Berjalan dari Dalam Hati

2013/03/19

Break Blogging : 'Belajar Dari Game Online'




“Nah, kamu masuk penjara tuh”

“Yaaah... Tapi nggak apa-apa. Nanti aku bayar ke bank buat lolos, terus nanti bisa jalan lagi”

“Hihihi... yang penting aku sudah punya hotel yang banyak”

“Nggak usah mengalihkan pembicaraan deh. Giliran kamu nih!”


Itu adalah percakapan singkat waktu gue main monopoli dulu. Permainan offline yang sering laris pas bulan puasa ini, adalah favorit gue dari zaman SMP sampe awal-awal SMA. Mainnya juga simple, pakai dadu sama lapangan khusus yang berisikan nama-nama negara. Plus, uang mainan yang membuat kita berasa jadi jutawan.

Permainan paling beken di zaman gue dulu

Gue masih ingat pada zaman itu, permainan gue tidak jauh-jauh dari monopoli, ular tangga, dan sebagainya. Yang virtual atau memakai media elektronik, paling-paling cuma main ular-ularan di hape jadul.

Selama SMP, gue juga menghiasi dunia game hidup gue dengan membeli sebuah PlayStation 2. Pada zaman itu, main game bola merupakan yang paling laris. Karena pada dasarnya sistem otak gue selalu mengatakan ‘tidak’ pada hal-hal yang berbau sepakbola, akhirnya gue memulai dunia PS dengan game yang menurut gue ‘laki’ banget. Yaitu... Harvest Moon.

Iya, main Harvest Moon itu menurut gue ‘laki’ banget. Kita belajar bagaimana pentingnya sebuah tanggung jawab dalam mengurusi perkebunan. Dan yang paling keren, pas sudah ‘menikah’ kita juga bisa punya lebih banyak hal menyenangkan.

Game paling 'laki'...

Sukses dengan Harvest Moon (yang setelah bertahun-tahun gue mainkan, tapi nggak tamat juga), gue beralih ke game seru lainnya yang bernama Bully. Ceritanya tentang anak baru di sebuah sekolah yang nakal dan hobi berantem. Gue merasa salah memilih Harvest Moon sebagai game ‘laki’, karena tentu game Bully ini jauh lebih laki. Mungkin karena game ini gue jadi sering masuk ruang BK pas masih SMA dulu.

Semakin hari, semakin banyak game PS yang gue mainkan. Sampai hati gue tersentuh saat memaikan game Resident Evil. Ini game galau banget. Pikirkan deh, gimana rasa kesepiannya, saat loe tinggal sendirian di kota yang semuanya adalah zombie. Galau banget...

Game PlayStation terakhir, yang gue mainkan

Perjalanan karir gue di dunia game juga semakin meningkat setelah gue mengenal yang namanya Spider Solitaire. Keren banget. Game yang ada di semua komputer ini berhasil bikin gue bangga karena bisa jadi salah satu pemain setianya. Walaupun di zaman itu sudah canggih dan sudah banyak om-om yang main Poker di Facebook, gue masih setia berkarier dalam dunia kartu-nya Spider Solitaire itu.

Lambat laun, semakin banyak game online yang eksis di dunia maya. Gue ingat, zaman Point Blank lagi booming banget,  gue masih sering main tembak-tembakan pakai pistol yang dijual beberapa hari sebelum lebaran. Kasihan... Gue sama sekali tidak memiliki skill di dunia game online.

Nah, kenapa gue jadi membahas tentang perjalanan gue selama nge-game?

Jawabannya adalah karena saat ini, gue sedang gencar-gencarnya memainkan game online. Padahal dulu, gue anti banget. Sering gue menemani teman gue main di warnet, gue malah ketiduran dalam waktu kurang dari lima menit. Gue merasa, game online cuma buang-buang waktu dan duit tentunya. Walaupun tidak jarang gue mendengr berita kalau ada orang biasa yang mendadak jadi jutawan setelah bertahun-tahun main game online.

Akhir-akhir ini juga, aktivitas gue dalam dunia blogging, terganggu karena gue tiba-tiba jadi kecanduan game online. Jadi ceritanya, sekitar tiga hari yang lalu, gue lagi galau karena teman-teman di kost udah pada tidur. Gue coba deh, cari game-game online yang bisa dimainkan tanpa di-download. Karena waktu itu lagi bete banget dan rasanya malas banget kalau harus download dan install apa-apanya dulu. So, gue nanya ke Om Google.

