Long Weekend-March 2013


 Foto salah satu teman kampus gue, pas dia masih SMA. Biar semangat aja sih.

Nah, pertama-tama kita panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena berkat kehendak-Nya lah, kalian bisa melihat posting-an terbaru gue ini.

Gue tidak akan lupa untuk mengucapkan “Selamat Bulan Maret 2013!”, dan untuk yang baru dapat pacar, gue punya sedikit pesan : “Kejombloan menanti kalian, guys!” Maaf, gue tidak iri. Ini hanya perasaan ingin saling mengingatkan. Semoga kalian insyaf dan segera melakukan mandi besar.


Gue punya cerita, tentang weekend gue kali ini. Misterius memang, tapi gue akan berusaha untuk menyampaikannya secara lugas sehingga jamban kalian pun, akan sungkan untuk tertawa.

Berawal dari beberapa hari lalu, saat gue dan teman-teman kost, sedang menggila karena sabtu malam sebelumnya terasa begitu menyiksa. Banyak hal absurd terjadi. Diawali dengan anak-anak SMP alay yang sibuk main BMX di gang dekat kost, sampai kami yang terdampar di warung kopi hingga jam tiga pagi. Dan tentu saja, masih dengan status sosial yang sama : Tuna Asmara.

Setelah melewati beberapa musyawarah, akhirnya genk gue memutuskan untuk berlibur ke luar kota. Ke Balikpapan, pusat industri Kalimantan Timur. Nggak percaya kalau kami berempat menjalankan diskusi dengan tidak sedikit berpikir? Ini buktinya

Rapat sampai muka berdarah-darah

Weekend semakin dekat. Hidung gue juga makin kembang-kempis menunggu saat itu tiba. Karena bagi gue, Balikpapan adalah tempat di mana gue bisa puas cuci mata. Iya… cuci mata di toilet Masjid dekat Lapangan Merdeka memang asik. Airnya segar.

Namun, hari kamis lalu, dua anggota gue : Didit dan Cholis, pergi begitu saja untuk pulang kampung. Dan sialnya, mereka membawa motor dan laptop masing-masing. Itu artinya, gue nggak bakal punya motor dan laptop pinjaman lagi. Mari… berdoa buat gue.

Kesengsaraan semakin berlanjut ketika hari Jumat, gue dan Mukti mencoba untuk melamar di sebuah perusahaan dengan brand yang cukup terkenal. Gue sukses diterima, Mukti masih ngambang. Awalnya Pak Manajer memang mengambangkan status pekerjaan Mukti. Nggak lama, Mukti sukses ngambang di bawah jamban Sungai Mahakam.

Usai ketegangan yang melanda, gue dan Mukti tetap ingin menjalankan weekend dengan budget yang seadanya. Secukupnya. Dan tentu saja, semenderita-nya. Walaupun gue sempat galau ingin pulang kampung (karena si Budi katanya mau ngerayain ultah ke-17) atau ke Balikpapan, gue dan Mukti akhirnya pasrah untuk ke Balikpapan saja karena setelah melihat dompet, kami sadar kalau sebenarnya kami nggak butuh dompet untuk sekedar menyimpan uang recehan.

Oh iya, si Budi lahir tanggal 29 Februari 1996. Karena itu, pas dia bilang kalau ini ultah ke-17, gue nggak percaya. Kalau dihitung-hitung, umurnya baru 4 tahun.

Akhirnya perjalanan penuh suka cita, kami lakukan. Dan setelah sukses memanaskan pantat di jok motor selama kurang lebih dua setengah jam, akhirnya kami pacaran. Eh, nggak. Kami sampai di Balikpapan. Tepatnya pukul dua siang, di hari sabtu.

Sampai di rumah sanak saudara jauh gue (sebut saja Sandy), gue mengawali liburan hari sabtu itu dengan sedikit mengasah kemampuan memasak gue. Waktu gue buka kulkas, ada beberapa kemasan Nugget yang terlihat menggiurkan. Sikap jenius gue pun meluap. Gue masak tuh Nugget. Tapi sepertinya ada sedikit kesalahan. Nugget masakan gue nggak cocok buat jadi lauk. Mungkin lebih cocok jadi bahan tawuran, karena selain jadinya keras, warnanya juga meyakinkan.

