Ini Ximin

Sunday, February 24, 2013

Fanfic 'For Stella' Part 28; Pembongkaran Misteri 'Bagian Akhir'




‘For Stella’ adalah cerita fiksi bersambung dengan genre “komedi-romantis”. Penulis, Aziz Ramlie Adam, adalah seorang fans salah satu member JKT48 yang bernama Stella Cornelia. Berkat integritasnya dalam mengidolakan idol group yang satu ini, maka melahirkan inspirasi tersendiri untuk menghasilkan Fanfic for Idol ini.

Episode sebelumnya (part 27); “Perlahan pembongkaran misteri pulau Didit, mulai menemukan titik terang. Dengan adanya perlakuan Cindy dan Sonya di bangunan yang berbau, serta kembalinya ingatan Aziz tentang sosok pria yang pernah ditemuinya dua tahun lalu, memberikan petunjuk demi petunjuk akan kebenaran”. Selengkapnya bisa baca DI SINI.

Berikut adalah episode terbaru (part 28), happy reading, guys!


Pembongkaran Misteri ‘Bagian Akhir’

Sepoi-sepoi angin pantai di tengah malam seperti ini berhasil membuat gue tidak berhenti mengeluarkan cairan yang khas sekali, dari hidung. Gue lihat Didit yang hanya memakai baju hangat, nampak sangat biasa dengan cuacanya malam ini. Entah apa karena dia pemilik pulau ini, atau karena ketebalan tubuhnya memang sangat efektif untuk situasi seperti ini. Lain lagi dengan Budi. Gue bahkan tidak sempat menghitung sudah berapa kali dia memasukkan telunjuk tangannya ke hidung, dengan dalil kebersihan. Oke, gue tahu ini sebenarnya tidak penting.

Selama perjalanan sendu yang seolah memakai soundtrack lagu-lagu Om Sammy ini, kami banyak berbicara banyak hal. Tentang rentetan kejadian aneh sejak kemarin, tentang pulau ini, tentang kebenaran, tentang kejombloan gue, juga tentang ‘kenapa Patrick nggak pernah pakai celana dalam?

“Jadi… sepertinya, apapun yang masih bergentayangan di pulau ini, nggak betah sama kedatangan kita…” keluh Budi.

“Iya juga, sih… Kejadian cewek-cewek yang kesambet juga pindah-pindah gitu…” kata gue.

“Kesimpulannya… sebenarnya ada dua sejarah berbeda di pulau ini. Pertama, tentang virus seratus tahun yang lalu. Kedua, tentang buronan yang ngebuat kebun pohon-boneka di belakang. Ini seperti kolaborasi gitu…” Didit menambahkan.

“Hmm… jadi dua setan ini ceritanya duet, ya…” kata Budi, sambil mengelus dagunya.

“Kalo menurut pikiran orang bodoh, yaa… kayak gitu, deh…” Didit berkata dengan wajah polos.

“Jadi loe ngatain gue bego, gitu??!”

“Udah… udah…” gue mencoba membawa mereka kembali pada kenyataan kalau kita bertiga sedang dalam misi yang penting. Pembongkaran misteri bagian akhir…

Memang kalau gue pikir, saat ini terjadi dua kasus dalam pulau ini, di mana dari masing-masing kasus ingin menguasai ‘tumbal’ sendiri. Jika dianalisa lagi, yang terjadi pada Cindy adalah akibat dari kejadian seratus tahun silam. Sedangkan Stella, adalah ‘tumbal’ dari kejadian beberapa tahun lalu di mana arwah buronan yang pernah bersembunyi di pulau ini, sibuk bergentayangan untuk mendapatkan persembahan bagi para arwah seratus tahun yang lalu.

Kalau Sonya itu pengalihan dari arwah yang sempat menyerang Stella, berarti sekarang kedua arwah dari kasus yang berbeda itu sedang bersemayam di suatu tempat. Ahh… bukan. Mungkin kedua arwah itu lagi mengincar seseorang…’ gue mencoba berpikir sembari melangkahkan kaki menelusuri pantai. Berbeda dari sebelumnya, saat ini pantai sangat sepi… Tidak ada tanda-tanda kehidupan biarpun dari lautan.

“Ah!” Gue terkaget karena baru saja merasakan sakit di bagian kepala, lagi. Persis seperti kejadian di atas bangunan berbau busuk tadi.

