Berjalan dari Dalam Hati

2013/04/08

Bukan Curhat Biasa


Posted by : Pamannya Aziz 



“Btw, pernah kepikiran buat cari cewek nggak?”
“Pernah sih...”
“Terus? Usaha loe mana? Udah punya target gebetan, gitu?”
“Belum ada yang menarik. Sorry nih, gue agak sensitif kalau masalah nyari pasangan gitu”
“Wah... keren loe”


*Ngeles abadi*

Itu adalah sepotong pembicaraan seorang jomblo dan seorang pelaku LDR di sebuah malam minggu, di tengah keramaian orang pacaran. Hubungannya sama gue? Nggak ada... karena gue sendiri adalah pria jomblo tersebut.

Bicara soal kesepian karena kosongnya hati (jiahh...) hari Kamis lalu gue punya cerita sendu tentang perjuangan gue untuk bertemu tiga gadis cantik. Waktu itu gue nekat berangkat jam setengah enam pagi ke Kota Balikpapan dengan berbekal mata hasil begadang.

Perlu diketahui kalau jarak Samarinda-Balikpapan itu hanya sekitar 120-an kilometer. Jarak yang cukup menegangkan kalau berangkatnya cuma jalan kaki tanpa kendaraan. Dan gue... pria semi-tampan ini, nekat bertarung dengan waktu karena janji untuk bertemu ketiga wanita itu adalah jam 10 pagi.

Sebenarnya gue bisa saja pergi dari hari-hari sebelumnya. Bukan... gue memang nggak bisa. Kenyataan kalau motor gue punya ‘skandal’ tersendiri di dunia otomotif, membuat gue harus sabar kapan dia bisa sembuh dari penyakitnya. Malam Kamis itu aja gue nekat meminta bantuan motor lusuh itu, untuk menemani perjalanan gue. Padahal motor lusuh itu sendiri belum sembuh total.

Keadaan ekonomi yang semakin lama semakin melilit jidat gue juga menjadi masalah utama. Mungkin ini akibat dari hura-hura gue di awal bulan Maret kemarin. Iya... dua minggu berturut-turur di awal bulan kemarin, gue selalu menghabiskan weekend secara ganas (bisa baca DI SINI dan DI SINI).  Itulah kenapa keuangan gue di pertengahan bulan sudah setingkat mie instan mentah... satu kali sehari.

Mengerikan memang. Namun karena gue sudah keburu janji untuk bertemu para gadis di Balikpapan sana, gue nekat pergi menembus embun yang bahkan bisa membunuh beruang kutub (beruang kutub tanpa bulu dan lagi kena penyakit ambeien). Sumpah demi kumisnya Eyang Subur, jalan Samarinda-Balikpapan tidaklah mudah untuk dilalui. Apalagi saat itu pasca hujan. Jalan licin yang membelah kumpulan hutan tropis menjadi tantangan tersendiri untuk pria imut seperti gue.

Uang (hasil hutang) sebesar 22 ribu menjadi teman seperjuangan gue juga. Itu yang membuat gue sempat beberapa kali mendorong motor hanya untuk mencari SPBU yang bisa dihampiri. Bukannya gue enggan untuk beli bensin eceran. But, you know lah... uang segitu cukup berapa liter sih di eceran, untuk motor gue yang pada saat itu sedang haus bensin alias kosong sama sekali.

Untuk catatan tambahan, gue berangkat ke sana... SENDIRIAN.

Perjuangan penuh peluh dan rasa gugup, akhirnya berhasil gue lalui. Sekitar jam sembilan kurang beberapa detik, gue sampai di rumah kerabat gue di Balikpapan sana. Dia sana juga telah ada dua teman gue, yang sudah berangkat duluan sejak hari sebelumnya. Dan sama, mereka ke Balikpapan juga untuk bertemu dengan gadis-gadis yang telah kami nantikan.

