Ini Ximin

Sunday, May 19, 2013

'For Stella' Part 36; Ingatan Masa Lalu (Bagian Adit-Melo)






‘For Stella’ adalah cerita fiksi bersambung dengan genre “komedi-romantis”. Penulis, Aziz Ramlie Adam, adalah seorang fans salah satu member JKT48 yang bernama Stella Cornelia. Berkat integritasnya dalam mengidolakan idol group yang satu ini, maka melahirkan inspirasi tersendiri untuk menghasilkan Fanfic for Idol ini.

Episode sebelumnya (part 35); “Penutupan kasus yang sempat melibatkan Abeck dan Budi, membawa lembaran baru seiring dengan datangnya teman sekaligus guru tari bagi Stella dan kawan-kawan”. Selengkapnya bisa baca DI SINI.

Berikut adalah episode terbaru (part 36), happy reading, guys!



Ingatan Masa Lalu (Bagian Adit-Melo)

Selasa


Ini adalah hari yang cukup menyenangkan buat gue. By the way, gue sering baca-baca di internet, kalau hari keberuntungan gue adalah di hari Selasa. Entah apa yang sempat merasuki diri gue sehingga bisa percaya sama ramalam-ramalan di internet, namun yang jelas gue memang sempat beberapa kali mengalami sesuatu yang membahagiakan di hari Selasa.

Beberapa minggu yang lalu, hari Selasa gue diwarnai dengan jogging bareng cewek cantik. Gue memang belum sempat tanya siapa namanya. Jadi ceritanya, waktu itu gue lagi iseng pergi ke stadion kota, buat santai-santai sekalian olahraga (sekalian ngecilin perut maksudnya). Waktu itu ada sekumpulan anak cewek yang lagi ngumpul sambil sibuk nyari pertolongan. Ternyata salah satu dari mereka sedang mengalami cedera sendi yang biasa-biasa saja. Gue yang kebetulan menguasai skill medis di bidang cedera tingkat biasa-biasa saja, memberikan pertolongan se-ikhlas mungkin, hingga akhirnya bisa lanjut jogging bareng mereka.

Di hari Selasa lain, gue juga sempat dapat keberuntungan. Saat itu gue lagi menemani Dhike untuk belanja di mini market. Gue lihat ada cukuran jenggot lagi promo, dan kebetulan diskonnya lumayan. Berhubung jenggot gue sudah kemana-mana, gue merasa itu adalah suatu keberuntungan.

Di hari Selasa seminggu yang lalu, semua terasa lebih indah. Bahkan, tidak hanya di hari Selasa. Hampir selama dua minggu ini, semua hari seolah menjadi hari keberuntungan buat gue. Apalagi kalau bukan karena… kenal dengan Stella Cornelia.

Senyum Stella yang bisa bikin gue meleleh, perlahan makin membuat gue jatuh hati. Mohon perhatiaannya, itu hanya sebuah hiperbola, bukan sungguhan. Bayangkan kalau hati gue benar-benar jatuh. Minimal gue sudah kritis di rumah sakit menunggu sosok jubah hitam dengan celuritnya akan segera mencabut nyawa gue.

Di hari Selasa ini, semua terasa lebih indah. Iya… lagi-lagi gue akan menghabiskan hari bersama Stella. Apa mungkin ini akan menjadi detik-detik terakhir?


09.00

“Ziz, ini gue bawa makanan ringan. Lumayan daripada bete nonton cewek-cewek joget,” kata Adit yang baru saja sampai di rumah gue.

Iya… cewek-cewek joget ini adalah Stella dan kawan-kawan. Tidak terasa, sudah semakin dekat hari untuk audisi member JKT48. Gue semakin menderita. Rasanya, baru saja gue mengenal Stella, menyukainya, dan sekarang harus siap angkat bendera putih untuk merelakan dia menjadi seorang idol sejati.

Gue berdua dengan Adit, duduk santai di halaman belakang. Dari pandangan masih terlihat jelas bekas pembakaran malam kemarin. Gue menyeruput segelas kopi sembari membuka beberapa bungkus makanan ringan hasil bawaan Adit.

