Ini Ximin

Friday, March 22, 2013

Legenda Ikan Pesut Mahakam [Kalimantan Timur]



Kenalan, yuk!

*Salaman*

Nama gue James (sebut saja begitu). Di zaman ini, zaman masih belum ada JKT48, gue tinggal di sebuah dusun di Rantau Mahakam, Kalimantan Timur, Indonesia. Gue tinggal sebagai anak cowok yang normal karena memiliki sebuah keluarga yang harmonis. Ada bokap, nyokap, adik gue yang cewek, dan seorang belalang kecil yang gue dapat dari sawah. Oke, untuk si belalang ini, memang bukan anggota keluarga resmi.


Kami hidup normal layaknya manusia biasa pada zaman ini. Bokap dan gue selalu mengurusi kebun, sedangkan nyokap dan adek gue, Dhike (panggil saja begitu), selalu menanti di rumah dengan sejumlah amunisi (baca : makanan) yang melimpah dan siap menanti kepulangan gue dan bokap. Bagi gue sendiri, mengurus kebun itu enak. Kalau kita kebelet boker, bisa langsung gali tanah.

Di tengah kebahagiaan kami sebagai suatu keluarga yang utuh dan harmonis ini, tiba-tiba kami mendapatkan suatu musibah. Kami harus kehilangan satu anggota keluarga yang paling berharga… Iya, nyokap gue telah dipanggil oleh Sang Pencipta. Kami mendadak galau secara bersamaan.

Di balik stress-nya gue dan Dhike, adik gue, tentu yang paling ‘mendadak kalem’ adalah bokap. Bagaimana tidak, gue tahu betul bagaimana perasaan bokap gue ke nyokap. Besar banget. Padahal waktu muda dulu mereka tidak pernah pacaran apalagi putus-nyambung atau mesra-mesraan lewat Twitter. Mendadak beliau jadi malas mengurusi kebun. Dan akhirnya, gue serta Dhike sukses jadi galau juga.

Banyak para sepuh desa berdatangan untuk sekedar menjenguk bokap gue yang makin lama makin terlihat lusuh. Perlahan beliau makin terlihat tua. Namun, tetap saja hiburan dari para tetua ini tidak dapat mengubah kesedihan bokap. Gue yakin kalau di zaman gue dulu sudah ada Trio Kucing yang coba menghibur bokap dengan gaya-gaya bokong erotis, paling bokap gue cuma nyengir sambil bilang, “Nak, ada kucing kelaparan nih. Tolong kamu kasih tulang ikan bekas kemarin sore ya”.

Kesedihan bokap gue berlangsung selama hampir satu musim. Dari musim tanam, sampai musim panen (maklum, Negara kita tercinta dan akhir-akhir ini jadi banyak koruptor ini, tidak memiliki musim salju). Dan sampai di awal musim panen, seperti biasanya, selalu diadakan pesta adat di kampung gue. Awalnya kami tidak tertarik, karena hanyut dalam kegalauan yang berkepanjangan. Namun, saat ada sepuh desa yang bilang begini ke bokap : “Akan ada penari cantik yang tampil di acara utama”, tiba-tiba hidung beliau jadi kembang-kempis dan exited banget buat ngikutin pesta adat. Keren banget. Gue jadi tahu dari mana asal sifat gue yang hobi godain cewek-cewek di Facebook. Ini faktor keturunan.

Akhirnya hari pesta adat telah tiba. Gue bareng adek gue cuma sibuk makan gorengan di dekat pos ronda, sementara bokap nonton acara pentas ‘tepat’ di depan panggung. Iya... apalagi kalau bukan pengin ngelihat lebih jelas, cewek cantik yang dimaksud orang-orang desa.

Beberapa lama kemudian pesta adat selesai, bokap dan penari cantik itu sukses kenalan dan ketemuan. Anak muda banget, untuk ukuran bokap yang sudah paruh baya. Penari itu memang masih cantik. Gue naksir juga. Aduh, gawat... ini sinetron banget...

***

                Seminggu semenjak pesta adat, bokap gue kembali menikah dengan si penari cantik itu. Gue bahagia punya ibu baru yang cantik. Gue naksir. Gue minta dimandiin tiap hari.

                Sekarang kehidupan gue dan keluarga akhirnya kembali normal. Gue dan bokap masih berkebun, dan nyokap baru serta adik gue seperti biasa, mengais rejeki di lampu merah. Eh, bukan... Bikinin makan di rumah maksudnya.

                Namun semua itu hanya berjalan sebatas zaman awal-awal pernikahan saja, karena beberapa lama kemudian nyokap tiri gue tiba-tiba berubah menjadi antagonis seperti yang seharusnya ada di sinetron-sinetron. Dia jadi jahat. Dia pemarah. Dia nggak pernah mau lagi gue ajak mandi.

                Suatu hari, gue dan Dhike disuruh pergi ke hutan buat mencari kayu bakar oleh nyokap tiri. Padahal, kayu bakar di belakang rumah sudah banyak numpuk dan gue rasa, sudah cukup buat bikin gedung theater JKT48. FYI, adek gue, Dhike, pengin banget ikut audisi JKT48. 

