Berjalan dari Dalam Hati

2013/06/23

*Bareng Bu Indo, selaku Wali Kelas. Ketua Kelas selalu di posisi center*

Kelas tiga SMA adalah masa-masa paling absurd yang pernah gue jalani. Kalau waktu kelas satu masih malu-malu babi dan kelas dua adalah masa nakal yang abadi, maka kelas tiga ini adalah masa yang mungkin akan dibumbui sedikit rasa haru.

Untuk masalah cinta (kalo CJR pasti sudah pakai hastag #EAAA), kelas tiga ini adalah masa paling terpuruk. Gue sempat mengalami beberapa kebodohan hanya karena seorang wanita. Ntar, gue nangis dulu.

Jadi, nama cewek ini adalah Ina. Dia temen sekelas gue dari kelas 2 SMA. Anaknya cantik, banget. Walaupun gue jadi ngerasa lucu sendiri waktu dia masang behel, tapi gue tetep suka. Berasal dari keluarga terpandang, dan punya rumah kayak istana di negeri dongeng.

Awal pertemuan sama Ina saat masih jadi anggota OSIS. Waktu itu masih awal-awal masuk SMA. Dan sebagai pelajar yang menyandang gelar junior di organisasi ini, kami para siswa baru mendapat tugas yang sedikit ekstrim. Yaitu, ngebersihin ruang OSIS.

Waktu itu gue lagi ngebersihin bagian kardus tempat terisinya tumpukan kertas usang. Kertas-kertas ini mungkin sudah dipakai buat nulis sejak abad ke- 18. Abisnya ngenes banget, mirip sama kertas yang ada di tumpukan meja kerja Sherlock Holmes. Gue mengangkat kardus itu keluar dari ruang OSIS, rencananya mau gue buang. Pas mau keluar lewat pintunya, gue ketabrak seseorang. Cewek.

(FTV banget, kan?).

“Sorry” kata gue, singkat. Bukan mau sok cool. Tapi, tiba-tiba gue nggak mampu ngomong apa-apa lagi pas ngelihat wajah tu cewek. Meleleh.

Cewek itu senyum. Giginya yang waktu itu belum terpenjara oleh kawat besi, kelihatan indah banget di mata gue. Belum lagi matanya, uuh.. bening dan mengerikan. Kayak mata kalong. Gue cuma bisa nyengir, lalu gue ngelewatin dia begitu aja.

 “Eh, tunggu,” kata cewek itu.

(Sinetron banget, kan?).

Gue berbalik ke arah dia. Seraya berdehem sambil menaikkan alis, seolah bilang ‘iya, kenapa?’

“Kamu, Aziz yang ganteng, ‘kan?”

(Iya.. bagian ‘yang ganteng’ cuma bikinan gue aja)

“Iya”

“Yang dapet nilai 95, waktu UTS Kimia kemaren?”

“Eh, iya.. hehe” kata gue sambil tersenyum, lalu garuk-garuk kepala. Emang, waktu tiga bulan pertama gue jadi anak SMA, nilai Kimia gue paling tinggi satu angkatan. Bukannya sombong, tapi itu kenyataan.

*Kipas-kipas pake ijazah yang nilai Kimia-nya; 5 *

Cewek itu berlalu. Gue sempat kepikiran dan mengacuhkan semua kardus yang gue bawa tadi. Ah.. paling cuma gini-gini doang, ntar juga lupa, pikir gue. Gue segera membuang kardus tadi yang ternyata juga menyimpan fosil cicak dari zaman Nabi Adam.


Kebetulan waktu itu gue lagi single, atau bahasa imut zaman sekarang tuh, jomblo. Waktu itu gue udah ngerasain sesuatu yang bawaannya pengin ketemu terus, sama cewek yang nabrak gue di ruang OSIS itu. Akhirnya gue tau, namanya Ina.

Gue jadi ikutan ekskul marching band karena Ina juga ikut. Namun semua itu membawa gue ke suatu kenyataan kalau ternyata dia udah punya cowok. Dan mereka, udah pacaran dari SD. Ya, SD! Gue inget masa SD gue masih nggak jauh dari iler dan comberan (serta beberapa celana dalam yang sering gue pakai di kepala), sedangkan dia udah bisa pacaran. Cetar….

 *Kelas dua SMA. Hebat kalo bisa nemuin gue yang mana*

Waktu beranjak ke kelas dua, dia masih awet banget pacaran sama cowoknya yang sejak SD itu. Waktu itu sempat nggak ada perasaan apa-apa lagi buat Ina. Gue yang Alhamdulillah sukses jadi playboy, ternyata memang belum menemukan yang semegah Ina.

Terakhir, gue putus dari mantan pacar waktu awal-awal semester dua di kelas 2 juga. Gue jadi sering meratapi nasib dan kadang curhat bareng waria tukang salon. Ini bener. Tapi gue normal. Kebetulan aja waria tukang salon di tempat gue itu baik-baik kok. Kecuali kalau malam….

Seringkali Ina ngingetin gue untuk jangan bolos terus. Gue anggap itu perhatian biasa sebagai seorang teman sekelas. Namun, lama-kelamaan gue jadi ngerasa nyaman untuk diperhatiin.

