Fanfic 'For Stella' Part 34; Keikhlasan...







‘For Stella’ adalah cerita fiksi bersambung dengan genre “komedi-romantis”. Penulis, Aziz Ramlie Adam, adalah seorang fans salah satu member JKT48 yang bernama Stella Cornelia. Berkat integritasnya dalam mengidolakan idol group yang satu ini, maka melahirkan inspirasi tersendiri untuk menghasilkan Fanfic for Idol ini.

Episode sebelumnya (part 33); “Kejadian pembakaran beruntun yang terjadi belakangan ini, melibatkan rumah Aziz juga. saat polisi mengundang Aziz untuk datang ke kantor, kejadian mengejutkan terjadi ketika di sana telah ada Abeck dan Budi”. Selengkapnya bisa baca DI SINI.




Berikut adalah episode terbaru (part 34), happy reading, guys!



 

Keikhlasan...



“Selamat pagi, Pak” sapa gue dengan penuh hormat kepada Pak Adrian, Kasat Reskrim Polres di daerah gue. Kalau tidak hormat, takutnya bakal terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, seperti : Gue ditembak tepat di pinggiran bokong, gue dimasukkan ke dalam jeruji besi satu ruangan dengan Om Gayus, atau gue disajikan satu lusin jenis masakan Eropa dan disuruh menghabiskan semuanya dalam waktu kurang dari satu menit. Itu nyiksa!

“Selamat pagi, em… Mas Aziz? Dan… Mbak Delima, ya?” balas beliau dengan sopannya. Keramahan Pak Adrian bikin gue terpesona. “Silahkan duduk”.

Gue dan Delima segera mengambil tempat duduk. Gue lihat Abeck dan Budi masih tertunduk malu. Malunya sangat tidak jelas. Seperti balita yang lagi telanjang di supermarket.

“Jadi begini Mas, Mbak, kami punya dua orang saksi yang mungkin juga bisa menjadi tersangka. Mas Abeck dan Budi ini,” kata Pak Adrian.

Gue lumayan kaget dengan pembukaan dari Kasat Reskrim yang satu ini. ‘Abeck dan Budi, jadi tersangka?’ pikir gue kacau.

“Em… bisa dijelaskan Pak, bagaimana mungkin bapak bisa menangkap kedua…” gue terhenti sejenak. “…kedua teman saya ini…”

“Wah! Teman anda? Berarti anda harus waspada, Mas. Seorang teman sekalipun tidak bisa diberi kepercayaan sepenuhnya”.

Gue tertegun. Abeck dan Budi makin menunduk sampai kepala mereka hampir mencium lantai.

“Ah, kalau saya sebenarnya tidak pernah berpikir seperti itu, Pak. Saya percaya mereka tidak terlibat. Mungkin kebetulan saja mereka berada di tempat yang bapak sergap” seru Delima, tiba-tiba.

Wow. Bagaimana mungkin Delima bisa membela Abeck dan Budi, sedangkan ini pertama kalinya bertemu. Gue jadi makin pusing.

“Ya sudah. Terserah apa pendapat kalian, tapi memang untuk sementara kedua orang ini masih berstatus saksi. Jadi ceritanya… tadi malam setelah kejadian pembakaran terakhir di rumah Mas Aziz…”

**
Kemarin malam…

Kepolisian telah selesai mengecek TKP di rumah Aziz. Barang bukti yang sama ditemukan, berupa puntung rokok dan kadungan bensin pada genangan air, yang sama dengan barang bukti di empat titik lain.

Pencarian dilanjutkan dengan menggerebeg beberapa lokasi tempat nongkrong preman yang telah di survey terlebih dahulu oleh para Polisi Intel. Mereka menemukan beberapa titik paling mencurigakan sehingga memutuskan untuk melakukan penyergapan.

Di suatu lokasi, polisi berhasil memergoki sekumpulan pemuda yang sedang pesta minuman keras. Namun saat hendak di sergap, para pemuda itu kabur dan hanya meninggalkan barang bukti berupa beberapa liter bensin, selang kecil, sepeda motor dengan tanki terbuka, serta beberapa bungkus rokok yang ber-merk sama dengan yang terdapat di kelima TKP. Serta… meningglakan dua orang kawannya..

