Berjalan dari Dalam Hati

2013/07/18

Arti Sebuah Masa Kecil



Kembali lagi di hari yang indah, dimana penjual kembang api di depan gang kost-an gue, masih eksis dengan bahan baru berupa LPG. Katanya, kalau nyalain LPG di malam lebaran, meriahnya bisa ngalahin ledakan LP Tanjung Gusta.

Hari ini juga, sesuai #TematicBlogJB minggu ini : Masa Kecil, gue akan cerita sedikit tentang masa kecil gue dan apa arti dari masa kecil itu sendiri buat gue. Sebenarnya sudah lama gue ingin berbagi pengalaman ini kepada kalian. Hanya waktunya saja belum tepat. Seperti iklan Keluarga Berencana terbaru yang memakai lagu ‘Pernikahan Dini’, dengan tagline Hindari 4T. Terlalu muda, terlalu tua, terlalu rapat dan terlalu banyak.

Hubungannya sama postingan ini? Ya nggak ada sih…. *dilempar baskom*


Story is begin…


                Hampir 20 tahun silam, hiduplah sepasang suami-istri yang bisa dibilang pasangan sempurna karena sang suami itu ganteng banget dan sang istri cantiknya bukan main. Kebahagiaan itu bertambah meriah karena sang istri telah hamil. Sekali lagi, sang istri yang hamil. Bukan suaminya.

                Menjelang kelahiran sang bayi, entah kenapa malah terjadi konflik internal yang bersifat menegangkan. Konflik semakin besar sehingga memaksa sepasang suami-istri itu untuk pisah ranjang, pisah kamar dan pisah rumah. Pisah. Untung saja waktu itu infotainmet belum se-greget sekarang jadi berita itu tidak sampai ke telinga Presiden.

                Suatu hari, di sebuah kasur penjajahan, sang istri yang notabene akan menjadi single parent, tiba-tiba merasakan bayi di dalam rahimnya mulai menendang-nendang. Saking kerennya tendangan si bayi, gol pun tidak dapat dihindari. 7-0 untuk Arsenal. Tetap semangat ya, Timnas kebanggaan Indonesia :)

                Hari itu, hujan deras dimana-mana. Petir menyambar bergantian di setiap Kecamatan. Waria-waria mulai banyak yang buka usaha salon. Ya, itulah ekspresi dunia menjelang kelahiran sang bayi tersebut. Menggelegar. Membahana.

                “Oeeeek….”

                Bayi pun berhasil dilahirkan dengan selamat berkat bantuan seorang bidan bernama Sri Mulyani. Bayi itu memilih untuk menangis, karena kalau langsung pidato, takutnya malah dimasukin lagi ke dalam Rahim ibunya.
               

                Bayi itu… Gue.

                Lahir sebagai putra pertama (dan satu-satunya) seorang Ibu yang single parent, nggak pernah sedikitpun bikin gue minder sama teman-teman. Memang, kadang gue iri dengan anak-anak sebaya gue yang selalu minta naik odong-odong atau pengin mandi bola dengan kata-kata, “Papa. Aku mau itu!”. Tapi gue tetap bangga karena hari kelahiran gue disambut banyak bencana. Maksud gue, karena punya sosok Ibu yang hebatnya tidak tertandingi.

                Karena nyokap sendiri adalah satu-satunya yang merawat dan mendidik gue, beliau juga jadi suka ngajak gue pindah-pindah tempat tinggal. Gue senang aja karena saat itu gue sudah sadar kalau gue ini hobi banget jalan-jalan sambil ngecengin mbak-mbak SPG mobil pick-up.

                Sebagai anak tunggal, gue pastinya selalu dapat perhatian ekstra dari nyokap. Contohnya, waktu gue masih sering pipis di celana. Beliau nggak pernah mencuci bekas pipis gue itu karena katanya sudah tidak higienis. Jadi, setiap gue habis pipis di celana, itu celana dalam langsung dibuang begitu saja. Super! Bayangin aja kalau celana-celana itu dikumpulkan di suatu tempat dari gue lahir sampai umur 5 tahun. Gue yakin, itu sudah cukup banget untuk bahan baju dingin orang-orang eskimo selama 6 bulan.

                Gue juga jarang banget dibolehin main di luar rumah, terutama saat matahari sedang terik menyinari dunia ini. Takut kulitnya gosong, kata nyokap. Beliau juga selektif terhadap makanan. Gue jarang dibolehin jajan karena nyokap selalu sediain makan dan bekal untuk di sekolah TK. Saking posesifnya nyokap, gue pernah dimarahin habis-habisan waktu minum pakai gelas bekas sepupu gue minum. Katanya nggak higienis. Super!

                Setelah semua perlakuan nyokap di atas, bagaimana kah wujud gue kala itu? Ini!