Waktu itu udah deket kenaikan kelas 3. Tugas gue udah banyak yang numpuk, dan meronta-ronta pengin diselesaikan. Masa terburuknya, gue masuk Blacklist, salah satu murid yang bakal nggak naik kelas. Gue gugup setengah mati, apa lagi gue jadi sering keluar- masuk ruang BK buat dapat khotbah dari semua guru. Ceramah men! Mending kalau dapet duit.

Itulah masa di mana gue butuh kehadiran seseorang. Seseorang yang mampu nyemangatin gue, walau bukan pacar. Dan Ina, hadir membawa kebutuhan gue itu.

Sering dia nasehatin gue seperti,

“Ziz, kerjain dong tugas-tugas kamu, banyak yang belum, ‘kan?”

Atau

“Ziz, catet, tuh, apa yang dijelasin sama Bu guru. Jangan ngoceh terus,”

Bahkan

“Ziz, rapikan dong bajunya. Kok, kayak orang kumuh gitu.”

“Ziz, kamu ganteng banget, deh”

(Iya.. yang terakhir emang gue karang sendiri. Puas?!).


Ya, semua nasihat dari Ina memang menuntun gue menuju jalan yang benar. Gue terus berusaha saat itu.

Suatu masa (Negara Api juga belum lahir waktu itu), gue mendengar kabar entah dari burung siapa yang bilang kalau Ina dan cowoknya udah putus. Gue menggelinjang, dan makin semangat buat PDKT.

Selama kelas dua, hari-hari gue dipenuhi dengan Ina. Namun gue coba untuk membuang hal-hal yang bisa mengganggu konsentrasi, untuk sementara. Dan dengan ketekunan yang mendalam, akhirnya gue naik kelas! Suatu perjuangan yang berat, mengingat gue ini adalah 1 dari 2 orang anak IPA yang udah dicap, bakal nggak naik kelas.

Gue teriak kegirangan, semua temen sekelas gue bersorak karena mengetahui kenyataan, kalau gue dan Rudi (wakil ketua kelas) naik kelas. Perlu diketahui, kelas gue itu adalah XI IPA-1. Kelas IPA yang paling elite, namun juga paling bermasalah karena menyimpan dua bibit semi-jahanam; Gue dan Rudi.

Waktu itu, setelah wali kelas menyatakan bahwa semua siswa kelas kami naik semua, Ina secara spontan manggil gue. Gue datangin dia, dan dia spesial ngasih ciuman ke gue.. (nggak, ini mengkhayal doang..). Koplak!

Ina ngasih kecupan. Eh, maksud gue, ngasih ucapan selamat. Kami berjabat tangan. Ngelihat senyumnya yang seolah ikut bahagia, dalam hati, gue bergumam kecil.. Ina, ini semua berkat, dan demi kamu..

Perasaan ini semakin besar, hingga naik ke kelas 3.

 *Kelas tiga SMA. Muka gue yang paling songong*


Nah, balik ke masa kelas tiga yang gue singgung di awal nih.

Masa-masa kelas tiga ini semakin berarti karena gue udah jarang ngeliat Ina dan cowoknya (yang kabarnya udah putus) itu ketemuan lagi kalau istirahat. Gue semakin ngerasain sesuatu hal yang besar kalau ketemu dia. Saat itu, semangat gue untuk pergi ke sekolah bisa dibilang seratus persen.

Ini semua ditambah lagi dengan uniknya kelas gue sekarang. Prinsip kelas kami nggak hanya kompak sebagai ‘teman’, tapi juga sebagai ‘keluarga’. Jadi ada dua silsilah di kelas ini. Pertama, silsilah ‘struktur organisasi kelas’ (ketua, wakil, sekretaris, dll), dan yang kedua, adalah silsilah ‘keluarga’ IPA-A.

Dimulai dari Putri yang menjadi ‘nenek’ dan Fauzi yang jadi ‘kakek’, maka silsilah itu terus berkembang layaknya pohon keluarga. Putri dan Fauzi mempunya beberapa ‘anak’, salah satunya adalah Ina. Dan gue, sebagai ‘suami’ dari Ina. Kereeen. Emang agak licik, karena waktu itu gue lah, yang ngebuat silsilah keluarga itu.

*Ngakak di dalam ember*

Gue dan Ina juga punya ‘anak’, yaitu Abeck dan Qiyah. Lalu punya saudara ipar dan lain sebagainya. Pokoknya, semua siswa di kelas ini tergabung menjadi satu dalam pohon keluarga itu. Walau cuma bohong-bohong-an, tapi kerasa banget kekeluargaannya. Dan gue, merupakan mamalia yang paling bahagia saat itu.

Awal bulan puasa tahun 2011 bener-bener ngasih sesuatu yang berkesan buat gue. Kebetulan waktu itu sekolah gue masih aktif belajar dalam 2 minggu pertama bulan puasa.

Suatu hari yang indahnya ngalahin film kiamat 2012, gue pinjem catatan Fisika punya Ina. Awalnya, gue pinjem catatan Fisika Ina untuk belajar (belajar nyontek, maksudnya). Namun, pas tu buku gue bawa pulang, gue punya pikiran lain.