“Kenapa, Ziz?” Budi dan Didit menghampiri gue.

“Entah… tapi gue rasa, kita perlu nemuin Kak Rica secepatnya. Banyak yang mau gue tanya,” kata gue sambil perlahan mencoba jalan kembali.

Malam itu… gue merasa akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan…



“Ahhh…” Budi sejak tadi menjulurkan lidah seperti seorang yang kepanasan karena bertahun-tahun menjomblo di gurun pasir. “Gue capek…”

“Iya, sih… gue juga…” tambah Didit. Menurut hipotesa gue, mungkin berat badannya berkurang sekitar 3 kilo karena pencarian ini. Gue sendiri merasa tidak fit, karena jelas saja… kita sudah jalan MENGELILINGI pulau. Dan itu… CAPEK!

Akhirnya kami bertiga sampai di titik awal kejadian aneh sepanjang hari ini. Iya, di pos tempat bapak-bapak misterius menunggu kami untuk di antar ke villa Didit, saat baru pertama sampai di sini.

“Perasaan gue makin nggak enak…” keluh gue yang memang merasakan ada sesuatu yang ganjil. ‘Tapi… apa…?

“Jangan dipaksain dulu, Ziz. Ntar kepala loe malah tambah pening,” kata Budi.

“Emm…”

Sedang tenggang sebentar, tiba-tiba tidak sengaja Didit melihat ke arah jalan setapak. Dia sempat terkaget sebentar hingga membuat gue dan Budi bertanya-tanya. Kami berdua melihat ke mana Didit juga melihat. Dan alangkah terkejutnya kami, ketika melihat bapak-bapak misterius yang awalnya mengantarkan kami itu, sedang asik menghisap rokok sambil berdiri santai di pinggiran jalan setapak.

“Ah!” Kepala gue bereaksi kembali. “Hey!! Kakek tua!! Ngapain di situ??!!”

“Woy, kakek bangkotan!! Jawab, jangan nyengir doang!!” Budi juga ikutan emosi. Mungkin masih sakit hati karena bapak itu pernah membohongi kami berdua saat mencari Cindy tadi siang.

“Eh! Bego banget loe, ngatain bapak itu. Kesambet baru tau rasa, loe!” seru Didit ke Budi… tapi dengan bisik-bisik.

Bapak itu mendekat… dan semakin mendekat. Kami bertiga, malah melakukan sebaliknya. Perlahan… mundur…

Ini bukan masalah ketakutan anak muda pada seorang bapak berusia lanjut, tapi lebih kepada anak muda, yang takut dengan segerombolan setan! Iya… di belakang bapak itu, telah berjalan sekitar puluhan boneka jadul yang persis seperti yang kami lihat di hutan bagian dalam gerbang tua. Mungkin tidak semua, tapi sebagian dari boneka itu saja bahkan sudah cukup untuk membuat kami tidak bisa mengeluarkan suara.

Perlahan bapak itu semakin mendekat. Boneka-boneka yang mengikutinya di belakang, perlahan juga terlihat semakin menyeramkan karena efek cahaya bulan yang posisinya hampir tepat di atas kepala. Kami bergidik. Mengerikan…

“Hoyy!! Berenti!! Dasar kakek setan!!” teriak Budi lagi.

Setan?’ pikir gue. “Jangan-jangan anda… Si Buronan?!” Gue berteriak juga.

Bapak itu hanya tersenyum. Perlahan ia berhenti tidak jauh di hadapan kami bertiga. Mungkin orang tua ini sengaja tidak melangkah lagi, agar kami tidak semakin mundur ke belakang. Saat ini… tepat di belakang kami adalah jurang belakang pulau yang memisahkan pulau ini dengan kota. Tentu akan mematikan walau hanya satu langkah saja kami berjalan ke belakang.

Kami terjebak…

Bapak itu perlahan menggerakkan mulutnya. Entah bahasa apa yang ia gunakan, kami tidak mengerti. Sampai akhirnya, sesuatu terjadi… untuk menjawab pertanyaan kami.