Banyak yang kami berdua bicarakan. Tentang kehidupan ke depan. Tentang cita-cita, hingga tentang masalah cinta. Bisa dipastikan kalau kehilangan Melo adalah sesuatu yang berat untuk Adit. Gue saja sudah se-menderita ini, apa lagi dia. Gue yakin akhir-akhir ini dia pasti susah buang air besar.

“Kalau mereka jadi diterima untuk member Jekate, gue akan tetap kayak sekarang. Gue akan tetap lanjutin kuliah, sambil terus dukung Melo dari belakang. Gue nggak bakal gangguin dia, sampai kelak dia sudah bisa berdiri sendiri sebagai seorang idola. Dia grade, terus bakal gue lamar,” ucap Adit diakhiri dengan seteguk kopi.

“Jujur gue kaget dengan awal pembicaraan loe yang sok bijak. Ujung-ujungnya ya nyeleneh juga” gue menanggapi.

“Yee… emang bener kali. Gue tetap ke satu hati aja. Kalaupun ntar di antara member Jekate banyak yang lebih cantik dari Melo, mungkin aja sih gue oshi-in orang lain. Tapi di hati tetap Melo. Huahahaha…”

Gue juga ikutan ketawa. Kelihatannya Adit sudah merelakan seutuhnya bahwa jalan yang dipilih oleh Melody adalah benar. Benar-benar nyesek…

“Lagi pada bicarain apa??” seru Cindy yang datang tiba-tiba.

“Lagi bicarain loe yang teriak-teriak pas lihat api di belakang sana,” jawab gue.

“Ih… kakak!!” Cindy mengamuk.

Cewek-cewek lain banyak yang keluar juga. Pagi yang masih diselimuti matahari yang hangat, membuat suasana semakin damai. Gue lihat butir demi butir peluh yang mengalir di wajah Stella. Cantik… gue hanyut sekali lagi.

“Kenapa?” tanya Stella yang sudah duduk di sebelah gue. Adit sudah menghilang untuk memijit Melody yang katanya jadi pegal-pegal karena tidak pemanasan dulu sebelum latihan menari. Yang lain juga pada sibuk dengan kegiatan istirahat seperti minum air mineral, bercanda, dan mengotak-atik handphone.

“Ah… nggak. Mataharinya bagus, sampe aku nggak bisa ngelihat jelas gimana bentuknya. Ahhahaha…” seru gue, ngeles.

“Ngaco aja. Hehehe… By the way, matahari itu hebat ya, bisa memberikan kita semangat baru setiap harinya…” ucap Stella.

Gue lihat matanya, kelihatan begitu rileks menikmati suasana pagi ini.

“Hmm…” Gue semakin menatap tajam ke arah Stella.

“Eh…? Kenapa kamu ngelihatnya ngeri begitu? Ahahaha” tanya Stella, dengan gugup.

“Aku kok bisa lihat kamu dengan jelas, ya?”

“Maksud kamu?”

“Aku kan tadi bilang, kalau aku nggak bisa lihat matahari dengan jelas. Terus, kamu bilang kalau matahari itu pemberi semangat. Tapi… kamu yang selalu jadi pemberi semangat buat aku, kok malah kelihatan jelas? Beda dengan matahari. Dia indah tapi enggan untuk ditatap. Kalau kamu? Entah indahnya dimana, tapi untuk dilirik, kamu masih bisa. Ahhahaha….”

“Ih… apaan sih… ” Stella memukul bahu gue. Canda pagi hari itu lagi-lagi jadi keberuntungan buat gue.

“Nguing… nguing…!” Teriakan itu terdengar dari arah dalam rumah, sampai ke halaman belakang. Ternyata telah datang Ozi dan Ega.

“Selamat pagi, Pak. Dimana apinya? Bisa kami padamkan sekarang? Nguing… nguing…!” seru Ega ke gue sambil menirukan suara sirine mobil pemadam kebakaran.

“Kampret…. Becanda aja loe. Ahahahaha….” seru gue.

“Pulsa aku mana? Kok belum nambah?” Tiba-tiba Ve berseru sembari mendekati Ega.

“Aduh… masih ketahan di dompet, Beib…” seru Ega dengan bodohnya.

