Berjalan dari Dalam Hati

2013/03/06

Fanfic 'For Stella' Part 29; Awal Yang Baru




‘For Stella’ adalah cerita fiksi bersambung dengan genre “komedi-romantis”. Penulis, Aziz Ramlie Adam, adalah seorang fans salah satu member JKT48 yang bernama Stella Cornelia. Berkat integritasnya dalam mengidolakan idol group yang satu ini, maka melahirkan inspirasi tersendiri untuk menghasilkan Fanfic for Idol ini.

Episode sebelumnya (part 28); “Misteri pulau hunian milik Didit, berhasil terpecahkan. Demi menunggu datangnya pagi, Aziz dan kawan-kawan berkumpul menikmati subuh di tepi pantai”. Selengkapnya bisa baca DI SINI.

Berikut adalah episode terbaru (part 29), happy reading, guys!


Awal Yang Baru

“Uwoooww!!”

“Apaan, tuh?”

“Ini... Anak cumi-cumi kali... Pffft”

“Lembek, kayak gimana gitu. Muehehehe!!”

“Balikin, deh Bud. Ntar nyokapnya ngamuk”

“Waduh! Iya juga... Kalo di Spongebob, cumi kayak gini bisa ngeluarin listrik, ya? Hiiiy”

“Eh! Gue nemu Patrick!”

“Itu koral, bego!”


Itulah percakapan singkat (dan tidak penting) yang terjadi antara gue dan Budi. Dia baru saja menemukan sesuatu yang putih dan kenyal. Gue tidak tahu pasti, benda apakah itu. Yang jelas itu bukan pakaian dalam...

            Waktu menunjukkan sekitar jam lima subuh. Kami para cowok, masih terus terjaga sejak kami semua sudah terkumpul kembali. Para cewek, sebagian sudah ada yang terlelap. Tersisa Stella, Melody, dan Dhike yang nampaknya tidak bisa tidur. Mereka bertiga sibuk bergosip di sekitaran api unggun.

            Gue dan Budi kembali dari perburuan anak cumi-cumi. Kami mendapat suatu pelajaran baru. Cumi-cumi, bukan mengeluarkan listrik. Tapi tinta hitam.

            “Eh? Kalian pada ngapain?” tanya gue, kepada Ega dan Abeck yang sebenarnya sedang melakukan push-up.

            “Ini... Uh... Push-up... Kampret! Supaya... uh... Ini... supaya nggak... ngantuk...” jawab Ega dengan terbata-bata. Gue perhatikan tulang sendinya sudah sekarat hendak lepas semua.

“Berendam di laut, tuh. Gue jamin, melek loe pada,” sambut Budi yang kelihatan menggigil lalu menuju ke arah Cindy yang sedang tertidur pulas. 

Biasanya kalau di film romantis, jika ada cewek yang tertidur dalam hawa embun pagi seperti ini, cowoknya pasti akan menyelimutinya dengan mantel sembari mencium kening-nya. Namun dalam kasus Budi berbeda. Budi mendekati Cindy, melepas satu lapis jaket Cindy (Cindy pakai jaket 2 lapis), lalu mencium jari telunjuknya sendiri yang baru saja keluar dari lubang hidung. Hebat. Anti-Mainstream!

            Gue lihat, Ozi dan Didit sibuk menghangatkan wajah dengan cara : 1. Menggosokkan kedua telapak tangan; 2. Telapak tangan yang masih hangat mereka arahkan ke depan mulut; 3. Mereka membuang nafas lewat mulut ke arah telapak tangan; 4. Telapak tangan yang mereka anggap telah hangat, mereka gosokkan ke wajah masing-masing.

            
 Tiga detik kemudian, mereka sukses mati suri.

            Gue mendekati Stella, yang tersenyum begitu tahu akan keberadaan gue di sampingnya. “Dingin, ya?” sapa Stella terhadap gue.

            “Lumayan... cukup buat bikin beku Mammoth obesitas”

            “Ngaco... ada-ada aja, kamu...” Lalu dia tersenyum dengan garis bibir yang khas.

            “Emm...” tiba-tiba Melody ingin berbicara. “Kalau udah pagi... kita harus gimana lagi, ya?”

