Berjalan dari Dalam Hati

2013/03/25

Fanfic 'For Stella' Part 31; Ucapan "Terima Kasih"




‘For Stella’ adalah cerita fiksi bersambung dengan genre “komedi-romantis”. Penulis, Aziz Ramlie Adam, adalah seorang fans salah satu member JKT48 yang bernama Stella Cornelia. Berkat integritasnya dalam mengidolakan idol group yang satu ini, maka melahirkan inspirasi tersendiri untuk menghasilkan Fanfic for Idol ini.

Episode sebelumnya (part 30); “Enam tahun yang lalu, dimulailah kisah sebagai jawaban atas sebuah pertanyaan sederhana ‘mengapa harus AKB48?’ dari Stella. Cerita itu sudah demikian lama. Mengisahkan tentang Aziz dan Dhike yang masih kecil, pertama kalinya datang ke Jepang hingga terpisah dari keluarga”. Selengkapnya bisa baca DI SINI.

Berikut adalah episode terbaru (part 31), happy reading, guys!



Ucapan "Terima Kasih"

“Kak… kita ke mana, ya?”

Gue cuma geleng-geleng kepala dengan santai. Ini benar-benar petualangan paling seru. Gue berasa jadi Sherina waktu masih kecil. Hanya saja lebih seram, dan suram…

Kini gue dan Dhike berada di dalam kereta. Iya… gue juga tidak tahu menuju arah mana kereta ini. Intinya, kami berdua hanya terpaku pada satu orang. Seorang perempuan muda yang cantik, dan tidak kelihatan punya peran antagonis.

Kalian datang dari mana?” Kakak itu berbicara sambil sibuk mengelus-elus leher gue. Eh, leher kucing yang dibawa Dhike maksudnya.

Gue dan Dhike cuma geleng-geleng kepala. Apalagi kalau bukan karena kami tidak mengerti bahasanya. Namun insting gue bermain. Mungkin kakak ini sedang bertanya kami ini dari mana. Karena biasanya di telenovela yang sering gue tonton, jika ada orang baru bertemu, biasanya menanyakan nama atau daerah asal. Gue pun bergaya…

“Nama aku, Aziz!”

He?” Kakak itu kaget sambil manyun.

“Naamaaa aaku…” kata gue sambil menunjuk-nunjuk dada, “…Aaaziiiz…”

Oh… Azizzu-kun?” Kakak itu mengucapkan nama gue dengan logat yang aneh. Itu nama keren woy…

Kamu?” Kakak itu berbalik ke arah Dhike.

“Ikey!” seru Dhike dengan semangat.

Walaupun saling tidak mengerti bahasa masing-masing, namun gerak tubuh kami bisa membuat pembicaraan jadi lancar. Tentu saja orang-orang di kereta mengira kami bertiga sedang show pantomime.

Kalian dari mana? Mengapa bisa sampai di sini? Bukan orang Jepang ya?” Kakak itu mulai bicara lagi. Gue mau nangis.

Akhirnya daripada menangani semua pertanyaan kakak itu yang pastinya bisa bikin gue cepat jadi gagap, gue menirukan gaya orang ingin menulis. Karena kakak itu sedang membawa tas, gue pikir pasti ada alat tulis. Gue akan menyampaikan sandi rahasia yang kira-kira jadinya seperti ini :


Kakak itu pun memberikan sebuah buku dan pensil. Gue pun mulai berkreasi dengan imajinasi gue, dan jadinya persisi banget dengan gambar di atas. Gue kasih ke kakak itu. Dia ketawa habis-habisan melihat gambaran gue. Gue bangga.

Gambaran kamu lucu. Hehehehe… ternyata kalian memang bukan dari Jepang. Hm… Indonesia, ya? Aku pernah mendengarnya. Pokoknya setelah urusan ku selesai, aku akan membantu kalian untuk kembali menemui keluarga kalian.” Kakak itu bicara panjang lebar. Gue dan Dhike pun melakukan sesuatu hal yang paling sederhana. Tertawa…

Kakak itu terlihat paham kenapa kami tertawa, hingga akhirnya dia membuat pesan balasan seperti ini :


Gue kagum. Gambar dia lebih bagus dari gue. Tapi yang penting, gue tahu maksudnya baik. Gue memberi tahu Dhike hingga dia sudah kelihatan lebih tenang. Masalah selesai…


Gue terbangun setelah mendengar bunyi bel yang menggema di seluruh kereta. Setelah bunyi bel, terdengar suara wanita dari speaker kereta lalu disusul oleh orang-orang yang bergegas untuk turun.