Terlihat dari sini, perlahan muncul sinar merah di langit, sekitar villa Didit. Tidak lama kemudian kumparan asap hitam menyusul. Hingga akhirnya, percikan api mulai terlihat seolah ingin mencapai langit. Villa Didit… terbakar…

“Dit! Gimana, nih?! Semuanya masih ada di sana!!!” Budi mulai panik. Bagaimana tidak, Budi baru saja menemukan Cindy dan memberinya kesempatan untuk beristirahat. Tapi malah jadi seperti ini.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!” Kepala gue seperti mau pecah. Bukan. Seperti akan… menghilang.

“Ziz?!!!” Didit mencoba memapah gue agar bisa berdiri. Sebelumnya gue hampir saja jatuh ke belakang. Ke jurang.

“Cihh!! Kakek sialan!!!” teriak Budi dengan ancang-ancang ingin maju ke arah bapak itu.

“Jangan, Bud!” Gue menghalangi. “Gue sudah paham… biarin aja…”

“Ha??” Mereka berdua bingung mendengar kata-kata gue. Baru saja, gue mendapat bisikan yang langsung menembus saraf otak gue. Baru saja juga, semua sejarah pulau ini, berputar di kepala gue. Semua.

“Makasih, dasar kakek tua… Hehehe,” kata gue sambil tertawa. Perlahan rasa sakit di kepala gue sudah mulai lenyap. Berasamaan dengan itu, bayangan bapak tua dan boneka-bonekanya itu, juga ikut menghilang.

“Maksud loe, apa, Ziz?” Didit bertanya.

“Ntar gue ceritain, ya. Yang penting kita ketemu yang lain dulu.”

Kami bertiga menuju jalan setapak. Selama berlari, Budi tidak hentinya menyebut-nyebut nama Cindy dengan nada khawatir. Gue tersenyum sebentar, lalu ikut memanggil-manggil Stella juga. Gue lihat Didit. “Mau nyebut nama siapa?”

Didit juga sedikit tersenyum. Saat itu, kami bertiga benar-benar khawatir dengan orang yang kami sayangi. Sembari membelah jalan setapak, di tengah kesunyian hutan yang bersatu dengan lirih percikan api, kami bertiga berteriak…

“SONYA!!!”

“CINDY!!!”

“STELLA..!!!!!”



“Uwaaahhh!! Cin, kamu nggak apa-apa kan? Mana yang lecet? Biar aku pijit!” seru Budi saat bertemu Cindy yang sebenarnya tidak kenapa-kenapa.

“Nggak apa-apa, kok. Kamu juga kayaknya nggak kenapa-kenapa. Tadi nggak sempat kesambet setan, kan? Hohoho…” balas Cindy.

“Emang kamu lupa? ‘Kan kamu yang kesambet. Huehehehe…” Budi tertawa dengan lepas. Dasar pasangan aneh.

Gue lihat yang lain pada ketakutan juga. Kini kami tengah menelusuri jalan menuju arah pantai. Lagi-lagi jalan kaki… Maklum, nggak ada angkot yang trayek-nya di wilayah ini. Kami menjauh dari kepulan asap dan panasnya hawa api yang membakar villa Didit. Menuju pantai bersama-sama seperti ini mungkin jalan yang terbaik untuk saat ini.

Di paling depan ada Adit. Melody yang terlihat sedikit gemetar karena peristiwa kebakaran tadi, dengan erat merangkulkan tangan kirinya di pinggang Adit. Wajahnya terlihat ketakutan. Ega di samping mereka, berjalan perlahan sambil menggenggam tangan Ve.

Ozi, Ochi, Abeck, dan Sendy, mengikuti di belakang mereka dengan saling bergandengan tangan satu sama lain.

Di tengah- tengah, ada Didit dan Sonya. Kelihatan wajah mereka saling khawatir satu sama lain. Didit khawatir akan kebakaran itu yang mungkin akan mengakibatkan sesuatu kepada Sonya. Sedangkan Sonya sendiri terlihat khawatir melihat Didit yang nampak kelelahan setelah semalaman melakukan pencarian bersama gue dan Budi.

Di depan gue, ada Budi yang dengan eratnya tidak melepaskan genggaman Cindy. Sejak kami tiba di pulau ini, mereka adalah pasangan yang mengalami ujian terberat. Wajar jika satu sama lain tidak ingin berpisah lagi. Tangan kanan Cindy juga memegang erat Ayu yang terlihat lebih shock karena peristiwa tadi.