Ini Nugget di iklan.


Ini alat buat tawuran.

Usai memakan bahan tawuran itu, sekitar jam lima sore, kami berempat menuju ke pantai terdekat. Iya berempat. Selain gue, Sandy, dan Mukti, ada seorang lagi teman Sandy yang wajahnya sangat familiar. Gue sering lihat ia di tipi dengan tagline iklan “Sumber aer su dekat.” Dia membantah, “Bukan! Saya dari Flores! Dan nggak pernah ikut casting iklan!”

Gue ngeden.

Ini ada foto anak alay lagi ngubek-ngubek pantai.


Usai dengan semua keluh kesal di pantai, yang kata Mukti sebagai “ajang buang sial”, kami kembali saat maghrib sudah tiba. Schedule sudah ditetapkan. Malam ini kami berencana buat pergi ke Balcony. Kebetulan lagi ada wahana bagus yang hanya diadakan sampai akhir Maret nanti. Gue penasaran.

Setelah melewati macet yang biasa-biasa aja (seperti biasa, gue pasang muka cemberut), akhirnya kami berempat sampai pada tujuan. Gue masih penasaran. Dan setelah sampai di sana, akhirnya gue mengerti kenapa wahana ini begitu keren dengan slogan-nya yang berbunyi : “Hanya bagi yang bernyali!”.

‘Gudang Hantu Indonesia’

Itulah nama wahananya. Pengunjung banyak yang berdesakan untuk mengantri masuk, ataupun sekedar melihat ekspresi takut para peserta yang baru keluar dari wahana itu. Kebetulan, di luar wahana hantu-hantuan itu juga dipajang sesosok makhluk aneh (yang gue yakin kalau itu manusia juga) yang duduk santai dan kadang berdiri sambil berjalan menakut-nakuti pengunjung. Ini adalah penampakannya. Gue foto dari jauh karena kalau mau foto bareng dia, harus bayar 20 ribu. Bagi anak kost seperti gue, 20 ribu bisa menyambung hidup sampai 4 hari ke depan.

 Mirip Bang Once, ya?


Akhirnya gue dan Sandy memutuskan untuk menantang wahana itu. Kami sengaja antri di dekat cewek-cewek cantik biar masuknya bisa barengan. Bukannya mau niat mesum. Cuma gue punya pikiran begini, 'Biasanya setan banyak yang cabul. Jadi, kalau masuk bareng cewek cantik, pasti gue aman'.

Setelah antrian kami hampir tiba, kami sukses terpisah dengan cewek-cewek cantik itu. Mereka masuk duluan. Gue lihat di belakang, terdapat beberapa cowok berbadan eksotis, dan beberapa cewek yang kusam.

Gue mau nangis.

Beberapa saat kemudian (mungkin 20 menit), akhirnya gue berhasil melewati wahana itu. Gue lari keluar dengan kepala di bawah dan kaki di atas. Puas. Gue merasa puas sudah banyak teriak-teriak di dalam tadi. Dan akhirnya, gue merasa bangga telah menyelesaikan wahana itu dengan berbagai prestasi seperti : Nginjek tangan Suster Ngesot, nendang Anak Tuyul, meninju Genderuwo, dan ngilerin Pocong berkelamin ganda.

Malam minggu yang indah. Saking indahnya, malam itu kami bahkan terjebak macet sambil kena hujan. Indahnya...

Menjelang pukul sebelas malam, Sandy mengajak gue untuk pergi menemui kenalannya di BBM (BahanBakar Messenger). Cewek. Sebagai tuna asmara, ini tentu kesempatan yang jahanam buat gue.

Kami menemui cewek itu di D'Maestro cafe. Pandangan pertama gue ngelihat cewek ini... kurus. Wajah sih, boleh kayak artis Hollywood. Tapi body-nya itu loh... mirip kayak rokok mild yang dia hisap. Iya... ni cewek baru kelas 1 SMA, perokok, anak dugem, dan banting setir mobil ke mana-mana. Makan tuh! Ababil!

