Ini Ximin

Friday, February 08, 2013

Putra Mahkota Amat Mude




Hai, nama gue Amat Mude. Seorang anak berumur delapan tahun yang sekarang sedang memiliki wajah yang tampan sekelas artis Korea. Oke, gue juga tidak tahu letak Korea itu di mana. Namun yang jelas, menurut kisah-kisah perantau yang sering gue temui, mereka yakin kalau gue tampan. Cukup.

Sekarang gue sedang berjongkok di sebuah pinggiran sungai. Bukan… gue bukan sedang melakukan ritual suci yang melancarkan pencernaan. Gue lagi memancing, men. Maklum, lah, untuk membantu nyokap yang setiap hari bekerja, gue juga perlu mencari makan untuk meringankan beban nyokap.

Gue dan nyokap sebenarnya adalah keluarga raja terdahulu negeri ini, Negeri Alas, Nanggroe Aceh Darussalam. Bokap adalah raja yang arif dan bijaksana. Namun saat gue masih sangat kecil dan bahkan masih memiliki kentut yang wangi, beliau wafat dan meninggalkan tahta kepada Pacik gue yang bernama Raja Muda. Jelas saja karena waktu itu gue masih terlalu imut dan belum pantas untuk memimpin negeri.


Namun, menurut cerita nyokap : Raja Muda menyingkirkan gue dan nyokap karena sudah terlanjur nyaman menjadi raja, serta takut tahtanya jatuh ke tangan gue. Alhasil, gue dan nyokap dibuang di tengah hutan seperti ini. Ironis memang. Dunia kerajaan memang kejam, sobat. Beruntunglah kalian yang sudah merasakan Pilkada secara sehat tanpa main hukum rimba.

“Amat…“ terdengar nyokap gue memanggil.

“Eh… Mama,” gue menoleh dengan wajah khas anak kelas 2 SD. Karena waktu itu belum ada sekolah, jadi ya SD itu cuma khayalan gue saja.

“Dapat berapa, hari ini, nak?” tanya nyokap.

“Ini… ada 5 ekor, Ma. Besar-besar, loh. Lumayan kalo dibakar, makan pake kecap”

“Hahaha… sebesar itu mana bisa kita makan semua. Bagaimana kalau kita bawa ke kota dan kita jual?”

“Waah… keren, Ma. Lama banget aku nggak ngecengin cewek-cewek kota,” seru gue. Nyokap menatap sinis. Gue ketawa mesum. Lanjut…

Sesampainya di kota, nyokap bertemu dengan seorang pria paruh baya yang memiliki kumis eksotis. Setelah berbincang cukup lama, pria itu mengajak gue dan nyokap untuk mampir ke rumahnya. Ternyata, pria itu adalah salah seorang sahabat mendiang bokap. Dia prihatin dan mencoba membalas kebaikan bokap dengan membeli semua ikan tangkapan gue serta mengajak makan bersama di rumah.

Gue histeris. Akhirnya setelah sekian lama, bakal bisa makan enak di rumah mewah. Tanpa memikirkan di sana sudah punya PlayStation atau belum, gue menyetujui dan kami pun berangkat ke rumah Paman Kumis Eksotis itu.

Sesampainya di rumah Paman Kumis, gue langsung tidur-tiduran karena merasa nyaman bisa mampir ke rumah yang terhitung elite seperti ini. ‘Huh… seharusnya gue itu, kan, bersantai di Istana…’ pikir gue.

“Waaaah!!” tiba-tiba terdengar sebuah jeritan histeris dari arah dapur. Layaknya James Bond, gue segera bangkit dari posisi semula : tidur sambil ngupil; dan segera menuju dapur dengan langkah pelan dan teratur.

“Ada apa, wahai istri ku?” tanya Paman Kumis Eksotis kepada istrinya, yang sedang membersihkan ikan-ikan tangkapan gue tadi.

“Ini… lihatlah, Kanda…” lalu istri Paman Kumis Eksotis itu mengeluarkan sebongkah telur emas dari dalam perut ikan tangkapan gue. Kereeen.

Gue mimisan.

Alhasil, Paman Kumis Eksotis menyuruh istrinya untuk menjual emas itu dan uang hasil penjualannya dipergunakan untuk membeli beberapa bahan makanan dan pakaian yang layak.

Seusai jamuan makan di rumah Paman Kumis Eksotis, gue dan nyokap berpamit untuk kembali ke gubuk kami di hutan. Iya… gue tinggal di gubuk. Mukanya biasa aja, dong. Gini-gini gue sebenarnya Putra Mahkota kerajaan.

