Fanfic 'For Stella' Part 30; Selamat Datang di Kyoto




‘For Stella’ adalah cerita fiksi bersambung dengan genre “komedi-romantis”. Penulis, Aziz Ramlie Adam, adalah seorang fans salah satu member JKT48 yang bernama Stella Cornelia. Berkat integritasnya dalam mengidolakan idol group yang satu ini, maka melahirkan inspirasi tersendiri untuk menghasilkan Fanfic for Idol ini.


Episode sebelumnya (part 29); “Hari terakhir di pulau Didit. Aziz dan kawan-kawan yang sejak semalam telah menunggu pagi di pinggir pantai, akhirnya kembali ke rumah masing-masing”. Selengkapnya bisa baca DI SINI.

Berikut adalah episode terbaru (part 30), happy reading, guys!



Selamat Datang di Kyoto

“Kenapa??”

“Nggak boleh?”

“Eee... Itu... Gak masalah, sih. Cuma kaget aja. Hohoho...”

“Aku... bawain kamu makan malam”

“Oh... Iya... kebetulan lagi nggak ada makanan. Aku lagi malas jalan, trus Ikey nggak ada mampir. Hohoho”

“...”

“...”

“Jadi... aku harus di depan pintu sampai kapan?”

“Oh, iya... masuk! Ahaha... maaf...”

Stella.

Entah kenapa jam segini (jam tujuh malam) dia tiba-tiba datang ke rumah gue. Setelah pulang tadi pagi dari pulau Didit, gue sukses ketiduran karena habis begadang semalaman. Capek. Dan tanpa terasa, perut gue sudah berisikan Om-om dangdut.

Sorry, berantakkan”

“Yaelah... Biasa anak cowok, kan? Gue paham, kok. Hehehe”

Gue mimisan. Senyum dari Stella adalah anugerah terindah yang Tuhan kasih buat gue. Kalau ibarat makanan, sekali Stella senyum, gue bisa tahan nggak makan selama satu minggu.

Gue mengajak dia menuju halaman belakang rumah gue. Suasananya lagi hening dan romantis banget. Gue ambilkan dia bangku spesial (ya, bangku biasa aja sih) untuk dia duduk. Gue duduk di tanah.

“Ini... aku buat sendiri loh...” kata Stella, sambil menyodorkan sekotak makanan. Nasi goreng spesial pakai cinta, nih.

“Oh... oke, oke. Makasih. Hehehe” Gue cuma bisa nyengir.

Sedang larut dalam keheningan, ketika gue sedang dengan lahapnya menyantap masakan sang pujaan hati, handphone gue berdering.

“Oh, halo...”

“Ziz, loe di rumah?”

“Yoo... gue di rumah”

“Gue mampir, boleh?”

“Oh, iya... ke si...”

Tut... Tut... Tut...

Stella merampas handphone gue dan memutuskan sambungan telepon. Gue bahkan belum selesai bicara.

“Eh? Kenapa?”

“Itu siapa?” tanya Stella dengan penuh selidik.

“Yang jelas bukan pacarku...”

Stella pasang muka ngambek.

“Iya... iya... Itu tadi si Didit. Nggak tahu tiba-tiba pengin main ke sini. Minta bantu nyari pulau hantu lagi, kali... Hehehe”

“Oh... maaf...” lalu Stella mengembalikan handphone gue. “Aku tadi cuma nggak mau diganggu aja”.

“Maksud kamu?” Gue masih tidak mengerti.

“Aku... masih mau berdua kayak gini...”

Gue ngeden. Perlahan jantung gue berdetak lebih cepat. Akhirnya gue sadar, jantung gue berdetak lebih cepat karena gue baru saja keselek sendok. Gue pergi ke dapur ambil minum.

Sorry, tadi... agak grogi gitu...” kata gue.

Stella hanya tersenyum. Gue lanjut makan.

“Aku cuma mau tanya, kenapa kamu bisa suka sama AKB48?”

“He?” Gue keselek lagi. “Tahu dari mana?”

“Yaeyalah tahu... Udah kelihatan, kok”

“Hehehe... kamu mau tahu alasannya? Seriusan?”