Waktu itu gue lagi nginap di kost temen gue, Nandra.

“Dra, gue pengin nyelipin surat ah, di buku ini. Supaya ntar, pas gue balikin ke Ina, dia bisa baca” kata gue, ke Nandra.

“Boleh. Kapan tuh, mau dibalikin bukunya?” tanya Nandra.

“Besok” kata gue, nyengir.

“Besok?? Yaudah. Kita buat suratnya sekarang!” kata Nandra, dengan semangat yang melebihi gue.

Gue dan Nandra pun mencari beberapa referensi mulai dari otak, buku, nenek gayung, kakek cangkul, cucu ngondek, sampai internet. Ternyata, bikin kata-kata romantis itu nggak segampang boker di wc duduk.

Akhirnya gue dan Nandra berhasil menyelesaikan selembar ‘surat cinta’. Memang hanya kertas buku tulis biasa dan cuma satu halaman. Tapi, isinya adalah kata-kata paling romantis dan menakjubkan yang bahkan nggak pernah kepikiran oleh Pak Presiden (emang buat apa Presiden mikirin ginian?).

“Okeeeeh!! Siap buat ntar pagi!” seru gue, bersemangat. Ya, gue bangga karena surat yang dibuat selama 4 jam itu, akhirnya selesai.

“Sekarang udah jam 2, mau sahur dulu?” kata Nandra ke gue.

“Ntar aja, gue mau tidur bentar, deh..” kata gue, lalu berbaring. Sekilas mirip om-om koruptor yang tidur nyenyak karena baru aja korupsi lagi.


Namun paginya…

“Ziz!”

Gue bangun. Hal pertama yang diperintahkan oleh sistem kerja otak gue adalah, ngelap iler. Ke dua, ngecek apakah gue masih perjaka atau nggak. Ke tiga, memastikan kalau gue nggak pipis di celana lagi. Ke empat..

(UDAH CUKUP).

“Pagi?” tanya gue ke Nandra, yang kayaknya udah sekarat karena tenaganya udah habis untuk ngebangunin gue.

“Jam setengah sembilan,” kata Nandra. Ternyata, dia semalem juga ketiduran dan nggak jadi sahur. Dia juga baru bangun.

“Haaa????!!!” Gue bergegas bangun, lalu ngambil catatan Fisika Ina yang seharusnya gue kembalikan pagi ini.

“Gimana doong, nih?? Ntar jam 9, pelajaran Fisika” kata gue, panik.

Tiba-tiba ada suara datang ke arah kamar Nandra ini. “Wooy, kenapa, nih?”

Namanya Firman. Dia sahabat gue yang ngekost di sini juga. Tampangnya cakep, sekilas mirip Boboho yang gagal direhabilitasi.

“Eeh, loe nggak sekolah??”

“Lagi males aja” kata Firman, sambil nguap dengan mulut selebar tabung LPG.

“Yaudah, sini pinjem motor loe!” kata gue, ke Firman. Nandra pun menjelaskan apa yang terjadi. Tentang misi pembuatan surat cinta itu, hingga keterlambatan gue untuk ngembaliin tu buku.

Sekarang, gue udah cuci muka asal-asalan. Dengan T-shirt yang gue pake sejak tadi malam, kolor, dan sendal punya Nandra, gue siap pergi ke sekolah. Sebelum pergi, Firman yang udah ngerti jalan ceritanya pun, memberikan sebuah kalimat penyemangat.

“Ziz, laksanakan dan sukseskanlah, misi cinta ini!” Lalu wajahnya dibuat sok keren.

“Siiiip!” Gue bersemangat. Dengan setelan gembel seperti ini, gue siap, pergi ke lampu merah. Eh, ke sekolah maksudnya.

Sesampainya di sekolah, gue sukses menyelinap hingga ke dekat kelas (jago, kan?). Gue lirik jam tangan, pukul 08:43. Berarti belum pelajaran Fisika, nih. Masih sempat, pikir gue. Gue bermaksud menunggu hingga guru yang lagi ngajar itu, keluar dari kelas gue. Lalu gue bakal balikin buku ini ke Ina dengan gaya ala superhero. Sempoa!

Saat sedang asik menyelinap, ternyata guru yang sedang mengajar di kelas (guru Kimia), menangkap basah gue yang sedang bersiaga mirip acara ‘Be A Man’. Gue dipanggil, dan terpaksa datang menuju pintu kelas.

“Aziz.. kamu ngapaiin??! Udah nggak masuk sekolah, sekarang malah sembunyi- sembunyi ke sini. Nggak pakai seragam, lagi!” seru Ibu guru itu, sinis. Gue cuma nyengir. Gue intip ke dalam kelas, sekilas ngelihatin Ina yang juga ngelihatin gue, dengan wajah galaunya.

“Saya mau berangkat ke Balikpapan, Bu. Hehe, ada acara keluarga. Saya ke sini mau ngasih surat izin,” kata gue, yang udah nyiapin surat izin sejak di kost Nandra, tadi.

“Nggak bohong, ‘kan?” tanya Ibu itu, lagi.

