Ini Ximin

Monday, May 13, 2013

Menyikapi Sebuah Perintah/Amanat

Posted by : Aziz Ramlie Adam




Salam hangat, bagi para insan muda Indonesia dan seluruh dunia.

Di kesempatan kali ini, saya akan bercerita tentang sesuatu yang semoga dapat memotivasi anda untuk menjalani kehidupan menjadi lebih baik lagi.




Di suatu waktu, terdapatlah sebuah keluarga kecil yang hidup dengan damai dan tentram. Meskipun bukan termasuk golongan kaya raya, namun setidaknya mereka bisa mencukupi kehidupan sehari-hari.

Tibalah saat yang paling memilukan dalam keluarga tersebut. Sang Ayah, tulang punggung keluarga, harus pergi untuk selama-lamanya karena telah tiba masanya untuk dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Pesan terakhir Sang ayah untuk kedua putranya adalah… “Jangan sampai kalian terkena sinar matahari”.

Kesedihan yang berlarut-larut dialami oleh keluarga kecil itu semenjak ditinggal pergi oleh kepala keluarga. Perlahan dua orang anak dalam keluarga itu semakin tumbuh dewasa. Mereka masing-masing memilih jalan yang berbeda dalam perantauan. Kedua kakak-beradik itu berpisah, meninggalkan ibu mereka sendirian di rumah.

Sepuluh tahun kemudian, Sang Ibu yang masih bisa bertahan hidup, semakin rindu dengan anak-anaknya. Ingin rasanya ia menegok mereka satu persatu. Akhirnya… diputuskanlah bahwa Sang Ibu ingin menjenguk anak bungsunya terlebih dahulu.

Sesampainya di rumah anak bungsu, ia terkaget. Rumah yang rapuh, tidak bersih, dan terasa tidak sehat, menjadi kesan pertama saat Sang ibu sampai. Dilihatnya sebuah warung kecil di depan rumah Si Bungsu. Saat Sang Ibu bertanya apa yang telah dilakukan Si Bungsu selama ini, Si Bungsu menjawab :

“Aku hanya mengikuti pesan ayah untuk tidak terkena sinar matahari, Bu. Aku berjualan di warung depan rumah sejak matahari terbenam hingga menjelang matahari terbit. Setelah itu aku tidur seharian.”

Sang Ibu merasa iba dengan anak bungsunya. Ia pun pamit pergi untuk menengok anak sulungnya.

Sesampainya di kediaman putra pertamanya, alangkah kaget Sang Ibu saat melihat rumah Si Sulung. Mewah… megah… dan nampaknya putra pertamanya itu telah menjadi orang yang sukses.

Saat Sang Ibu bertanya, apa saja yang telah dilakukan putra sulungnya hingga bisa menjadi sukses seperti sekarang ini, putra sulungnya pun menjawab :

“Aku hanya mengikuti pesan ayah untuk tidak terkena sinar matahari, Bu. Aku bekerja di sebuah perusaahn sejak sebelum matahari terbit hingga saat matahari telah terbenam. Setelah itu aku memanfaatkan malam hari untuk istirahat cukup dan berbenah rumah”.

Sungguh sang ibu takjub dengan pemikiran putra sulungnya.

**


Nah, dari cerita di atas, kira-kira ada yang bisa menafsirkan ‘apa maksudnya?’.

Saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air. Kisah di atas sekiranya dapat memberikan gambaran tentang bagaimana kita menyerap sebuah perintah/amanat. Anak bungsu menjadi terlantar karena ia hanya mendengar perintah dari ayahnya mentah-mentah, tanpa menyerap terlebih dahulu bagaimana baiknya.

Berbeda dengan Si Sulung, ia berhasil menyerap perintah Sang Ayah secara logika dan secara matang. Ia memperhitungkan maksud dari apa yang disuruh oleh Sang Ayah sehingga ia melakukan hal yang benar.

Mungkin itulah, sedikit pembukaan di minggu yang baru ini. Manfaatnya, di dalam kehidupan kerja atau pun sekolah, kita tidak bisa begitu saja menerima perintah atasan atau guru, tanpa memperhitungkan benar-benar apa maksudnya.

Tetap positive thinking, dan teruslah bersemangat.
            
            Oh iya, ini juga berarti kalau tidur dari pagi sampai sore itu kurang sehat loh. Saya sering merasakan sakit-sakit badan waktu masih sering begadang dulu. Harusnya kan, tidur itu menyegarkan badan. Ini kok malah bikin pegal-pegal?



Salam hebat.

Aziz Ramlie Adam.

**

Editing : #TeamMotivation
Draft : 12-Mei-2013





No comments:

Post a Comment

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)