Usai mandi seadanya, dengan mata yang masih setengah sadar, akhirnya gue dan teman-teman menuju tempat yang sudah dijanjikan. Kami bersemangat untuk bertemu gadis-gadis itu. Oke... tingkat rasa sepi kejombloan (kami semua) bisa dilihat dari sini. Wajah penuh nafsu cinta mulai terpancar. Waktu itu sih gue sudah tidak memikirkan apapun selain... tidur.

Sampai di tempat yang sudah dijanjikan, ternyata tempat itu sudah sangat ramai sehingga kami harus berdesakan. Untuk bertemu para gadis saja harus seperti ini? Ini perjuangan. Ini adalah sesuatu yang jarang terjadi.

Waktu itu gue bahkan tidak membawa uang satu rupiah pun. Untuk pulang ke Samarinda saja, gue harus hutang duit lagi ke kerabat gue yang rumahnya gue jadikan tempat menginap. Gue benar-benar tanpa persiapan.

**

Keesokan harinya, hari Jumat pagi, gue buru-buru pulang lagi melintasi hutan tropis Bukit Soeharto menuju ke Samarinda. Kamis sore, gue dapat telepon untuk menghadiri interview kedua di sebuah perusahaan yang memiliki brand terkenal. Gue galau, dan harus tepat waktu jam sepuluh untuk hadir interview. So, lagi-lagi gue berangkat jam lima subuh untuk mengejar waktu. Ini perjuangan. Lagi...

Sampai di Samarinda lagi (dengan penuh rasa khawatir akan keterlambatan interview) gue bergegas mandi dan mengejar waktu untuk hadir. Syukurlah gue sudah menyelesaikan semuanya hingga nanti sore, adalah saat gue untuk tanda tangan kontrak. Yeaaaay!


Sekarang mungkin banyak pertanyaan yang hadir di benak kalian. Siapa tiga orang gadis yang membuat gue rela melakukan perjalanan satu hari bolak-balik, melewati jalan hutan, tanpa uang, dan motor yang sedang dalam kondisi tidak baik? Siapa?

Sebenarnya janji untuk pertemuan ini terjadi antara dua pihak secara tidak langsung. Mereka berjanji untuk datang ke Balikpapan bukan hanya kepada gue ataupun teman gue. Bahkan tidak hanya untuk Om Deddy Corbuzier sekalipun. Tapi untuk ‘kami’ semua. ‘Kami’ yang mengidolakan mereka.

Saat itu ketiga gadis itu datang untuk mempromosikan album pertama mereka. Dan kalau beruntung, bahkan kami bisa bicara cukup lama dengan mereka saat kami akan membeli album itu. Karena... mereka langsung yang melayani penjualan album.

Gue yang saat itu benar-benar dalam kondisi tidak fit dari segi fisik ataupun keuangan, hanya bisa menatap para fans lain (termasuk teman-teman gue) mengantri untuk membeli album. FYI, ketiga gadis itu selling album di dalam gedung Kaltim Post. Jadi yang ingin bertemu di dalam, harus bayar dulu untuk membeli album. So, gue hanya bisa menatap dari luar. Dari pintu kaca ini mereka terlihat begitu indah. Gue terharu sekali lagi.

Namun akhirnya terbayar juga semua keluh kesah gue saat hanya bisa memandang dari luar. Ketiga gadis itu diberi kesempatan untuk keluar gedung sekedar say hello untuk para fans-nya yang mengantri di luar. Gue tercengang. Dari posisi gue berdiri, mereka begitu sangat menawan. Gue tidak dapat memungkiri kalau jarak gue dan para gadis itu tidak akan sedekat saat gue mengeluarkan uang untuk membeli album. Namun sudah cukup bagi gue, melihat mereka ‘secara langsung’.

Cukup lama gue mengidolakan mereka. Namun, setelah lebih satu tahun berlalu, hari Kamis kemarin, adalah pertama kalinya gue melihat mereka bertiga dengan mata kepala gue sendiri. Tanpa ada perantara kamera atau apapun itu.