Ayuk!” seru kakak itu dengan ceria. Sepertinya kami sudah sampai di tempat tujuan (kakak itu), dan harus segera turun. Ia menggandeng tangan Dhike lalu disusul oleh gue yang berjalan agak di belakang. Gue masukkan tangan gue ke saku celana. Sip, gue sudah mirip Detektif Conan yang tanpa kacamata… dan tanpa otak yang cerdas...

Setelah turun dari stasiun, kakak itu mengajak kami untuk mampir ke sebuah warung. Wah… kebetulan perut gue sudah ada konser. Gue penasaran dengan makanan-makanan di Negeri ini.

Kami memasuki sebuah kedai yang tulisannya bukan pakai Bahasa Indonesia. Sekali lagi, gue merasa jadi alien yang baru saja mendarat di bumi, lalu cari makan ke warung-warung. Gue lihat sekitar, banyak orang yang makan mie dengan lahapnya. Saat menyeruput mie tersebut, mulut mereka berbunyi. Saking banyaknya orang yang menyeruput mie, dan banyaknya keributan dari suara mulut mereka, gue yakin mereka bisa bersatu-padu buat bikin orchestra.

Tapi yang paling membingungkan bagi gue adalah… alat makan mereka.

“Key, itu apa yang dipakai buat makan mie ya? Kayak pensil gitu bentuknya” bisik gue ke Dhike.

“Aduh kakak… Itu namanya sumpit. Papa sering bawain makanan yang pakai sumpit begini, kan? Kakak aja yang suka ngilang kalau kita lagi makan…” ucap Dhike dengan petuah mautnya.

Gue mengangguk. Sebenarnya selama ini, gue terlalu sering makan sambil nonton TV. Di atas sofa, dengan piring diangkat, menyuap pakai tangan, dan mengangkat satu kaki ke atas persis seperti om-om warkop. Sumpah deh… itu nikmat…

Kakak itu menyuruh kami untuk duduk, sementara ia memesan makanan kepada sang juru masak. Tidak lama kemudian, tiga mangkuk mie datang ke meja kami. Gue lihat porsi mie-nya sangat menggiurkan. Dengan mangkuk besar, dan isi yang ekstra jumbo. Gue bersemangat. Namun, gue luluh ketika melihat ‘pensil’ yang bersemayam dengan indahnya di samping mangkuk. ‘Ini gimana cara pakainya?

Gue menyerah…

Dhike makan dengan lihai-nya. Kemampuannya untuk makan menggunakan sumpit, sepertinya sudah yang paling jago di dunia anak-anak Indonesia saat itu.

Kenapa tidak makan? Adik kamu makan dengan lahap loh…” Kakak itu menegur gue yang masih terdiam dan sibuk menghirup aroma dari uap kuah mie tersebut. Gue cuma nyengir, dan menunjuk-nunjuk sumpit itu sebagai tanda bahwa gue sama sekali hilang akal waktu akan menggunakannya.

Kakak itu tertawa. “Kamu tidak bisa pakai sumpit? Padahal adik kamu pandai sekali menggunakannya. Hehehe…

Gue juga tertawa. Done, dia mau mengejek gue pun, asal sambil tersenyum, gue akan tetap menganggap itu sebagai pujian. Keep smile deh…

Akhirnya kakak itu makan sambil sesekali menyuapi gue. Rasa bangga tertanam di dalam diri gue. Pertama kali gue makan masakan Jepang, gue disuapin langsung sama cewek Jepang yang cantik. Muahahaha.

Selesai makan, membayar, dan proses ini-itu lainnya, sekarang kakak itu mengajak kami untuk menuju halte bis. Hingga akhirnya kami naik bis itu, dan turun di halte berikutnya. Beberapa lama kemudian setelah jalan kaki, gue berdecak kagum.

