Terima Kasih ya, Pak Dokter...




"Harganya memang segitu, Pak..."

"Yasudah.... tidak apa-apa...." kata seorang Bapak yang mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya.


Itulah tadi, tempat yang paling serem di Rumah Sakit : Kasir.


Bicara tentang Rumah Sakit, tentu nggak lepas dari tiga hal berikut : Dokter, Suster, dan Ambulance. Gue yakin loe semua pada kenal minimal sama Suster-nya yang seksi-seksi. Nah, pada kesempatan kali ini gue punya sedikit cerita tentang pengalaman gue sama seorang Dokter yang baik hati.

Sebelum masuk ke ceritanya, gue sebenarnya pernah punya phobia yang cukup akut terhadap Dokter. Khususnya... Dokter Gigi. Bagi gue, ngelihat Dokter Gigi itu sama kayak lihat Limbad. Serem. FYI, trauma gue ini terjadi waktu masih SD dan itu nggak enak banget.

Gue ingat dulu waktu pertama kali ke Rumah Sakit buat cabut gigi, gue sudah punya firasat yang kurang enak di lubuk hati yang paling dalam. Permasalahannya, gue sama sekali belum pernah cabut gigi!

Setelah melewati beberapa pertanyaan dari sang Dokter Gigi, akhirnya gue dipersilahkan untuk duduk di tempat buat cabut gigi. Awalnya biasa saja, nggak ada benih-benih cinta antara gue dan kursi itu. Eh, maksud gue, nggak ada rasa sakit sama sekali di mulut gue. Bahkan sampai saat sesuatu benda seperti pensil dimasukkan dalam mulut gue, semua berjalan lancar.

Namun, takdir berkata lain. Saat kata Dokter Gigi-nya "Sudah ada obat biusnya kok, sekarang biar dicabut nggak akan terasa sakit lagi", ternyata malah...

"AAAHHH!! PANJI MANUSIA MILENIUM, TOLONG AKU!!"



Iya... itulah yang pertama kali gue teriakkan ketimbang manggil nama nyokap ataupun peliharaan gue. Sakit men! Ternyata obat biusnya nggak berpengaruh sama sekali. Gigi belakang gue yang di bawah (gue juga nggak tahu namanya gigi apa), ternyata sukses tercabut hanya seperempat. Iya... seperempat.

Setelah itu, gue bentrok dan sempat hampir menjadi Hulk. Untungnya sang Dokter Gigi sudah minta maaf karena nggak tega lihat gue menangis. And then... Gigi gue sukses bertahan 3/4 bagian sampai sekarang *serius*

Nah, sejak pengalaman itu, gue jadi benci dengan yang namanya Dokter terutama di bidang gigi-gigi-an. Gue terlanjur phobia terhadap sosok orang paruh baya yang memakai jubah putih dengan alat sejenis earphone digantung di kerah bajunya. Seram.

**
Semenjak kecil, masa SMP adalah masa dimana gue lagi-lagi harus mengalami sakit yang hebat. Gue yang waktu itu suka mancing di pinggir sungai yang notabene adalah tempat lembab dan banyak pohon rindang, alhamdulillah telah sukses kena DBD. Iya... Demam Ber-Darah.

Jadi ceritanya gue sudah kena demam kurang lebih tiga hari saat kelas 3 SMP. Memang demamnya masih nggak berdarah-darah, tapi itu sukses bikin gue lumpuh dan hanya menghabiskan waktu di kamar ditemenin dengan guling Spongebob favorit gue.

Lama-kelamaan, nenek gue mulai khawatir dengan kondisi kejiwaan  badan gue yang tidak kunjung sembuh. Sampai akhirnya, sebuah musyawarah antar kepala RT pun dilaksanakan hingga menyimpulkan satu hal : Gue harus dirawat di rumah sakit. Saat itu gue sempat meronta-ronta, menjerit, bahkan sempat mau nonton konser Kangen Band. Gue khilaf. Gue cuma takut bertemu dengan yang namanya Dokter.

Setelah protes yang berat (dan tentu gue kalah), gue akhirnya dijebloskan ke Rumah Sakit Jiwa .  Gue deg-degan dengan suasana di sana yang membuat gue kembali mengingat masa lalu. Padahal, selama ini gue sudah mencoba move on. Ah... dunia memang kejam...

Awalnya, gue disuruh masuk sebuah ruangan untuk bertatap wajah langsung dengan seorang suster muda yang aduhai. Hasrat bocah gue terluapkan di sini *apaan sih* Gue lihat suster cantik itu mengeluarkan sebuah alat yang selama ini hanya gue lihat di tipi-tipi : Suntikan.

*Suster aduhai*

*Jangan tanya gue kenapa dia bisa gepeng*

"Itu... buat apa, Mbak?" tanya gue saat melihat sebuah jarum yang lumayan besar dipasangkan pada tabung suntikan itu.

