Berjalan dari Dalam Hati

2013/03/14

Long Weekend-March 2013 [Part 2]




*TING*

*Muncul dari dalam botol kecap*

Kemana aja, Ziz? Kok baru nongol? Gak kangen blogging?

Kangen. Banget.


Sebenarnya banyak urusan yang berbelit-belit sampai bikin jari gue kena stroke duluan, sebelum gue nulisnya. Ini berat. Mulai dari kehidupan gue sebagai anak kost, sampai masalah hati gue yang belum nemu ‘kontrakkan’ yang pas.

Ah, capek ngomongin pacar. Pffft.

Jadi gini, gue kembali dengan membawa cerita loh. Seperti yang kalian (mungkin) sudah baca di posting-an gue yang Long Weekend-March 2013, kali ini gue kembali dengan Long Weekend-Part 2. Entah kenapa, sepertinya bulan ini benar-benar jadi bulan yang happy holiday banget buat gue.

Jadi awalnya masih sama. Tempat tujuan masih ke Balikpapan. Bedanya, gue berangkat bareng personil yang berbeda. Kalau sebelumnya gue duet bareng Mukti dengan resiko penggadaian dompet, kali ini gue Trio bareng Adit dan Cholis.

Kejadian sendu ini bermula ketika hari Jumat lalu, sekitar jam lima sore, kami bertiga memulai perjalanan ke Balikpapan. Sendunya di mana? Di jalan. Kami sukses basah kuyup. Hujan memang selalu jadi penumpang yang paling menjengkelkan bagi para Kamen Rider seperti kami. Namanya juga touring, mesti keren kalau pakai motor kan?

Sampai di sana sekitar jam setengah sembilan malam. Iya... itu juga sudah termasuk waktu kami berteduh di depan sebuah agen penjualan sepeda motor, bareng om-om berwajah koruptor yang juga ikut berteduh.

Alangkah mengerikannya sambutan di rumah Sandy malam itu. Suram. Sekitar sebelas orang sedang mengadakan pesta miras (Minta Beras). Yah... arti Miras sendiri sudah pada tahu kan? Apa perlu tetangga gue yang jualan mie ayam harus bertindak untuk menjelaskannya?

Loe ikut minum Ziz?

Ya nggak lah. Nggak banyak maksudnya. Enggak kok, beneran. Salah besar bila kalian menganggap tampang preman pasar kayak gue ini adalah seorang pemabuk. Ntar, bukannya wajah ya? Halaah... intinya gue sudah tobat (?)

Gue nggak suka dengan keramaian para pemabuk ini. Melihat mereka saja udah membuat gue mabuk. Di mata gue, mereka terlihat seperti ini.

 Mabuk banget, kan?


Ini anak siapa? Hayo ngaku!


Nah, karena tidak mau bergaul lebih jauh, kami bertiga memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. Capek. Letih. Lesu.

Kami benar-benar butuh penghibur. Dan seketika, kami malah melakukan hal yang lebih parah dari orang-orang mabuk di luar. Ini tanpa rekayasa. Nol persen alkohol, dan seratus persen kegilaan abadi. Gue sarankan, bagi yang mata batinnya belum diaktifkan, tolong jangan melihat gambar di bawah ini.

Kebayang kalau loe punya cewek kayak gini?


Nah, ada yang godain emak-emak itu tuh


Ini semacam tujuan hidup gitu -____-



Mengerikan!

Esok paginya, gue bangun dengan perasaan bahagia. Hari sabtu. Itu tandanya, malam minggu sudah dekat. Maaf, gue lupa kalau seekor jomblo kayak gue ini menyebutnya dengan ‘Sabtu Malam’.

Sore harinya, kami pergi ke pantai terdekat. Di dekat rumah Sandy, ada semacam pantai yang lumayan bikin tenang jiwa. Kami sempat melihat adegan pembunuhan loh. Ini dia...

Ada orang sekarat akibat Rasengan-nya Naruto


Sudah sekarat, ditendang pula


Sudah gitu, dihajar om-om pula.


Kasihan...

Gue berharap orang yang teraniaya itu bisa diberi umur pnjang dan duit tambahan setiap minggunya. Maklum, harga bahan pangan banyak yang naik di luar perkiraan. Gue takut, tesis Bang Raditya Dika tentang melonjaknya harga tahu dan tempe, akan terulang lagi.

Oh iya, gue baru tahu kalau Kangen Band sudah punya vokalis baru. Lumayan lah. Walaupun gue sedikit kecewa karena bukan Mukti yang menggantikannya.