Jleb.

Pertanyaan yang sulit. Ini sama canggungnya kayak waktu kita ditanya ‘jomblo, ya?’

“Nggak..” kata gue pasrah. Karena waktu itu bulan puasa, otomatis gue batal….

“Anu, Bu.. saya mau ngasih ini ke Ina..” kata gue, sambil memperlihatkan catatan Fisika, yang di dalamnya udah gue selipkan sebuah surat.

“Sini. Biar ibu saja yang kasih ke dia” lanjut Bu Kimia, lalu ngerebut buku itu dari tangan gue. Dan tanpa sengaja, surat yang terselip di dalamnya pun, jatuh ke lantai. Gue ulangi pakai CapsLock : JATUH KE LANTAI.

“Eeeeeh!!!” Gue histeris, mirip atlit angkat besi (yang barbelnya jatuh kena titit). Gue segera mengambil surat itu.

“Apa, itu??” tanya guru gue, dengan penuh selidik.

“Nggak, Bu….” Gue nyengir, lalu pergi dari sana. Mission failed.

Walau gagal, namun akhirnya beberapa hari kemudian, di hari Sabtu, gue mencoba untuk ngasih surat itu secara live. Pulang sekolah gue memanfaatkan Abeck untuk memanggil ‘mama’-nya itu buat ketemuan sama gue di samping kelas.

Gue nunggu dengan penuh rasa deg-degan (hampir memasuki tahap cenat-cenut). Sampai akhirnya, Ina datang dengan wajah penuh tanya. Gue hampir mati saking gugupnya. Gue kasih surat itu ke dia sambil nundukin kepala. Lalu, pergi secepat kilat menuju parkiran. Waktu itu gue emang memasuki fase ‘malu-malu-dewa’. Tapi gue senang, karena perasaan gue selama hampir 3 tahun ini, akhirnya tersampaikan….

*Gue di belakangnya Ina. Ketemu? Pfftt...*

Ujian Akhir Nasional kurang lebih 7 bulan lagi. Setelah itu, masa suram gue di SMA akan segera berakhir. Walaupun kedengeran masih lama, tapi gue udah sering ngerasa sedih duluan. Bagaimana pun juga, angkatan gue adalah angkatan yang sangat meninggalkan kesan baik (dan buruk banget) bagi sekolah. Sehingga ngebuat gue ngerasa cengeng, kalau mikirin gimana ntar pas kita semua udah pisah.

Petualangan cinta gue juga nggak berakhir sampe di sini. Waktu yang lumayan singkat (bagi gue) ini, gue manfaatkan sebaik-baiknya. Ya, setelah Ina tau perasaan gue, langkah selanjutnya yang akan gue lakukan adalah ‘mencari tahu’ perasaan dia ke gue.

Tepatnya tanggal 10 Agustus 2011, waktu itu lagi bulan puasa. Sekolah gue ngadain acara pondok ramadhan dimana kita dituntut untuk sahur dan buka puasa di sekolah, dan jelas aja kita nginep. Karena kebetulan puasa gue waktu itu sering bolong (ini kenapa jadi nyebar aib), maka kesempatan pondok ramadhan ini gue manfaatkan sebaik-baiknya.

Saat masih tanggal 9, malam, sehabis Sholat Tarawih, kita punya acara yang ekstrim. ESQ.  Acaranya berjalan lancar, menyaingi lancarnya buang air besar di pagi hari. Banyak anak yang histeris pada saat itu. Ada yang sampe guling-guling mengelilingi Masjid. Ada juga, yang nangisnya terisak-isak sampe buang gas di tempat yang nggak semestinya. Gue? Mungkin karena posisi gue yang diapit oleh beberapa temen ‘waras’, mengakibatkan acara ini nggak begitu ngefek buat gue dan temen-temen. Kita cenderung nangis bohong-bohongan sambil sesekali ngucek mata pake sarung (dek, jangan ditiru, ya..).

Selesai kegiatan ‘meng-histeris-kan murid’ tersebut, para guru pembimbing menyuruh kami untuk kembali ke basecamp masing-masing. Waktu itu selesainya udah sekitar jam 1 malam, udah masuk tanggal 10. Nah, di sinilah awal kesuraman versi gue banget, dimulai.

Anak-anak banyak yang nggak mau pergi tidur. Banyak yang kelayapan sekedar maen kartu remi di lapangan. Alibinya sih, tanggung kalau tidur, karena udah deket waktu sahur. Gue yang saat itu juga lagi rada bingung mau ngapain, mendadak punya pikiran cemerlang. Gue, pengin memanfaatkan moment bulan suci ini untuk ‘nembak’ Ina.

Gue menggeliat mirip kura-kura labil menuju basecamp-nya Ina. Gue intip lewat jendela ruangan. Emang berkesan agak porno, karena yang gue intip itu ruangan khusus cewek. Tapi, gue mencoba fokus mencari sosok Ina (meskipun cewek lain kelihatan juga sih. Pffft).