Polisi berhasil mendapati Abeck dan Budi yang terlihat mabuk berat di tempat penyergapan. Jika dilihat berdasarkan hasil survey tim polisi khusus, sepertinya mereka berdua memang orang baru di situ. Terlihat dari wajahnya yang seolah bilang ‘kami anak baik-baik. Look at, wajah kami imut begini!’.

Alhasil, mereka diproses hingga larut malam. Mereka diperbolehkan pulang dulu untuk beristirahat dengan status sementara sebagai saksi. Menurut pengelihatan gue, wajah mereka malah terlihat seperti warga yang berstatus ‘tahanan luar’.


**
Gue menggeleng-gelengkan kepala mendengar cerita Pak Adrian. Sahabat-sahabat gue yang unyu dan imut-imut, bisa-bisanya tertangkap basah sedang terkapar di sekumpulan orang-orang yang sedang pesta minuman keras. Gue merasa janggal.

“Sekarang kami sedang melacak keberadaan preman-preman itu. Kemungkinan kasusnya akan lama jika kedua orang ini tidak mengaku.”

“Tapi Pak, apa sudah cukup bukti untuk menuduh mereka seperti itu?” (Gue berasa jadi Pengacara)

“Loh, Mas, mereka ditemukan di TKP dalam keadaan mabuk. Kenal atau tidaknya mereka dengan para pelaku, kemungkinan mereka melakukan kejahatan bersama-sama, masih bisa adalah benar. Seharusnya Mas mengikuti fakta yang ada, tidak hanya memakai logika apalagi hanya karena mereka kawan-kawan anda.”

Gue terdiam. Salah bicara, bisa-bisa lubang hidung gue diisi sama peluru. Gue cuma angguk-anggukin kepala tanda kalau gue paham perkataannya. 

“Selanjutnya saya mau minta keterangan dari Mbak Delima dulu. Jika ingin mengobrol, bisa di luar ruangan, Mas. Tapi jangan pulang dulu. Sewaktu-waktu bisa saya panggil kembali.” 

“Baik, Pak!” seru gue, lalu mengajak Abeck dan Budi pergi keluar ruangan. Mereka terlihat lesu tidak seperti biasanya.

Gue membawa mereka ke kantin di dekat tempat parkir. Namun tidak disangka, seseorang telah menunggu kami.


Plak!

Tanpa banyak bicara, seseorang itu mendaratkan sebuah tamparan di pipi kiri Budi. Seseorang itu… Cindy.

“Kamu bodoh! Bisa-bisanya kamu ngelakuin hal nggak penting kayak begini!” teriak Cindy.

“Eh?” Budi heran. Gue yakin yang dimaksud ‘eh’ adalah ‘kok dia bisa tahu gue terlibat beginian?

“Apaan ‘eh’ mu itu? Kamu pikir aku nggak tahu? Polisi nelepon ibu kamu! Ibu kamu aja yang pura-pura bersikap biasa di depanmu pas tahu kayak begini. Tapi sama aku, dia cerita sambil nangis! Kamu pikir hebat sudah bisa kumpul-kumpul sama preman? Ha?!” lanjut Cindy disertai dengan beberapa pukulan di bahu Budi. Budi hanya bisa menerima tanda menyesal.

“Udah… udah, Cin. Kamu jangan malah bikin keributan di sini. Ditembak baru tahu rasa loe.” Gue mencoba melerai.

“Habisnya sebel!” 

Cindy pun terdiam dengan wajah yang seratus persen menyeramkan. Kalau di komik, di jidatnya pasti sudah ada gambar urat emosional dan hembusan asap keluar dari hidung.

Abeck dan Budi masih terdiam seribu bahasa. Begitu juga dengan Cindy. Dan gue, satu-satunya yang ikutan diam tapi sambil ngupil.

Akhirnya, dengan segala kecanggungan ini, gue mengajak mereka untuk makan di kantin. Gue pengin bicarain baik-baik. Lagipula, suasana kantin masih sepi karena belum jam makan siang. Kami bisa berbicara dengan penuh konsentrasi.