            “Itu...” Gue bingung mau jawab apa.

            “Udah... tenang aja. Kita pasti nemu jalan keluar dari sini. Untuk sementara, nikmatin aja dulu, weekend kita. Ahaahaha...” Adit menyahut dan mencoba menenangkan Melo. Gue hanya tersenyum.

            Gue lihat adik gue, Dhike, sedang senyum-senyum sendiri. “Key, senyum-senyum kamu itu bukan pertanda bakal ada kejadian serem lagi, kan?”

            “Ih... Kakak apaan sih. Itu loh, coba lihat...” lalu Dhike menunjuk ke suatu arah.

            Indah... Sekumpulan kunang-kunang berhamburan keluar dari arah hutan. Kerlipan warna kuning tua itu, semakin mempercantik suasana pantai. Pemandangan yang indah mulai terlihat dari ufuk timur. Perlahan desiran ombak membuat suasana hati yang tegang sejak semalam, menjadi tenang dan bersiap menyambut kedamaian. 

            Semakin waktu berlalu, perlahan aura sang mentari mulai terpancar. Arah laut yang tepat berhadapan dengan terbitnya sumber energi dunia, membuat kami para pria kusam, berbaris di pinggiran pantai. Kaki kami menyentuh dinginnya air laut di pagi itu. Kami melakukan beberapa gerakan perenggang otot, sambil terus menatap naiknya matahari. 

            Melo, Stella, dan Dhike, mulai membangunkan para cewek lain yang sedang tertidur. Perlahan mereka bangun satu per satu, dengan menyerngitkan mata karena sinar kebebasan perlahan menghampiri kelopak mata mereka.

            “Ah! Bidadari gue udah bangun!” teriak Budi, lalu berlari menghampiri Cindy. Ia perlahan memapah Cindy untuk berdiri. Kemudian ia mengajak Cindy berjalan mendekati pantai, menanti sempurnanya proses terbit matahari.            

            Perlahan semua juga pergi ke tepi pantai. Sebagian masih mengucak mata sembari mencari titik fokus akan penglihatan. Begitu lelah telah terbebaskan, masing-masing tersenyum dengan penuh rasa lega. Malam telah berlalu. Di dalam hati, tersebutlah sebuah kata penyemangat untuk mengawali hari yang baru.


            Selamat pagi Sang Mentari! Aku merindukanmu! Terima kasih, karena sinarmu di pagi ini, lebih menghangatkanku dari biasanya!



            Hari Jumat, minggu lalu, aku merasa terburu-buru untuk pergi menuju kampus. Sebagai anak yang baru dinyatakan sebagai mahasiswa, tentu hal-hal seperti proses daftar ulang, sangat menimbulkan semangat.

            Kejadian itu bermula ketika di tempat parkir areal Auditorium, mobilku hendak bertabrakan dengan mobil seseorang. Pemilik mobil itu, seorang wanita. Kami sempat adu mulut beberapa saat hanya karena berebut tempat parkir. Lucu. Dan semenjak kejadian itu, entah kenapa selalu saja kami dipertemukan. Seolah takdir telah mencatat kebersamaan kami. Ku harap, catatan itu tidak akan berahkir...
           
“Hey...”

            “Ah...”

            “Ngelamun aja... Ntar kesambet, loh. Hehehe”

            “Eits... Yang semalem kena jadi tempat setan, siapa coba?”

            “Iiih...”

           
Stella memukul gue. Ya, ini dia, wanita yang sempat bertengkar dengan gue di area parkir Auditorium kampus. Di balik masa pertemanan kami, sebenarnya kami berdua sudah terlalu ingin, untuk tahu pribadi satu sama lain. Seperti seorang Detektif, kami selalu saling menyelidiki.

‘Apa tepat, aku mempercayakan perasaan ini untuk kamu?’

            Gue dan Stella sedang duduk di atas sebilah papan yang meralaskan pasir pantai. Tidak jauh dari kami, teman-teman yang lain sedang sibuk bersenda gurau karena akhirnya pagi telah tiba. Tidak ada kesenduan lagi. Hari ini, semua bertekad untuk menebus semua kesuraman tadi malam.

            “Maaf ya, ulang tahun aku malah jadi bikin kamu kena musibah.” Gue memulai pembicaraan.