“Em!” jawab Stella mantap.

“Oke... oke... Kisah ini dimulai udah lama banget. Waktu awal-awal masuk SMP”




6 tahun yang lalu...

SMP Bhayangkara. Pendaftaran siswa baru.

“Ooooyyy... Aziiiz” seru seorang anak cebol, teman SD gue.

“Hohoho... Adit, kamu daftar di sini juga?”

“Iya lah... Satu-satunya sekolah swasta keren di tempat kita kan, cuma ini” Adit menjawab.

“Kenapa kamu gak masuk SMP negeri aja?”

“Kamu kenapa juga gak masuk negeri?”

Kami terdiam. Satu-satunya alasan yang mungkin terkait dengan pertanyaan itu adalah... kami bukan termasuk golongan jenius.

“Kamu sudah bawa berkas-berkasnya?” tanya gue.

“Sudah dooong. Kamu?” balas Adit.

“Sudah... Ini foto aku terbaru. Keren, kan?” Gue menunjukkan foto terbaru gue dengan gaya rambut belah samping yang modern.

“Ih, jelek tuh. Ini nih, foto aku yang baru... Kereenn...”

Yang nampak di mata gue saat itu adalah sosok bocah dekil dengan dasi warna merah dan kepala botaknya. Gue mengaku kalah ganteng.

Akhirnya, dua anak mandiri ini melakukan proses pendaftarannya sendiri. Gaul memang, untuk ukuran anak yang baru lulus SD. Setelah selesai, kami berdua pergi ke warung depan SMP itu, untuk minum es. Kebetulan ada merk terbaru dari minuman bubuk.

“Masih lama, ya... sampe kita masuk SMP” kata Adit dengan polosnya. Kelihatan semangat sekolahnya masih tinggi banget.

“Ya gitu deh... Bosan juga ya, libur panjang begini gak ke mana-mana...”

“Kalau aku sih, diajakin Papa ke Bali. Katanya, aku bisa lihat banyak bule di sana...”

Gue merenung sebentar. ‘Memang beda, ya? Bule di Bali sama bule-bule di sini? Kalau nggak jualan beras kencur, berarti memang benar beda...

“Bule yang orang luar negeri itu loh, Ziz... Bukan yang jualan jamu...” Adit tiba-tiba membuyarkan lamunan gue tentang jamu gendong.

“Ohh...” Gue mengangguk sambil menyeruput sedotan terakhir es gue.

Tiba-tiba... terdengar suara klakson mobil. Gue menoleh, dan seorang anak perempuan datang menghampiri.

“Kakak! Dicariin sama aku, taunya malah ke sini sendirian!” seru anak perempuan itu. Iya, itu Dhike. Sepupu gue yang sudah seperti adik sendiri. Gue lihat sepertinya ada Om dan Tante gue juga.

Inilah gue, seorang pria cilik yang tampan, yang tinggal sementara di rumah Om gue. Maklum, semenjak meninggalnya orangtua gue dua tahun sebelumnya, gue hanya diwarisi sebuah rumah dan hotel berbintang kejora. Karena gue masih bau kencur, maka untuk sementara tinggal bareng Om gue dulu, sampai saat gue sudah dewasa dan punya hak resmi untuk mengurus semua warisan suram itu.

“Ayuk, Ka! Ke mobil. Dicariin papa, katanya suruh cepat-cepat” kata Dhike dengan polosnya.

Gue ngupil sebentar.

“Yaudah...” gue menoleh ke Adit, “Aku jalan dulu, ya... mau lihat bule juga. Weee...” seru gue dengan menjulurkan lidah ala anak SD.

Gue mengikuti Dhike ke dalam mobil bokapnya. Gue bertanya-tanya, ‘ada apakah ini?’

“Jadi begini... Om mau ajak kalian liburan...” kata Om gue dengan senyum yang membahana.

“Ke mana, Om?” tanya gue.

“Ke luar negeri, dong! Namanya... Jepang...”

“Jepang? Banyak bule nggak?” Gue masih bertanya-tanya.

“Emm... banyak sih. Hohoho...”

Akhirnya kami bergegas menuju rumah Dhike, berkemas, dan segera menuju bandara menunggu keberangkatan.




