangunan berbau busuk yang gue dan Budi temukan beberapa saat lalu.

                “Waah... udah gue duga, kalau daerah situ pasti ada nggak benernya,” kata gue sambil mengelus dagu. Kami bertiga rehat sebentar.



                Setelah beberapa saat beristirahat di villa, tidak terasa sudah tengah malam. Gue yang khawatir dengan nasib Budi yang mengikuti Kak Rica, mulai merasakan sesuatu yang aneh. Setelah dialog yang sangat komplek (halah... bahasanya), gue, Didit dan Stella, memutuskan untuk melanjutkan petualangan. Ini sesuatu banget.

                “Loe bawa apaan, tuh?” tanya gue ke Didit yang terlihat membawa sebuah kotak.

                “Ini... punya kakak gue. Cuma dia yang bisa buka kotak ini. Katanya, kotak ini penting dan suatu saat pasti dibutuhkan apalagi kalau keadaannya seperti ini,” jelas Didit.

                Gue mengangguk dan merasa kalau barang apapun di dalam kotak itu, mungkin saat ini memang diperlukan.

                Akhirnya, tujuan pertama kami bertiga adalah bangunan berbau busuk tempat gue dan Budi hampir kehabisan oksigen. Setelah melalui beberapa pepohonan dan semak-semak (tanpa ada adegan pemerkosaan), akhirnya kami sampai di dekat bangunan itu. Sebelumnya gue seudah mempersiapkan masker untuk mengatasi situasi ini.

                “Uhuk...! Ih, ini masih kecium baunya,” seru Stella sambil menutup hidung dengan tangannya. Padahal, dia sudah memakai maskernya. Didit juga begitu.

                “Bener, kan? Baunya kebangetan.”

                Di sana tidak seperti sebelumnya. Suasana tidak terlalu sepi. Sampai akhirnya terdengar beberapa jeritan dari arah atas bangunan itu. Gue kenal, itu suara teman-teman gue!

                “Aduh... kenapa tuh mereka?? Gimana nih, Ziz??” Didit terlihat panik. Tentu saja permasalahan sekarang adalah, ‘Gimana kita naik ke atas???’

                Gue mencoba untuk memikirkan cara ter-absurd di dunia. Memanjat pohon. Jadi di dekat bangunan itu ada sebuah pohon kelapa yang tingginya bahkan melebihi tinggi bangunan itu.

                “Yakin?” tanya Stella.

                “Tenang... Aziz pengalaman kok. Dia pernah menangin lomba 17-an waktu SMA. Panjat pohon pinang pake oli, tanpa bantuan.” Lalu Didit mengacungkan jempol.

                Gue mengangguk, melepas sepatu, lalu mulai memeluk pohon itu. Pesan gue saat hendak memanjat adalah, “Dit, kalo gue jatoh, loe tangkap ya.”

                Gue mulai memanjat. Setidaknya bagi gue, ini adalah unjuk bakat di hadapan Stella. Siapa tahu skill gue ini bisa memikat hatinya. Semoga.

                Semakin tinggi gue memanjat, semakin terlihat bagian atas bangunan itu. Gue terkejut. Semua teman-teman gue, sedang terbaring lemas mengelilingi atas bangunan itu. Jadi begini, bangunan itu berbentuk seperti tabung, dan ternyata di tengah bangunan itu terdapat sebuah lubang besar yang dikelilingi oleh tembok. Di atas, hanya sedikit bagian lantai yang mengelilingi lubang itu. Dan di lantai yang mengelilingi lubang itu juga lah, teman-teman gue terbaring secara rapi mengelilinginya.

                Di antara pemandangan mengenaskan itu, gue melihat dua orang yang berdiri dengan senyum yang merekah. Cindy dan Sonya.

                Di tengah keterkagetan gue, Didit memanggil dari arah bawah. “Ziz, ada sesuatu nih.” Gue lihat dia sudah berjongkok dan menemukan seperti tuas kecil. Dan saat dia tarik tuas itu, nampak bagian tempok itu seperti membukakan jalan. Iya, muncul sejenis pintu kecil yang jika ingin masuk, harus tiarap dulu.

