Ini Ximin

Monday, May 13, 2013

Fanfict 'For Stella' Part 35; Demi Idola





‘For Stella’ adalah cerita fiksi bersambung dengan genre “komedi-romantis”. Penulis, Aziz Ramlie Adam, adalah seorang fans salah satu member JKT48 yang bernama Stella Cornelia. Berkat integritasnya dalam mengidolakan idol group yang satu ini, maka melahirkan inspirasi tersendiri untuk menghasilkan Fanfic for Idol ini.

Episode sebelumnya (part 34); “Akibat kesalahan Abeck dan Budi yang khilaf untuk bergabung dengan para preman yang merupakan pelaku pembakaran beruntun, perlahan mulai diketahui sebenarnya bagaimana perasaan mereka. Di ambang kenyataan, Abeck tiba-tiba ingin putus hubungan dengan Sendy”. Selengkapnya bisa baca DI SINI.


Berikut adalah episode terbaru (part 35), happy reading, guys!




Demi Idola



Tilulit…

Nada pesan di hape gue berbunyi. Oke, untuk nada pesan sepertinya memang rada aneh.
Sekarang gue baru saja turun dari mobil. Telinga gue sekarang dipenuhi dengan kebisingan suara pesawat-pesawat yang baru lepas landas. Gue di Bandara (bukan ‘Bandit Negara’). Setelah tadi cukup tegang juga di Kantor Polisi, akhirnya semua bisa terselesaikan.


‘Diem di ruang tunggu pintu sebelah barat aja, ya :)

Pesan dari Stella.


Gue masih bisa mengikuti perintah kalau harus ke ruang tunggu. Yang gue nggak bisa, kalau disuruh ‘diam’. Sifat gue yang memang paling bete kalau harus diam (kecuali tidur) memang kadang bisa bikin orang risih.

Akhirnya gue pergi untuk menunggu Stella yang gue sendiri nggak tahu dia ada dimana sekarang. Gue duduk satu deret dengan seorang bapak paruh baya yang lagi asik baca koran.

“Hm… parah juga nih, kasus kebakaran beruntun…” gumam bapak itu.

“Wah… pelakunya udah pada ketahuan kok, Pak” kata gue yang tiba-tiba sudah duduk di dekat bapak itu.

“Ha? Yang benar?”

“Iya… Saya kan baru dari Kantor Polisi. Kebetulan saya salah satu korban. Hm… halaman belakang rumah saya sih yang jadi korban. Ahahaha”

“Hahaha… kamu jadi korbannya kok malah senang?”

Gue terdiam. ‘Bener juga…

Akhirnya gue malah lanjut ngobrolin berbagai macam hal dengan bapak itu. Gue jadi tahu kalau dia lagi nunggu anaknya yang akan datang dari Australia, habis liburan bareng teman-teman. Gue juga jadi tahu kalau anaknya itu cewek dan katanya lumayan cantik. Gue bersemangat.

Lama kami berbincang, hingga tiba-tiba terdengar suara yang cukup bersemangat.

“Papa…!” teriak suara itu dari kejauhan.

Gue dan bapak itu sama-sama menoleh. Di pandangan gue sekarang terlihat wanita sebaya gue yang memang manis parasnya. Rambutnya agak pendek dan punya gigi taring yang tajam.

“Papa… Hehehe,” kata cewek itu lalu memeluk ayahnya.

“Ghaida… lama sekali papa tunggu”

Sorry, Pa…” kata Ghaida, lalu menoleh ke arah gue. “Ini siapa?”

“Oh… hm… gue Aziz, dengan dua huruf z. Kebetulan gue juga lagi nunggu temen, trus lihat papa kamu lagi baca koran tentang kebakaran. Jadi ngobrol, deh… Ahaha”

“Ohh…” Ia pun mengajak bersalaman. “Aku Ghaida”.

Kami pun berjabat tangan. Selang beberapa menit, terdengar suara lagi. Lebih ceria dari teriakan Ghaida.

“Azizz….!!”

“Hey… Lama banget” sapa gue kepada siapa lagi, kalau bukan Stella. Makin hari nih anak makin kelihatan cantik.

Stella datang menghampiri gue dengan membawa dua orang cewek. Yang satu wajahnya sangat oriental sekali. Yang satunya agak-agak Arabian gitu, mukanya.

“Kenalin, ini teman aku yang bakal ngelatih plus bakalan ikut audisi juga…” ucap Stella dengan riang.

Hay… nama saya Aziz” (Percakapan yang bergaris bawah tandanya sedang berlangsung dalam Bahasa Jepang).

Hay… nama saya Rena. Rena Nozawa. Senang berkenalan dengan kamu,” kata cewek yang wajahnya memang Jepang banget.

Nama saya Ayana. Ayana Shahab. Salam kenal, ya…” kata cewek yang satunya lagi. Ternyata dia bisa Bahasa Indonesia.

“Wah… bisa Bahasa Indonesia?” tanya gue ke Ayana.