Maaf, gue lupa ini siapa.

Keesokan harinya, kami menghabiskan banyak waktu buat seru-seruan. Saking serunya, gue udah lupa sejak kapan dompet gue kosong sisa STNK sama SIM doang. KTP gue tinggal, soalnya belum punya niat buat ngutang di warung-warung.

Ini ada beberapa foto remaja 'pelepas galau'

Sengaja dipasang miring biar ganteng gue nggak mencolok

Mukti sempat jadi korban perkosaan

Usai dengan semua ke-hura-hura-an malam itu, kami pulang dan begadang. Iya... anak kost sudah punya mental baja buat sekedar begadang. Hingga akhirnya kami harus pulang hari Senin.

**
Perjalanan pulang menuju Samarinda, diwarnai cerita-cerita sekelas Bollywood juga loh. Ini diawali dari bocornya ban gue di sekitran daerah Samboja. Dan setelah periksa kantong, uang sisa seribu. Ini serius. Awalnya ada sepuluh ribu, tapi gue dan Mukti belikan sebungkus rokok murah karena ngerasa bensin udah cukup buat balik. Tapi namanya hidup, ada-ada saja. Ini nih, contohnya!

Akhirnya setelah dipenuhi peluh karena lama mendorong motor, kami menemukan bengkel. Penginnya sih, tambal ban. Tapi dengan uang seribu rupiah yang di Kalimantan hanya cukup buat beli empat buah permen ini, apa bisa???

Bisa.

Gue berniat menggadaikan jam tangan kesayangan gue yang sudah hampir tiga tahun menemani tangan kiri gue. Sudah tidak ada harapan lagi, sampai akhirnya Mukti memberikan pertolongan berarti. Dia memberikan dompetnya untuk membayar tambal ban. Iya... dompetnya... Isinya kan nggak ada juga. Untungnya bapak-bapak penambal ban itu baik hati. Dompet lusuh Mukti diterima dengan senang hati.

Gue jadi dapat banyak pelajaran ketika kita sedang bepergian. Pertama, jangan bawa barang kesayangan karena disaat mendesak, niat kita untuk menggadaikan pasti ada. Kedua, bawalah teman yang duitnya nggak ada, tapi dompetnya masih baru...

Ada yang sudah ngerasa tenang karena yakin bakal tidak ada musibah lagi yang menimpa gue?

Hentikan! Karena kenyataannya, sekitar lima kilometer setelah ban motor gue ditambal, bannya pecah lagi... Gue mau nangis.

Waktu itu kami sedang berada di jalan yang sepi dan tidak ada rumah satu pun. Apalagi bengkel. Namun karena gue dan Mukti ini mungkin ganteng, maka sebuah mobil pick-up berwarna putih, menghampiri kami yang kelihatan sudah sekarat. Dan nggak perlu ditanya lagi. Selama kurang lebih 70 kilometer, kami tiduran di bak pick-up.

Ini waktu awal-awal naik pick-up 

Ini beberapa saat kemudian, gue mulai bete

Gue nahan boker

Lagi-lagi Mukti jadi korban pemerkosaan

Jam tua yang sudah menghiasi hidup gue selama tiga tahun


Akhirnya gue sampai di kost malam hari, sekitar jam setengah delapan. Alhamdulillah, ya. Sudah diantar sampai depan gang kost, dibeliin minuman dingin pula, sama mas supir pick-up. Makasih Mas, anda benar-benar manusia baik hati.

Ini cerita(suram)ku. Mana cerita(suram)mu???! 

 

8 comments:

  1. dari semua huruf + angka yg ada di postingan lu, yang foto cewek itu siapa? kenalin kek... ghahahahahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. epic banget. foto G+ nya mbong lebih senior dibanding ava twitternya

      Delete
    2. Entah kenapa foto itu sangat familiar kalau mukanya dideret banyak-banyak.

      Delete
  2. kapan gue dapet bagian jis ? sudah terlalu lama gue memendam perasaan. tapi gak bisa mengungkapkan (pada bu hepi)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ungkapkan lah... Jangan lupa bawa setangkai pipet dan sekuntum tabung reaksi ...

      Delete

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)