Dapat. Ternyata, Ina nggak tidur juga, gumam gue dalam hati. Kesempatan itu pun nggak gue sia-siakan. Kalau berhasil, kan bakal keren banget tuh, jadian di bulan puasa. Gue segera menyuruh temen gue untuk nge-BBM temennya Ina. Sekedar tak-tik supaya temennya Ina itu mau ngajak Ina ke luar ruangan.

Akhirnya Ina keluar dari sana. Berhasil membawa keluar seorang Dewi Cantik dari dalam surga wanita, yang berisikan cewek-cewek yang nggak secantik dia tuh, bener-bener membuat gue bangga. Gue ngajak dia buat ngobrol di samping basecamp cewek itu.

“Kenapa, Ziz?” Dia senyum-senyum, kayak habis ketindih duit milyaran rupiah.

“Em.. ada yang mau aku omongin” kata gue, senyum-senyum juga. Kayak koruptor habis nyedot duit milyaran rupiah.. milik negara.

Gue kasih tau, ya. Malam itu, Ina bener-bener dua juta kali lipat lebih cantik dari biasanya. Dia pake ‘leging’ warna hitam (itu, loh, yang karet mirip celana senam mbak- mbak penari balet. Gue cuma bingung aja, tulisan ‘leging’ yang bener tuh, kayak apa). Bajunya hanya t-shirt biasa yang bertuliskan ‘I love Makassar’. Trus, dia pake selendang gitu yang dililit dari leher hingga ke punggung. Oke, sekilas emang mirip Kamen Rider.

 “Em.. kamu tadi mau ngomong apa?” Kata Ina, lagi.

“Surat dari aku.. udah baca?” Kata gue, yang waktu itu memakai style Kabayan.

“Udah..” kata dia, lalu tersenyum. Gue hampir kesambet setan behel saking gugupnya.

“Gimana..?” tanya gue, mencoba mencari tau tanggapannya atas perasaan ini.

“Lucu..” Dia senyum lagi. Bener- bener makhluk dari Venus, nih! Hati gue mulai ngadain resepsi pernikahan. Meriah.

“Terus..?” tanya gue lagi , seolah jawabannya itu masih terasa kurang.

“Apanya..?”

“Itu.. jadi, gimana…?” Gue mulai nggak bisa ngomong. Gue terlalu takut buat sekedar bilang ‘loe.. mau nggak, jadi pacar gue..?’

Tapi, Ina seolah mengerti akan maksud hati ini. Dia mulai berbicara setelah hening beberapa saat.

“Kamu gila, ya.. hehehe” katanya, sambil nggak sengaja pamer behel. Waktu itu warna behelnya udah ganti jadi hijau.

“Apaan.. Oke, deh, aku gila. Tapi.. kamu penyebabnya..”

Dia hanya tersipu malu. Lalu, seolah ingin segera mengakhiri situasi super canggung ini, dia mulai bicara panjang lebar.

“Ziz.. dengar laraku, suara hati ini memanggil namamu. Karena separuh aku...”

(Eeeh, entar. Tuh lagu belum ada dulu)

 “Ziz.. dengar, ya.. kita di kelas tuh, udah kayak keluarga. Aku senang bisa kenal, dan sekelas sama kamu. Tapi.. mungkin sebaiknya kita temenan dulu, ya. Lagian, waktu masih panjang kok..” kata dia, lalu mengakhiri kalimat dengan sebuah senyuman paling indah yang pernah gue lihat selama kenal dia (kalau lebay, jangan nangis, ya).

“Em.. iya.. nggak apa, sorry aku ganggu..” Gue pun, tersenyum. Seolah nggak ngerasa patah hati. Karena ada 2 clue yang membuat gue yakin kalau masih ada harapan. Pertama ‘kita temen dulu’, kedua ‘waktu masih panjang’.

Tapi, apa itu berarti gue bakal baik-baik aja? Nggak.. justru pemikiran gue yang terlalu positif terhadap 2 clue tadi, serta pengharapan gue yang terlalu berlebihan, nantinya bakal menghancurkan diri gue sendiri. Karena apa? Besoknya dia jadian sama cowok lain.


Gue bagai disambar petir yang sering muncul di sinetron. Kenyataan ini menyakitkan banget. Lebih sakit dibanding mengetahui kenyataan kalau mantan pacar loe sebenarnya adalah penyuka sesama jenis.

Ina jadian dengan cowok barunya, tanggal 11 Agustus 2011! Ya, sehari setelah gue nembak dia. Sehari setelah gue seolah masih diberi harapan. Sehari setelah pertemuan antara cosplay Kabayan dan Dewi Bulan terjadi.

Kenyataan lain, ternyata Ina emang udah PDKT cukup lama sama cowoknya itu. Jauh sebelum gue nyatain suka, ngasih surat, bahkan mungkin, jauh sebelum dia secara rutin memberi perhatian ke gue. Jauh sebelum gue berkeyakinan kalau cinta ini.. nggak bertepuk sebelah tangan..


Akhirnya bolos gue makin parah. Nilai-nilai gue makin menuju ke titik dasar. Kalaupun gue masuk kelas, itu cuma numpang tidur dan menyendiri di pojok kiri, belakang kelas. Gue jadi malas ngomong. Waktu itu, gue ngerasa, berubah menjadi Aziz yang lain. Keceriaan gue perlahan direnggut oleh pengharapan ini. Pengharapan.. tanpa dasar yang jelas.