Iya… gedung-gedung besar terhampar dengan luasnya di sekitar gue. Yang menarik, gedung-gedung megah itu tidak sedikit yang memasang poster menggunakan gambar-gambar anime sebagai promosi ataupun hanya sekedar hiasan. Gue ngiler waktu itu…

           “Selamat datang di Tokyo! Tepatnya… tempat ini namanya… Akihabara!!!!” seru kakak itu dengan semangat yang meluap-luap. Agak berlebihan memang, karena ini dikeramaian. Tapi orang-orang tidak ada yang terlalu perduli. Biasa saja. Yang jelas ini bukan karena orang-orang itu tidak mengerti bahasa kakak ini. Kasus itu kali ini hanya untuk gue dan Dhike.

Kami berjalan menelusuri kota. Sesampainya di suatu tempat yang cukup sederhana, kakak itu disambut oleh beberapa temannya yang sepertinya sedang bagi-bagi duit ke para pejalan kaki. Gue coba mendekat… tapi gue tidak dikasih duit itu.

Kakak-kakak perempuan di sini semuanya cantik-cantik. Gue merasa dikelilingi para tokoh-tokoh kartun.

Aduh… anak siapa lagi yang kamu bawa?? Datang telat lagi kan…” Gue dengar teman si kakak perempuan, seperti menasehati kakak yang mengantar kami itu.

Hehehe… maaf. Aku tadi membantu mereka saat tersesat di stasiun. Mereka bukan orang Jepang. Mereka dari Negara Indonesia…” seru kakak itu.

Sontak teman-teman kakak itu mendekat ke arah gue dan Dhike. Mereka sibuk dengan bicara masing-masing yang sepertinya kagum akan ketampanan gue.

Dari Indonesia?? Ini ada sesuatu buat kamu… Katakan pada Negara-mu bahwa kami ada di sini!! Hehehe…” kata seorang kakak berambut pendek, sambil memberikan selebaran yang tadi gue sangka sebagai duit. Ternyata tiket promosi gitu. Gue baca…

“A..Ka..Be.. Empat… lapan…?”

“Eykebi FourtyEight!” seru kakak yang mengantar kami tadi sambil mengepalkan tinju, masih dengan semangat yang membara.

Gue bengong. Dhike apalagi.

Apa yang harus kita lakukan untuk menolong anak ini?

Jelas kita tidak bisa membawanya dulu ke dalam…

Tapi nggak mungkin kita meninggalkan mereka di sini sampai selesai show, kan…

Ada yang tahu kantor Duta Besar Negara mereka tidak?

Mereka tampan dan cantik ya…

Gue ngeden. Ternyata, di Negara manapun, semua cewek sama saja kalau lagi berkumpul. Berisik…

Gue lihat kakak yang mengantar kami tadi meminjam telepon genggam temannya, lalu menghubungi seseorang. Setelah bicara dengan bahasa yang imut, dia menutup telepon.

Sabar ya, Dik… kalian di sini saja dulu, membantu kami! Hehehehe….” Pinta seorang kakak yang berambut panjang dan bicaranya lucu.

Gue diam. Sampai akhirnya kakak yang mengantar kami tadi memberikan sebuah gambar seperti ini :

Akhirnya gue paham.

Seperti ini cara kalian berkomunikasi? Hehehe…

Yah… Kau tahu sendiri kita saling tidak bisa mengerti bahasa masing-masing kan…” jawab kakak itu kepada temannya.

Gue yang mengerti akan maksudnya pun, mulai membantu kakak-kakak itu untuk membagikan selebaran. Gue lihat Dhike cepat akrab dengan pekerjaan ini. Gue pun memetik satu pelajaran : Pekerjaan membagi-bagikan selebaran seperti ini memang cocok untuk wanita.

Menjelang sore… udara terasa makin dingin. Tiba-tiba datanglah seorang pria paruh baya dengan seseorang wanita yang sama tua-nya. Sepertinya mereka pasangan suami istri. Gue lihat pria paruh baya itu berbincang-bincang dengan kakak-kakak pembagi selebaran tadi. Kakak-kakak EyKeBi.