*Dua tahun*

*Tiga tahun*

*Empat tahun*


                Cakep banget kan? Lebih cute dari Bastian Coboy Junior. Yah… setidaknya kegantengan itu bertahan hingga sesuatu yang mengerikan datang menghampiri hidup gue. Apakah itu? Sabar. Belum juga sampai ke cerita intinya.

                Kota terakhir yang jadi persinggahan untuk petualangan gue dan nyokap, adalah Kota Bontang. Salah satu kota minyak dan gas yang menurut gue saingan sama Kota Balikpapan di bidang perminyakan. Tempatnya masih di Kalimantan Timur. Terletak di bagian paling timur juga.

                Di sana gue tinggal bertiga dengan salah satu adik nyokap yang waktu itu masih bujangan dan kerja serabutan di salah satu perusahaan tambang minyak. Karena om gue itu juga jarang pulang, kayak Bang Toyib, gue dan nyokap sering hanya berdua di rumah itu.

                Hari itu, hari yang cerah seperti saat gue nulis postingan ini. Waktu itu gue adalah bocah kelas 2 SD dengan kegantengan yang luar binasa. Gue lagi asik ngemil beberapa peluru senjata api laras panjang sambil nonton TV. Tiba-tiba…

                “Oy! Oy! Oy! Oy!”

                Terjadi suara ribut-ribut dari halaman depan. Sekilas memang mirip teriakan wota-wota sembelit yang lagi lihat JKT48 joget pakai kebaya. Tapi gue berasumsi lain, karena keributan di luar saat itu, memiliki intonasi yang menyedihkan. Gue keluar.
               

                Saat itu petir menyambar entah di Negara mana. Gue pun berlari mendatangi kerumunan orang yang lagi ramai menggotong seseorang yang ternyata sedang pingsan. Dan seseorang itu adalah… nyokap gue.
               
**

                Hari demi hari pun berganti. Semenjak kejadian nyokap pingsan di halaman depan pas lagi jemur pakaian, beliau jadi sering sakit-sakitan. Dan beberapa minggu kemudian, gue dan nyokap memutuskan untuk kembali ke kampong halaman kami di Tana Paser, sebuah Kecamatan kecil di ujung selatan Kalimantan Timur. Nyokap bilang, beliau kangen sama ibunya. Nenek gue.

                Memasuki caturwulan ke tiga, kelas 2 SD, gue pindah sekolah di kampung halaman gue itu. Interaksi antara gue dan nyokap perlahan direnggut oleh waktu berobat beliau. Yah, beliau jadi sering berobat sana-sini untuk melawan penyakitnya. Gue kadang ikut, kadang juga nggak. Resiko anak sekolahan….

                Tidak terasa 3 tahun berlalu. Gue sudah menjadi bocah kelas 5 SD yang baru saja sunat, walaupun menurut gue sunat itu agak melanggar hak asasi karena sebagian diri kita dengan beringasnya dihilangkan! Amazing…. Saat itu juga, nyokap juga sudah sering istirahat di rumah daripada pergi-pergi lagi.

                Suatu pagi, gue kesiangan bangun. Maklum, masih jomblo jadinya gak ada yang bangunin. Gue buru-buru mandi dan seketika berganti seragam sekolah. Saking buru-burunya, waktu itu gue sukses pakai dasi di pinggang.

                Sebelum pergi, ada suara nyokap dengan sedikit berteriak, terdengar dari kamarnya. Gue dengan wajah masam pun terpaksa mendatangi. Ternyata, beliau minta diambilkan segelas air putih. Bodohnya, saat itu gue malah sempat membentah nyokap dengan nada yang lumayan tinggi. Iya… gue kan waktu itu masih seorang labil kecil yang emosian.

                “Udah. Aziz mau ke sekolah. Telat, nih!” seru gue setelah meletakkan segelas air putih di meja dekat tempat tidur nyokap. Gue pergi nyelonong gitu aja kayak mahasiswa yang makan gorengan tapi malas bayar. Saat itu, nggak sedikitpun gue kepikiran akan terjadi sesuatu yang akan merubah hidup gue secara drastis.
**

                Siang harinya, di kelas, masih di hari yang sama. Suasana kelas hening. Wali kelas gue yang sudah punya anak dua, sedang mengajar seperti biasanya. Tiba-tiba, “Tok. Tok. Tok”, terdengar suara ketukan pintu dari luar kelas. Untung yang diketuk itu pintu, bukan meja persidangan yang memutuskan untuk melepaskan Gayus Tabungan dalam 2 bulan.

                Wali kelas beranak dua pun bergegas ke luar kelas. Beliau merapatkan pintu sebentar dari arah luar. Suasana kelas pun jadi berbanding terbalik dengan sebelumnya. Para cewek sibuk bicarain bepe-bepe-an dan para cowok asik tukar-tukaran kertas binder. Asli, ramainya sudah kayak di percetakan.