Barisan paling belakang ada gue, dengan merangkul adik gue, Dhike, di sebelah kiri. Gue benar-benar mengkhawatirkan adik cerewet gue yang satu ini. Namun, ada seorang lagi yang ‘paling’ gue khawatirkan. Sosok gadis berparas manis dengan wajah sedikit pucat di sebelah kanan gue. Stella. Tangannya menggenggam erat jari-jari gue. Sementara di sisi lain, dia merangkul Sonia, adiknya.

Benar-benar penuh keheningan. Hingga akhirnya kami berkumpul di arah pantai. Mungkin ini adalah daerah paling aman saat ini. Jauh dari hutan yang menyeramkan. Serta terjaga dari kobaran api yang bisa saja akan meluas untuk melahap pepohonan di sekitar villa.

“Jadi… gue mau cerita sesuatu…” Gue memulai pembicaraan. Saat ini kami telah duduk di pinggiran laut dengan beralaskan batang pohon besar yang ditemukan Didit, Ega, dan Abeck. Karena menjelang subuh, air yang sedang pasang telah menyentuh kaki-kaki kami. Dengan penerangan seadanya, berupa beberapa senter yang sempat diselamatkan dari villa, gue menjelaskan apa yang gue lihat sewaktu bertemu bapak tua di belakang pulau tadi.

“Pertama, yang perlu kalian tau, villa itu dulunya adalah tempat tinggal seorang Dokter Gila yang mencoba melakukan eksperimen terhadap para korban penyakit seratus tahun silam. Lalu… bapak yang mengantar kita saat pertama datang ke pulau ini, adalah buronan yang kabur sekitar lima puluh tahun lalu”

“Sudah gue duga…” Abeck berbicara. Sendy menenangkan dengan menggenggam semakin erat jari jemari Abeck.

“Trus… orang yang pernah ketemu kita dua tahun lalu waktu liburan pertama kali di sini, adalah anak dari buronan itu.”

“Hah?! Temennya bokap gue itu?” Ve merespon.

“Yaa…” Gue menarik nafas sebentar. Gue lihat di sebelah gue, Stella memberikan senyuman. Benar-benar penambah semangat tersendiri buat gue.

“Sebenernya yang masukin pikiran gue selama ini, sampai gue jadi sering ngerasa kalau kepala ini mau pecah pas tiba di pulau ini, ya bapak tua itu”

“Ha??!” Kali ini hampir semua teman-teman gue terkaget.

“Iya… jadi tadi gue dapet gambaran gitu, dari si bapak-bapak yang gue, Didit, sama Budi ketemuin di belakang. Begini…”



Tidak sedikit yang tahu, jika pulau ini menyimpan setidaknya beberapa titik timbunan emas murni yang terletak di suatu sudut pulau. Dokter Gila penghuni villa, adalah pengincar pertama lahan emas itu. Namun, karena tempat ini malah menjadi tempat pengasingan, Dokter yang haus akan eksperimen itu melupakan hasrat akan harta, demi tujuan lain yang dianggapnya lebih penting.
Dokter itu sering melakukan eksperimen yang di luar logika. Beliau mencoba mencari jalan penghubung, antara dunia manusia dengan dunia roh, agar ia bisa menghidupkan kembali orang mati. Tempat eksperimen sekaligus wadah ritualnya, adalah bangunan berbentuk tabung yang berbau busuk itu. Namun semua hanya semu. Sampai akhirnya, Dokter itu tewas secara mengenaskan di villa, karena pekatnya teror pulau ini.

Selang berpuluh tahun kemudian, seorang buronan yang melarikan diri ke pulau ini sempat masuk ke dalam villa tua yang tidak berpenghuni lagi itu. Villa bekas Dokter Gila. Villa Didit yang terbakar…

Melihat serpihan seperti pasir berwarna putih, Sang Buronan, atau Si Bapak-Tua-Belakang-Pulau, makin terkejut saat melihat sebuah tengkorak kepala manusia. Masih utuh, masih kuat, dan tanpa debu… Semenjak saat itulah, Sang Buronan juga sering mengalami keanehan. Salah satunya dengan mengoleksi boneka di kebun belakang pulau. Bagi dia, itu dilakukan agar arwah para anak perempuan pada seratus tahun silam, bisa tenang dan tidak meminta tumbal.

