[Fiction] Kotak Emas di Desa Misterius



Jauh di sekitar pedalaman sana, terdapat sebuah dusun yang damai dan tentram. Dikabarkan dari beberapa sumber, para penduduknya ramah dan selalu tersenyum kepada sesama warganya bahkan kepada pendatang sekalipun.

Legenda mencatat, bahwa di sana terdapat suatu kotak emas yang dijaga ketat oleh seluruh warganya. Sampai saat ini orang-orang luar hanya dapat menerka-nerka apa isi dari kotak itu sebenarnya. Namun yang jelas, dilihat dari segi budaya dan supranatural daerah setempat, kotak itu merupakan benda yang penting dan bisa saja berisikan benda yang kasat mata.

Suatu masa, datanglah sekelompok mahasiswa yang kebetulan akan melakukan tugas akhir berupa observasi demi menunjang nilai kelulusannya. Kelompok yang berjumlah 7 orang itu terdiri atas : Adam (Kepala Tim), Cindy (Pewawancara), Rendy (Juru Kamera), Nisa (Bendahara), Rizal (Humas), serta Adib dan Retno (Perlengkapan).

Awal ketertarikan kelompok ini untuk observasi di wilayah pedalaman tersebut disebabkan oleh Rizal selaku Humas kelompok dan juga sebagai tim survey lapangan. Menurut Rizal, daerah yang sulit dijangkau sisi kehidupannya itu lebih menantang ketimbang daerah mainstream yang sudah dikenal kemana-mana. Maka karena itulah, Adam selaku ketua kelompok menyetujui ide untuk melakukan observasi di sana.

Perjalanan dimulai dari rumah Adib yang kebetulan memiliki mobil sendiri yang bisa digunakan untuk pergi ke sana. berbagai peralatan seperti bahan makanan, materi pendukung dan kelengkapan di lapangan nanti sebelumnya telah disediakan oleh Retno. Mereka semua hanya tahu beres sampai nanti melaksanakan tugas masing-masing dan tentunya masih sebagai satu kelompok.

Sesampainya di daerah terpencil itu, mereka menghentikkan laju mobil tepat di depan sebuah gapura tua dengan tulisan nama desa yang sudah hampir menghilang. Samar-samar misteri di dalam desa itu mulai merasuki hati mereka dalam bentuk aura yang tidak mengenakkan.


“Yakin nih, stop di sini?” Cindy bergidik sendiri karena sebenarnya yang menanti di depan mereka masih jalan setapak yang cukup lebar, namun dikelilingi dengan pohon-pohon yang menjulang tinggi. Lebih tinggi dari pilar Istana para Dewa Yunani zaman dulu. (ya kali….)

“Udah, di sini aja. Menurut info yang gue dapet sih, jalan masuknya cuma satu kilo-an aja” sahut Rizal.

“Yakin yaaa…. Awas loe!” kata Cindy lagi, yang memang sebenarnya paling malas kalau harus berurusan dengan yang namanya ‘jalan kaki’.

“Udah, udah…. Lagian aman kok di sini. Kayaknya sih, hahaha. Tapi kalau emang Rizal bilang deket, ya berarti deket. Sekalian juga kan olahraga biar sehat. Mumpung udaranya segar…” kata Adam yang terlihat mulai melakukan gerak peregangan otot-otot.

“Bener, kamera udah on nih. Halooo...” celetuk Rendy yang keluar dari mobil sambil menyalakan handy cam-nya. Terlihat ia sangat bersemangat sekali.


Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan menuju desa yang tersembunyi itu. Sempat beberapa kali mereka berpapasan dengan beberapa penduduk setempat yangt terlihat sibuk sekali membawa berbatang-batang kayu bakar. Dan seperti rumor yang beredar, mereka selalu tersenyum.


“Orang-orang di sini ramah, ya…” kata Retno dengan nada ceria.

“Gue bilang juga apa…. Tenang aja, tugas kita bakal selesai cepat di sini. Gue kan nggak sembarangan survey tempat. Gue juga perhatikan kondisi masyarakatnya yang menunjang baik buat tugas kita. Hohoho” kata Rizal sembari menepuk-nepuk dada.

“Iya iyaa… loe emang keren…” celetuk Cindy yang sedari tadi sibuk mengipasi wajahnya dengan tangan.