                ‘Kampret... ngapain gue pake manjat segala coba?

                Akhirnya gue turun dan sampai ke tanah... dengan kepala duluan. Tepatnya di bagian jidat.

                Sukses gue turun, tiba-tiba dari pepohonan muncul sosok yang sudah tidak asing lagi. Budi. Dia memakai jaketnya untuk dilingkarkan menutupi sebagian wajah. Tepatnya di bagian hidung.

                “Loh, bukannya tadi loe ngikutin Kak Rica, ya?” tanya gue heran.

                Dia menarik nafas sebentar. “Gue kehilangan jejak,” kata dia dengan wajah datar dan sok polos.

                “Hedehh... Yaudah, ada yang lebih penting,” kata gue lalu menuju ke arah Didit.

                Akhirnya kami berempat masuk melewati pintu kecil itu. Mirip finalis Be A Man. Sampai akhirnya kami berhasil memasuki bangunan itu dan menemukan tangga yang juga melingkar menuju atas. Tanpa menunggu perintah dari siapapun, kami bergegas naik.

                Sesampainya di atas, bau bangunan ini semakin terasa tidak menyenangkan. Gue lihat ke arah tengah bangunan itu, sangat gelap. Seolah tidak ada dasarnya. Perlahan kepala gue perih.

                Gue lihat ‘mereka’ terlentang dengan wajah yang tidak manusiawi. Iya, mereka : Adit, Ega, Abeck, Ozi, Melo, Ve, Sendy, Ochi, Dhike, Ayu, Sonia.

                Budi segera menghampiri Cindy yang tiba-tiba terlihat pingsan juga.

                “Hup! Great!” seru Budi yang berhasil menangkap Cindy sebelum kepalanya sempat membentur lantai.

                Tiba-tiba, entah kenapa malah kepala gue yang pening. Gue memegangi kepala yang seolah akan pecah ini. “Arrrrghh!!!!!”

                “Ziz!” Stella memapah gue yang hendak tersungkur. Gue benar-benar sudah tidak bisa menahan beban di kepala gue ini. Tidak berapa lama kemudian, gue tidak sadarkan diri...



                Saat itu, sekitar ratusan tahun yang lalu, sedang terjadi sebuah wabah penyakit yang menular dan cukup mematikan. Pengasingan besar-besaran dilakukan pihak pemerintah agar penyakit itu tidak menyerang seluruh negeri. Dan pulau ini, adalah tempat pengasingan para korban yang terkontaminasi virus tersebut.

                Seiring berjalannya waktu, para korban banyak yang menghabiskan sisa hidupnya di pulau ini. Beberapa ada yang sempat keluar dari pulau ini dan sempat menyebarkan virus ke daerah lain. Kekejaman pemerintah pun semakin terjadi karena tidak ingin virus itu semakin menyebar. Maka dari itu, dilakukan lebih besar lagi proses pengasingan walaupun hanya sedikit gejala yang terdeteksi pada orang-orang tertentu. Beberapa kalangan menganggap hal itu benar. Namun sebagian lagi, tentu merasa kalau hal pengasingan ini terlalu kejam.

                Usai penyebaran virus itu, sekitar berpuluh tahun kemudian, seorang buronan kasus pembunuhan, melarikan diri ke pulau ini. Kesendirin membuat penjahat itu mengalami sedikit gangguan jiwa. Selama tinggal di pulau ini, dia hanya pergi keluar pulau pada malam hari untuk mengumpulkan boneka-boneka yang kebanyakan diambilnya dari tempat pembuangan sampah. Selang beberapa lama, ia telah membuat sebuah kebun yang terdiri dari rangkaian pohon dan boneka. Hal tersebut terus menjadi rutinitas sang buronan hingga ajal menjemputnya (oke, kalimat ini memang terlalu puitis).