Tapi akhirnya gue kembali semula (setelah beberapa bulan) karena gue sudah bisa menerima kenyataan, kalau Ina cewek yang paling gue sayang di akhir masa SMA, ternyata pacaran dengan orang yang jauh lebih sempurna dari gue. Berkat support dari temen-temen sekelas jualah gue bisa kembali. Mereka mau gue membangun kembali hari yang indah. Lagi pula, UAN sudah semakin dekat. Mereka ingin keceriaan gue, yang sempat hilang.

(Guys, gue masih menyimpan kertas “uneg-uneg” itu looh. Yang isinya tuh, wish kalian buat gue. Hehehe..)

Gue kembali, menjadi sosok Aziz yang ‘Oon’ dan rada ringsek kalo lagi nerima pelajaran. Yah, itulah gue. Pelawak.

            *Rudi, wakil ketua kelas, adalah yang pake baju Pramuka sendirian*

Lambat laun gue menerima kenyataan dengan move on yang cepat banget terselesaikan. Intinya ya, love you Ina. Eh, bukan loe aja yeee… semua teman sekelas lebih spesial. Buahahaha…. *sekarang udah nggak ada konflik satu sama lain* :)






Mungkin tulisan gue kali ini terkesan jauh dari kegilaan gue yang biasanya. Tapi ya, untuk memoriable kelas tiga SMA, ini berkesan banget. By the way, ini tulisan sebenarnya diikutsertakan dalam lomba yang diadakan oleh seorang penulis muda, imut, dan pastinya gue nggak mau jadian sama dia. Dia cowok, men.

Kevin Anggara adalah penulis yang gue maksud. Selain blogger di http://www.kevinanggara.com/ sekarang dia juga sedang dalam proses cenat-cenut nunggu buku pertamanya mulai dipublikasikan. Buku ini bercerita tentang kesehariannya sebagai seorang pelajar absurd yang pastinya bakalan seru banget buat dijadikan tambahan koleksi novel slengean di rak buku kita. Judulnya? 


Student Guidebook for Dummies (Panduan Ngaco Pelajar Keren) #STUDIES


Semoga cepat disebarin nih buku ke seluruh penjuru negeri, dan semoga ada nama gue di bagian thanks to. Buahahaha... 

Terakhir, tulisan ini juga mendapat dukungan penuh dari forum tercinta dari ujung kamar mandi.



Support by hosting + domain murah Inspirat[dot]net






2013/06/20



Jauh di sekitar pedalaman sana, terdapat sebuah dusun yang damai dan tentram. Dikabarkan dari beberapa sumber, para penduduknya ramah dan selalu tersenyum kepada sesama warganya bahkan kepada pendatang sekalipun.

Legenda mencatat, bahwa di sana terdapat suatu kotak emas yang dijaga ketat oleh seluruh warganya. Sampai saat ini orang-orang luar hanya dapat menerka-nerka apa isi dari kotak itu sebenarnya. Namun yang jelas, dilihat dari segi budaya dan supranatural daerah setempat, kotak itu merupakan benda yang penting dan bisa saja berisikan benda yang kasat mata.

Suatu masa, datanglah sekelompok mahasiswa yang kebetulan akan melakukan tugas akhir berupa observasi demi menunjang nilai kelulusannya. Kelompok yang berjumlah 7 orang itu terdiri atas : Adam (Kepala Tim), Cindy (Pewawancara), Rendy (Juru Kamera), Nisa (Bendahara), Rizal (Humas), serta Adib dan Retno (Perlengkapan).

Awal ketertarikan kelompok ini untuk observasi di wilayah pedalaman tersebut disebabkan oleh Rizal selaku Humas kelompok dan juga sebagai tim survey lapangan. Menurut Rizal, daerah yang sulit dijangkau sisi kehidupannya itu lebih menantang ketimbang daerah mainstream yang sudah dikenal kemana-mana. Maka karena itulah, Adam selaku ketua kelompok menyetujui ide untuk melakukan observasi di sana.

Perjalanan dimulai dari rumah Adib yang kebetulan memiliki mobil sendiri yang bisa digunakan untuk pergi ke sana. berbagai peralatan seperti bahan makanan, materi pendukung dan kelengkapan di lapangan nanti sebelumnya telah disediakan oleh Retno. Mereka semua hanya tahu beres sampai nanti melaksanakan tugas masing-masing dan tentunya masih sebagai satu kelompok.

Sesampainya di daerah terpencil itu, mereka menghentikkan laju mobil tepat di depan sebuah gapura tua dengan tulisan nama desa yang sudah hampir menghilang. Samar-samar misteri di dalam desa itu mulai merasuki hati mereka dalam bentuk aura yang tidak mengenakkan.


“Yakin nih, stop di sini?” Cindy bergidik sendiri karena sebenarnya yang menanti di depan mereka masih jalan setapak yang cukup lebar, namun dikelilingi dengan pohon-pohon yang menjulang tinggi. Lebih tinggi dari pilar Istana para Dewa Yunani zaman dulu. (ya kali….)

