Berjalan dari Dalam Hati

2013/03/31

Fanfic 'For Stella' Part 32; Didukung atau Dijatuhkan?





‘For Stella’ adalah cerita fiksi bersambung dengan genre “komedi-romantis”. Penulis, Aziz Ramlie Adam, adalah seorang fans salah satu member JKT48 yang bernama Stella Cornelia. Berkat integritasnya dalam mengidolakan idol group yang satu ini, maka melahirkan inspirasi tersendiri untuk menghasilkan Fanfic for Idol ini.

Episode sebelumnya (part 31); “Berakhirnya kisah nostalgia Aziz tentang pertemuannya dengan Takahashi Minami, leader AKB48, di Jepang dulu, ternyata membuat Stella terkagum. Namun tanpa disangka, ternyata Stella dan kawan-kawan sebenarnya telah lama berencana untuk mengikuti audisi pencarian member sister group pertama AKB48 di luar Jepang. Jakarta48 (JKT48)”. Selengkapnya bisa baca DI SINI.

Berikut adalah episode terbaru (part 32), happy reading, guys!


Didukung atau Dijatuhkan?


“Satu… dua… Satu… dua…”

“Yap… kayak gitu. Lengan-nya agak diangkat sedikit lagi coba…”

“Begini ya?”

“Nah, lihat. Yang kayak gitu tuh…”


Gue salto.

Jujur saja malam ini gue lumayan senang, dan lumayan kaget. Senang aja karena banyak cewek-cewek lagi latihan nari di rumah gue, termasuk Stella. Dan kagetnya… karena berita audisi tentang pembentukan sister AKB48 di Indonesia.

Ada satu hal yang membuat gue agak terganjal. Gue tahu benar, kalau menjadi member 48 Family, pasti tidak bisa menjalin hubungan khusus dengan lawan jenisnya. Gue galau atas semua usaha gue selama ini ke Stella. Perlukah gue dukung? Atau gue sibuk memikirkan cara agar Stella tidak masuk audisi, seperti yang biasanya dilakukan pemeran antagonis di sinetron?

Gue kembali memandang Didit. Wajah datarnya malah membuat gue tambah ingin buang air besar.

“Bro… Loe rela aja gitu, kalau Sonya dan mereka semua, lulus audisi Jakarta EmpatLapan?” Gue mulai menginterogasi Didit.

“Hm… gimana ya? Gue sih dukung aja. Toh mereka kelihatan senang mau ikut audisi itu. Kenapa? Loe berat hati gitu?”

“Ah… bukan gitu… Nggak, maksud gue… ya berat hati pasti lah”

Kami berdua mengelus dagu masing-masing mirip sekomplotan kambing preman.

Melihat tujuh orang cewek ini : Stella, Sonya, Melody, Cindy, Ve, Sendy, Ochi; sedang latihan menari, gue berpikir sejenak. ‘Mesti banget ya gue dukung mereka? Ah… gue kok jadi egois begini…

Gue beralih menuju pintu depan karena tiba-tiba mendengar bel rumah berbunyi. Entah siapa tamu kali ini, tapi gue sudah cukup galau memikirkan apa yang akan terjadi di masa mendatang.



TING TUNG! TING TUNG!

“Yooy…”

Gue membuka pintu. Namun hening…

Gue tengok sekitaran halaman depan. Mulai dari sekitaran pilar teras, tanaman, hingga bagian bawah mobil gue dan teman-teman. ‘Siapa ya?’ pikir gue, setelah tahu bahwa hasilnya sia-sia saja membukakan pintu. Gue kembali masuk.

“Siapa?” tanya Didit.

“Entahlah… Nggak ada siapa-siapa tuh”

Gue lagi-lagi terjerumus dalam lamunan. Masih terpikir bagaimana jika para cewek ini, termasuk Stella, akan diterima menjadi member dari JKT48 yang notabene, audisinya tinggal hitungan hari. Gue memang tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Stella, selain teman biasa. Tapi berlawanan dengan itu, hati gue sudah menganggap Stella seperti diri gue sendiri. Terlalu dekat… Terlalu suka…

TING TUNG! TING TUNG!

