My Best 'Brother' Friend




“Ziz, tadi sore Oyi kecelakaan… “

“Waduh! Tapi nggak apa-apa, ‘kan?”

“Sekarang sih, masih gak kenapa-kenapa”

“Yaudah…”


Gue mengakhiri SMS dengan salah seorang teman gue yang berada di Samarinda. Dia baru saja mengabarkan kalau salah satu sahabat baik gue selama SMP, mengalami kecelakaan kendaraan bermotor.

Gue memang agak khawatir. Namun, karena dulu dia juga pernah jatuh seperti itu (malah tepat di depan Polres), lalu akibatnya biasa saja, gue sempat acuh dan mendoakan agar cepat sembuh.

Malamnya, sekitar pukul sembilan malam, gue mendapat kabar tidak baik dari adik sepupu Oyi, namanya Astie. Sungguh kabar yang sangat tidak menyenangkan. Astie bilang, ‘Kak Oyi masih belum sadarkan diri sejak tadi sore, Kak…’ Sejak kabar itu menghampiri, gue semakin susah tidur. Dan benar saja, semalaman gue hanya sibuk chatting dengan beberapa teman Oyi di Samarinda.

Beberapa kali gue merasakan firasat yang tidak baik, hingga sekitar jam lima subuh, Astie kembali menghubungi gue. Tidak… kabar ini bukan yang gue, dan semua kerabat Oyi inginkan. Karena kenyataannya, setelah kurang lebih 12 jam melawan masa kritis, sahabat sekaligus saudara gue itu, pergi untuk selamanya…

**

Kejadian itu terjadi tepat dua tahun lalu. Iya… tanggal 13 Februari 2011. Saat itu gue masih kelas dua SMA. Di saat para penikmat cinta sedang menanti 14 Februari, gue justru sempat menghina apa itu ‘cinta’. Kejadian ini juga yang membuat gue selalu menanamkan pikiran, “Bullshit dengan pacar! Sahabat itu adalah sesuatu yang lebih bisa mengisi hari kita. Huh! Cinta itu cuma mainan anak-anak!”

Akhirnya sekarang gue sadar… bukan ‘cinta’ yang salah.

Oyi adalah sosok sahabat yang paling tidak bisa gue lupakan. Dia adalah sosok ‘kakak’ yang selalu mengajarkan hal-hal baik kepada gue. Jika dilihat sekilas, mungkin kami ini tidak cocok karena perbedaan sifat antara ‘konyol’ dan ‘bijaksana’. Namun siapa sangka, di situlah, kami belajar untuk saling mengisi.

Gue kenal dengan Oyi sejak awal masuk SMP. Lebih tepatnya, sejak kami satu kelas pada kelas dua. Dia termasuk anak golongan pintar yang berparas tampan. Tidak sombong, itulah sifatnya. Kami jadi akrab karena semenjak satu kelas, kami selalu pergi dan pulang sekolah bersama-sama. Kebetulan rumah kami berdekatan.

Sehari-hari, gue dan Oyi semakin akrab dari sebelumnya. Sampai gue sempat terharu dengan panggilan ‘saudara’ yang keluar dari mulut penggemar Charlie (St12) ini. Iya… bagi dia, gue adalah sosok saudara, adik, sekaligus sahabat. Sungguh gue tidak sanggup berkata apa-apa saat itu.

Gue ingat setiap dia mampir ke rumah gue, dia selalu mencari nenek gue dulu untuk bersalaman. Bagi dia, nenek gue adalah neneknya juga. Begitupun sebaliknya. Gue juga sering berkunjung ke rumahnya dan memang dalam satu hari, selain di sekolah, kami pasti selalu bersama entah itu di rumah salah satu dari kami atau di tempat nongkrong lain.

Oyi menyukai warna ‘merah’. Semua aksesoris berwarna merah sangat tertata rapi di kamarnya. Sifat berani yang dimilikinya benar-benar membuatnya sangat pantas bila disebut si Merah. Namun, di balik keberaniannya atas apapun, jujur, yang paling dia takutkan hanya Tuhan, Orangtua, dan Semua guru yang telah membimbingnya.

Benar saja, sosok kakak yang bijak ini sangat menyayangi orangtuanya. Gue yang sudah tidak punya orangtua ini jadi sering merasa iri dengan kehidupan Oyi yang masih didampingi orangtua. Namun, seolah mengerti, dia sering kali berkata begini pada gue, “Orangtua aku, ya, orangtua kamu juga… Kita ‘kan saudara. Hehehe”.

Penghormatan pada orangtuanya tidak hanya diperlihatkan dari segi belajarnya selama bersekolah. Sekarang gue mau tanya, adakah di antara loe semua yang pada saat sedang sibuk tiba-tiba ditelepon orangtua yang rindu, lalu kalian bicara sebentar dan menutup telepon dengan terburu-buru? Pasti ada. Namun apakah loe pernah memikirkan bagaimana perasaan orangtua loe kala itu? Apakah beberapa saat setelah kesibukan loe selesai, loe bakal telepon orangtua loe buat minta maaf?

Oyi selalu melakukan itu.