“Udah, di sini aja. Menurut info yang gue dapet sih, jalan masuknya cuma satu kilo-an aja” sahut Rizal.

“Yakin yaaa…. Awas loe!” kata Cindy lagi, yang memang sebenarnya paling malas kalau harus berurusan dengan yang namanya ‘jalan kaki’.

“Udah, udah…. Lagian aman kok di sini. Kayaknya sih, hahaha. Tapi kalau emang Rizal bilang deket, ya berarti deket. Sekalian juga kan olahraga biar sehat. Mumpung udaranya segar…” kata Adam yang terlihat mulai melakukan gerak peregangan otot-otot.

“Bener, kamera udah on nih. Halooo...” celetuk Rendy yang keluar dari mobil sambil menyalakan handy cam-nya. Terlihat ia sangat bersemangat sekali.


Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan menuju desa yang tersembunyi itu. Sempat beberapa kali mereka berpapasan dengan beberapa penduduk setempat yangt terlihat sibuk sekali membawa berbatang-batang kayu bakar. Dan seperti rumor yang beredar, mereka selalu tersenyum.


“Orang-orang di sini ramah, ya…” kata Retno dengan nada ceria.

“Gue bilang juga apa…. Tenang aja, tugas kita bakal selesai cepat di sini. Gue kan nggak sembarangan survey tempat. Gue juga perhatikan kondisi masyarakatnya yang menunjang baik buat tugas kita. Hohoho” kata Rizal sembari menepuk-nepuk dada.

“Iya iyaa… loe emang keren…” celetuk Cindy yang sedari tadi sibuk mengipasi wajahnya dengan tangan.


Sesampainya di desa itu, mereka disambut hangat oleh seorang pria paruh burung baya yang awalnya heran dengan kedatangan mereka.

Tanpa basa-basi, Rizal pun mengungkapkan maksud tujuan mereka datang ke sana. Menariknya, Rizal berbicara dengan bahasa dan aksen yang sama persis dengan pria desa tersebut.


“Lihai banget loe ngomongnya” ucap Adam pada Rizal saat pembicaraan dengan pria paruh baya itu sudah selesai.

“Gue gitu loh. Gue iseng belajar aja sih, walaupun sumber tentang bahasa mereka di internet itu sedikit banget. Jadi tadi agak improvisasi juga. Ahahaha.”

“Wah… nggak salah loe jadi Humas di kelompok kita. Hhahaha” seru Adib.

“Iya dong….”


Selesai dari perjalanan menelusuri desa, mereka diajak menuju rumah seorang petinggi di sana. Kalau umumnya, ya Pak RT-lah. Bukan Pak ReTweet….

Mereka disambut dengan hangat oleh bapak pemilik rumah itu. Tujuan baik mereka untuk sekedar merampungkan nilai akhir diperkenankan oleh bapak itu dan menjadi legal. Mereka juga dipersilahkan untuk melakukan penelitian di berbagai titik desa yang menurut mereka perlu dirangkum menjadi sebuah artikel berharga.

Setelah berterima kasih, mereka diberikan pula tempat menginap berupa rumah lama milik si Bapak ReTweet tadi. Rumah bekas tinggal Pak ReTweet itu memiliki 3 buah kamar yang lumayan seram. Namun para cewek dari kelompok mereka merasa keseraman itu tidak sebanding dengan jika mereka harus satu kamar dengan para cowok. Persoalan…

Malam pertama menginap di sana, tidak banyak kegiatan yang mereka lakukan. Paling-paling, mereka hanya mempersiapkan perlengkapan besok dan mental tentunya, untuk bertemu dengan berbagai macam orang baru. Mereka berkumpul sebentar di satu kamar. Kemudian pindah ke dua kamar lain yang satu untuk cowok, dan satunya lagi untuk cewek. Kamar yang satunya, mungkin untuk waria….




Keesokan paginya mereka dibangunkan oleh suara kokok ayam yang memiliki frekuensi setingkat bom Hiroshima. Bagi para cowok : Adam, Rizal, Rendy dan Adib; tentunya dibangunkan ayam seperti itu merupakan hal yang paling menjengkelkan ketimbang bangun karena mimpi jadi jomblo selamanya.

Setelah kesadaran mereka terkumpul sepenuhnya di dunia nyata, mereka bergegas pergi dari rumah itu untuk mencari penginapan. Masalah mandi jangan ditanya. Mereka sukses wangi karena tambahan parfum. Udah… itu doang.

Mereka kebetulan menemukan warung pecel yang bertempat tidak jauh dari tempat mereka menginap. Mereka mampir sebentar untuk melepaskan rasa lapar.


“Uhuk! Uhuk!” tiba-tiba retno batuk saat sedang memakan pecel itu.

“Eh? Kamu kenapa?” tanya Nisa.

“Pecel ini misterius…” kata Retno lalu diikuti dengan suara sendok yang jatuh dari tangannya ke atas meja.


Semua terdiam. Semua bergidik. Kunyahan makan Rizal dan Rendy sempat terhenti.


“Pecel ini…” kata Retno lagi, “…nggak ada sambel kacangnya!”