Gue protes...

                “Ma, kan kayu masih banyak! Buat apa nyari terus?!”

                “Lakukan saja, dasar anak tidak tahu diri!! Atau... mama akan laporkan pada papa kamu!!”

                “Tapi kan...” Dhike ikut berbicara.

                “Tidak ada ‘tapi-tapi’-an!!” Nyokap gue membantah.

                “Yaudah dek! Kita cari aja!! Kalau misalkan kita bete di hutan, kita cari warnet buat nulis status Facebook kalau mama baru kita jahat!” Gue menyerah.

                “Cih!! Update aja sana!!” Nyokap tiri gue memaki. “Like status terbaru mama!!”


                Akhirnya kami berdua pergi menuju hutan. Namun, kami lupa satu hal. Kami belum makan.

                “Laper, Kak...” kata Dhike. Gue merasa iba. Padahal jumlah kayu bakar yang kami dapatkan belum sesuai permintaan nyokap tiri gue. Misi kami ini, harus mengumpulkan kayu bakar tiga kali lebih banyak dari kayu bakar kami kemarin.

                “Sabar, Dek... Kakak juga lapar...” balas gue, yang mulai menyadari kalau hari sudah makin sore.

                “Kita istirahat dulu yuk...” Dhike meminta.

                “Boleh...” Gue celinguk-an. Gue lihat ada sebuah gubuk yang mewah di tengah hutan. “Di sana aja!”

                Gue dan Dhike pergi menuju gubuk derita itu. Hingga akhirnya kami tidak sanggup lagi memegang perut yang sudah konser, kami sukses ketiduran di gubuk derita itu.

                Esok paginya, kami melanjutkan misi pencarian kayu bakar sebanyak-banyaknya. Hidup di zaman gue memang masih mudah kawan. Memasak butuh kayu bakar. Tapi gue bangga, karena zaman gue dulu belum ada koruptor yang bawa kabur uang triliyun-an rupiah...

                Menjelang siang, perut gue masih terbelilit rasa lapar. Hingga saat gue lihat ke belakang, Dhike sudah lemas dan tiba-tiba pingsan. Karena takut Dhike kenapa-kenapa, akhirnya gue memilih untuk ikutan pingsan...

***

                “Hasyim!” Gue terbangun karena merasa hidung gue sedang dijahili seseorang.

                Sekarang nampak pemandangan yang indah. Suasana yang rindang, dan seorang kakek tua sedang duduk di dekat gue dan Dhike. Tidak lama kemudian, Dhike pun turut siuman.

                “Kakek siapa? Bukan Pak Habibie kan?”

                “Hohoho!! Kakek hanya kebetulan pipis di pohon sebelah sana. Terus, kebetulan menemukan kalian tergeletak di tanah. Mengapa bisa demikian?” tanya kakek tua itu dengan logat yang mirip Pak Habibie.

                “Begini, Kek...” Gue mulai bercerita. Gue ceritakan semua hal yang terjadi semenjak bokap gue menikah lagi. Bokap jadi terpengaruh nyokap tiri, sampai akhirnya gue dan Dhike terdampar di sini.

                “Begitu kah...” Kakek itu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kalian pasti lapar...”

                “Hm...” Dhike menyahut lebih dulu dari gue.

                “Kalian lihat pepohonan yang di sana itu?” kata kakek itu sambil menunjuk ke suatu arah. “Pergilah ke sana. Terdapat banyak buah-buahan yang bisa kalian makan...”

                Akhirnya gue dan Dhike berdiri dan segera menuju tempat yang ditunjukkan kakek itu. Gue ingat betul pesan terakhir kakek itu saat kami berpamitan tadi.

                “Add Facebook kakek... di ‘KaK3k_Tidak Genit Clam4nya ChnykZ Nen3k’...”

                Sesuatu...

                Gue dan Dhike benar-benar sampai di ‘surga buah’. Banyak aneka jenis buah di hutan bagian sini. Gue jadi kepikiran buat buka toko buah-buahan.

                “Kenyang, Kak...” kata Dhike sambil tersenyum.

                “Hehehe... iya. Ayok kita kumpulkan lebih banyak kayu bakar lagi agar bisa pulang!!” seru gue bersemangat.

                “Hem!!”

                Kami kembali ke misi semula. Ini harus dituntaskan. Kalau quest ini nggak bisa terselesaikan, ntar kami nggak bisa naik level!

                Selesai mengumpulkan sesuai target, gue dan Dhike bergegas menuju rumah. Gue sudah tidak sabar pengin main GameBoy terbaru keluaran China. Namun alangkah terkejutnya kami, setelah mendapati kenyataan kalau ternyata rumah sudah kosong. Tidak hanya orangtua kami yang menghilang, tapi juga seluruh harta benda mereka. Benar-benar sudah kosong-melompong-gigi-otong-pada-ompong.

                Gue dan Dhike galau harus berbuat apa. Hingga akhirnya Dhike menangis sekencang-kencangnya. Sepertinya ia sudah mulai sadar, kalau ayah kami pun, sudah terpengaruh wanita sok cantik yang menikahinya itu. Gue dendam.