Bicara masalah asmara, sekiranya sebagai anak muda, gue tentu sering berbagi cerita tentang siapa saja cewek akan gue gebet. Dan kebanyakan, Oyi adalah seorang yang selalu tahu pertama, akan list cewek-cewek yang gue taksir.

Namun, selama jutaan kisah gue tentang cewek, Oyi tidak pernah mau membagi ceritanya. Dia cenderung ‘tidak memikirkan’ tentang urusan cewek. Padahal bisa dibilang kalau dia itu adalah salah satu cowok yang banyak disukai kaum hawa. Sifat ‘cowok’ hampir ada pada dia semua.

Selama gue dan teman-teman lain sibuk membuka mulutnya karena ingin tahu siapa sebenarnya cewek yang disuka oleh dia, pertama kali dia memberitahu semua itu adalah… ke gue. Ternyata, sejak kelas 5 SD sampai kelas 1 SMA dia hanya terpikat pada satu cewek. Adik kelas kami waktu SMP. Setahun lebih muda.

Ternyata, siapa sangka, menjelang ‘hari akhir’-nya ia malah terpikat dengan vocalist band gue. So, kekeluargaan di antara kami semakin meluas walaupun kenyataannya waktu sudah tidak menginginkan itu lagi…

            Gue tidak bermaksud menceritakan ‘aib’ atau apapun itu, di tulisan ini. semua fakta. Dan semua adalah kenangan yang berarti buat gue.

**

Kembali ke dua tahun silam. Gue yang sudah tidak dapat menahan tangisan, memegang erat bantal dan menutupkannya ke wajah gue sendiri. Meski tidak ada yang melihat gue menangis, namun gue tidak ingin kelihatan cengeng karena gue yakin… Oyi melihat. Dia selalu mengajari gue bagaimana jadi lelaki. Tapi tanpa sadar, hingga pagi menjelang… gue masih tidak bisa menghentikan tangisan itu.

Siang harinya, gue dan seluruh kerabat almarhum, berkumpul ke rumahnya sembari menunggu jenazah ‘kakak’ gue itu yang telah diberangkatkan dari Samarinda sejak tadi pagi. Perjalanan dari Samarinda menuju Tana paser (daerah asal gue) membutuhkan waktu kurang lebih tujuh jam.

Setelah sekian lama, menjelang Ashar, gue dan teman-teman yang sejak tadi menunggu tiba-tiba dikejutkan dengan suara sirine mobil ambulance. Telinga gue benar-benar sakit saat mendengar sirine itu. Perlahan teringat lagi kejadian saat nyokap gue mengalami hal yang sama tahun 2004 lalu. Apalagi saat itu gue sebenarnya sedang sakit. Namun gue paksa untuk datang demi melihat kakak gue ini, untuk yang terakhir kalinya.

Akhirnya mobil telah tiba di halaman rumah almarhum. Gue menunggu dengan menahan tangis, tepat di bagian belakang mobil itu. Saat jenazah telah dikeluarkan, alangkah terharunya gue dan semua yang berada di sana. Almarhum Oyi di selimuti dengan kain berwarna… merah.

Perlahan satu-persatu kerabat almarhum, termasuk gue, mengeluarkan airmata yang tidak henti. Bagaimana tidak? Siapapun tahu jika warna favorit almarhum adalah warna merah. Dan di saat seperti ini, dia tetap ingin mempertahankan icon-nya itu. Perlahan gue membayangkan, betapa sok wajah dia yang tersenyum bangga saat berkata, “Aku ini… suka banget sama warna merah! Hehehe!”

Untuk selanjutnya, jenazah almarhum dimandikan, dikafani, disholatkan, dan dimakamkan selayaknya proses pemakaman bagi umat Islam. Gue sudah tidak mampu menangis. Gue lihat, Arien, vocalist gue sekaligus pacar pertama dan terakhir almarhum, tidak henti-hentinya melantunkan doa. Almarhum adalah pria yang setia, dan Arien sangat merasa beruntung telah menjadi cewek yang paling disayang oleh almarhum hingga akhir masa-nya.

**

Setiap pulang kampung, gue sudah punya tujuan utama. Yaitu, pemakaman. Kakek gue, nyokap, dan sekarang… ‘kakak’ gue, akan selalu gue kunjungi jika pulang kampung. Perlahan hati gue sudah mulai terbiasa pada kenyataan kalau kakak gue sudah tidak ada lagi untuk menasehati gue. Untuk men-support gue. Untuk berkata… ‘Kita adalah saudara’.

Sifat almarhum yang terlalu baik di mata gue, tentu tidak bisa semuanya gue jabarkan menjadi tulisan. Terlebih lagi, pengalaman-pengalaman menyenangkan semasa ‘bersaudara’ dengan dia. Terlalu indah…

Gue hanya bisa berharap, dia akan datang lagi ke mimpi gue dan memulai lagi semua petuah mautnya untuk membimbing gue. Hehehe… gue memang sudah beranjak dewasa. Namun, proses menuju kedewasaan ini, tidak akan berjalan baik tanpa dia.


Terima kasih atas semuanya yang telah kamu berikan, selama ini. Atas persahabatan yang kuat, dan rasa persaudaraan yang tidak tergoyahkan.


My Best ‘Brother’ Friend … Muhammad Aulia (Oyi).







No comments:

Post a Comment

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)