Lanjut.....

Ini bukan dua insan yang memadu kasih


Perlu keuletan yang besar untuk bisa mengambil foto ini


Dapat harta karun. Lumayan buat nambal tembok di kost.


Si pembuat Istana pasir


Si pengagum Istana pasir


Si Bodoh yang ingin menyakiti pantatnya sendiri


Yaahh... weekend itu kalau nggak gila-gilaan, pasti nggak seru. Dan hal itu membuat gue menarik suatu kesimpulan...

‘Weekend di RSJ kayaknya seru...’

Setelah main di pantai sampai jam setengah tujuh malam, kami kembali ke rumah Sandy. Kami mandi sebentar, dan siap berdandan seolah-olah kami semua punya pacar buat jalan malam minggu. Setelah kenyataan yang cukup pedis, kami nangis bareng di lampu merah.

Malam itu kami nongkrong di sebuah Monumen Perjuangan. Masih dengan suasana laut, yang membuat kami berempat (termasuk Sandy), hanyut terbawa suasana.

Saat sedang asik nongkrong, ada dua orang wanita muda menghampiri kami. Gue pikir mereka preman yang minta jatah permen karet. Ternyata, mau nawarin kerjaan dengan penghasilan minimal seratus ribu per hari. Mau tahu apa pekerjaannya? Silahkan buka google dan search tentang MLM. Udah.

Malam minggu yang suram. Bukannya dapat cewek, malah dapat mbak-mbak agen MLM. Tapi ya nggak apa. Toh, gue jadi dapat kartu namanya, yang juga berisikan nomer telepon. Lumayan, buat ditelepon kalau suatu waktu WC gue kambuh lagi mampetnya.

Kami akhirnya pulang setelah puas keliling kota dan nonton para pembalap liar pada naik jalur, sampai sekitar jam setengah tiga pagi. Seru. Gue sampai nggak sempat mengabadikan moment bersejarah itu. Iya... ini pertama kalinya gue nonton yang namanya balap liar tengah malam. Sesuatu memang, mengingat gue ini anak yang imut dan masih polos.

Itu siapa yang muntah, ya?

Lanjut...

Hari minggu telah tiba. Minggu pagi rencananya kami bakal jogging sambil memilih-milih cewek sporty mana yang akan kami gebet. Tapi... bangunnya jam sepuluh. Telat. Harapan kami untuk menonton senam ibu-ibu PKK, sirna begitu saja.

Gue yang bangun pertama, memutuskan untuk pergi ke mesin ATM terdekat. Gue rasa, usus gue sudah keriting saking laparnya. Gue pergi ke warung makan yang menjual daging ikan pari, ditusuk-tusuk mirip sate. Enak.

Selama gue makan, ada saja pelanggan lain yang bertanya tentang daging yang ditusuk-tusuk itu.

“Ini ikan apa, Bu?” tanya salah satu pelanggan.
“Pari...” jawab Ibu penjual dengan lusuhnya.
“Kalau di tempat saya, namanya ikan Cucut, Bu...” seru mbak pelanggan lagi.

Gue jadi berpikir, bedanya ikan Pari sama ikan Cucut itu apa, ya? Khayalan gue perlahan makin mengganas.

Ini ikan Pari


Ini ikan Cucut


Ini siapa??!!!


Sepulang itu, gue kembali dengan wajah masih penuh rasa lapar. Sebenarnya satu porsi ikan Pari masih kalah sama seperempat nasi bungkus di angkringan. Gue pengin nambah, tapi dompet gue meronta dengan hebatnya. Dia bilang “kalau loe mau tambah makan, berarti sudah siap kelaparan selama satu bulan. Huehehehe!”

Dasar dompet jahat...


Malam senin telah tiba. Tidak terlalu spesial karena selain dilanda gerimis, cewek-cewek seksi juga jarang keluar pada malam senin seperti ini.

Akhirnya, setelah makan Kebab di pinggir jalan, gue dan seonggok pasukan (Adit dan Cholis), pergi nongkrong di Taman Bekapai. Tamannya unik, warna-warni seperti dikelilingi Telletubies.

Sekitar jam satu malam, kami bertiga dihampiri dua orang pengamen, yang mengaku kalau sudah menjadi anak punk sejak umur enam tahun. Awalnya gue kagum atas konsistensi mereka. Tapi setelah mengetahui kalau umur mereka baru beranjak delapan tahun, gue sempat pengin beli gergaji mesin untuk segera menghabisi mereka.

Ini yang pengamen yang mana sih?