                Tangisan Dhike mengundang banyak tetangga yang berdatangan. Mereka bertanya-tanya dan gue menceritakan semuanya. Gue bilang, kalau besok pagi gue dan Dhike bakal mencari mereka ke mana pun. Dan seperti yang gue perhitungkan, para tetangga memberikan banyak sumbangan makanan dan bekal lain untuk perjalanan gue dan Dhike besok. Hebat bukan? Licik itu perlu guys...

                Keesokan paginya, gue dan Dhike berangkat untuk misi selanjutnya. Misi kali ini cukup rumit mengingat level kami sudah tinggi juga (iya... level game online).  Berbagai jenis hutan dan tempat prostitusi sudah kami lalui, tapi tetap tidak menemukan jejak. Dua hari kami terlunta-lunta, hingga akhirnya hari ke tiga, gue dan Dhike sampai di tepi Sungai Mahakam.

                “Huaaah... Haus!!!” teriak gue.

                “Sabar, Kak...” kata Dhike, lalu menoleh ke suatu arah. “Tanya kakek itu yuk!”

                Gue lihat, ada seorang kakek sedang menggalau di pinggir sungai. Gue kecewa, ‘Kenapa harus kakek-kakek lagi sih...? Sekali-kali ketemu SPG merk mobil terkenal kek, gitu...

                Kami berdua menghampiri kakek itu.

                “Kek... pernah lihat sepasang suami istri lewat sini? Mereka bepergian. Seorang pria paruh baya dan seorang wanita muda yang cantik dan seksi...” tanya gue.

                Kakek itu terdiam sejenak. “Oh, iya! Saya pernah lihat sepasang suami-istri yang lewat sini. Mereka membawa barang yang banyak, dan bahkan pernah singgah di jamban kakek...”

                “Di gubuk, kali Kek...” gue membenahi.

                “Iya... Di gubuk kakek...”

                Setelah kakek itu menjelaskan lebih detail tentang sepasang suami istri itu, kami yakin kalau itu orangtua kami. Menurut info si Kakek, mereka pergi untuk menetap di seberang sungai. Dan akhirnya, setelah kami memohon, kakek itu meminjamkan kami perahunya untuk membantu kami menyeberang. Tidak jauh dari kapal kami, ada seekor Kancil yang lagi melompat-lompat di atas badan para Buaya. Kancil memang pintar...

***

                Beberapa saat kemudian, gue dan Dhike sampai di seberang sungai. Maklum, dulu Jembatan Mahakam masih merupakan angan-angan saja. Jadi mau ke seberang atau ke Kota Balikpapan, ya naik perahu.

                Setelah turun dari perahu, gue dan Dhike kembali menelusuri jalan setapak hingga akhirnya menemukan sebuah gubuk. Di samping gubuk itu, terdapat jemuran baju-baju bokap gue. Pasti! Itu rumah baru mereka! Kami pergi dengan penuh rasa bahagia karena gue, khususnya, sudah pengin banget dimandiin nyokap tiri.

                Namun alangkah terperanjatnya kami karena mengetahui kenyataan kalau rumah itu lagi-lagi kosong melompong tanpa ada gigi-nya Otong yang ompong. Kami sedih. Karena saat itu kebetulan kami berdua sedang lapar badai, kami pergi ke arah dapur hingga mendapati satu panci besar yang berisikan nasi, namun sudah hampir jadi bubur. Karena kelaparan, kami berdua melahap habis bubur bernutrisi itu.

                Namun tiba-tiba, tubuh gue merasa panas. Begitu juga bila gue lihat Dhike. Sangat mengerikan. Kami berdua meminum air sebanyak-banyaknya dari tempayan di rumah ini. Tapi tetap tidak hilang rasa panas ini. Gue pun keluar rumah sambil berlari-lari dan teriak kepanasan. Begitu juga Dhike. Gue berinisiatif untuk memeluk batang pisang, berusaha untuk meredam rasa panas. Namun tetap tidak berhasil. Sampai akhirnya gue dan Dhike terpaksa menceburkan diri ke Sungai Mahakam. Hingga... kami sukses menjadi Ikan...

                Gue bahagia. Akhirnya gue bisa berenang.

***

                Demikianlah kisah gue saat berperan sebagai  anak yang menjelma menjadi Ikan Pesut. Konon katanya, penduduk sekitar menyebut kedua ikan yang kepalanya mirip manusia ini dengan nama ‘Pasut’ dan ‘Pesut’. Kalau penduduk pedalaman Mahakam, menamainya Ikan Bawoi (bukan Ikan Bohay). Konon ceritanya juga, si ibu tiri dari ikan pesut, tidak tahu pergi ke mana. Dia sangat misterius.

                Inilah kisah dari negeri gue, Samarinda-Kalimantan Timur. Semoga terhibur, dan bisa melihat kisah yang ‘waras’-nya DI SINI

                *Telah diedit sudut pandangnya oleh Aziz Ramlie Adam*





3 comments:

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)