Anjrit…’ gue bergumam.

“Siapa lagi tuh?” Didit juga mulai heran.

“Grr… Harus kita lihat baik-baik!” Gue mulai merasa dibodohi oleh kerjaan pemencet bel iseng.

Kami berdua menuju ke arah pintu depan. Dengan sigap, kami membuka pintu sambil memasang posisi Gangnam Style (Gue juga nggak tahu kenapa harus pose kayak gitu). Dan nampaklah… sosok cowok yang sudah tidak asing lagi saking seringnya kami bertemu.

Adit…

“Eh… loe dari tadi mainin bel ya? Ngerjain aja bisanya.” Gue mulai menyelidik kehadiran pria tampan itu (oke, setampan apapun dia gue tetap nggak bakalan naksir).

“Idiiih… Gue baru sampai dan look, gue baru nongol di depan kalian. Tuh, mobil gue baru parkir. Lagian kurang kerjaan banget gue ngerjain kalian...” jawab Adit dengan muka sendu setengah datar.

Gue lihat di halaman depan memang sudah ada mobil dia. Gue beralih ke Adit-nya, dia menuju ke kamar gue. Melewatkan para cewek, termasuk Melody, yang latihan menari di ruang tengah dekat tangga.

Kasihan… tampang tu anak kok kusut banget…?’ pikir gue.

“Kusut banget, ya, tampangnya.” Didit berseru di dekat gue. Persis seperti yang gue pikirkan.

Tengokin, yuk.” Gue mengajak Didit untuk menyusul Adit.

Lantunan musik-musik dance dan diselingi nyanyian para cewek, masih menyelimuti suasana malam rumah gue. Dentuman irama semangat dari beberapa lagu yang kebanyakan hits single AKB48, semakin membuat hati gue merasa teriris. Lubuk hati gue bilang, kalau gue belum siap jika Stella disukai oleh banyak pria nantinya. ‘Hufftt…..

“Broo…” seru gue sambil menggerakkan knop pintu lalu mendorongnya.

Terlihat Adit sedang tiduran di kasur gue sambil menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Wajah datarnya membuat gue yakin kalau dia pantas jadi model sampul majalah Misteri.

“Hooy… Muka loe kelihatan kusut kayak kemeja belum disetrika padahal sudah dijemur tiga hari!” seru gue lagi, sambil berjalan menuju arah kasur.

Bener... bener. Tampang loe kayak Bekantan (jenis monyet khas Kalimantan) kurang tidur tau nggak…” Didit juga ikut berkomentar.

“Ahh… berisik loe pada. Ini muka penuh pikiran tau…” Adit akhirnya mulai berbicara.

Suasana jadi hening sejenak. Gue yakin si Adit juga kepikiran hal yang sama seperti yang sejak tadi gue lantunkan di lamunan gue. Untuk remaja yang sudah menjalin hubungan spesial kurang lebih lima tahun, wajah se-mengerikan yang diukir Adit itu sebenarnya cukup wajar.

Yaah… gue sedikit demi sedikit juga bisa ngerti kok…” ucap gue sambil meneguk minuman bersoda yang gue beli tadi siang.

“Kira-kira… kalau kalian jadi gue, yang dalam catatan udah jadian sama Melo dari SMP, apa yang bakal kalian lakukan?” Adit sepertinya akan memulai sesi curhat.

“Hmm… apa ya? Gue ini belum pernah pacaran. Naksir cewek juga baru sama Sonya…” Didit refleks menjawab sambil memajukan bibirnnya.

“Nah, itu! Gue sama banget kayak Didit…” Gue juga berkomentar. “Tapi ya gue tahu banget perasaan loe yang sudah sempat ‘memiliki’ dalam jangka waktu segini lama.”

Adit hanya menarik nafas dalam-dalam, menghembuskannya, lalu menutup matanya sejenak.

Suasana kembali hening hingga terdengar suara langkah kaki yang cukup terburu-buru dari arah tangga, menuju kamar gue.