Selepas meninggalnya Sang Buronan, datanglah Ayah Ve, orangtua Gaby, dan anak sang buronan itu sendiri. Tentu saja Anak Buronan itu tidak memberitahukan identitas sebenarnya kepada Ayah Ve dan kawan-kawan. Hanya saja, mereka memang kebetulan memiliki keahlian di bidang yang sama.

Di tengah penelitian mengenai tumbuhan beracun dan anggapan atas kekejaman pemerintah zaman dulu, anak buronan itu sempat menetap agak lama di villa Dokter Gila, tanpa ingin ditemani. Rupanya ia telah menemukan catatan harian si Dokter Gila sehingga tiba-tiba menjadi berhasrat juga untuk menemukan tambang emas yang kabarnya ada di pulau ini. Sampai akhirnya keempat ilmuan itu kembali dan menjadi incaran pihak pemerintah, hanya sang anak buronan lah yang sering mampir ke pulau ini untuk memulai ritual hasil pembelajarannya dari catatan si Dokter Gila.

Langkah pertama diambil dengan membeli pulau ini sekitar 10 tahun yang lalu. Tentu saja pulau ini dibeli atas nama istri dari Anak Buronan itu. Karena Anak Buronan itu pun, sudah menjadi incaran aparat juga. Selanjutnya, setelah sekian tahun membeli pulau ini, pengunjung tetap sepi dan kebanyakan hanya beberapa turis lansia yang sekedar numpang lewat. Sampai akhirnya, lima tahun lalu, si anak buronan itu menemukan sebuah keluarga yang diterornya agar menyerahkan anak gadis untuk dijadikan tumbal. Anak gadis itu… Kak Rica.

Saat itu, lima tahun yang lalu, Kak Rica datang sendirian ke pulau ini karena terus-terusan mendapatkan teror tidak menyenangkan baik di rumah maupun di kampusnya. Ancamannya sederhana. Jika teror ini diceritakan kepada orang lain, maka teror itu juga akan menghantui orang itu. Kak Rica yang tidak ingin melibatkan keluarganya, berniat untuk menyelesaikan sendiri permasalahan ini.

Sesampainya di pulau itu, terjadi sesuatu yang di luar kendali si anak buronan itu. Kak Rica yang awalnya akan dipersembahakn di altar berbentuk tabung dan bau itu, tiba-tiba menghilang dan terjadilah… putri satu-satunya dari anak buronan itu yang menjadi tumbal pertama ritualnya. Semenjak saat itu, anak buronan itu terus-terusan menghantui Kak Rica dengan berbagai dalil rasa bersalah. Kak Rica yang sepertinya terpaksa, karena diberi ancaman ‘keluarga yang akan menanggung’ akhirnya membantu anak sang buronan untuk mencari tumbal selanjutnya. Hingga sekarang, Cindy adalah salah satu ‘calon’ tumbal yang terselamatkan.



“Bego banget… Cuma gara-gara salah bedain antara ‘catatan harta’ dan ‘catatan eksperimen gagal’, semua jadi rumit begini” kata Adit sambil menghela nafas.

“Bener, tuh. Gara-gara Si dokter aneh bin ajaib itu nyatat semua kegiatan absurd-nya dengan label ‘catatan harta’ malah jadi salah paham sampai temen bokapnya Ve ikutan sesat..” Ozi menambahkan.

“Ya… gitu, deh. Awalnya memang karena harta, mungkin karena itu judul catatan Si dokter itu ya tentang harta. Tapi karena dia udah ngelupain itu, karena udah sering eksperimen, malah catatannya jadi sesat. Haduuh…” gue meberikan kesimpulan.

“Tapi…” Stella tiba-tiba menyela, “Katanya waktu kalian ke sini dua tahun yang lalu, Aziz sempat jadi aneh gitu ya?”

“Yaelaah… Aziz dari zaman dinosaurus masih belajar ngupil, juga udah aneh kaleee…” Budi asal cerocos. Gue pasang wajah model penggosok jamban.

“Iya, sih… Kalau dipikir-pikir, kenapa waktu itu malah si anak buronan itu yang nyembuhin loe pas kejang-kejang?” Melo ikut nimbrung.