“Jadi Beck, Bud, sebenernya kalian ngapain sih di sana?” gue bertanya.

 “Em… kami…” jawab Budi sedikit terbata-bata.

“Jawab langsung aja kok susah amat sih” sindir Cindy dengan cueknya.

“Itu…” Abeck mencoba melanjutkan. “Kita lagi pusing aja…”

“Pusing? Kenapa?” Gue mulai makin penasaran.

Mereka terdiam. Suasana jadi makin tegang. By the way, gue tegang karena penjaga kantinnya seksi.

“Oke!” sentak Budi tiba-tiba. Gue dan yang lain sempat kaget juga. Untungnya penjaga kantin nggak ikutan kaget sehingga dia nggak teriak-teriak dan kami dapat masalah baru.

“Jadi… yang bikin kami pusing begini adalah… kalian!” Budi balas emosi sambil menatap wajah Cindy dengan garang. Cindy hanya terdiam tanda dia syok berat.

“Kita masih nggak bisa terima kalau kalian ikut audisi itu…” tambah Abeck sambil melihat ke arah lain tanpa menatap mata Cindy.

Gue jadi semakin tahu jalan ceritanya. Wajar sih ya, kalau mereka pusing. Gue yang belum jadian sama Stella aja rasanya cenat-cenut di bokong pas tahu dia pengin ikutan audisi itu, apalagi mereka berdua yang sudah hitungan tahun ngejalanin hubungan. Bisa cenat-cenut di seluruh badan.

“Salah kami? Salah aku? Gitu?” Cindy terlihat tidak mau kalah.

“Iya.” Budi menjawab seadanya.

Makin panas nih. Gawat kalau diterusin. Budi sama Cindy juga masih sama-sama anak bawang. Bisa gawat kalau berantem di sini,’ pikir gue.

“Udah… udah… Jangan pada emosi. Hehe… tetap cool down ya teman-teman,” gue coba menengahi dengan cengar-cengir.

“Huh!” Cindy hanya bergumam kecil.

Selanjutnya, gue coba mendengar cerita asli dari Budi dan Abeck. Bagaimana ceritanya mereka bisa sampai terlihat berkumpul di sana.

Jadi sebenarnya, mereka berdua juga ingin berkunjung ke rumah gue malam itu. Namun mungkin saja setan sedang berhasil menggoda mereka, hingga saat ada sekumpulan pemuda yang terlihat sedang bahagia tiba-tiba mengajak mereka untuk minum-minum, mereka terpengaruh. Just to drink. Karena pada dasarnya mereka memang lemah soal begituan, maka usai beberapa teguk mereka langsung saja terkapar. Untungnya tidak ada barang berharga yang terambil oleh sekumpulan pemuda itu karena kebetulan polisi sedang melakukan penggerebegan.

Gue mengelus-elus dagu. ‘Parah juga akibat stress gara-gara pacarnya mau audisi,’ pikir gue lagi.

Gue perhatikan Cindy dan Budi masih sama-sama canggung. Entah apa yang ada di dalam pikiran mereka. Sepertinya satu sama lain masih sama-sama merasa salah. Sampai akhirnya, suasana hening ini sempat terpecah karena kedatangan Delima.

“Hai, Kak” seru Delima dengan senyumnya. Gue balas tersenyum.

“Udah selesai interview-nya? Ahhaha..” canda gue.

“Hehe… udah,” katanya, lalu melihat ke arah Budi dan Abeck. Udah… kakak-kakak berdua ini nggak usah banyak cemberut. Kasusnya udah selesai kok”.

“Ha?!” Kami berempat seolah terkena suntikan di pantat. Kaget.

“Maksud kamu?” tanya gue.

“Pelakunya udah ketahuan. Semua bukti sebenarnya ada di aku. Aku yang tahu kuncinya. Kebetulan…” ia terhenti sejenak.

“Kebetulan… apa?” Gue makin penasaran.

“Kebetulan yang ngelakuin itu teman-temannya pacar aku…”


JGER! 

