Berjalan dari Dalam Hati

2013/03/21

Pancuran Shower dan Sebuah Konsistensi




“Pokoknya gue bakal terus nge-idola-in dia! Dia itu artis favorit gue!”
“Hooh... Pasti karena dia seksi kan?”
“Kagak lah... Ini tulus, men...”

Dua hari kemudian, si ‘artis’ yang dimaksud, mengalami kecelakaan hingga wajahnya penuh dengan bisul.

“Bro... Idola loe kecelakaan ya?”
“Yang mana? Idola gue itu ini koook” *tunjukkin  foto personel boyband terbaru*



Itu tadi adalah percakapan antara Uwo dan kawannya, Ocong. Uwo awalnya adalah seorang penggemar salah satu model iklan sabun colek terbaru. Awalnya ia hanya tertarik karena model tersebut seksi dan di iklan, berperan sebagai tukang cuci mobil. Sampai akhirnya si Uwo jadi jatuh cinta hingga selalu mengkonsumsi sabun colek secara rutin setiap habis sarapan pagi.

Namun apa daya. Musibah memang tidak dapat diperkirakan kapan waktu pastinya akan datang. Dan saat si model seksi tukang cuci mobil itu mengalami kecelakaan, Uwo malah berpindah hati ke sebuah grup vokal pria yang lagi booming di negeri seberang. Kasihan model sabun colek itu. Fans-nya (yang bego) hilang satu.

***

Petikan cerita porno di atas hanyalah contoh, bahwa umur pun tidak menjamin akan sifat konsistensi seseorang. Dalam jangka beberapa saat, tentu kita selalu dihadapkan dengan sebuah kenyataan kalau lagi-lagi kita harus melawan konsistensi kita, sehingga terlihat labil.

Survey membuktikan “Tidak banyak total persentase orang yang sukses karena sebuah konsistensi”.

Aziz, kenapa jadi ngebahas soal konsistensi?

Nah, di sini lah gue akan memulai kenapa gue jadi berpikiran sok kritis seperti ini... Kritis yang berarti berpikir pakai otak secara berlebihan ya, bukan berarti gue lagi sekarat di Rumah Sakit.

Alkisah, di zaman saat fans JKT48 lagi pada rusuh karena member Jekate banyak yang mau graduate (keluar dari manajemen gitu), hiduplah seorang perantau pemula dengan level MLM yang rendah. Iya, itu gue. Semenjak nge-kost, gue jadi punya banyak kebiasaan baru (bisa baca DI SINI), dan salah satunya adalah... mandi.

Bagi gue, hidup di kota orang adalah sesuatu yang menakjubkan. Kita jadi bisa nunjukkin kalau kampung halaman kita juga punya sosok yang menawan dan baik hati. Iya... orang itu adalah diri kita sendiri. Dan karena nggak mau malu-maluin kampung halaman, gue memutuskan untuk terlihat sedikit lebih tampan dari di kampung dulu. Dan menurut gue, cara yang paling dasar adalah sering-sering mandi besar setiap hari.

Namun akhir-akhir ini, gue sering ngerasa kesal dengan masalah air yang cukup menganggu. Aliran shower di kost sering banget ngadet tidak menentu. Kadang kencang, kadang malah lebih pelan dari pipis balita yang belum minum selama satu hari. Kran air buat ngisi bak mandi pun, juga sama saja. Entah kenapa tiba-tiba mereka jadi pada galau. Padahal, gue selalu rajin membersihkan kamar mandi tiap satu bulan sekali. Kurang apa coba?

Ke-tidak-pasti-an aliran air ini gue ketahui saat beberapa hari lalu gue sedang mandi. Waktu itu lagi asik shampoo-an sampai ketiduran. Pas gue putar kran shower-nya, awalnya lancar-lancar saja. Tapi belum sempat busa yang turun ke wajah tampan gue ini hilang, airnya tiba-tiba mati. Gue sukses kena rabun sesaat, dan nggak sengaja terjebak di dalam kloset.

Kasus ke dua, gue lagi asik boker. Udah... jangan bayangin dulu dong gue boker kayak gimana (bodoh...). Karena waktu itu shower-nya udah lama nggak nyala, gue terus memutar kran-nya agar gue tahu kalau airnya sudah jalan. Kebetulan waktu itu gue setting agak jauh ke arah jamban. Dan tiba-tiba, aliran air dari shower mengalir dengan indahnya... menuju gue yang sedang asik ngeden. Gue sukses boker sambil mandi.

Ini membuat gue menarik sebuah kesimpulan : “Shower kost ini... tidak punya konsistensi”

Bagaimana tidak. Saat gue perlu, dia mampet. Dan saat gue nggak perlu, dia malah mengalirkan air dengan indahnya. Kadang, ada satu hari dia mengalir dengan baiknya. Dan kadang, dia nggak mau mengalir selama berhari-hari. Tapi tetap, yang paling bete, saat awal mandi dia mengalir dengan deras, lalu mati di tengah proses mandi. Iya... si ‘dia’ ini memang merepotkan.