Malam makin larut. Para waria yang malam minggu kemarin banyak berkeliaran, sempat berkurang sekitar setengah populasi. Tiap mau pulang ke rumah Sandy, kami tidak lupa untuk lewat tempat waria sedang menanti ‘pembeli’-nya dengan sabar. Yang paling bikin kangen, adalah seorang waria gemuk yang kami panggil dengan sebutan si Dugong. Maaf kalau gue tidak sempat mengambil foto. Maklum, daerah situ rawan akan kejahatan seksual. Kalau gue nekat foto waria-waria itu, jangan harap loe semua bisa lihat gue pakai celana dengan benar.

Hari Senin tiba juga. Jadi ingat, dulu sewaktu SMA, hari senin adalah hari yang sangat menyenangkan buat gue.

Upacara.

Siapa bilang gue ikut upacara? Gue cuma menikmati kesengsaraan teman-teman yang menjalankan ritual tatap matahari pagi itu. Sementara gue dan Rudi (salah satu teman paling beringas gue di zaman SMA) selalu asik hura-hura di kelas sambil bergantian menghisap rokok.

Iya... itu zaman jahiliyah banget. Waktu itu Firaun masih suka ngoleksi boneka Barbie.

Ini hari terahkir, karena hari Selasa kami akan kembali ke Samarinda. Karena itu, lagi-lagi kami memutuskan untuk pergi ke pantai. Tepatnya di pantai Manggar. Liburan yang sebenarnya dimulai ketika saat itu, ternyata sedang musim ubur-ubur naik ke permukaan. Sungguh, lautan saat itu dipenuhi ubur-ubur.

Salah satu ubur-ubur yang berhasil gue sekap.


Memang lebih imut kalau fotonya nggak sama gue


Persiapan buat ngalay di acara musik


Yang ganteng, yang berjaya


Adit lagi nyari mantan pacar


Foto terakhir, sekedar menghibur hati gue. Pffft.


Nah, kami sampai ke rumah Sandy juga sekitaran habis maghrib. Malamnya, kami lagi-lagi jalan buat ngecengin anak turis di BSB. Pas banget, kami ketemu anak-anak bule lagi bersenda gurau di depan E-walk. Cantik. Gue jadi pengin bawa pulang satu, buat jadi jimat di dalam dompet.

Nah... keseruan terus berlanjut sampai akhirnya kami makan Salome di Lapangan Merdeka. Ini sesuatu banget. Salome, atau sejenis Pentol di situ, memang paling enak di dunia. Rasanya bikin kita pengin alay kembali.

Hmmm... sekian dulu catatan liburan gue yang kedua dalam bulan ini. Rencananya, next weekend  kita bakal pergi ke kota lain. Hohoho... namanya juga hobi. Demi kepuasaan batin, uang saku selama satu bulan rela dikorbankan. Alhasil, sekarang gue rutin makan mie instan mentah diremukin, tiga kali sehari.

Pesan gue cuma satu : “Jangan berenang di laut yang lagi banyak ubur-uburnya. Gatal, men

Salam botol kecap asin!!

 

7 comments:

  1. Keren juga yah weekend Kak Aziz.
    Weekend gue selalu membosankan ditambah lagi dengan koneksi internet yang sementara galau. -_-"

    Baru pertama kali gue ngeliat ubur-ubur...
    Tapi harus buru-buru dibalikin, ntar nyokapnya ngamuk.
    *nginjek koral* Eh, Kak! Aku nemu Patrick!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Weekend itu, gak sebatas koneksi internet. Jamban belakang rumah jg bisa jadi sarana buat liburan (ngeden seharian maksudnya). Pffft...

      Bicara soal ubur-ubur, gue lagi mikirin gimana caranya nangkap ikan hiu...

      Delete
    2. Ahahaha, Bener juga sih kalo dipikir-pikir (termasuk bagian ngeden seharian)...

      Hm, kalo soal ikan hiu sih...
      Kayaknya bahaya amat tuh kak (tapi greget). Gue bantu aja dengan doa dari sini. Moga-mogahan aja hiunya terdampar di darat dan moga-mogahan juga, hiunya gak tau cara bernapas dan "berenang" di darat

      Delete
    3. Kata-katamu mengalihkan duniaku -,-
      Oy... bikin Resident Vevil 2 dong. Bhahaha!

      Delete
  2. sib bro dr pda weekend di rumah nungguin durian jatuh :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener... Lagian, nanam pohon duren di dalam rumah adalah pekerjaan yang sulit...

      Delete

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)