Semua melihat ke arah piring masing-masing. Ternyata benar, nasi pecel itu nggak ada sambel kacangnya. Mereka tercengang.


“Maaf ya anak-anak, tadi belum selesai saya nyambelnya. Ini nih…” kata Ibu Penjual Pecel itu lalu menuangkan sedikit demi sedikit sambel kacang ke piring mereka masing-masing.


Akhirnya, satu kasus telah selesai….


Selanjutnya, mereka melanjutkan observasi menuju sebuah bangunan sakral tempat beradanya kotak emas yang sering dipertanyakan isinya itu. Kebetulan saking ketatnya, bangunan itupun dijaga oleh 7 orang pria kekar dengan kumis tipis di atas bibir masing-masing.

“Hm… kami dari Universitas Tepat Sasaran, di Kota Akil Balig. Kami kesini untuk melakukan observasi dan rangkuman penelitian tentang keadaan desa ini, Mas” kata Adam selaku ketua kelompok.

Para pria itu hanya bingung tidak mengerti. Rupanya, mereka benar-benar sepuh desa yang sama sekali tidak mengerti bahasa Indonesia yang umum. Beda dengan warga lain termasuk penjual pecel tanpa sambel kacang tadi.

“Sini, biar gue” seru rizal.

Setelah berbincang, Rizal pun memperkenalkan nama ke-7 pemuda gagah perkasa itu.


“Oke, dari pada ntar tak kenal maka tak bisa pinjem duit, gue bakal kenalin mereka satu per satu. Mulai dari ujung kiri itu, namanya Dama. Lalu itu Dicin, Diren, Sani, Zalri, Diba dan Noret. Mereka adalah kelompok kepercayaan Pak ReTweet yang diberi kebanggan berupa menjaga kotak emas.”

“Woww… namanya kayak nggak asing gitu ya…” celetuk Cindy.

“Iya juga sih. Kayak nama sekumpulan mahasiswa gitu” balas Rizal, sambil mengelus jenggot tipisnya.


Akhirnya mereka diperbolehkan untuk masuk ke dalam bangunan itu. Mereka juga memiliki kesempatan langka, untuk melihat apa sebenarnya isi kotak emas itu.

“Serem…” gumam Nisa sambil memegangi erat tangannya Retno.

Suasana saat itu sangat gelap. Sepertinya ruangan itu sudah lama tidak dikunjungi. Tak lama, salah satu dari penjaga yang bernama Zalri mengajak bicara Rizal.

“Katanya, kalo gelap nyalain aja lampunya. Tuh, pencet aja di sono” kata Rizal pada teman-temanya. Adam pun menyalakan lampu hingga akhirnya suasana menjadi bersahabat.

Ruangan itu menjadi segar dan jauh dari kata seram. Kecual para penjaganya yang masih terlihat seram.


“Gue deg-degan nih…” kata Adib, saat mereka telah tiba di sebuah altar tempat diletakkannya kotak emas itu.

“Zal, bisa loe suruh mereka buka sekarang ni kotak?” kata Adam kepada Rizal.

“Oke deh….” Lalu Rizal berbincang lagi dengan penjaga itu.


Mereka pun dipersilahkan duduk sambil menikmati soft drink yang sudah disediakan. Tidak lupa mereka diberikan popcorn gratis tapi tiketnya tetap bayar 30 ribu.


“Kayak di bioskop ya…” ucap Nisa ke teman-temanya. Yang lain hanya mengangguk tanda setuju.

Perlahan kotak itu dibuka. Dan saat kotak emas itu sudah menampakkan isinya secara keseluruhan, mereka terkagum.

Ya, isinya bukan Arya Wiguna. Tapi secarik peta masa lampau yang usianya sudah ribuan tahun. Di situ terlihat jelas batas-batas wilayah desa secara mendetail. Adam dan kawan-kawan pun kenyang karena soft drink dan popcorn….

Akhirnya kelompok itu pergi meninggalkan desa dengan rasa senang karena observasi mereka berjalan lancar. Mereka pamit pulang kepada Pak ReTweet. Kasus terselesaikan. Misteri sudah terpecahkan.


“Akhirnya selesai juga ya… untung cuma satu malam” kata Cindy yang sepertinya sudah gerah ingin mandi di rumanhnya.

“Bener…” seru Retno.


Mereka akhirnya kembali ke tempat awal mereka memarkirkan mobil. Namun tanpa disangka, mobil milik Adib telah menghilang….

**Tamat**

Loh, kok tamat???! Nggak bersambung nih?! Mobilnya Adib kan belum ketemu!

Udah kok… dia cuma lupa tempat parkirnya aja. Mobilnya udah ketemu. Malah bonus satu ikat sayur bayam di bagasi belakang.


Terus, ini seramnya dimana???!!!

Oh…. Yang serem itu wajah pria paruh baya yang menyambut kedatangan mereka di awal tadi. Loe nggak tau sih wajahnya gimana. Nah, kalau mau yang lebih serem, gue sarankan kalian untuk… bercermin….


EH?! Tapi kan….


Udah! Selamat malam jumat! Huehehehehehe!!