Mereka pun terpenjara dalam suasana yang menyenangkan. Senda gurau mereka semakin hangat menjelang semakin dekatnya hari audisi. Begitu pula dengan Ozi dan Ochi. Masing-masing saling memberikan tawa untuk dinikmati bersama. Gue yakin, moment-moment seperti ini akan sangat langka terjadi lagi kalau para cewek ini sudah menjadi member JKT48. Sangat jarang bahkan mungkin… tidak akan pernah lagi.

Gue lihat ekspresi Cindy dan Sendy yang sedang melihat layar handphone tiba-tiba mengerutkan dahi. Perlahan mereka menuju dalam rumah gue hingga gue perhatikan, mereka terus ke arah depan. Ada apakah?

Ternyata… Budi dan Abeck sama-sama mengirimkan pesan ke Cindy dan Sendy, kalau mereka ada di depan rumah gue. Sepertinya masih agak canggung dan malu-malu untuk langsung masuk seperti biasa, sejak kasus kemarin. Bodoh banget, kayak baru kenal setahunan aja sama gue dan yang lain.

“Eh, bego, masuk aja pake dijemputin dulu,” seru gue ke Budi dan Abeck yang datang ke halaman belakang sambil bungkukin badan kayak orang tua yang numpang lewat.

“Yah… takutnya ntar pas kami maen nyelonong masuk, malah disambut tatapan yang kagak enak…” sahut Budi dengan canggung.

“Woooo… loe kira, kita sahabatan udah berapa lama? Santai dong… kesalahan loe satu hari nggak akan bisa ngehancurin persahabatan kita dari zaman batu ini. Hehehe…” ucap Ozi.

“Emang… kayak orang baru turun dari gunung aja…” keluh Cindy sambil menaikkan alis.

Suasana kembali pecah-belah. Perlahan masing-masing kembali terpenjara dalam kisah-kisah lama. Nostalgia? Pastinya…

Moment langka seperti ini sangat sayang jika tidak dibumbui kisah-kisah menyenangkan di masa lalu. Seingat gue, sebelum semua bisa berkumpul seperti ini, banyak sekali kisah-kisah seru di balik semuanya.

Perlahan gue jadi ingat, kenapa kami semua bisa terkumpul menjadi satu lingkaran persahabatan. Kisah itu dimulai, dari sini…




Pertengahan tahun 2006…

Gue yang baru lulus SD, baru saja menyelesaikan liburan ke Jepang dan sempat nyasar untuk beberapa jam. Sekarang, gue yang sudah sangat bangga karena bisa memakai celana warna biru kalau ke sekolah, telah memasuki hari pertama di SMP.

Gue kenal dengan Adit dan Ozi sudah sangat lama, mengingat kami sudah satu kelas selama enam tahun di Sekolah Dasar. Perlahan kami dipertemukan lagi di kelas yang sama di SMP, hingga naik kelas 2 dengan bersama-sama pula.


Pertengahan tahun 2007…

Terjadi banyak perpindahan teman sekelas di tahun kedua. Gue dan Adit masih di kelas yang sama, sedangkan Ozi terpaksa dipindah ke kelas lain. Ini bukan berdasarkan peringkat atau nilai. Semua murni secara acak, dengan alasan dari Kepala Sekolah, kalau tiap angkatan pasti membutuhkan suasana kelas yang baru.

Di kelas dua ini, gue dan Adit yang notabene adalah anak pendiam, perlahan mulai kenal dengan banyak teman lain. Dan yang paling akrab di antaranya adalah Abeck dan Ega. Mereka berdua dulunya satu SD dan berbeda dari SD gue dan Adit.

Seiring berjalannya waktu kelas 2 SMP, keremajaan kami mulai terasah. Perlahan mulai banyak gosip tentang siapa mendekati siapa. Sampai salah satu kabar burung mengatakan kalau Adit naksir dengan wakil ketua kelas kami saat itu, Melody.

Sebenarnya tidak benar, karena Adit sendiri lebih suka tidur di kelas ketimbang bergaul dengan cewek-cewek. Jangankan bergaul dengan cewek-cewek, bergaul dengan cowok saja hanya dengan gue, Abeck, dan Ega. Berbeda dengan Adit, gue sukses punya teman di berbagai kelas dan angkatan.

