Berjalan dari Dalam Hati

2013/03/29

Aziz dan Kasus Anak Hilang


 Posted by : Neneknya Aziz




*Peluk-peluk guling*

Ah maaf, gue baru bangun tidur dan masih terbawa suasana alam mimpi. Gue baru saja mimpi keren banget. Yaitu pulang kampung, dan ketemu Stella Cornelia lagi bersih-bersih kamar gue. Entah suatu pertanda apa ini. Biasanya, hal ini akan bertanda kebalikannya dimana berarti kelak, mungkin gue akan jadi pembantu pribadinya...

Alasan gue untuk langsung nulis adalah, gue punya cerita memilukan yang sudah lama terjadi. Gue cuma takut kisah kusam ini akan basi dan tidak seru lagi untuk gue ceritakan. Kisah usang ini terjadi kira-kira dua hari yang lalu.


Jadi malam Kamis lalu, gue pergi ke mal tempat Om gue biasa mangkal. Iya... kerja gitu deh. Seperti yang pernah gue ceritakan waktu posting DI SINI. Waktu itu gue sudah jarang banget ke sana karena beberapa hari Kota Samarinda selalu di guyur hujan sehingga banyak menyebabkan anak ikan yang masih lucu-lucu, hanyut ke jalanan (baca: banjir) di beberapa titik rawan di Samarinda.

Karena lama tidak mampir ke sana, gue merasakan nostalgia yang tinggi. Salah satunya adalah tidak melepaskan pandangan mata dari salah satu (calon) gebetan gue, anak kelas 2 SMA yang ikutan kerja part-time di mal sana. Namun semua berubah saat gue lihat di outlet hape sebelah, ada SPG baru yang cantik banget. Maklum, semenjak jadi tuna asmara beberapa abad silam, gue jadi gampang terpengaruh kalau lihat cewek cantik.

Waktu itu gue lagi memperhatikan SPG baru yang menawan dan sepertinya berumur lebih tua dari gue itu. FYI, tampang gue tua begini, umur baru 18 tahun loh. Mungkin respon kalian akan sama seperti orang lain yang baru kenal gue : “Gileee.. tampang preman kusut yang sudah melakukan tindak kejahatan selama jutaan tahun ini, masih berumur 18 tahun???!”. Tapi memang benar, gue baru delapan belas tahun bernafas di muka bumi ini.

Nah, waktu itu tiba-tiba gue terkaget dengn sebuah keributan. Seorang Ibu yang punya usaha bordir tiba-tiba menangis. Gue kaget. Om gue kaget. Pak SBY kaget, takut kena demo karena jalanan Jakarta bakal macet banget.

Gue bertanya-tanya ‘ada apakah gerangan?’ sambil memasang wajah yang serius. Mau tahu gimana wajah gue kalau lagi serius? Pernah lihat foto Einstein yang pose-nya nggak melet? Nah... kayak gitu deh.

Gue akhirnya mencari tahu jawabannya. Hingga mbak-mbak paruh baya yang jualan obat kuat di samping tempat Om gue bilang, “Anaknya Mbak itu hilang, yang sering dibawa ke sini”.

“Wah... bahaya itu Mbak. Jangan-jangan ini ada hubungannya sama kasus penyerangan LP Cebongan?” ucap gue.

Suasana jadi hening sejenak.

Gue segera melupakan sejenak tentang kasus penyerangan LP tersebut. Gue kembali fokus ke kasus Eyang Subur dan Arumi Bachin yang akan menikah. Bukan... maksud gue bukan berarti Eyang mau menikah dengan Arumi. Gini loh... jadi kasus Eyang Subur itu berita lain... Sedangkan berita Arumi itu lain sendiri juga. (Maaf, jadi berasa infotainment gini).

Nah, waktu itu gue jadi ikutan panik. Gue pun berusaha bergabung ke satuan khusus yang menangani kasus ini (baca : karyawan bordir). Tentu saja pasukan ini dibentuk atas keinginan mereka sendiri, karena yang hilang adalah anak bos mereka. Bisa gawat kan, kalau bos mereka galau sampai-sampai mereka tidak diberi gaji selamat satu windu.

Melihat pasukan khusus dan beberapa super hero (baca : security mal) sudah mulai beraksi, Om gue pun terlihat memasang wajah serius. Gue pikir dia pasti juga ingin ikut membantu. Dia menghampiri gue dan segera berkata, “Aziz! Bantulah mereka, Om lagi malas buat lari-lari”. Gue ngeden.

Oke saja lah. Gue pun turut berpartisipasi. Gue segera memanggil mammoth peliharaan gue, lalu menungganginya menuju misi ‘pencarian mammoth-mammoth lain yang masih hidup’.

Salah cerita sepertinya...

Gue pun ikut berkeliling mal (tanpa ada mammoth). Setelah kurang lebih lima menit, gue kembali ke pangkalan karena dehidrasi akut. Gue merasa gagal sebagai detektif.

Saat sedang asik menyeruput minuman, gue lihat ‘Sang Ibu’ dari anak itu masih menangis. Di sebelahnya ada ibu-ibu lain, yang juga pemilik salah satu outlet di mal ini. Dia sudah paruh baya, tapi selalu pengin kelihatan modis. Hubungan antara fashion dan wajahnya memang kurang harmonis.

Terlepas dari kecocokan modis antara ibu paruh baya itu dan pakaiannya, gue dengar sedikit pembicaraan yang menegangkan antara Ibu sok modis itu dengan Ibu yang anaknya hilang.