Simple aja, sih… Mungkin dia tau kalo badan gue lagi jadi ‘tempat’ arwah bokapnya, Si buronan tukang ngumpulin boneka itu. Bisa saja sebenernya niat Si buronan adalah memperingatkan kesalahan anaknya, melalui gue. Habisnya, niat Si buronan menetap di pulau ini hanya ingin menentramkan arwah anak gadis dengan cara hanya menumbalkan boneka. Bukan manusia kayak anaknya dan kayak dokter gila di zaman dulu. Maka itu, pulau ini memiliki dua kasus. Pertama, para korban dokter gila. Dan kedua, para roh anak gadis penikmat boneka…” Gue memperjelas.

Kini, misteri pulau ini sudah bisa terbaca jelas. Sampai tiba-tiba… Didit menundukkan kepalanya.

“Kenapa…?” Sonya yang sejak tadi berada di sampingnya, adalah orang yang paling pertama merespon perubahan sikapnya.

Didit perlahan mengangkat kepalanya. “Tapi… kenapa harus keluarga gue?”

Kami terdiam. Gue sendiri, jujur, belum mendapatkan bayangan apa-apa tentang alasan kenapa keluarga Didit, khususnya Kak Rica, menjadi terlibat dalam kasus mengerikan ini.

“Cuma dia yang bisa ngejawab, Dit… Kak Rica. Kakak loe…” Gue hanya bisa mengucapkan itu.

“Kalau gitu… tunggu hari sudah terang aja, deh… kita lanjutin…” kata Didit, dengan nada putus asa.

“Heey… Kak Rica itu kakak loe. Masa nggak khawatir?” tanya Budi yang kelihatannya masih punya semangat untuk melakukan pencarian sekali lagi. Hedeeh… dasar anak muda…

Didit kembali menundukkan wajahnya.

“Aku rasa bukan begitu…” tiba-tiba Sonya bersuara kembali. “Justru karena Kak Rica adalah kakak Didit, makanya dia percaya, kalau kakaknya kuat dan pasti bisa melalui ini semua… Selain itu, kita nggak mungkin ‘kan berbuat aneh lagi, sampai terjadi sesuatu yang membahayakan lagi? Kak Rica sudah berjuang. Kita malah sia-sia-in.”

Budi mengangguk karena merasa kena khotbah special dari sepupunya sendiri.

Kalau gue pikir-pikir sih, benar juga apa kata Sonya. Mungkin lebih baik… tunggu suasana benar-benar aman. Nanti jika saat itu tiba, kemungkinan besar Kak Rica juga akan bertahan demi kami. Ya…

Hari semakin dingin. Angin bertiup kencang dengan tidak teratur di sini. Perlahan kami lihat api di villa sudah mulai meredup dan syukur saja, tidak menyebar ke hutan. Perlahan kami terlelap dalam lamunan masing-masing. Khususnya gue, ini benar-benar ulang tahun ter-kampret-WOY sepanjang kehidupan gue.

Gue lihat Dhike yang menggandeng tangan gue di sebelah kiri, mulai menyandarkan kepalanya di bahu gue.

“Tidur aja, kalau capek…” kata gue.

“Nggak kok, Kak… Aku masih tahan. Hehehe…”

“Dasar kamu ini…”

Di samping kanan gue, Stella terlihat sedang mengelus ubun-ubun kepala adiknya. Kasih sayang Stella terhadap adiknya sudah tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Gue… semakin merasa… suka…

Pukul tiga kurang lima menit.

Cuaca semakin dingin. Hidung gue bahkan sudah tidak sanggup mengeluarkan cairan lagi. Iya… cairannya malah sudah membeku. Beberapa hidung amatir seperti Ega dan Ozi, sejak tadi tidak henti-hentinya berlomba mengeluarkan (maap) ingus, sehingga memenuhi pasir pantai. Kami hanya terlindungi oleh beberapa lapis baju hangat. Ternyata masih tidak bisa menahan hawa pantai ini.

“Agak kepinggiran, yuk… Lagian apinya juga udah padam..” tiba-tiba Ayu berbicara. ‘Betul juga…’ batin gue menyetujui.

“Ayuk deh… makin dingin, nih…” seru Abeck yang sejak tadi selalu menempel ke Sendy. Alibinya sih, kedinginan. Untuk alasan lain, gue belum bisa ceritakan aib-nya. Muehehehehe.