Gue sempat mengajukan bantuan ke posko layanan masyarakat terdekat (baca: Bapak Kost). Tapi dia malah menanggapi dengan berkata kalau bulan ini gue telat lagi buat bayar kost. Gue syok saat itu.

Beralih dari shower, gue ini sebenarnya termasuk orang yang kurang meresapi makna dari konsistensi. Bagi gue, fokus dalam satu hal itu sangat sulit. Kata anak gaul zaman sekarang, namanya itu... labil.

Ziz... tau nggak sih, konsisten itu maksudnya apaan?

*Buru-buru googling*

Oke dapat. Memang dari tadi gue cerita panjang lebar tapi belum ngejelasin kalau ‘konsisten’ itu apa, ya. Gini deh... kalau kata Om Wiki, Konsistensi itu :

“Sebuah sematik dengan sematik yang lainnya tidak mengandung kontradiksi. Tidak adanya kontradiksi dapat diartikan baik dalam hal semantik atau berhubung dengan sintaksis. Definisi semantik yang menyatakan bahwa sebuah teori yang konsisten jika ia memiliki model ; ini digunakan dalam arti logika tradisional Aristoteles walaupun dalam logika matematika kontemporer terdapat istilah satisfiable yang digunakan”.

Pusing?? Sama... gue habis berusaha mencerna definisi itu, sempat bolak-balik wc buat pipis. Entah apa hubungannya... Mungkin saking sedihnya, gue sampai nangis, lewat bawah...

Bagi gue sendiri, konsisten itu adalah suatu ketetapan, atau tidak berubah-ubah. Contohnya... satu meter itu ya seratus centimeter. Ya, gitu kali...

Sederhananya lagi, konsistensi itu ibarat manusia normal. Otak kita memberikan ‘perintah’, tubuh kita melakukannya. Hm... lebih kepada sesuatu yang kita niat, atau katakan, terus kita lakukan sesuai apa yang kita niatkan.

Gue ini termasuk orang yang tingkat konsistensinya bisa dibilang rendah. Gue pernah niat buat jadi pemain basket nomor satu di seluruh jagad raya. Tapi sekarang, gue malah terjebak di dunia tulis-menulis blog. Bicar soal nulis, gue juga sempat bikin naskah novel biar lebih banyak yang bisa baca tulisan gue dalam bentuk buku. Tapi apa daya, gue malah menelantarkan naskah itu (di beberapa penerbit) yang sepertinya sudah kena stroke pas ngebaca kalimat pembukanya.

Tidak hanya itu, gue juga sempat berkutat di dunia gambar-menggambar sebagai asisten Om gue yang jago ngelukis. Alhasil, gue kabur karena tiba-tiba ketagihan game online. Dan game online pun gue tinggalkan karena gue tiba-tiba jadi pengn nonton Kamen Rider Kiva.

Labil ya? Tidak juga kalau menurut gue. Konsep labil sendiri sebenarnya bisa diartikan sebagai ‘lawan’ dari konsisten. Tapi gue rasa, gue bukan labil. Namun lebih ke ‘kurang konsisten’.

Gue sering gonta-ganti hobi, untuk mencoba sesuatu hal yang baru. Itu bukan labil, tapi haus ilmu dan kreativitas. ‘Kurang konsisten’-nya di mana? Tentu saja di bagian pencapaian. Iya... hampir semua hobi dan keinginan gue itu, selalu mengalami pencapaian yang ‘seadanya’. Tapi nggak apa, toh gue merasa puas dan bisa dicoba lagi saat nanti ke-tidak-konsistensi-an gue kembali. Pffftt.

Opini gue di akhir sini, gue cuma mau meyimpulkan kalau sebenarnya konsistensi itu ada pada semua manusia. Yang membedakan cuma besar tidak-nya keinginan mereka untuk mengembangkan konsistensi tersebut. Satu lagi, NGGAK ADA YANG LABIL DI DUNIA INI.

Kenapa? Karena orang yang sifat dan keinginannya suka berubah-ubah itu, nggak pantas disebut ‘labil’. Mereka tetap punya konsistensi.

Iya... konsisten untuk tetap jadi labil...

Selamat malam! Semoga artikel ini memberikan manfaat walaupun isinya tidak jelas. Gue cuma lagi galau. Dompet gue lagi konsisten banget... buat kosong...


Apa kamu termasuk orang yang konsisten?


  


4 comments:

  1. hahahaaaaa...
    G H U Y O N A N yg menarik mas
    ya.. kl ngmgngin (konsisten) mmg agak ribet ya. ahh mgkin sama sajalah..
    aku jg msh belajar tuk bs selalu konsisten

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... makasih :)
      Setidaknya kita masih bisa konsisten dalam beberapa hal kecil, seperti konsisten buat makan atau bernafas misalnya. Hhohoho...

      Delete
  2. ahaha,, gile si uwo masa makan sabun :D

    nice artikel gan......

    sukses selalu yah :)

    ReplyDelete

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)