Mengerikan. Ini kenyataan yang mengerikan (ntar, gue ceritanya kan baru kenal sama Delima. Kok udah sekaget ini?)

Budi yang sepertinya refleks mendengar kata ‘pacar’ spontan bertanya. “Memangnya kenapa?”

“Jadi… aku ini pengin ikutan audisi JKT48. Kedengarannya lucu sih ya, masa aku begini bisa masuk. Tapi ya aku pengin ikutan habisnya aku nge-idolain AKB48 udah lama. Tapi karena itu… yah, si cowok ini malah kelewat batas ke aku. Aku sih sudah lama ngerasa salah pilih cowok… tapi nggak tahunya malah keterusan sampai-sampai jadi kayak begini. Maaf ya…” Penjelasan yang keluar dari mulut Delima hampir bikin dia menangis.

Cindy sebagai perempuan, perlahan mengambil bangku ke samping Delima. Ia seolah mengerti perasaan Delima dan ingin menghiburnya. Ia merangkul dan membiarkan Delima menumpahkan segala kesakitan hatinya di bahu Cindy. 

Perlahan Cindy mulai tersenyum sambil meneteskan air mata juga. Ia melihat ke arah Budi.

“Maaf ya, yang tadi…” lalu Cindy tersenyum sambil sibuk menghapus airmatanya sendiri.

“Ah?” Budi yang kaget, langsungmembalas dengan senyuman juga, lalu ia mengambilkan tisu dan diberikan kepada Cindy. “Aku juga minta maaf…”

Jleb. Gue ngerasa seperti nonton live telenovela. Mengharukan. Kalau ini bukan tempat terbuka (apalagi ada ibu kantin), gue sudah ikutan nangis sambil sibuk keluarin ingus dari hidung (<--- oke, ini cukup jorok).


Ting Tung!

Sebuah nada notifikasi dari hape Cindy terdengar. Ada pesan.

“Ah… dari Kak Sendy”.

Kali ini wajah Abeck yang terlihat seperti dicium waria. Dia seperti membayangkan kalau akan ditampar oleh Sendy juga. Sekejap ia bertanya, “Dimana dia??”

“Di parkiran… tadi rencananya mau sama-sama ke sini, tapi…” belum sempat Cindy selesai bicara, Abeck memotong.
                
            “Oke!” Lalu Abeck berlari keluar kantin. Gue dan Budi mengikuti.

Kami mengejar Abeck yang wajahnya jadi terlihat lebih panik seratus kali lipat dari saat ia tidak diberi uang jajan oleh bokapnya. Sampai kami melihat Sendy dari kejauhan, kami masih mengikuti.

Akhirnya sampai juga di hadapan Sendy. Sendy masih terdiam menunggu kata-kata apa yang akan keluar dari mulut Abeck.

Dengan nafas yang masih naik turun tidak teratur, Abeck segera mengatakan…

“Kita putus…”



Untuk episode selanjutnya (Part 35); "Perlahan suasana semakin panas di antara para sahabat ini. Perlahan juga, semua bisa menerima kenyataan kalau audisi itu adalah jalan yang terbaik untuk menjadi idola".

Tunggu kelanjutannya ya!
**
 Original Story : Aziz Ramlie Adam
Writer : Stella-Hugs, 
Editing : Bukan Bima Satria Garuda, Tukang Delusi #TeamForStella
Draft : 12-Mei-2013





7 comments:

  1. Akhirnya sampai di hadapan Sendy.Sendy masih terdiam menunggu kata - kata apa yang akan keluar dari mulut Abeck.

    Dengan nafas yang masih naik - turun tidak teratur, Abeck segera mengatakan...

    "Kita putus..."
    ------------------------------------------------
    Cotto.!!!!!! aku gak bakal rela mutusin dia. kamu kira aku bakal dengan mudah melepas oppai dia yang paling hot itu ?

    kamu kira kenangan - kenangan yang gak kamu tulis disini itu mudah buat dilupain?

    ReplyDelete
  2. *Sempet nangis sama kena serangan jantung sementara tadi* T_T

    ReplyDelete

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)