Berjalan dari Dalam Hati

2013/06/19

Antara BBM, Aksi Demo dan Masyarakat Menengah ke Samping



                
Dear Stella JKT48,

Dari setahun yang lalu, isu kenaikan BBM sepertinya sudah sering banget gue dengar. Dari setahun yang lalu, banyak demo terjadi dimana-mana. Dari setahun yang lalu juga, gue sudah jomblo dan gagal dalam PDKT ke beberapa gebetan. Oke, yang terakhir itu memang aib dan anggap aja loe nggak pernah baca sama sekali.


Tepatnya dua hari yang lalu (Senin), gue yang masih berstatus anak kost, memulai hari yang cerah seperti biasa. Gue kerja dan sempatin diri buat kuliah (nggak kebalik ya?). Menjelang maghrib baru gue akhiri semua aktivitas dan menyempatkan diri untuk makan bareng temen gue di salah satu warung makan. Tentunya dengan gombalan ‘gue yang traktir, deh’, dari teman gue itu. Sungguh istimewa memang dirinya.

Pertengahan bulan begini adalah tanggal yang sakral bagi gue. Gaji kerja serabutan gue itu keluar tiap tanggal 25. Dan kiriman rutin dari kampung halaman sana masuknya setiap tanggal 2. Jadi, bisa disimpulkan kalau pertengahan bulan begini adalah krisis yang cukup ngebuat gue menggelinjang setiap kali cek saldo apalagi ngebuka dompet.

Inilah gue, masyarakat biasa yang termasuk dalam kalangan ‘Menengah ke Samping’. Iya, gue bukan anak pejabat perut buncit dan Alhamdulillah hidup gue nggak keras-keras banget. Seperti itu tadi, menegah ke samping….

Sebagai masyarakat menengah ke samping, gue yang selalu bersikap netral terhadap apapun ini sepertinya mulai terkena dampak yang cukup membara dari kenaikan BBM. Tapi ya kembali ke semula, kalau gue ini netral.

Lanjut ke cerita hari Senin lalu, gue yang Alhamdulillah ditraktir mengakhiri senja itu dengan perut yang berpesta. Gue lanjut perjalanan menuju kost dengan tampang layaknya makhluk astral pria cakep biasa. Dan belum satu lagu yang gue dengar selesai, gue terjebak macet. Ternyata, di depan Kampus lagi ada demo. Siapa yang demo? Tanyakan pada Pak Rektor….

Jadi jalur kiri dari arah gue akan lewat, waktu itu ditutup dan dialihkan menuju jalur kanan sehingga menyebabkan macet yang luar binasa. Lebih dari membahana, lebih dari tsunami. Apalagi waktu itu menjelang senja dan memang kapasitas orang yang ingin pulang ke hunian masing-masing lebih meningkat dari jam-jam biasanya.

Gue lihat spanduk-spanduk bertuliskan ‘Tolak Kenaikan Harga BBM’ dan sejenisnya, begitu banyak dibentangkan. Wajah-wajah mahasiswa yang mungkin sudah belasan semester itu makin melengkapi kengerian senja di saat itu *ini kayak cerita misteri luar negeri ya* Gue bergidik sebentar.

Iya, terakhir yang gue tahu, keputusan akhir perihal kenaikan BBM adalah tanggal 1 Juni kemarin. Tapi itulah orang-orang kita, suka galau dan menunda-nunda. Kadang ide sudah tertumpuk di kepala, tapi malah hilang begitu saja tanpa sempat disalin atau dituangkan ke dalam sebuah karya.

Kembali ke cerita, tepatnya kemarin, hari Selasa, gue masih menjalani aktivitas seperti biasanya. Bedanya, gue pulang lebih malam sekitar jam 9. Dan bedanya lagi… demo yang terjadi di depan Kampus juga lebih besar dari hari sebelumnya!