Klutuk! Klutuk!

“Eeeeehh??????” Gue bangun dengan perasaan deg-degan. Entah sudah di mana gue berada. Terakhir, yang gue ingat, pesawat sedang lepas landas dan membuat gue mual sampai tertidur.

“Kita... Di mana Key...?” tanya gue, sambil terkagum melihat daerah sekitar.

“Ini... namanya negara Jepang, Kak!” seru Dhike dengan penuh rasa gembira.

“Jepang...?”

“Itu... Tempat lahirnya Kamen Rider, sama Astro Boy!”

“Oooohhh.... Keren!”

Sekarang yang nampak di depan mata gue adalah sebuah bangunan besar yang kelihatan sangat tradisional. Dikelilingi pohon dengan bunga yang warnanya hampir menyerupai warna pink. Dengan dihiasi beberapa kolam kecil dan bonsai-nya. Banyak orang yang hilir-mudik di daerah ini. Gue lihat wajah mereka sangat asing. Tidak seperti yang selalu gue lihat di Indonesia. Tapi... wajah mereka memang akrab kalau gue lagi nonton Kamen Rider.

Gue sedang duduk di sebuah bangku panjang bersama Dhike. Gue rasakan, udara di sini sedikit berbeda. Sejuk...

“Ah... maaf, kami lama ya? Hehehe...” seru Tante gue yang datang tiba-tiba. Terlihat Om dan Tante gue menenteng beberapa bungkus makanan dan minuman ringan.

“Emm... Om, itu tempat apa?” tanya gue, sambil menunjuk bangunan besar di hadapan kami.

“Oh... itu namanya Istana Nijo. Dulunya, itu rumah raja...” kata Om gue menjelaskan. Gue cuma mengangguk sambil memandang kagum bangunan itu.

“Mama, sekarang kita di mana?” tanya Dhike pada Tante gue.

“Ini namanya di Kyoto, nak” jawab tante gue kepada Dhike. Gue yang mendengar kata ‘Kyoto’, perlahan jadi ingat sesuatu.

“Emm... kalau di film Kamen Rider, aku sering dengar kata ‘Tokyo’. Itu di sini ya?” tanya gue ke nyokapnya Dhike.

“Beda... Tapi, Tokyo itu memang masih satu negara dengan Kyoto, nak. Tapi... kalau dari sini, butuh waktu dua jam lebih kalau naik Shinkansen” jawab tante gue.

“Sin... apa, Tante?”

“Emm... kereta cepat gitu, deh. Hehehe” jawab tante gue lagi.

Gue masih tidak begitu mengerti. Menyebutkan nama-nama benda di sini saja masih suka galau, bagaimana bisa betah.

Akhirnya kami melihat-lihat seisi Kyoto. Lama-kelamaan, gue mulai akrab dengan keramahan orang-orang di sini yang suka tersenyum. Banyak pejalan kaki dan para pengendara sepeda dibandingkan kendaraan bermotor yang mengotori udara. Perlahan, gue benar-benar merasa hidup di sini.

Setelah puas berjalan-jalan, akhirnya matahari telah terbenam. Padatnya arus lalu lintas semakin terasa. Dengan menaiki sebuah bus bertingkat, gue dan keluarga Dhike, sampai di salah satu rumah. kata bokap Dhike, ini adalah rumah salah satu sahabat lamanya. Jadi, bisa sekalian menginap gratis selama liburan. Sejak saat itu, gue jadi paham apa arti kata ‘hemat’.

“Kak.” Dhike berbisik di telinga gue. Kami berada di samping pekarangan rumah yang memiliki kolam ikan koi. Orangtua Dhike sedang sibuk membantu yang punya rumah, untuk membuat makan malam.

“Kenapa?” tanya gue, heran.

“Besok, kita main ke tempat yang ada patung anjing itu lagi, yuk!”

“Ha?”

“Itu... yang ada banyak tiang-tiang warna orange!!” Kelihatan Dhike sangat tidak tertarik dengan otak gue yang sering lambat berpikir.

“Ohh... kuil yang tadi sore?”