Selang beberapa menit, gue dan Dhike dihampiri oleh istri si pria paruh baya itu. Sama-sama tua, hanya saja berbeda kelamin. Dia tante-tante…

“Hay… dasar kalian anak-anak pemberani! Hahaha… Di mana orang tua kalian menginap??” seru tante itu… dengan Bahasa Indonesia!

Gue nyaris pipis di celana. Akhirnya… ada yang bisa gue ajak bicara.

“Aah… kami dari….”

“Kyoto!!” Dhike memotong kata-kata gue.

“Kyoto? Dasar anak-anak bandel. Hahaha… Kalian ingat letak tempat menginapnya?” tante itu bicara lagi.

Gue diam. Dhike beraksi dengan kecerdasaannya. “Aku ingat tante! Kalau dari Istana Nijo, aku ingat!”

Gue selamat…

“Mereka dari Kyoto dan masih ingat alamat orangtua mereka asal dari Istana Nijo..” Tante itu beralih ke kakak yang membawa kami ke sini.

Pantas aja… saya menemukan mereka di stasiun di Kyoto. Sepertinya mereka dari kuil Shinto dan lupa arah menuju rumah… Ternyata mereka hanya hapal jalan dari arah Istana Nijo. Ahahaha…

Akhirnya kedua orang paruh baya itu bersedia untuk mengantar kami pulang ke Kyoto. Dan kali ini, kakak yang membawa kami tadi masih ingin ikut.

Hey… ini sudah dekat malam. Kau tidak bisa bolak-balik dan segera pentas dalam kurang dari tiga jam…” seru salah seorang teman kakak itu yang berambut pendek dan terlihat kalem.

Kalau begitu… aku minta izin untuk tidak pentas malam ini! Aku akan telepon pak manager! Hehehe…!”

Aaah… dasar kau… Baru juga merintis, sudah jarang hadir…” kata temannya lagi dengan nada ‘ya sudah…’

Hehehe… dia memang begitu kan…” seru temannya yang lain. Mereka terlihat sudah maklum dan melepas kepergian kami dengan senyuman.

Sore itu… kami berlima melalui perjalanan lebih dari dua jam dengan kereta…


“Kamu ini… bisa-bisanya tersesat dan tidak tahu jalan pulang…”

“Maaf, Om. Lagian jalannya kan memang masih asing banget!!”

“Wah… nggak bisa gitu!! Kamu mesti belajar keren dong, kalau jadi laki-laki!” lalu Om gue mengacungkan jempol. Dia memang marah. Marah yang imut…

“Maaf sudah merepotkan…” seru tante gue sambil membungkukkan badan ke pasangan paruh baya, dan kakak perempuan cantik itu.

Iya… sekarang kami sudah sampai di rumah sahabat papa-nya Dhike, tempat kami menginap. Gue benar-benar bersyukur karena bisa sampai dengan selamat tanpa ada om-om bergaya casual dengan kalung emas, yang menggoda gue dengan jentikkan jari.

“Tidak merepotkan kok… hehehe…” seru tante itu yang memang menjadi juru bicara ke tante dan om gue.

Jadi sistemnya begini, si suami-istri paruh baya terdiri dari komposisi : suami = orang jepang + istri = Orang Indonesia. Keduanya saling mengerti bahasa masing-masing, namun sama-sama tidak bisa mengucapkan juga. Si Jepang tidak bisa bicara bahasa Indonesia, begitupun sebaliknya. Hanya sekedar ‘paham’. Dunia cinta memang kejam…

Mereka bilang… maaf merepotkan, dan terima kasih yang sebanyak-banyaknya buat kamu” kata si suami paruh baya kepada kakak yang mengantar kami.

Hm… tidak apa-apa! aku sangat senang berkenalan dengan mereka! Hehehe!” seru kakak itu. Pesan tersebut disampaikan oleh si istri paruh baya, kepada gue dan keluarga. Gue senang mengenalnya juga. Gue menghampiri kakak itu dan mengajaknya bersalaman.

“Aziz Ramlie Adam!”