“Ini… wahai permaisuri raja, bawalah… Kami hanya bisa memberikan ini. Hitung-hitung balas budi atas perlakuan baik mendiang Raja kepada saya, dahulu,” kata Paman Kumis Eksotis, sambil memberikan pakaian dan persediaan makanan.

“Aduh… tidak perlu repot-repot, Pak…” kata nyokap, ngeles.

Dua detik kemudian nyokap sudah menggenggam semua pemberian itu.

Kami pulang ke gubuk. IYA GUE TINGGAL DI GUBUK.

**

Keesokan harinya, gue kembali berinisiatif untuk pergi memancing. Keinginan gue dari dulu sih, bisa mendapatkan Putri Duyung. Keren, ‘kan? Lebih ‘wow’ dari emas deh, kalau dapat Putri Duyung.

Akhirnya, saat mendapat beberapa ekor ikan lagi, gue memeriksa perut mereka satu per satu. Ada yang kenyal-kenyal (enak), ada yang kasar seperti memiliki bulu dada. ‘Hmmm’. Ada yang keras seperti ada sesuatu.

“Emas, nih,” gumam gue. Lalu setelah gue membawa pulang dan meminta nyokap untuk membuka perutnya. Ternyata benar. Emas lagi.

Gue dan nyokap kembali menjual ikan itu kepada Paman Kumis Eksotis yang pada hari itu sepertinya mengalami perubahan. Ya, kumis sebelah kanannya terlihat lebih pendek 5 milimeter. Mungkin terkena obat nyamuk bakar atau dipotong istrinya kali, ya? Gue juga bingung.

Hari itu, emas kembali dijual oleh Paman Kumis Eksotis dan hasil penjualan digunakan untuk membeli rumah kecil di sekitaran situ. ‘Yes, akhirnya gue nggak tinggal di gubuk-gubuk tengah hutan lagi’.

Semakin lama, semakin sering gue mendapatkan ikan bertelur emas. Dan semakin tinggi juga timbunan harta di rumah gue. *ketawa licik*

Sampai akhirnya suatu hari, saat umur gue sudah beranjak dewasa, gue dipanggil ke Istana. Waktu itu berita tentang kekayaan gue dan nyokap sudah tersebar ke seluruh penjuru negeri. Dalam benak gue kala itu, mungkin Sang Raja memanggil gue karena pengin hutang duit. Mungkin….

Sesampainya di Istana, gue menghadap Raja saat itu. Ya, raja ini adalah Pacik gue sewaktu masih kecil. Seharusnya tahta ada di tangan gue, bukan di bawah bokongnya. Oke, gue tahu, ini sinetron laga banget.

“Ada keperluan apakah Baginda memanggil hamba untuk menghadap?” tanya gue sembari memberi hormat.

“Ck.” Sang Raja sinis menatap gue, “Kamu akan saya hukum mati”.

“Eh??” gue terenyuh. Sesaat gue ingin sekali memanggil elang gue untuk keluar dari sana.

“Hahahahaha!” Raja tertawa dan menimbulkan bau yang mengerikan.

“Begini... wahai Amat Mude…” lanjut Sang Raja, “Permaisuri ku sedang mengalami keadaan kritis. Satu-satunya yang bisa menyembuhkan penyakt itu adalah buah Kelapa Gading yang terdapat di sebuah pulau di tengah lautan…”

“Trus, gue harus bilang ‘wow’ sambil menari-nari bareng Super Junior, gitu?” kata gue. Eh bukan, maksudnya… “Lalu… apakah tugas hamba?”

“Pergilah ke pulau itu!! Dapatkan buahnya! Jika tidak… hidup mu akan berakhir di tiang gantungan! Muahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha!”

Oke, ketawanya memang berlebihan.

**

Sekarang gue sedang di perjalanan menuju pulau di tengah laut, yang konon katanya, laut sekitar situ dihuni oleh binatang-binatang buas. Gue dapat info penting itu dari anak-anak Kaskus. Eh, maksudnya… dari beberapa Tetua negeri gue.

“Hmm… itu pulaunya,” kata gue. “Tapi… menuju ke sana gimana caranya, ya?” gue berpikir lagi. Pulau itu terlihat dari sini, berada tepat di tengah laut.

Tiba-tiba, saat gue sedang duduk termenung dipinggiran pantai, sembari memikirkan cara untuk menyeberang, muncul sesosok ikan raksasa dari dalam lautan. ‘Mantep, nih. Kalau dibawa pulang, bisa buat persediaan makan sampe gue punya cucu,’ pikir gue.

“Siapakah kamu anak muda??” tanya ikan besar itu.