Sesampainya di desa itu, mereka disambut hangat oleh seorang pria paruh burung baya yang awalnya heran dengan kedatangan mereka.

Tanpa basa-basi, Rizal pun mengungkapkan maksud tujuan mereka datang ke sana. Menariknya, Rizal berbicara dengan bahasa dan aksen yang sama persis dengan pria desa tersebut.


“Lihai banget loe ngomongnya” ucap Adam pada Rizal saat pembicaraan dengan pria paruh baya itu sudah selesai.

“Gue gitu loh. Gue iseng belajar aja sih, walaupun sumber tentang bahasa mereka di internet itu sedikit banget. Jadi tadi agak improvisasi juga. Ahahaha.”

“Wah… nggak salah loe jadi Humas di kelompok kita. Hhahaha” seru Adib.

“Iya dong….”


Selesai dari perjalanan menelusuri desa, mereka diajak menuju rumah seorang petinggi di sana. Kalau umumnya, ya Pak RT-lah. Bukan Pak ReTweet….

Mereka disambut dengan hangat oleh bapak pemilik rumah itu. Tujuan baik mereka untuk sekedar merampungkan nilai akhir diperkenankan oleh bapak itu dan menjadi legal. Mereka juga dipersilahkan untuk melakukan penelitian di berbagai titik desa yang menurut mereka perlu dirangkum menjadi sebuah artikel berharga.

Setelah berterima kasih, mereka diberikan pula tempat menginap berupa rumah lama milik si Bapak ReTweet tadi. Rumah bekas tinggal Pak ReTweet itu memiliki 3 buah kamar yang lumayan seram. Namun para cewek dari kelompok mereka merasa keseraman itu tidak sebanding dengan jika mereka harus satu kamar dengan para cowok. Persoalan…

Malam pertama menginap di sana, tidak banyak kegiatan yang mereka lakukan. Paling-paling, mereka hanya mempersiapkan perlengkapan besok dan mental tentunya, untuk bertemu dengan berbagai macam orang baru. Mereka berkumpul sebentar di satu kamar. Kemudian pindah ke dua kamar lain yang satu untuk cowok, dan satunya lagi untuk cewek. Kamar yang satunya, mungkin untuk waria….




Keesokan paginya mereka dibangunkan oleh suara kokok ayam yang memiliki frekuensi setingkat bom Hiroshima. Bagi para cowok : Adam, Rizal, Rendy dan Adib; tentunya dibangunkan ayam seperti itu merupakan hal yang paling menjengkelkan ketimbang bangun karena mimpi jadi jomblo selamanya.

Setelah kesadaran mereka terkumpul sepenuhnya di dunia nyata, mereka bergegas pergi dari rumah itu untuk mencari penginapan. Masalah mandi jangan ditanya. Mereka sukses wangi karena tambahan parfum. Udah… itu doang.

Mereka kebetulan menemukan warung pecel yang bertempat tidak jauh dari tempat mereka menginap. Mereka mampir sebentar untuk melepaskan rasa lapar.


“Uhuk! Uhuk!” tiba-tiba retno batuk saat sedang memakan pecel itu.

“Eh? Kamu kenapa?” tanya Nisa.

“Pecel ini misterius…” kata Retno lalu diikuti dengan suara sendok yang jatuh dari tangannya ke atas meja.


Semua terdiam. Semua bergidik. Kunyahan makan Rizal dan Rendy sempat terhenti.


“Pecel ini…” kata Retno lagi, “…nggak ada sambel kacangnya!”

Semua melihat ke arah piring masing-masing. Ternyata benar, nasi pecel itu nggak ada sambel kacangnya. Mereka tercengang.


“Maaf ya anak-anak, tadi belum selesai saya nyambelnya. Ini nih…” kata Ibu Penjual Pecel itu lalu menuangkan sedikit demi sedikit sambel kacang ke piring mereka masing-masing.


Akhirnya, satu kasus telah selesai….


Selanjutnya, mereka melanjutkan observasi menuju sebuah bangunan sakral tempat beradanya kotak emas yang sering dipertanyakan isinya itu. Kebetulan saking ketatnya, bangunan itupun dijaga oleh 7 orang pria kekar dengan kumis tipis di atas bibir masing-masing.