            “Hm? Minta maaf? Emang kamu setannya? Hehehe” Stella masih menjawab dengan senyuman. Gue kasih tahu, kalau senjata paling mematikan yang bisa bikin gue lumpuh sampai berasa jadi anak alay, ada sebuah senyuman dari Stella. Percaya tidak percaya, ukiran senyumnya bisa bikin jantung gue berdetak lebih cepat sampai 48 kali lipat.

            “Ya... bukan gitu juga. Ahahaha. Maksud aku, ya... kamu suka atau nggak sama weekend sekarang ini?”

            “Bagi aku... nggak ada kesialan kalau sama-sama kamu. Ini bukan sesuatu yang bikin aku ngerasa nggak suka. Sebaliknya, selama ini... hal apapun yang aku lakukan di dekat kamu, selalu aku nikmatin. Aku...” Lalu Stella menundukkan wajahnya.

            “Eh?”

            “Aku... suka...”

            Gue ngeden sebentar.

            “Aku...” lanjut Stella lagi. “Aku suka, dan selalu ngerasa senang. Selama... aku bisa di dekat kamu...”

            “Ini...” Gue nyengir sebentar, “...Kayak pernyataan cinta gitu, ya? Pfft”

            “Ahh... Apaan sih?” Perlahan ia tersenyum lagi. Wajahnya merah merona. Gue tidak tahu lagi harus bicara apa melihat tingkahnya yang mulai malu-malu. Gue mencoba bersikap biasa. Perlahan, gue lingkarkan tangan gue di pundaknya. 

            “Seharusnya, aku yang malu. Ini baru pertama kalinya ada cewek yang bisa bikin aku klepek-klepek kayak ikan sarden dimasukin dalam oven.”

            “Eh? Jadi kamu pikir, aku sudah sering ngerasa kayak gini, gitu??” Stella protes.

            “Loh? Emang, tadi aku ngomong apa? Jangan-jangan, kamu juga...”

            “Iya. Ini juga... pertama kalinya buat aku...”

            Gue sumringah. Perlahan gue tidak ingin bicara banyak. Hati kami seakan sudah mengungkapkan rasa ‘cinta pertama’ ini. Ketulusan ini tidak perlu diumbar dengan kata-kata gombal, apa lagi sekedar janji. Cukup niat, dan pembuktian. Balasan rangkulan dari Stella, membuat gue yakin kalau dia percaya... kami cocok...


            Menjelang siang, sekitar jam sebelas. Tiba-tiba lima buah helikopter Polisi menyapu keheningan pulau milik Didit ini. Tidak ada gangguan sama sekali. Usai evakuasi, kami dibawa menuju tempat mobil kami diparkirkan.

            Berakhir. Kejadian malam ini tentu akan jadi kenangan yang tidak akan terlupakan.

            “Semuanya, gue minta maaf kalau ternyata pulau ini bisa sehoror gitu. Hehehe... gue harap nggak ada yang kapok buat liburan ke pulau gue yang baru,” kata Didit, sebelum kami berpamit.

            “Heeeh??! Loe ngincer pulau yang mana lagi???” Abeck protes.

            “Yang jelas gue bakal survey dulu kok, sebelum ngebeli. Hohoho”

            “Terserah, deh. Pastiin aja pulau baru loe nggak akan punya kebun boneka, apalagi villa-nya bekas tinggal orang gila.” Ega menambahkan.

            “Kamu jangan ngomong ‘gila’ gitu, dong... Aku jadi nggak enak karena punya si ‘gila’ di samping aku,” sahut Ve dengan nada merayu.

            “Wah... Ini bukan pelet, bukan sihir. Tapi keajaiban!” seru Sendy, disusul tawa yang lain.

           
Adit dan Melo sedang sibuk mengecek barang-barang mereka yang sebelumnya tertinggal di mobil.

            “Uh... masih ada nih, cukuran jenggot gue,” kata Adit, dengan nada lega.

            “Emang kamu pernah punya jenggot? Punya kumis aja sebulan sekali. Hohoho” sambut Melo dengan jahil.

            “Ini berharga loh. Belinya mahal...” Adit pasang wajah datar.
           