“Aduuh…” seru dua orang yang sudah sibuk dengan tarikan nafas masing-masing. Mereka terlihat letih dan berkeringat.

Dua orang itu, Ozi dan Ega.

“Aduh… kaki gue…” seru Ega sambil menundukkan badan dan memegangi lututnya. Persis kakek tua yang kalah dalam lomba marathon.

“Hadoohhh… Panas… panas…” Ozi tidak mau kalah mengeluh sembari menggenggam remote AC untuk menurunkan suhu ruangan.

“Kalian habis dikejar Kantib ya?” tanya Didit.

“Kampret… Tadi kita berdua habis bantuin orang yang lagi kena musibah gitu. Eh… malah disangka mau maling… Hosh.. hosh…” jawab Ozi.

“Iya… kebakaran gitu… Di komplek sebelah. Kebetulan gue sama Ozi lagi makan di warung dekat sana,” lanjut Ega yang sekarang sudah duduk kelelahan di balik pintu.

Gue dan Didit hanya menggelengkan kepala. Adit masih dengan posisi semula yang nampaknya mulai terlarut dengan suasana malam.

Suara sirine mobil pemadam kebakaran perlahan terdengar. Gue perhatikan dari jendela, sekitar lebih dari 500 meter, langit terlihat memerah. Apinya tidak terlihat karena tertutup banyak rumah mewah yang tinggi. Namun tetap saja langit dapat memperlihatkan betapa kacaunya keadaan di sana itu.

Malam itu, entah perasaan apa yang berkelebat singgah di hati kami semua. Yang jelas, dua rasa antara ‘mendukung’ atau ‘menjatuhkan’ usaha keras para cewek yang ingin ikut audisi JKT48, masih menjadi pilihan yang sulit untuk diambil salah satunya. Kebimbangan menyertai kami. Kami gelisah.

“Emm… Aziz?” terdengar panggilan terhadap nama gue dari arah pintu kamar.

“Stell?” Gue bangkit dari duduk dan menghampirinya. “Kenapa?”

Tanpa bicara apapun, dia menarik tangan gue menuju lantai bawah. Gue lihat ternyata mereka sudah selesai latihan dan sedang santai di ruang tamu menikmati minuman dingin. Satu yang gue sesalkan. Minuman dingin yang tersedia di atas meja itu, adalah persediaan terakhir dari dalam lemari es gue. Gue mau nangis.

Akhirnya gue menemani para cewek yang kelihatan lelah sehabis latihan menari dan menyanyi. Beberapa seperti Cindy dan Sendy, sibuk dengan handphone masing-masing.

“Ziz… Mereka pada kenapa?” Melody bertanya ke gue.

“Mereka? Para cowok unyu itu? Ahahaha… nggak apa-apa… Lagi pada ngomongin kebakaran di perumahan sebelah. Hahaha...” Gue bingung mau jawab apa.

“Ega tadi juga langsung naik ke atas tanpa menyapa gue dan kami semua dulu…” ucap Ve tiba-tiba.

“Adit… trus Ozi juga…” Melo menambahkan. Ochi mengangguk.

Stella menatap gue dengan tatapan penuh tanya. Gue mesti jawab apa?

“Yaa… mereka…”

“Lagi galau, ya? Pasti belum bisa ikhlas kalau misalkan kami lulus audisi itu.” Sendy memotong bicara gue.

“Hmm… ya gitu deh, pokoknya…” Gue mencoba bersikap biasa. Biasa : Ngupil pakai jempol kaki.

“Kami juga awalnya berat kok. Tapi kami punya tujuan yang nggak cuma buat kami saja. Kami juga mau buat kalian bangga…” ucap Melo yang saat itu memang terlihat seperti juru bicara.

“Kami sudah pikirkan secara matang kok…” tiba-tiba Sonya berbicara. Terlihat wajahnya memerah dan ia segera menundukkan wajah.