“Hm… kami dari Universitas Tepat Sasaran, di Kota Akil Balig. Kami kesini untuk melakukan observasi dan rangkuman penelitian tentang keadaan desa ini, Mas” kata Adam selaku ketua kelompok.

Para pria itu hanya bingung tidak mengerti. Rupanya, mereka benar-benar sepuh desa yang sama sekali tidak mengerti bahasa Indonesia yang umum. Beda dengan warga lain termasuk penjual pecel tanpa sambel kacang tadi.

“Sini, biar gue” seru rizal.

Setelah berbincang, Rizal pun memperkenalkan nama ke-7 pemuda gagah perkasa itu.


“Oke, dari pada ntar tak kenal maka tak bisa pinjem duit, gue bakal kenalin mereka satu per satu. Mulai dari ujung kiri itu, namanya Dama. Lalu itu Dicin, Diren, Sani, Zalri, Diba dan Noret. Mereka adalah kelompok kepercayaan Pak ReTweet yang diberi kebanggan berupa menjaga kotak emas.”

“Woww… namanya kayak nggak asing gitu ya…” celetuk Cindy.

“Iya juga sih. Kayak nama sekumpulan mahasiswa gitu” balas Rizal, sambil mengelus jenggot tipisnya.


Akhirnya mereka diperbolehkan untuk masuk ke dalam bangunan itu. Mereka juga memiliki kesempatan langka, untuk melihat apa sebenarnya isi kotak emas itu.

“Serem…” gumam Nisa sambil memegangi erat tangannya Retno.

Suasana saat itu sangat gelap. Sepertinya ruangan itu sudah lama tidak dikunjungi. Tak lama, salah satu dari penjaga yang bernama Zalri mengajak bicara Rizal.

“Katanya, kalo gelap nyalain aja lampunya. Tuh, pencet aja di sono” kata Rizal pada teman-temanya. Adam pun menyalakan lampu hingga akhirnya suasana menjadi bersahabat.

Ruangan itu menjadi segar dan jauh dari kata seram. Kecual para penjaganya yang masih terlihat seram.


“Gue deg-degan nih…” kata Adib, saat mereka telah tiba di sebuah altar tempat diletakkannya kotak emas itu.

“Zal, bisa loe suruh mereka buka sekarang ni kotak?” kata Adam kepada Rizal.

“Oke deh….” Lalu Rizal berbincang lagi dengan penjaga itu.


Mereka pun dipersilahkan duduk sambil menikmati soft drink yang sudah disediakan. Tidak lupa mereka diberikan popcorn gratis tapi tiketnya tetap bayar 30 ribu.


“Kayak di bioskop ya…” ucap Nisa ke teman-temanya. Yang lain hanya mengangguk tanda setuju.

Perlahan kotak itu dibuka. Dan saat kotak emas itu sudah menampakkan isinya secara keseluruhan, mereka terkagum.

Ya, isinya bukan Arya Wiguna. Tapi secarik peta masa lampau yang usianya sudah ribuan tahun. Di situ terlihat jelas batas-batas wilayah desa secara mendetail. Adam dan kawan-kawan pun kenyang karena soft drink dan popcorn….

Akhirnya kelompok itu pergi meninggalkan desa dengan rasa senang karena observasi mereka berjalan lancar. Mereka pamit pulang kepada Pak ReTweet. Kasus terselesaikan. Misteri sudah terpecahkan.


“Akhirnya selesai juga ya… untung cuma satu malam” kata Cindy yang sepertinya sudah gerah ingin mandi di rumanhnya.

“Bener…” seru Retno.


Mereka akhirnya kembali ke tempat awal mereka memarkirkan mobil. Namun tanpa disangka, mobil milik Adib telah menghilang….

**Tamat**

Loh, kok tamat???! Nggak bersambung nih?! Mobilnya Adib kan belum ketemu!

Udah kok… dia cuma lupa tempat parkirnya aja. Mobilnya udah ketemu. Malah bonus satu ikat sayur bayam di bagasi belakang.


Terus, ini seramnya dimana???!!!

Oh…. Yang serem itu wajah pria paruh baya yang menyambut kedatangan mereka di awal tadi. Loe nggak tau sih wajahnya gimana. Nah, kalau mau yang lebih serem, gue sarankan kalian untuk… bercermin….


EH?! Tapi kan….


Udah! Selamat malam jumat! Huehehehehehe!!


5 comments:

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)