“Kamu yang siapa?” gue balik bertanya.

“Namaku… Ikan Silenggang Raye!”

“Namaku… Amat Mude!”

Kami bersalaman.

(Eh, buka gitu, ding! Pokoknya dia marah-marah gitu sama gue. Bukan jabat tangan. Ini ceritanya nyerempet ke mana, sih?)

Tidak lama kemudian, muncul juga Sang Raja Buaya dan Naga Besar. Oke… oke… penggemar sinetron laga, mari berkumpul.

“Siapa kamu???” tanya mereka.

“Uhuk!” gue mulai berbicara, “Aku adalah… Amat Mude! Seorang putra mahkota dari raja sebelumnya, yang diasingkan karena Pacik ku, raja sekarang, ingin sekali mendapatkan tahta kerajaan.”

“Ah!” mereka terkaget, lalu membungkukkan badan (bayangkan sendiri kalau Naga bungkuk, itu gimana) dan memberi hormat.

“Wow… kenapa kalian memberi hormat kepadaku? Ganteng kah, aku?” Oke, bagian ‘ganteng’ memang karangan gue.

“Sesungguhnya saat kau diberi nama oleh Sang Raja dulu, ayahmu, beliau mengundang kami untuk hadir dalam jamuan pestanya.

Gue menggangguk. Dalam hati, gue berpikir, ‘bokap hebat juga, ya, bisa mengundang para makhluk ini. Keren dah pokoknya. Sinetron laga banget!

Akhirnya gue diantar oleh ketiga makhluk besar itu. Loe bayangin aja gitu, naik Naga! Kadang gue bergantian naik ke atas Buaya, tapi badannya bau. Gue ke Ikan Silenggang Raye, keren, sih. Tapi… badannya licin gitu. Yang jelas, lebih enak naik Naga sih, kalau menurut gue.

“Yap…” seru gue, saat sudah sampai di pulau tengah laut itu.

“Ini… ambillah wahai Putra Mahkota,” kata si Naga Besar, sembari memberikan sebuah cincin ajaib.

“Apakah ini, wahai Bro Naga?”

“Itu cincin ajaib wahai Putra Mahkota. Dia akan membantumu mewujudkan keinginan untuk memanjat pohon kelapa gading itu.”

“Oke… makasih ya, wahai Bro Naga.”

Gue menuju sebuah pohon kelapa gading yang memang satu-satunya di pulau itu. Dengan sedikit komat-kamit, tanpa terasa gue sudah sampai di atas pohon. Cincin punya Bro Naga memang keren.

Saat gue memetik buah kelapa, yang juga satu-satunya di pohon ini, terdengar suara.

“Barang siapa yang mendapatkan kelapa itu, akan menjadi suami ku…” kata suara horor itu.

“Ah? Siapa itu?”

“Aku adalah Putri Niwer Gading…”

“Hm…” gue bergumam. Lalu segera loncat menuju arah bawah. Gue berhasil mendarat… dengan kepala duluan.

Saat bangkit dan berbalik arah, gue mimisan sebentar. Ada sesosok cewek. Cantiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiik banget. Saking cantiknya, gue sudah menahan pipis kala itu.

Singkat kata singkat celana, kami berdua pulang ke rumah gue, dan melanjutkan kehidupan sebagai pasangan suami-istri. Gue sudah tidak jomblo. Yeah!

**

Usai pesta pernikahan, gue baru ingat kalau kelapa gading pesanan raja belum diantarkan. Gue, istri, dan nyokap, bergegas menuju Istana.

Sesampainya di sana, Sang Raja sudah menunggu dengat senyum licik karena berpikir kalau gue pasti gagal. Tapi…

Jreng! Jreng!

Raja ngompol di tempat.

“Kamu berhasil menemukannya?”

“Benar, Baginda…” kata gue, lalu memberi hormat.

Akhirnya buah itu berhasil menyembuhkan istri raja. Di saat-saat seperti itu, Raja seperti sadar akan sesuatu. Ternyata kebutaan akan kekuasaan telah membuatnya khilaf. Dan dengan ikhlas, dia memberikan tahta keajaan kepada gue.

Gue tidak marah terhadap Raja Muda. Bagaimanapun, dia hanyalah seseorang yang sempat terkalahkan oleh nafsu setan. Akhirnya gue dan keluarga kemballi ke Istana, dan seperti cerita-cerita legenda pada umumnya… Kami… hidup bahagia selamanya.

Muach.

**


N.P: Ditulis kembali oleh, Aziz Ramlie Adam, dengan perubahan sudut pandang 

*Baca cerita aslinya, DI SINI*








No comments:

Post a Comment

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)