“Takashi Minami desu! Hehehe…”

“Terima kasih!” kata gue juga menundukkan badan. Si suami paruh baya berbisik ke Kak Minami, “Dia bilang ‘terima kasih’ kepadamu”

“Aah… daijoubu desu! Emm… te… ri..ma.. kas.. ih…? Terima kasih! Hehehe…” kak Minami mencoba menyebut ‘terima kasih’ dengan bahasa Indonesia. Kami semua tertawa. Dan setelah beberapa perbincangan kecil, mereka pamit untuk kembali karena hari semakin malam.

Gue dan Dhike masih melambaikan tangan sambil berteriak terima kasih kepada Kak Minami.

“Terima kasih, kak Minami!!!”

“Te..rima kaaaasiiih!” Kak Minami juga berteriak dari kejauhan.


“Ta… Takamina?! Takamina!!! Kamu ketemu Takamina???!!”

“Yosh… kira-kira begitu deh. Waktu itu bahkan ‘Kak Minami’ masih lebih muda dari kita sekarang. Hahahaha… Tanya Dhike aja kalo nggak percaya. ”

Mata Stella terlihat berbinar-binar.

“Kamu kenapa?”

“Itu Oshi akuuuu….”

“Ah… memang pantas jadi panutan, sih. Wahahaha!! Sampai sekarang aku bahkan masih simpan gambaran dia yang jadi media bicara kami loh… Mau lihat? Hehehe!!”

“Mau... Mau!!” Stella terlihat antusias.

“Bentar yaa…”

Gue bergegas masuk ke rumah sampai tiba-tiba pintu depan gue terdengar di buka. Gue cek ke depan.

“Didit? Loe sama… Sonya?”

Sonya hanya tersenyum. Didit menggeliat.

“Sonya tadi minta antarin ke sini. Katanya mungkin ada Stella gitu. Dan bener aja kan dia ada di sini! Berdua-duaan lagi loe pada. Pffft”

“Aah.. cuma nganterin makanan doang. Onya ke belakang aja, Stella di sana” kata gue lalu naik ke kamar untuk mengambil gambar-gambar yang dulu pernah jadi saksi bisu pertemuan gue dan Takamina, Takahashi Minami, leader AKB48.

Setelah beberapa lama gue bongkar-bongkar lemari dan akhirnya gambar-gambar itu ketemu, gue bergegas ke bawah.

Wooow… tiba-tiba malah jadi ramai. Ada Melody, Cindy, Sendy, Ve dan Ochi. Cowoknya cuma ada Didit.

“Kok pada rame? Adit sama yang lain pada ke mana?” tanya gue ke Melo.

“Lagi pada galau kali, pacar-pacar mereka. Hihihi…” Malah Didit yang menjawab.

Gue lihat mereka sepertinya membawa beberapa perlengkapan seperti laptop dan sound system. Persis seperti mau bikin diskotik di rumah gue.

“Numpang latihan ya, Kak! Hohoho…” seru Cindy.

“Latihan?”

Perlahan Ve memutar lagu yang tidak asing lagi di telinga gue. Single ke-17 AKB48, Heavy Rotation. Gue semakin ngerasa penasaran. Sampai akhirnya Stella mendekati gue, seolah ingin menjawab semua pertanyaan di benak gue.

“Kami semua, khususnya gue, ingin jadi idola seperti yang kamu banggakan! Hehehe”

What?

***

Untuk episode selanjutnya (part 32); “Audisi menuju member  Jakarta48 (JKT48), sister group pertama AKB48 di luar Jepang, telah semakin dekat. Ternyata, sejak lama berita itu muncul, Stella dan kawan-kawan sudah merencanakan untuk mengikuti audisi tersebut”.

Tunggu kelanjutannya, ya!


8 comments:

  1. Replies
    1. jadi, gue mesti nunggu lu minum sprite campur insto gitu ?

      Delete
    2. Ditambah beberapa antimo lebih tepatnya :V

      Delete
  2. Episode terkocak XD

    Naluri makhluk astral gue mengatakan kalo ada bagian yang benar-benar mengharukan di salah satu episode yang akan datang :/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh! Lu ngintip draft episode selanjutnya ya! Errrghh... Mesti ganti jalan cerita nih. Muahahaha...

      Delete

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)