Gubrak!

            “Kamu ini gimana, sih?! ‘kan ini penting banget!! Huhuhuhu...” Terdengar jeritan Cindy dari arah belakang gue.

            “Aduh beb... lagian kita ke pulau buat dikerjain hantu, kan? Kamera kayak gini nggak terlalu diperlukan juga, kok...” kata Budi, dengan penuh alibi.

            Rupanya mereka berencana untuk mengabadikan moment-moment weekend kali ini. Sayangnya... kamera Cindy ketinggalan di mobil. Dan sayangnya lagi, weekend kali ini tidak punya moment sensual buat difoto.

           
“Emm... kamu nyetir, ya”

            “EH???”

            “Kalau mau nungguin, ntar ya. Ini dikit lagi naik level”

            Iya... itu adalah percakapan tidak manusiawi antara Ozi si maniak game, dengan Ochi, si anti game. Lucunya, mereka bisa jadian.
           

Sonya bersalaman untuk pamit, kepada Kak Rica. Dan tidak lupa, spesial buat Didit, Sonya malah memberikan sebuah pelukan. Entah itu ungkapan terima kasih, perasaan baru, atau takut tidak bertemu lagi. Yang jelas, Sonya tidak mungkin menganggap Didit sebagai hewan peliharaan.

            “Kak, ayo berangkat” seru Budi kepada Sonya dari arah mobilnya, sambil memanaskan mesin mobil dan berebut camilan dengan Cindy.

            “Em!” Sonya mengangguk dan berlari ke arah Budi setelah sempat melempar senyum ke Didit.

           
Bahu gue di sentuh dari belakang. Dhike.

            “Tuh, udah cukup panas mesinnya. Yuk, balik” kata Dhike.

            “Yosh!!” Gue berjalan menuju mobil setelah berjabat tangan juga dengan Didit dan Kak Rica. 

            Stella menuju mobilnya, diikuti Sonia dan Ayu. Gue meliriknya sambil beranjak ke mobil juga. Kami sempat lirik-lirikan. Gue merasa lucu, karena terlihat sekali, raut wajah kami bermimik layaknya orang yang benar-benar baru pertama kali merasakan yang namanya ‘aku sayang kamu’.
            

Jduk! 

            Gue nabrak Dhike.

            “Makanya, kak... Jalan pakai kaki. Tapi kalau matanya ke mana-mana, punya dua kaki juga nggak bakalan cukup buat kita jalan,” Dhike mengeluarkan ceramah-nya.

            “Iya... iyaa... Bawel kamu makin berasa, ya, Key” Gue cuma nyengir.

            Kami bergegas pergi dari sana. Berharap suatu saat, liburan seperti ini mungkin bisa terjadi sekali lagi. Karena berkat kejadian semalam, gue sadar akan satu hal. Ternyata, pulau hantu banyak memberikan kesempatan bagi muda-mudi yang ingin serius terhadap pasangannya.

            Gue juga tidak mengerti kalimat terakhir itu buat apa. Intinya, gue cuma mau Stella! Dan cewek lain, tentu saja Dhike. Gue... butuh masakannya!


Untuk episode selanjutnya (part 30); “Kembalinya Aziz dan kawan-kawan ke rumah masing-masing, membawa suatu cerita baru. Karena... seleksi pembentukkan sister group AKB48 yang pertama di luar Jepang, semakin dekat”

Tunggu kelanjutannya, ya!

8 comments:

  1. gue tunggu kelanjutannya ~~ kagak bosen bacanya.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Syukur deh... Situ gak lagi kesambet kan, ngomongnya. Hohoho

      Delete
  2. Bagus nih ceritanya!
    Menunggu episode selanjutnya.

    Sekalian minta ijin numpang berteriak dulu...
    KA RICAAAAAA!!!!! *nebarin poster Rica*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oke deh... ditunggu aja yee tiap hari minggu sebenernya . ahahaha

      *ciumin poster*

      Delete
  3. anooooooooo, tolong aib gue sama sendy jangan di buka dulu ya. #salamDangdut

    ReplyDelete
  4. dan satu lagi. pas gue baca di suasana pagi ada backsound yang cocok. brand new day by Ten2Five

    ReplyDelete

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)