Saat sedang menuju ke arah darat, tiba-tiba terdengar seperti ada suara kaki yang mengejar. Dari arah… laut…

Sontak kami mencoba memperhatikan. Adit mengarahkan senternya ke arah laut. Benar saja, Kak Rica, sedang berusaha mengejar kami dengan langkah terseok-seok dan seluruh tubuh… dipenuhi darah.

“Kakak!!” Tanpa pikir panjang, Didit lalu menghampiri Kak Rica yang muncul entah dari mana itu. Masa iya, dari dalam laut?

Didit merangkul kakak yang paling disayangnya itu. Perlahan ia memapahnya, dan menuntun langkah Kak Rica menuju tempat kami berkumpul.

“Kak… kenapa kakak bisa kayak gini?” tanya Didit yang sedih melihat Kak Rica yang tubuhnya dipenuhi darah.

“Hahaha… dasar cowok unyu kamu, ya. Tapi adek yang baik…” Lalu Kak Rica tersenyum. Yang lain memasang wajah heran. Gue juga demikian. ‘Kenapa Kak Rica bisa sesantai ini…?

“Ada yang bisa pinjemin jaketnya nggak?” lanjut Kak Rica.

“Ah.. kebetulan gue pakai 3 lapis jaket” kata Budi, lalu melepas jaket yang dikenakannya paling luar.

“Yeaaaay… pantes dari tadi dia sok tegar sendiri. Jaketnya banyak…” Cindy melirik sinis ke arah Budi.

“Loh… bukannya kalau aku keren, kamu juga yang bangga.” Budi sumringah.

Kami semua tertawa melihat gaya kocak pasangan ‘kecil’ ini.

Kembali ke Kak Rica, ia menggunakan jaket tadi untuk membersihkan darah yang memenuhi wajah, tubuh, bahkan pakaiannya. Ternyata… tidak ada bekas luka sedikitpun.

“Loh… kok bisa gitu, Kak?” tanya gue.

“Hehehe… ini bukan darah aku… Ini darah hasil kerja keras kalian.”

“Ha??!” Kami semua tidak mengerti.

“Semenjak meninggalnya anak pemilik pulau terdahulu, keluarga aku dikenakan semacam kutukan. Dan jika ada yang berhasil menggagalkan ritual, yang bukan dari anggota keluargaku, maka kutukan itu akan lepas..”

“Waduh… rumit dimengerti, Kak. Malah kayak cerita Sinetron Laga,” celetuk Adit.

“Hahaha… Tapi bukan itu masalahnya. Kita coba anggap kalau kutukan itu memang suatu hal yang lumrah. Dan ke permasalahan utama… Kenapa harus keluarga Kak Rica?” tanya gue lagi.

“Iya, Kak. Kenapa harus keluarga kita?” Didit menambahkan.

“Itu karena… komando barisan depan pemerintah saat insiden seratus tahun yang lalu, adalah keluarga Pandoras…”

“Ooohh…” semua mulai memahami. Iya, nama panjang Didit adalah Didit Carl Pandoras. Sedangkan kak Rica, adalah Rica Yoona Pandoras. Misteri ini benar-benar sudah menemukan titik terang.

“Bisa dibilang, keluarga kita adalah penyebab mengapa pulau ini jadi tempat yang mengerikan…” kata Kak Rica kepada Didit. Didit hanya mengangguk. Menurut gue, anggukannya itu bukan tanda mengerti, melainkan tanda kalau dia kelaparan.

Kruyuuukk~

Ternyata… perut gue yang duluan berkicau.

“Ziz, nyaring banget bunyi perutnya. Ahahaha,” kata Stella dengan penuh tawa.

“Aaah… itu suara kentutnya Budi”

“Eh, kampret… gue kalau kentut nggak mengerikan begitu. Weee,” Budi membalas disertai juluran lidah. Tiba-tiba…

Preeeeeeeeett… prututut… tetut tetut… preet…

Budi kentut.

“WOAHAHAHAHAHAHA!!!”

Semua tertawa, seiring dengan berakhirnya misteri pulau ini, dan persiapan mental untuk menyambut pagi yang indah…




Untuk episode selanjutnya (part 29); “Segala macam kegalauan akan misteri pulau milik Didit telah terpecahkan. Selagi menunggu pagi, keindahan weekend yang sebenarnya, telah dirasakan Aziz dan kawan-kawan”.

Baca kelanjutannya, DI SINI

No comments:

Post a Comment

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)