“Sabar Mbak... pasti ketemu kok...”
“Iya... saya tahu. Saya cuma takut jika memikirkan hal yang terlalu berlebihan... Hiks...”
“Iya juga sih, Mbak. Waduh! Gimana kalau ternyata dia ikut masuk ke dalam mobil orang, dia tertidur, lalu dibawa pulang Mbak. Hiyy... itu kan seram banget”

Si Ibu anak hilang itu pun terdiam sebentar, lalu kembali menangis dengan frekuensi yang makin membahana. Dasar Ibu sok modis yang kelewatan. Dia tidak tahu bagaimana menyemangati seseorang.

Gue yang mendengar pembicaraan itu pun jadi berpikir. Memang sih, anak itu suka keliling mal dan kadang ikut-ikutan orang belanja. Tapi gue rasa terlalu mustahil kalau dia sampai di parkiran, apa lagi sampai masuk ke mobil orang lain. Gue mencoba menganalisa kemungkinan lain yang kira-kira seperti ini :

“Hm... Si Anak masih berusia sekitar empat tahun. Badannya pendek dan keplanya botak. Mungkin dia sedang bermain di area tumpukan baju diskon! Wah... bahaya. Bagaimana jika dia terbeli oleh seorang warga negara Jerman??!! Kampret! Enak banget! Umur empat tahun sudah jalan-jalan ke Eropa!!! Gimana nih?! Gue kalah banget!!! Gue waktu kecil ke Jepang cuma buang pipis di sekitaran stasiun! Melinda Dee apa kabarnya??! Arumi Bachin masih 19 tahun???!!!!!!”

Gue muntah darah.

Gue pun segera kembali ke tim pasukan khusus dimana mereka sedang menguras seluruh jamban mal di setiap lantai. Hebat... pengorbanan mereka untuk dapat gaji memang pantas dapat rekor dunia. Gue pun menyarankan untuk mencari di tumpukan baju diskon.

Saat telah sampai di salah satu brand terkenal (terkenal akan tumpukan baju diskon), kami pun berpencar. Namun gue memutuskan untuk kembali lagi ke pangkalan karena menyadari satu hal. Di sana... tidak ada turis yang berasal dari Jerman...

Gue akhirnya menyerah pada misi. Om gue pun sudah terlihat lelah (karena kebanyakan duduk dan santai-santai) sehingga dia bilang mau pulang duluan. Gue ditinggal sendiri dalam keadaan yang memprihatinkan.

Tidak lama kemudian, saat gue sedang bersantai (minum kopi dari hidung), suasana kembali mencekam dengan tangisan histeris dari Sang Ibu anak hilang itu. Gue pikir mungkin dia sudah dapat telepon dari Kepolisian Jerman karena anaknya sudah sampai di Eropa sana. Tapi ternyata... sesuatu yang mengejutkan terjadi. Tepat beberapa saat sebelum mal akan tutup, anak itu ditemukan oleh salah satu pasukan khusus tadi. Terlihat anak itu sedang memegang sebuah kaset DVD bergambar film dewasa (sejenis Telletubies gitu).

Akhirnya, si Aziz (sebut saja begitu), berhasil ditemukan. Suasana kembali aman terkendali walaupun anak itu sedang memegang sebongkah DVD film dewasa. Ternyata dia ditemukan telah tergeletak di salah satu tempat penjualan kaset... di luar mal! Membahana! Anak yang cerdas!

Gue salut. Si Aziz sudah besar. Si Aziz sudah bisa keluar-masuk mal sesuka hati. Si Aziz sudah bisa beli DVD film dewasa...

Semua kembali aman terkendali. Sampai akhirnya (calon) gebetan gue datang menghampiri dan bertanya “Hmm... Kak, pulang sama siapa ntar?”

Gue senyum merekah. Om gue sudah pulang. Ini kesempatan langka! Gue bilang... “Seperti yang kamu lihat, aku sendirian. Ya pulang sendirian. Mau ojek neng?”

Dia tersenyum seperti biasa, “Iya dong.... Hehehe... Tunggu aku pulang, ya.”

“Sip!”

*Aziz lagi senyum-senyum sambil masukin bubuk kopi ke dalam hidung*

Gue pun pulang bersama cewek itu. Perkenalan kami yang sudah cukup lama (semenjak gue SMA) membuat suasana di jalan jadi tambah seru karena pada dasarnya gue ini memang suka ngoceh. Suasana kembali bertambah romantis karena dia mengajak gue makan. FYI, gue sama sekali tidak memperdulikan kenyataan kalau kami hanya makan berdua. Tapi... malam hari itu... DIA YANG BAYAR.

Terakhir, buat Si Aziz (anak hilang penggemar film dewasa), jangan hilang-hilang lagi ya. Kasihan mama kamu sampai menangis. Apalagi cuma buat beli kaset film dewasa. Dan buat Om-om turis dari Eropa sana yang lagi antri baju diskon, harap antri dengan benar dan jangan sampai terjadi baku hantam ya. Sudah cukup kasus LP Cebongan menguras perhatian masyarakat. Dan jangan jualan Metilon di Indonesia. Kasusnya rumit. Pffft...

           Sekian dan terima diskon!!

***

Original Story : Aziz Ramlie Adam
Writer              : Neneknya Aziz
Editing             :  Pamannya Aziz, Selingkuhan Aziz #TeamArticle





No comments:

Post a Comment

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)