Banyak jeda di pembicaraan kami selanjutnya. Gue juga tidak bisa menyangkal, kalau gue sendiri masih tidak rela untuk ‘membagi’ pesona Stella ke khalayak ramai, walaupun gue sendiri belum jadi seseorang yang berarti bagi dia. Gue berpikir keras. Sampai akhirnya gue ingin memecahkan keheningan dengan memperlihatkan beberapa gambar gue dan Takamina dulu. Tanpa sadar gambar-gambar ini masih gue pegang sejak tadi (sejak episode sebelumnya malah).

“Ahahaha… Lucu… Ini asli, Kak?!” seru Cindy yang mood-nya yang lebih cepat berubah dari yang lain.

“Yaiyalaah… Tanya Ikey kalo nggak percaya. Ini gambar udah lama banget dari gue baru mau masuk SMP. Bhahaha…”

Perlahan suasana kembali mencair. Walaupun di dalam pikiran masing-masing, kami masih saling ‘bergentayangan’, tapi raut wajah kami seolah tidak ingin membahasnya dulu. Takutnya semakin panas…

Suara langkah terdengar dari tangga. Gue lihat Adit melangkahkan kaki menuruni tangga dengan wajah datar.

“Mel, udah jam segini. Tadi mama kamu pesan supaya aku ngantar kamu pulang. Takutnya ntar kamu juga yang kena marah…” kata Adit tanpa melihat Melo, lalu bergegas menuju pintu depan. Dia melirik gue sebentar, “Gue pulang duluan, Ziz.”

“Emm… iya… Hahaha, hati-hati yoow..” Gue menjawab dengan tawa seadanya.

Adit sudah keluar. Gue lihat Melody sedang berkemas. Tas-nya telah ditutup rapat hingga ia beranjak dari sofa.

“Gue pulang duluan ya, semuanya. Tenang aja… gue bakalan bicara baik-baik sama dia. Hehehe… Malam semua…” ucap Melody dengan senyum penutup. Memang dia bisa banget tetap bersikap dewasa di situasi yang bagaimana pun.

Suasana kembali dihiasi tentang obrolan ringan seputar 48 Family. Mereka ‘mengeroyok’ gue dengan jutaan pertanyaan yang gue sendiri butuh waktu cukup lama untuk menjawab satu-persatu. Gue memang sudah cukup paham tentang seluk-beluk dunia 48. Tapi tetap saja gue bukan maniak yang berlebihan, sehingga hanya hal-hal umum saja yang gue tahu.

“Emm… bentar ya, semuanya. Aku ke belakang dulu. Hehehe…” Cindy tiba-tiba beranjak dari sofa sambil memandang layar handphone. Mungkin ada telepon dari orangtuanya, atau malah dari Budi.

Sejenak kami mulai me-resume pembicaraan sebelumnya. Sampai akhirnya… teriakan Cindy menggema di seluruh penjuru rumah gue.

Kami bangkit. Ega dan kawan-kawan di lantai atas pun, sedang sibuk berjejal keluar kamar lalu menuruni tangga.

Gue berlari paling depan, menghampiri Cindy yang segera lari berlawanan arah untuk memeluk Sendy. Gue tidak percaya apa yang gue lihat di depan mata gue sekarang.

Halaman belakang rumah gue, mulai dijalar api…



***
Untuk episode selanjutnya (part 33); “Api mulai menjalar menuju pintu belakang rumah Aziz. Ternyata musibah kebakaran yang terjadi di dua tempat bersamaan itu, membuat lambatnya bantuan dari petugas pemadam kebakaran. Sampai akhirnya di tengah kepanikan, seseorang menyelinap masuk ke rumah Aziz...”.

Tunggu kelanjutannya, ya!

Original Story : Aziz Ramlie Adam
Writer : Temannya Stella
Editing : Bukan pacarnya Mayuyu, Supir pribadi Matsui Rena #TeamFanfic

3 comments:

  1. Gue kira Cindy kesurupan lagi... -_-"

    Berhubung ceritanya udah melibatkan kebakaran, geu jadi tambah penasaran.

    Good one Kak!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pokoknya nggak ada kisah kesurupan lagi.
      Dan... nggak bakal ada zombie-zombie-an yg dilawan Veranda.

      Muahahahaha....

      Delete

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)