                Beberapa tahun semenjak meninggalnya sang buronan, sekitar 20 tahun lalu, datanglah empat orang penjelajah yang juga merangkap sebagai ahli tumbuh-tumbuhan. Mereka meneliti kesalahan pemerintah di zaman dulu bahwa pengasingan bukanlah jalan yang tepat. Sebenarnya, pulau inilah penyebab wabah itu. Terdapat beberapa tanaman yang pada dasarnya memang mengandung racun yang dapat disebarkan melalui udara. Kemudian mereka melenyapkan spesies tanaman berbahaya itu. Kritik atas kekejaman pemerintah itu, sempat mereka tuliskan dan dimuat dalam beberapa media cetak.

                Hal seperti ini tentu saja membuat pihak berwenang menjadi risih atas kritikan pedas beberapa tahun silam. Maka kini, ke-empat ilmuan itu menjadi buronan.



                Itulah sepotong kisah yang samar-samar gue dengar dari Didit. Iya, sebelumnya gue pingsan dan sekarang sebenarnya sudah mulai sadar. Namun gue tetap berpura-pura tidak sadar karena... gue ada dipangkuan Stella (ntar, gue ketawa dulu). Huehehehe.

                Perlahan gue dengar lagi, Didit seperti menunjukkan suatu foto. Gue dengar juga, ada keluhan dari Ve. “Ini bokap gue...”

                “Waduh!” Gue segera bangkit dan ikut melihat juga. S*it, gue ketahuan pingsan bohong-bohongan.

                “Jiaaaah... ada yang baru bangun dari surgaaa,” celetuk Abeck. Gue cuma nyengir.

                Sekarang kita sudah berada di villa. Di ruangan ini, kami semua berkumpul setelah semua berhasil diselamatkan. Iya, semua : Gue, Adit, Budi, Ega, Abeck, Ozi, Didit, Stella, Melo, Ve, Sendy, Ochi, Dhike, Ayu, Sonia. Plus Cindy dan Sonya. Saat ini, hanya Kak Rica yang keberadaannya belum diketahui.

                “Eh, ini kotak bukannya yang bisa ngebuka cuma kakak loe, ya?” tanya gue ke Didit. Iya, kotak itulah, yang memberikan info tentang sejarah pulau ini. Berisikan tentang beberapa tulisan lusuh dari kertas yang tidak kalah lusuh. Beberapa foto dan keterangan lain juga tercantumkan. Gue perhatikan lagi lebih jelas foto empat ilmuan itu. Persis seperti foto yang gue dan Budi temukan di jalan setapak. Bedanya, di sini ada empat orang, termasuk Ayah Ve dan orangtua Gaby. Seorang lagi, ada sesosok pria yang gue sendiri merasa tidak asing saat melihat wajahnya.

                “Kok, gue ngerasa nggak asing, ya, liat muka orang ini...” kata gue sambil menunjuk ke pria yang sepertinya gue pernah lihat entah di mana itu.

                “Kita emang pernah ketemu dia, ‘kan?” kata Didit ke gue, lalu diikuti anggukan yang lain. “Mungkin karena itu juga, kenapa loe bisa ngebuka kotak ini...” tambah Didit lagi.

                “Gue?” Pertanyaan gue dijawab oleh Melody. “Iya... tadi waktu dibangunan itu, loe sempat nggak sadar dan ngebuka kotak itu. Habis itu, pingsan, deh...”

                Kejadiannya tidak disangka banget. Ternyata dua tahun yang lalu, gue pernah mengalami pingsan yang sama saat sebelumnya sempat mengalami ‘kerasukan’. Paman di foto itulah, yang mengobati gue. Kebetulan waktu itu lagi musim liburan (pertama Didit membeli pulau ini) dan pengunjung sedang banyak-banyaknya. Dan kebetulan juga bertemu paman itu yang sedang mampir di pulau ini. Gue samar-samar mengingat. Kenyataannya, teman-teman gue masih sangat ingat dan tidak menceritakan ke gue soal kejadian itu. Karena itu gue sempat lupa hingga sampai saat ini, gue sudah ingat semuanya.

                “Kita cuma nggak mau bikin loe kepikiran aja, tentang pulau ini. Karena loe pernah ngalamin hal yang sama pas kita liburan dulu.” Jelas Ega.