Walaupun saat itu member yang paing gue suka tidak ikut (karena mereka bertiga hanya ‘sebagian’ dari sebuah grup), tapi gue sudah merasakan pancaran yang besar dari seorang idola. Jujur, gue merinding saat itu.

Inikah rasanya bertemu langsung dengan idola? Dalam jarak segini saja, sudah cukup membuat gue ingin menangis. Terima kasih, sudah ingin menyapa kami.

Saat itu, setelah mereka bertiga kembali masuk untuk kembali selling album, gue masih terpaku dari luar. Bukan untuk mengantri beli album yee (perlu kah gue jelaskan lagi kalau gue tidak punya uang?), tapi hanya untuk ‘sedikit lagi saja’ memandang mereka. Walaupun dari jauh, namun selama masih hanya terhalang oleh pintu kaca, gue tetap bisa merasakan kegembiraan. Sampai akhirnya, gue harus mengalah pulang duluan karena orang-orang di sana mengantri ya untuk membeli album. Sedangkan gue? Ah... sudahlah... bertemu langsung dengan mereka saja sudah cukup membuat gue tenang dan lega. Sampai akhirnya gue sampai di rumah kerabat gue dan tertidur hingga senja...

Saat ini, gue masih bisa merasakan bagaimana merinding-nya saat bertemu langsung dengan idola. Gue sangat berterima kasih sebesar-besarnya pada tiga gadis cilik yang rela menyapa kami jauh-jauh dari Ibukota sana. Kalau boleh menyebutkan nama mereka, gue ingin sekali berteriak sekencang-kencangnya...

“Nabilah!!”

“Cindy!!”

“Viny!!”

**



Original Story : Aziz Ramlie Adam
Writer : Pamannya Aziz
Editing : Neneknya Aziz, Selingkuhan Aziz #TeamDiary

13 comments:

  1. wew bukan curhat biasa..

    BCB saingan nya BBB ya??

    hahahhaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan Curhat Biasa soalnya gue curhat gk pake nangis.. Muahahaha

      Delete
  2. *Terharu*

    Salut sama perjuangan Kak Aziz & friends.

    ReplyDelete
  3. hehehe demi dan demi ketemu idola yah ?
    jomblo mah biasa kok, coba baca Tips biar gak jomblo terus

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah... main ke blog loe ternyata inspiratif jg.
      Tipsnya keren... mnurut gue bisa jadi tu dari pengelaman pribadi ya :D

      Delete
  4. ceritanya gak lebay, tapi elu yang lebay -_____- ngapain lu mau ngenes gitu gara - gara cuma mau ketemu member JKT48 ? cuma 3 lagi !!!!! ngeliatnya kehalang kaca lagi !! astaga !! gue berdoa buat lu brother, besok lu bakal ketemu langsung sama member AKB48 ! tanpa sekat,! dan lu bisa ngobrol bareng mereka tanpa terdesak waktu (disaat dinner bersama mereka). orang kayak lu gak pantes ngenes begitu ! ckckck

    ReplyDelete
    Replies
    1. Errr.... iya sih =.=
      Tapi ya sesekali demi adek-adek Jekate kn gak apa lah :V

      Gimana ini dinner-nya? Muahhahaha..

      Delete
    2. lain kali jangan ngenes lagi. sini gue kasih pp aki-p

      Delete
    3. Males.. gue udah punya PP [AvaMbangWarnaiHarimu]

      Pffftt~

      Delete
  5. Hahahaha...
    bener2 penggemar sejati..
    semangat ya bro, smoga mereka bertiga baca blog mu, wkwkwk
    salam buat mtor bututmu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Errr... motor saya belum butut kok Mbak =.=
      Seriusan... Whhahaha... cuma hampir jadi butut aja :|

      Delete

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)