“Ye… aslinya juga orang Indo kalee…” ledek Stella.

Akhirnya suasana menjadi ramai. Ternyata, Ghaida juga punya niat untuk ikut audisi JKT48. Dia dalam sekejap sudah bisa berbaur dengan Stella dan kawan-kawan. Dasar wanita, selalu bisa cepat saling akrab lewat kata-kata.

Kami pun berpisah dulu. Ghaida ikut pulang dengan ayahnya, sementara Stella, Rena, dan Ayana ikut dengan gue. Lumayan, jarang-jarang mobil gue didudukin sama cewek-cewek cantik.

“Jadi tadi gimana, di Kantor Polisi?” tanya Stella sambil menarik sabuk pengaman.

“Hm… gimana, ya…? Ceritanya panjang. Ahahahha”

“Huh… pelit…”

“Ahahaha…”

Memang, agak lucu. Iya… kejadian tadi memang lucu. Dasar Abeck…


**

Sebelum Aziz pergi ke Bandara…


“Kita putus…” kata Abeck dengan lantang walaupun nafasnya masih tersenggak.

“Ha?”

Bukan cuma Sendy yang langsung bengong. Gue dan Budi juga ikutan pasang muka jadi (lebih) bego.

“Maksud kamu? Kenapa…?” Sendy terlihat pusing tujuh keliling. Mending kalau keliling stadion sambil joging. Lumayan dapat keringat. Sehat.

“Eh… loe sakit, ye?” tanya Budi. Gue ikutan mengangguk tanda setuju.

“Kalian ini gimana, sih…? Seorang idol itu nggak boleh terpikirkan masalah pacar. Mereka ada untuk fans. Gue cuma nggak mau Sendy terbebani walaupun ntar bisa pacaran diam-diam. Lagian putus bukan berarti ngilangin perasaan kan?”

JGER!

Gue yakin, sebelum ke sini Abeck pasti sempat ngopi bareng Om Mario Teguh.

“Kamu…” Sendy terharu. “Jadi kamu nggak marah aku ikut audisi itu?”

“Tadinya sih iya…” ledek Budi. Gue ketawa.

Akhirnya Abeck dan Sendy pergi agak menjauh dari gue dan Budi. Mereka bicara empat mata, dan kelihatannya mereka malah makin tambah sayang satu sama lain. Gue cuma bisa tersenyum, karena akhirnya semua teman-teman gue bisa merelakan ceweknya masing-masing.

“Eh?” Gue tiba-tiba kelepasan ngomong.

“Kenapa?” Budi heran.

“Ada satu anak nih, yang gue nggak tahu, bisa nerima apa kagak”

“Siapa?”

“Tia…”

“Adit? Buahahaha… nggak tahu deh. Tunggu kabar dari Teh Melo aja. Hahahaha…”

“Bener juga… Ahahaha”

“Budiiiii…. Kak Aziiiizzz….” teriak Cindy tiba-tiba, dari arah kantin. “Bayar dulu nih makanannya!!!”

“Waduh!” Gue tepuk jidat. “Istri loe ngamuk tuh. Bayarin sono, sekalian punya gue. Pffft…”

“Kampret….”


**

Gue sampai ke rumah Ayu. Kata Stella, Rena mau menginap di sini dulu. Terus, Ayana ternyata sudah ditunggu Ibunya di rumah. Jadi tadi Ayana gue antar duluan ke sana.

Di rumah Ayu sudah ada Cindy dan Budi. Ternyata habis dari Kantor Polisi, mereka langsung mampir ke sini.

“Gimana Bud, kelanjutannya?” tanya gue yang memang tadi pergi duluan.

“Kelanjutan apanya? Kalau si Abeck mah, udah kelayapan tuh sama Sendy. Kalau masalah semalam, gue sama Abeck cukup bayar denda. You know lah, masalah kecil kalau pakai duit juga selesai. Pfft…”

“Hiiih… Tapi masalah sama aku belum selesai” seru Cindy sambil menarik daun telinga Budi.

“Eeeeh??? Yang mana…? Aduh, sakit”

“Tadi kan harusnya kamu yang bayar makan”

Semua tertawa. Dasar pasangan bocah. Gue lihat Stella seperti memperhatikan dalam-dalam, bagaimana lucunya Budi dan Cindy. Jujur gue juga jadi merasa iri dengan mereka.

“Ziz” “Stell” (Ini ceritanya Aziz dan Stella lagi sama-sama memanggil satu sama lain).

“Ah… kamu aja dulu. Kenapa?” tanya gue setengah gugup.

“Ah… nggak. Kamu aja dulu. Mau bicara apa?” Stella terlihat lebih gugup. Wajahnya memerah. (Jujur waktu nulis bagian ini, gue senyum-senyum sendiri sambil gigitin guling).

“Kamu aja…”

“Emm.. nggak. Kamu aja…”

“Yaudah… aku aja ya, yang bicara duluan. Ahahahhaa…” tiba-tiba Ayu menyahut. Semua tertawa geli. Bahkan Rena yang notabene masih belum mengerti Bahasa Indonesia, ikutan tertawa. Mungkin dia ketawain muka gue yang aneh ini…



**

‘Loe udah siap?’