                Gue kentut sebentar. Gue merasa semakin keren karena menganggap diri gue sendiri sebagai salah satu ‘kunci’ misteri pulau ini. Kepala gue pening lagi.

                “Trus... apa rencana kita selanjutnya? Kakak loe belum ketemu ‘kan?” kata Adit ke Didit. Semua memasang wajah penuh tanya yang sama.              

                “Yang jelas, kita nggak boleh berpencar lagi...” Cindy perlahan berbicara. Sepertinya efek ‘kesambet’ pada dirinya sudah mulai hilang.

                Budi yang melihat Cindy berbicara dengan dibumbui wajah yang penuh rasa takut, merangkulnya dan berbicara, “Udah... kamu tenang dulu, oke? Kita juga nggak bakal terpisah lagi.” Lalu Budi pasang wajah layaknya seorang pujangga yang telah lama tidak bertemu sang belahan hati.            

                Cindy tersenyum, seolah merasa istimewa di hati Budi (oke, ini puitis juga). Gue lihat Didit berusaha berpikir. Hmm...

                “Gue sama Aziz deh, yang nyari kakak gue,” Didit bangkit dari lamunannya.

                “Iya deh... Gue juga ngerasa bisa ngebantu. Apalagi dengan gue bisa ngebuka kotak itu, mungkin aja bisa buat gue ngebuka-buka hal lain. Hohoho.” Instruksi dari gue kelihatan konyol.

                “Gue ikutan, deh.” Tiba-tiba Budi ikut berbicara. Yang paling kaget, tentu Cindy.

                “Jangan...” Cindy memohon.

                “Nggak apa-apa, kok. Lagian aku ini kebal loh... Hehehe. Kamu istirahat aja, ya, sama yang lain. Yakin deh, aku pasti balik.” Lalu Budi mengeluskan tangan ke poni rambut Cindy.

                Cindy terlihat pasrah sebentar, lalu tersenyum sambil berkata, “Iya deh... aku tunggu, ya...” *kalau pakai emoticon,Cindy bakal pakai emot :)  *

                “Yaudah... kita let’s go” seru gue dengan komposisi bahasa Inggris seadanya.

                “Kalian saling menjaga di sini ya... buat cowok-cowok, jangan sampe pada molor, loh.” Didit berpesan sebelum kami pergi.

                “Iyaa... tenang aja. Kita bakal jagain para bidadari ini,” kata Ega dengan senyum sumringah. Tangannya sibuk pegang-pegang tangan Ve.

                “Paling yang dijagain cuma Ve doang, mah, kalo si Ega.” Adit bersabda.

                Kami sempat merasa santai sebentar karena kelakuan Ega. Sampa tiba saatnya, ketiga orang ganteng ini harus memulai petualangannya. Dhike menyampaikan salam hati-hatinya buat gue. Adik yang baik. Gue lihat Stella, dia tersenyum sambil mengangguk. Seolah berkata kalau dia mendukung petualangan ini dengan harapan gue akan kembali dengan selamat.

                Di ambang pintu, Sonya sempat menarik tangan Didit. “Maaf ya, tadi... aku bener-bener nggak sadar. Baru tau juga karena kamu cerita barusan. Maaf ya... cepet balik...”

                Didit hanya tersenyum. Lalu dia bicara sok ganteng, “Demi Onya, aku pasti balik! Hehehe”

                Semua memasang wajah ‘cieeee’ atas adegan perpisahan antara Didit dan Sonya. Sembari pintu depan villa tertutup dari dalam, tiga pemuda ganteng ini melangkahan kakinya menuju pembongkaran misteri bagian akhir...

**

Untuk episode selanjutnya (part 28); “Di bagian akhir pemecahan misteri, Kak Rica ditemukan bersimbah darah di daerah pantai. Perlahan, kejadian-kejadian mengungkap tentang siapa sebenarnya keluarga Didit sehingga membuat Kak Rica memikul beban yang berat”.

Tunggu kelanjutannya, ya!






No comments:

Post a Comment

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)