Ini Ximin

Tuesday, February 12, 2013

Paket liburan semester : Cinta satu menit





*Lagu dangdut Melinda terdengar dari kejauhan*

Hoy hoy… posting-an kali ini masih ada hubungannya sama post di bawah. Iya… masih tentang liburan kemarin waktu gue pergi ke Bontang.


Jadi, sekiranya sebagai anak muda yang memiliki wajah SNI (Standar Ngenes Indonesia), tentu sehari-hari gue nggak akan jauh dari kehidupan asmara (gagal). Sekarang, gue akan menceritakan seorang cewek yang sempat mengisi hati waktu liburan kemarin.

Namanya, Rizky. Dia adalah teman kakak sepupu gue. Tapi… tetap seumuran gue, kok. Dia ke Bontang karena menghadiri pemakaman keluarganya. Dia asli dari Magelang.

Sekitar akhir Januari, Rizky yang sudah satu bulan di Bontang dan selalu berdiam diri di rumah keluarganya, memutuskan untuk cari-cari kerja dan terdamparlah ia di sebuah stand pameran merk handphone Samsung, di salah satu event di Bontang. Nah, kakak sepupu gue kebetulan waktu itu juga jadi SPG kayak dia, maka mereka bertemu dan menjalin pertemanan.

Jadi waktu itu hari sabtu, kebetulan gue yang habis makan sore (iya… kerjaan gue di sana kan, makan aja) sedang tertatih menuju tangga sambil memegang perut. Sampai di lantai dua, gue melihat kamar kakak sepupu gue tertutup. 

Berarti ada nih, si Seram,’ pikir gue.

Gue bersantai di ujung anak tangga paling atas, sambil mendengarkan playlist lagu-lagu AKB48. Volume-nya sengaja nggak gue putar nyaring supaya bisa dengar suara pintu kamar kakak sepupu gue kalau dia keluar. Gue mau ambil flash disk yang ketinggalan di dalam kamarnya.

Saat sedang asyik ngupil, tiba-tiba …

BRAK! (suara pintu ditutup dengan paksa)

Gue menoleh, sambil membuang upil dan tanpa melihat dulu, gue bicara sembarangan, “Woy! Ribut banget! Gue kira nuklir Jepang meledak! Pelan-pelan, dong!”

“Eh?”

“Waduh!”

Gue kaget. Ternyata, bukan kakak sepupu gue. Sekarang di depan gue sedang berjongkok, eh, maksudnya berdiri, seorang cewek yang nggak gemuk, nggak kurus, nggak berkulit hitam, dan nggak pria. 

Tidak lama kemudian, kakak sepupu gue keluar.

“Eh… udah ketemuan? Hihihi,” kata kakak gue dengan ketawa ala kuntilanak lagi malakin tukang parkir.

Cewek itu menyodorkan tangannya yang aduhai ke arah gue, seraya mengajak bersalaman. Gue menyambut salam cinta itu.

“Rizky…” kata dia, pelan.

“Aziz…” kata gue, sambil senyum-senyum dalam hati, ‘Yes! Lama nggak pegang tangan cewek!

Setelah adegan perkenalan tanpa back sound, dia pergi menuruni tangga bareng kakak gue.

“Hati-hati yoo…” kata gue.

“Ky, dibilangin Aziz ‘hati-hati’ tuh,” kakak gue menjawab dengan senyum licik.

“Iya. Emang buat dia, kok. Yeee”

Setelah itu, selama beberapa hari gue selalu kepikiran sama Rizky. Mau minta nomor hape dari kakak gue, itu cewek jarang pulang ke rumah. Mau nge-SMS dia, hape jarang aktif. Koplak tuh, preman.

**

Sampai lah gue pada malam terakhir di Bontang. Malam Rabu, Selasa malam. Rencananya Rabu pagi gue bakal balik ke Samarinda karena udah kangen banget sama toilet di kost. Nah, malam terakhir itu, gue bareng kakak gue jalan-jalan gitu keliling Bontang.

Awalnya, dia pengin ngajakin pacarnya. Gue sih, nggak terlalu perduli. Cowoknya nggak cantik. Namun, karena cowoknya lagi ada latihan pukul Bedug buat kegiatan Masjid, jadi gue cuma jalan berdua bareng kakak gue. Kita jalan-jalan ke Bontang Kuala.

“Bete, ah… jalan berdua sama kakak doang,” gerutu gue sambil ngemut jagung bakar.

“Hohoho… sebenernya tadi mau ngajakin Rizky, tapi udah kemaleman katanya. Dia nggak enak sama keluarganya. Kalo ngajak dari tadi sore, jadi dia bisa jalan cepet-cepet…” kata kakak gue seraya meraup potongan jagung bakar.

Gue lihat jam tangan masih jam delapan. Hebat juga ni cewek, jam segini dibilang kemaleman.

Akhirnya, sepulang dari Bontang Kuala, selama diperjalanan, banyak cerita antara gue dan kakak gue, tentang si Rizky. Gue makin tertarik dan sempat kentut sebentar waktu ingat kalau gue harus pulang besok! Dan Risky, harus pulang tanggal 10!

Padahal gue punya tugas penting buat pulang Rabu ke Samarinda. Namun, demi menjunjung sila ke-3, Persatuan Indonesia, maka gue memutuskan untuk pulang hari Kamis. Alasannya simple, karena kakak gue bilang, “kalau besok, si Rizky bisa jalan. Cowok kakak juga bisa jalan, supaya kita jadi double date gitu”. Gue mimisan.

Besoknya, seharian gue nyukur kumis. Tampang terlalu tua ini sangat melankolis bila disaingkan dengan kumis-kumis naga di sinetron. Gue juga belajar cara bedakan supaya bisa tampil oke di depan Rizky. Gue juga beli baju v-neck keren yang setelah gue pakai, malah membuat gue jadi artis sekelas Olga. 

Lama gue menggeliat menunggu malam tiba. Dan tiba menjelang maghrib… hujan turun deras hingga besok pagi gue pulang ke Samarinda.

Sekian… cinta dan pertemuan satu menit gue. Agak nyesek, tapi ya, udah cukup bahagia karena akhirnya gue bisa pegang tangan cewek lagi. Iya, pas salaman buat kenalan!

Muach.







No comments:

Post a Comment

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)