"Ini buat periksa darah kamu..." kata Suster cantik itu dengan lemah gemulai tapi penuh misteri.

Gue bergidik. 'Buat periksa darah? Darah gue kan di dalam badan. Berarti, itu suntikkan mau ditusukin ke gue dong!' jerit gue dalam hati.

Oh no~

Gue pasrah... Ingin gue berontak tapi takut ntat susternya nggak suka sama gue dan ntar malah nolak gue buat jadi kekasihnya. 

NYESSS.......

Gue rasakan jarum itu masuk ke lengan kanan gue dengan indahnya. Aliran darah segar gue keluar memenuhi tabung suntikan dengan gemulai. Nikmat... dan 3 detik kemudian gue sukses pingsan di tempat.

**


Gue bangun dengan keadaan yang alhamdulillah masih pakai baju dan celana. Ruangan sejuk, wangi steril dan kasur empuk adalah yang pertama kali gue rasakan. Gue lihat di sebelah kiri gue sudah ada tiang yang menggantung sebuah tabung kecil berisikan air. Di tabung itu terdapat sebuah selang kecil yang terhubung langsung dengan tangan gue. Gue mau nangis.

Gue kembali mencari fokus ke arah seseorang yang gue rasa asing banget.

"AH!" Gue seketika menutup mulut begitu meihat dengan jelas sosok seseorang yang mirip anak gaul berjubah putih dengan earphone-nya. Iya... Dokter.

"Eh, kamu sudah bangun..." katanya dengan ramah. Kumisnya yang seramai daun pohon sirsak membuat gue makin merasa takut.

"Ini obat kamu" lanjut Dokter itu lagi, sambil menunjukkan beberapa kemasan obat. "Harus diminum teratur sampai sembuh ya. Kamu memang positif kena Demam Ber-darah, tapi jangan khawatir. Untungnya kamu cepat dibawa ke sini sebelum makin parah."

Gue cuma menggangguk-angguk tanda 'nurut-aja-dah-daripada-dibanting-sama-Dokternya'. Gue memalingkan wajah karena gue masih takut sama yang namanya Dokter.

Namun, disinilah keterbukaan gue atas sosok Dokter mulai terjadi. Dokter Sofyan (sebut saja begitu) yang merawat gue ini ternyata orang yang sangat baik. Dia nggak se-seram Dokter-Dokter lain walaupun gue yakin kalau hanya dia yang punya Kumis Pohon Sirsak seperti itu. Dia berbeda dari yang lainnya... *Ini kenapa jadi kayak ngomongin gebetan...*

Sehari-hari selama dirawat, Dokter Sofyan selalu menemani gue tiap selesai memeriksa. Kadang kalau beliau lagi  banyak kerjaan hingga pulang malam, beliau selalu menyempatkan mampir ke kamar gue sekedar menemani gue bercerita hingga gue merasa ngantuk. Gue benar-benar merasakan gimana rasanya dijagain saat sedang dirawat di Rumah Sakit.

Oh iya, FYI, gue saat itu sudah nggak punya orangtua sama sekali. Om atau Tante gue yang notabene adalah orang-orang sibuk, hanya beberapa kali menjenguk. Nenek gue cuma sempat sekali, dan teman-teman sekelas juga sekali (tapi langsung ramai kayak ada konser Slank). Jadi jarang banget ada yang nemenin gue selama rawat inap. Dan Dokter Sofyan, adalah sosok yang hadir untuk menghilangkan semua kesepian gue.

Sekarang Dokter Sofyan sudah pensiun dan yang gue dengar, anak beliau yang cewek sudah ada menjadi perawat di Rumah Sakit yang sama. Cerita gue memang rada aneh, tapi ini kenyataan. Ruang VIP 2 RSUD Panglima Sebaya, Kab. Paser Kalimantan Timur adalah saksi bisu kemesraan gue dan Dokter Sofyan.


Banyak yang bilang kalau Guru adalah orangtua kedua kita di sekolah. Nah, gue cuma mau sedikit menambahkan, kalau kita juga punya orangtua ketiga di Rumah Sakit, yang tentunya ahli di bidang kesehatan : Dokter.

"Terima kasih Dokter Sofyan. Saya tidak akan pernah melupakan jasa-jasa Anda yang selalu menengok saya di pagi hari sambil membawakan beberapa camilan sehat yang Anda berikan secara sukarela. Anda juga mau menemani saya di malam hari hingga saya mengantuk walaupun Anda tidak ikut menemani saya hingga pagi. Ingin saya mencantumkan foto anda di sini, tapi apa daya, saya sedang berada di perantauan (jadi nggak sempat buat memfoto Anda). Suatu saat pasti saya akan mampir lagi ke rumah Anda, apalagi pas lebaran sudah tiba nanti" - Aziz Ramlie Adam, Pria Cakep Biasa.



*Tulisan ini diikutsertakan dalam Omfikri.com Give Away*

4 comments:

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)