Kali ini kedua ruas jalan ditutup sehingga memaksa gue untuk putar-putar jalan. Padahal saking mengenaskannya, kondisi bensin motor gue sendiri saat itu sedang mengkhawatirkan. Dan benar saja, selagi sibuk cari jalan pintas, motor gue sukses gaul dengan matinya mesin di jalanan. Dia ngambek. Gue yakin dia kehausan karena bensinnya sudah empty tingkat Kecamatan. Gue mau nangis.

Akhirnya gue menuntun motor gue ke jalan yang benar tukang eceran terdekat. Nah, saat gue mengisi bensin di eceran inilah, gue berpikir, “Seberapa sering gue isi bensin di eceran?” Jawabannya, sering banget!

Itulah mental orang Kalimantan terutama orang-orang kalangan menengah ke samping seperti gue ini. Mental yang sudah terbiasa dengan harga bensin 5000 sampai 6000-an inilah yang terukir. Realitanya, SPBU di Kalimantan kadang-kadang ngadet ngalahin mampetnya boker seseorang. Dan mau bagaimana lagi, eceran adalah pilihan satu-satunya.

Itulah yang menjadi beban di pikiran gue. Kenapa repot menolak kenaikan harga BBM kalau sebenarnya kita sudah punya mental beli bensin dengan harga 6000 per liter? Elegan dikit lah. Paling kalau memang naik, usul kita cuma : SPBU jangan sering kosong BBM dan ketertiban penyaluran subsidi lebih ditingkatkan lagi. Itu doang.

Jujur gue bukan pengamat politik sekelas Kurnia Mega ataupun Choky Sitohang. Gue hanya orang biasa, yang juga punya kesalahan (banyak) di kehidupannya. Gue kan hanya berpendapat. Masalah? *tiba-tiba muka mbak Soimah keluar dari layar kaca*

Gue nggak mempermasalahkan kenaikan BBM ataupun kenaikan burung-burung ke angkasa. Gue hanya risih, karena ini cukup membebani kaum netral kayak gue ini. Bayangkan, para unyu-unyu yang demo itu pakai bakar ban segala, bakar kayu, bahkan bakar motor. Ini apa??!! Kenapa nggak sekalian bawa kemah trus pakai seragam coklat dan bawa peluit? Nnyanyiin yell, dan sip dah, loe jadi anak Pramuka.

Lagian katanya ngebela rakyat. Kalau aksi ngebelanya aja sudah merugikan, gimana mau ngebela? Contohnya gue tadi. Kalian demo tentang kenaikan BBM tapi malah bikin jalan ditutup dan gue mesti kehabisan bensin gara-gara muter jalan. Kalau gini siapa yang rugi? Yang jelas bukan Kak Seto….

Dari segi kemanusiaan, gue yakin semua yang demo (tanpa dibayar) punya niat yang tulus pengin memajukan negeri kita yang katanya sudah sulit terselamatkan ini. Tapi pasti ada jalan lain untuk melakukannya. Katanya berpendidikan…. Elegan dikit lah….

Di lain sisi, tentu kekurangan juga ada di pihak Pemerintah. Dan di bagian ini, gue sepertinya nggak perlu komentar lah ya…. Bisa loe renungkan masing-masing. Huehehehehe…. *takutnya jadi skandal kalau gue blak-blakan*

Harapan gue untuk ke depannya, harga kost nggak bakalan ikut naik karena kenaikan harga BBM ini. Karena menurut ramalan, gue masih akan bertahan menjadi perantau untuk waktu yang sangat lama. Perlu diketahui, sewa kost di Kalimantan Timur ini khususnya di tempat gue, Samarinda, harganya bisa melambung tinggi kalau loe memang pengin hidup layak. Begitu juga harga nasi pecel.


Hmm… inti dari bacotan gue ini sih sebenarnya sederhana : GUE CAPEK MESTI DORONG MOTOR SATU KILOMETER CUMA DEMI SATU LITER BENSIN!!

Bukan menjatuhkan, dan tidak mengelukan. Tapi kalau punya pendapat sendiri, yuk, ngebacot bareng di comment box :)


*Contoh Masyarakat Menengah ke Bawah. Iya... ini teman gue, namanya Firman *





2 comments:

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)