‘Iya. Buruan gih’


Itulah pesan singkat antara gue dan Ega yang minta jemput karena lagi-lagi mobilnya direparasi karena (lagi-lagi) dibuat nabrak pohon sama adeknya.

Sekarang kami akan pergi ke rumah Melody, tempat para cewek akan mulai latihan lagi. Untuk saat ini, semua telah mendukung impian para cewek itu. Termasuk gue (sedih juga ngebayanginnya).

Lama gue menunggu Ega di ruang tamu rumahnya. Akhirnya dia benar-benar siap, disisirin rambut sama nyokapnya, berangkat deh.


“Jadi gimana loe sama Ve?”

“Udah… kenapa gue harus ngelarang coba? Ya kan? Kalau jadi, ya gue juga yang bangga, walaupun gue nggak mungkin go public soal kebanggaan itu. Ahahahha”

“Hahaha… bener juga…”

**

“Huuu… telat…” ucap Ve saat sedang meneguk air mineral. Rupanya mereka baru saja selesai latihan tahap pertama. Ceritanya lagi istirahat gitu.

“Nggak apa telat, kan cuma buat lihat kamu. Lagian udah sering lihat kamu kok…” kata Ega dengan penuh ekspresi meledek.

“Errr… kamu…!!”

Iya… lagi-lagi Ega dan Ve jadi main lempar-lemparan botol minuman. Gue jadi ingat waktu party terakhir, mereka juga nggak bisa diam.

Sekarang sudah sampai di rumah Melody. Ternyata, cewek-cewek yang latihan di sini banyak banget. Setelah digabung dengan beberapa kenalan mereka masing-masing, totalnya jadi ada 14 orang ; Melody, Cindy, Ve, Ochi, Sendy, Sonya, Stella, Sonia, Ayu, Delima, Ghaida, Rena, Ayana, dan… Dhike.

“Hee??? Kamu juga kenapa jadi ikut-ikutan???” Gue kaget, melihat ada Dhike sudah nangkring di situ.

“Yee… sesuka aku lah, Kak. Lagian Kak Stella yang ajakin. Iseng-iseng aja dulu. Kalau aku terkenal, kakak mesti bangga loh punya adek secantik aku. Huahahaha”

Persis. Makin lama, Dhike jadi makin mirip sama gue (cara ketawanya yang mirip).

Para pria hina yang ada di sini ada gue, Budi, Abeck, Ozi, Ega, dan Didit. Berarti…

“Mel, Adit mana?” tanya gue.

“Hmm… entah, deh.” Jawab Melo, cuek.

“Denger-denger habis berantem kemarin pas pulang dari rumah loe. Pffft…” bisik Didit ke gue.

Bener kan… yang satu ini masih belum selesai’ pikir gue.

Akhirnya latihan dimulai kembali. Mata gue? Tetap nggak bisa lepas dari Stella. Keringat yang membasahi dahinya membuat gue makin terpesona. Kadang ia melirik ke arah gue. Senyumnya… bikin gue pengin hidup panjang umur… bersama dia…


Tiba-tiba… Adit datang dengan langkah kaki yang sok lantang. Wajah datarnya menatap Melody sejak dari jauh hingga mendekat. Ia menuju ke arah laptop yang sedang memutar musik-musik untuk latihan dance. Dan… ia meng-close tab pemutar musik hingga seisi ruangan menjadi hening.

Musik berhenti… penonton terdiam.

Melo yang mungkin agak kesal, mendekati Adit sambil angkat bicara, “Mau kamu apa sih??!”

Adit tetap datar dan langsung merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan… sebuah Flashdisk.

“Ini… gue baru selesai download banyak musik-musik keren yang lebih oke dari musik yang kalian pakai tadi. Gue jamin pasti latihan kalian jadi makin semangat…” Lalu Adit ketawa sok ganteng.

“Kamu…” Melo menitikkan air mata… dan memeluk Adit, dengan penuh rasa syukur…



*** 
Tunggu kelanjutannya ya!


Original Story : Aziz Ramlie Adam
Writer : Bukan Bima Satria Garuda
Draft : 13-Mei-2013








10 comments:

  1. asemmm... ayana ikuut dalam cerita ahahha sughoi gan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Achanation! Gomen ya udah ngikutin oshi kamu. Huahaha... Saya udh maen ke blog situ. Keren~ :)

      Delete
  2. Keren !
    Salut, Kak Aziz sekarang bisa ngomong bahasa Jepang *acungin jempol*

    ReplyDelete
  3. Replies
    1. Silahkan... Tapi di sini kgak ada jual gorengan sama kopi loh :)

      Delete
  4. jangan2 ini yang nulis ceritanya juga ikut2an galau, hahaha
    piss ^_^v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masalah galau atau tidak, saya hanya akan menjawab secara singkat.

      Iya =.=

      Delete

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)