“Iyaaa... Hehehehe”

“Kok, jadi pengin ke sana lagi? Kan tadi udaaaah...” jawab gue.

“Habisnya bagus, Kak... Aku suka sama pemandangannya!”

Dasar bocah, benak gue berbicara. Tapi gue sadar akan satu hal.

Gue juga masih bocah.

Akhirnya gue meng-iya-kan kata-kata Dhike. Lagipula, gue yakin kalau ke sana aman saja selama masih bersama-sama orangtuanya. Dan sekarang, malam semakin larut. Malam pertama gue di Kyoto, Jepang...




“Sekarang lagi musim perayaan. Banyak orang di jalan-jalan. Nanti kita pergi ke daerah Kiyomizudera aja, yaa... sekalian temenin teman Papa, ada urusan.”

“Nggak mau... mau ke kuil yang kemarin!!” seru Dhike.

“Kenapa, Pa?” tanya Tante gue yang baru saja menyajikan sup.

“Ini... Ikey pengin pergi ke kuil Shinto di Fushimi-ku kemarin... Papa bilang, lagi ramai karena ada perayaan. Lagipula, pergi ke Kiyomizudera kan lebih dekat dari sini, dan nggak terlalu ramai,” keluh Om gue kepada istrinya.

Gue hanya asyik meminum sedikit demi sedikit teh hangat yang tersedia sejak tadi pagi. Gue tidak terlalu mengerti tempat-tempat apa yang mereka bicarakan. Tempat-tempat yang gue tahu selama di Indonesia saja, sangat terbatas. Seperti : Monas, Candi Borobudur, Pantai Losari, Pasar Malam, Comberan, dan Jamban Tetangga.

Akhirnya gue lihat Dhike ngambek dan lari ke kamar. Gue sebagai kakak yang baik, menyusulnya segera.

Gue geser pintu kamar dan melihat Dhike sedang memanjat jendela, mencoba untuk melakukan akrobat. Gue bergegas mengejarnya.

Namun apa daya, setelah perjuangan gue menghentikan atraksi yang dilakukan oleh Dhike, kami berdua malah sukses terbawa ke jalan raya. Tentu saja ini semua ide dari Dhike. Punya adik yang brutal memang sesuatu.

Dhike termasuk anak yang cerdas. Dengan cekatan, dia menuntun gue menuju halte bis terdekat. Di balik kecerdasan tentu ada kelicikan. Iya... rupanya Dhike sudah mengambil beberapa uang milik bokapnya, yang gambar-nya terlihat asing di mata gue.

Gue mau nangis.

Sampai di tempat kemarin, Dhike masih menuntun tangan gue untuk mengikutinya. Dan ternyata...

Jreng! Jreng!

Ternyata Dhike ingin memungut sekumpulan kucing yang terdampar di dekat patung anjing ber-syal merah. Gue hening sejenak.

“Jadi... ini semua buat kucing?” tanya gue.

“Em! Kan, kasihan Kak. Lihat deh, pada lucu-lucu kan? Aku nggak sempat bawa karena kemarin Papa-Mama buru-buru banget jalannya...”

Gue perhatikan tiga ekor mamalia cilik yang sedang digendong Dhike itu. “Yaudah... Yuk, pulang. ntar Papa kamu nyariin.”

“Oke!” seru Dhike.

Akhirnya kami mulai naik bis. Namun, alangkah terkejutnya ketika kami diturunkan ke sebuah tempat yang ramainya luar biasa. Gue perlahan mengingat bentuk bangunan ini. Kalau di Indonesia... ini seperti Stasiun.

“Key... Ini di mana???” Gue mulai kelihatan bencong. Iya... gugup nih! Di luar negeri, nyasar sendirian! Emm... berdua sih, sama Dhike.

Tapi tetap aja sendirian!!!!

Gue panik, Dhike malah sudah mau nangis.  Waduh! Gimana nih? Aku gak bisa bahasa sini, lagi...’ batin kecil gue bertindak habis-habisan.

Hai... adik sedang cari siapa??” sapa seseorang dari arah belakang gue. Seorang perempuan muda.

“Eh?” Jujur, gue tidak mengerti dia bicara apa.

Iya... adik berdua ini, sedang cari siapa? Kalian tersesat?