Ada beberapa game yang ‘katanya’ Om Google, bagus buat di mainkan. Gue pilih yang RPG dan bertema Saga gitu. Habis kedengarannya keren. Dan benar saja, gue jadi kecanduan salah satu game Saga yang keren banget. Tujuan gue saat itu mulia sekali : ‘Gue naik level sampai tinggi, dan kelak akan menikahkan Char (karakter di game) gue dengan Char orang lain yang ‘nama’-nya memakai nama wanita. Terserah deh, dia aslinya om-om lampu merah atau hansip kampung sebelah. Yang jelas, selama pakai nama akun cewek, pasti gue ajak chat #JombloKronis

Game Online pertama dalam hidup gue...

Sekarang, gue ingin mengaktifkan diri lagi di dunia blogging. Lama nggak buka akun google, pengunjung jadi sepi juga. Padahal baru beberapa hari tapi gue mulai ngerasa kehilangan sesuatu yang berharga. Iya, blog ini sudah seperti peliharaan gue yang selalu bikin gue senyum tiap lihat total visitor-nya. Namun, karena beberapa hari ini nggak ada ngecek blogger, akhirnya gue merasa jadi pria yang tidak bertanggung jawab dalam mengurus peliharaannya. Iya... pengunjung jadi sepi. Kalau ibarat supermarket, barang dagangan-nya sudah sempat kadaluarsa sebelum ada pembelinya.

Kembali ke game online tadi, gue menemukan sedikit pelajaran saat gue sempat kecanduan untuk nge-game dalam beberapa hari ini.

Hidup itu seperti game.

Iya, hidup kita bagai sebuah game online. Saat kita sign-up untuk pertama kalinya di dunia ini, kita masih berbentuk dasar. Lambat-laun, kita mengumpulkan banyak item untuk membentuk karakter kita. Log-out pada saat tidur, dan log-in kembali saat kita bangun dan akan memulai petualangan hidup lagi. Misinya juga bermacam-macam. Anak sekolah, misinya adalah tamat sekolah. Para pekerja, ya mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk persiapan ke misi ‘rumah tangga’. Bedanya, di game, ukuran level karakter ditentukan dengan angka. Sedangkan di kehidupan nyata, level keberadaan seseorang dilihat dari banyaknya respon positif akan kepribadiaanya.

Hidup itu, ya sebuah misi.

Oke, maaf kalau tulisan gue mendadak jadi galau begini. Tapi... gue hanya mau menyampaikan pendapat, kalau... : ‘Hidup ini kan, ada aturan dan perlu perjuangan, untuk mencapai level yang lebih baik’.

Sekian dulu ya. Anggap saja ini sebuah penebusan dari ke-tidak-aktif-an gue beberapa hari ini di dunia blogging.

Oh iya, saya punya kenalan yang sempat nawarin obat kuat. Berminat?





2 comments:

  1. Benar juga ya kalo dipikir-pikir...
    Hidup itu mirip sama game...

    Sebenarnya gue lebih prihatin sama anak-anak kecil pemain game online (terutama yang nongol di warnet).

    Anak-anak itu sangat terobsesi (lebih ke arah fanatik) ke game online. Saking fanatiknya, mereka bisa main seharian gak pulang rumah. Ada juga yang malah akting mirip karakter di game. Masih mending kalo mereka niruin karakter tipikal harvest moon (jadi rajin bekerja), coba kalo mereka niruin tokoh dari Tekken, CS, PB, CoD, dll... Brutal coy...

    Uang sekolah dipake buat bayarin hal-hal yang berbau game online.
    Anak-anak pada sering bolos sekolah dan mala ada yang tawuran cuma gara-gara game online.
    Edan coy...

    Intinya, gue hanya ingin menambah pesan:
    Game (baik online ataupun offline) itu memang berfungsi sebagai entertaiment dan pengusir stress. Tapi alangkah baiknya, Orang tua mengawasi permainan apa yang dimainkan anak, apa pengaruhnya dan bagaimana caranya dia bisa nyampe di game tersebut.
    Diperlukan juga kesadaran dari yang memainkan game tersebut.

    Gue menyampaikan pesan ini sebagai gamer tanpa ada maksud menyinggung gamer-gamer lain.
    Mohon tempe... eh, maaf, maksud saya mohon maaf sebanyak-banyaknya jika ada yang tersinggung.

    Salam gamer!

    ReplyDelete

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)