Mungkin karena sifat Adit yang pendiam dan kadang cuek itu, maka ia lebih pantas jika jadi sasaran untuk bahan ejekan. Hingga setiap nama Melody tersebut oleh guru, maka teriakan akan nama Adit juga akan dikumandangkan oleh seluruh siswa-siswi di kelas. Meriah, dan diikuti oleh wajah dari Adit dan Melody yang memerah.

Pernah di suatu pulang sekolah, kami sedang dibalut banyak canda tawa. Ejekan antara Adit dan Melo semakin menjadi-jadi. Sehingga namanya juga manusia polos yang baru beranjak remaja, kesabaran juga susah ditahan.

“Memang kapan hah, gue bilang suka sama anak itu?? Dasar kalian semua! Cih!” seru Adit yang marah-marah saat itu.

Gue ingat, wajah Melo yang mendengar dari jauh terlihat sangat datar. Entah bahagia, atau tidak suka…


Di kesempatan lain, semua berlangsung saat liburan semester pertama. Kelas kami mengadakan acara camp bersama di hutan kota dekat sekolah. Suasana ramai dari setiap siswa semakin membuat perkemahan kami jadi terasa hangat. Waktu itu, gosip tentang Adit dan Melody sudah mulai memudar.

Waktu itu kebetulan kita bagi-bagi kelompok. Kelompok gue ada Adit, Abeck dan Ega. Kebetulan saat matahari sedang di ufuk barat, kami berlomba untuk mendirikan tenda. Waktu itu tim dari Melody sedang sibuk mendirikan tenda. Kelompok gue yang lupa membawa tali iseng-iseng ingin minta ke tim Melody.

“Eh, ada punya tali kayak begituan lagi nggak?” tanya gue dengan gaya songong ala anak SMP.

“Eh… ada Adit! Mel, ada Adit!” seru salah seorang teman Melody yang tidak lain tidak bukan adalah Ve. Oke, gue sukses dicuekin saat itu.

“Emang kenapa, kalo ada gue??” seru Adit dengan wajah malu-malu.

Melody melayangkan mimik wajah yang sama. Gue merasa ini moment yang pas.

“Ahh… gue mau ambil air di sungai, deh… Ada yang mau ikutan?” seru gue tiba-tiba, sambil kedip-kedip mata ke arah Ega dan Abeck. Gue berharap teman-teman gue yang sama anehnya ini mengerti apa maksudnya.

“Oke!” seru Abeck dan Ega bersamaan.

“Gue juga ikutan!” Adit bersuara.

“Nggak boleh… loe di sini aja tungguin pinjeman tali. Oh iya, Ve sama yang lain bantuin kita-kita yuk. Ntar kita bagi rata airnya…” kata gue lagi, sambil lagi-lagi kedipin mata ke Ve dan kawan-kawannya.

Hal yang sama pun terjadi, semua tim dari Ve kecuali Melody, pergi ke sungai bersama gue dan yang lain. Tersisa, Melody dan Adit yang terdiam tanpa tahu maksud kami semua.

Kenyataannya, kami semua bersembunyi di balik pohon di dekat kemah milik tim Melody. Sedikit demi sedikit, kami mulai mendengar ada interaksi antara Melody dan Adit.

Sorry ya, gara-gara temen-temen aku yang pada aneh itu, kamu jadi ketiban sial karena diejek terus,” Adit memulai pembicaraan.

“Emmm… nggak masalah kok. Lagian, kalau itu nggak bener, kenapa kamu mesti merasa bersalah?” jawab Melody dengan polos, tanpa menatap langsung ke arah Adit.

“Iya sih… tapi bukannya itu nggak bener juga…” Adit tiba-tiba menghela nafas.

“Maksudnya?” Kali ini Melo menatap Adit dalam-dalam.

“Eh?”

“Tadi kamu bilang apa?” tanya Melody.

“Enggak, itu… biar talinya aku yang potongin. Hehehe…” jawab Adit sambil garuk-garuk kepala. Keduanya terlarut dalam keadaan ngobrol yang asik. Tanpa sadar… angin malam semakin menyelimuti hutan kota…


***


Original Story : Aziz Ramlie Adam

Writer :TukangDelusi


Draft : 19-Mei-2013




4 comments:

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)