*Dialog percakapan yang bercetak miring dan bergaris bawah, menandakan kalau pembicara menggunakan bahasa Jepang. Maklum, penguasaan berbahasa Jepang gue ini, bahkan masih kalah sama balita Jepang yang baru belajar merangkak*

Gue masih tidak mengerti dia bicara apa. Gue bingung sendiri. Gue coba lakukan gerakan-gerakan sandi morse yang gue tahu. Namun sepertinya gagal. Gerakan kode gue, malah berkesan seperti tikus tanah lagi datang bulan.

Mau ikut Kakak? Biar nanti kita cari orangtua adik, bersama-sama...” kata kakak itu sambil mengulurkan tangan. Senyum manis kakak itu, membuat gue percaya kalau dia adalah orang baik, dan uluran tangan itu sebagai tanda kalau dia ingin menolong.

Gue yang cepat akrab dengan tokoh-tokoh di sinetron ini (bisa bedain mana yang prontagonis dan antagonis), perlahan mulai bisa menerima kehadiran kakak itu. Habisnya, dia berwajah manis. Bukan seperti om-om nakal di sinetron. Akhirnya gue mengajak Dhike, sambil menenangkannya yang sedang menggendong kucing-kucing tadi.

“Nggak apa nih, Kak?”

“Aman!” seru gue, sambil meyakinkan Dhike.

Akhirnya, siang itu, gue dan Dhike pergi mengikuti seorang kakak perempuan yang gue sendiri bahkan tidak mengerti dia bicara apa...

***

Untuk episode selanjutnya (part 31); “Enam tahun yang lalu, Aziz dan Dhike yang masih bocah, sukses tersesat di Kyoto, Jepang. Hingga akhirnya, mereka bertemu dengan seseorang yang membawa mereka ke suatu tempat bernama... Akihabara”.

Tunggu kelanjutannya, ya!


11 comments:

  1. Wew, makin menarik nih...
    Nyasar di Jepang, ditolong orang Jepang, plus gak ngerti bahasa Jepang.

    Plus Kakak yang nolongin itu belum jelas siapa.

    Makin penasaran!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi delusi Kak Aziz mah, keren-keren.

      Delusi gue?
      Terakhir kali gue ikutan jodging sama Kak Rica. Ketike gue liat ke belakang, ternyata gue bukan jodging... tapi lagi dikejar-kejar helder. Lebih parahnya lagi, di belakang helder ada beberapa hansip dan preman-preman yang juga ngejar-ngejar gue... -_-"

      #pengaruh dari kemiringan otak yang lebih miring dari menara pisa

      Delete
    2. Kamu masih bisa mikir kan -,-? masih ingat kan.. satu tambah satu sama dengan berapa...

      Delete
    3. Bisa lah Kak... (._.)
      1 tambah 1 = 2
      Otak aku aja yang lagi miring makanya gue jadi rada-rada ngawur -__-

      Tapi seriusan nih Kak, Kak Aziz gak pernah nyoba kirimin fanficnya Kakak ke :
      http://www.jkt48fans.com/

      Kalo mereka anggap bagus, entar mereka upload

      Delete
    4. Sebenarnya di situ punya 'orang dalam' juga sih... Bisa aja klo mau nitip nge-post. Tapi gimana, ya... Ni fanfic bersambungnya panjang amat. Udah kayak sinetron CintaFitri atau Bidadari. Bhhahaha...

      Lagian ini 'icon'-nya blog gue. Kalo ada di tempat lain selain di blog sini, ntar nggak laku di sini. Pengunjung sepi..
      Huahahahahahaha

      Delete
  2. gue request ini Fanfic harus sampe ratusan episode kayak sinetron cinta fitri !! #halah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berdoalah... Satu generasi, satu season cerita. Ini baru cerita gen satu. Doain gue panjang umur. Pffft

      Delete
    2. ggghhhhh !! maksud lu ? di reinkarnasi berikutnya kita bakal bersama member gen 2 ?!!

      Delete
    3. Kita? B*tch Please~ :)
      Kita udah tua dan cukup berumur. Ganti generasi dong. Muahahahaha

      Delete

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)