                “Kreeek”. Pintu tua kelas kami pun terbuka. Suasana kembali hening. Wali kelas beranak dua pun msuk dengan wajah masam. Mirip Dora keselek persneling Satria F.

                “Aziz…” kata Wali kelas beranak dua ke arah gue. “Beresin barang-barang kamu, dan silahkan pulang duluan….”

                “Saya, Bu?”

                “Bukan, tapi Eva Arnaz. Ya kamu lah…”
               
                Gue pun segera memasukkan peralatan bengkel gue ke dalam tas. Jangan tanya kenapa, soalnya waktu itu gue adalah siswa yang merangkap sebagai tukang reparasi sepeda. Setelah pamit, gue pun keluar dari kelas.

                Ternyata, yang mengetuk pintu tadi adalah om gue yang pernah tinggal serumah di Bontang. Dengan rambut klimis-nya, om gut itu belum berani bicara apa-apa sampai tiba di parkiran lalu menuju jalan pulang.

                Gue masih bertanya-tanya dalam hati. Ekspresi gue saat itu sudah mirip Katy Perry yang lagi ngemut gagang pintu. Om gue pun mulai berkata sesuatu, seolah mengerti isi hati gue.

                “Em… Ziz. Mama kamu….”

                “Iya? Mama kenapa, Om?”

                “Mama kamu….”
               
                Gue ingatin, ini bukan sekuel gombalan ‘Papa kamu’. Ini dramatis.
               

                “Mama kamu… meninggal, Ziz”


                Kosong. Gue nggak sanggup berkata apa-apa lagi. Mata gue memerah. Saat itu, di sebuah mobil kijang jadul yang sedang menuju rumah duka di Jalan R.A.Kartini no.34, seorang anak menangis sejadi-jadinya….

**

                Sekarang gue sering berpikir, ‘Apa saja yang sudah gue lakukan buat almarhumah nyokap?’. Selain gue pernah menang lomba menggambar dengan tema Anti Narkoba waktu kelas 2 SD di Bontang, gue rasa nggak ada hal berarti yang pernah gue kasih untuk beliau. Bahkan, di saat-saat terakhirnya masih bisa melihat gue, gue malah dengan songongnya memberikan segelas air putih secara terpaksa. Gue menyesal, kenapa pagi itu nggak cium tangan beliau dulu sambil ngucapin salam sebelum pergi. Yang terjadi, malah sebuah kecupan di kening, untuk terakhir kalinya….

                Tapi memang Yang Maha Kuasa memberi jalan lain untuk nyokap. Sedikit di hati gue, gue bersyukur almarhumah nyokap dipanggil untuk menghadap-Nya. Karena jujur, gue sangat tidak tega melihat keadaan almarhumah yang selalu berjuang melawan penyakitnya.


“Semoga Mama tenang dan bahagia di sana”


                So, pesan gue, lakukanlah sesuatu yang membuat orangtua kalian, minimal punya rasa bangga yang besar terhadap kalian. Sejatinya, memang tidak mungkin ada orangtua yang tidak bangga terhadap anaknya. Tapi, bukankah akan lebih indah jika dari pihak kita sendiri yang menciptakan kebanggaan itu?

                Ah… gue jadi nostalgia masa-masa kecil gue. Gue jadi teringat lagi sama tumpukan celana dalam untuk bahan baju dingin orang-orang eskimo itu. Sudahlah… hidup gue (semoga) masih panjang. Gue masih harus melangkah ke masa depan. Tanpa masa lalu, tidak akan ada masa kini, begitupun seterusnya. Last, jika ada yang bertanya, “Apa arti masa kecil buat kamu?”, jawabannya sudah tentu, “Mama”.



19 Juli 2013,

Aziz Ramlie Adam



17 comments:

  1. nice story :))

    mama mu luar biasa Ziz, perhatiannya sama mu luar biasa, sampe ke masalah celana dalam pun harus berubah setiap saat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hohoho... Beliau adalah wanita paling hebat bagi saya. Dan yang perlu kamu tau, masalah celana dalam itu bukanlah fiksi =,=

      Delete
  2. sedih gue bacanya, ziz.

    nice story juga :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tumbenan ya, gue bikin nica story... hahaha. Semoga bermanfaat aja deh :D

      Delete
  3. jangan2 ngepost ini sambil nangis ya ??
    tapi secara overall, nice story :))

    btw ...
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    FANFICT FOR STELLA kapan lanjutnya jiz ??? hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe... makasih.
      Soal fanfict, itu bak-- *jaringan hilang*

      Delete
  4. hei. hei. ngomong-ngomong gue tinggal di bontang loh~

    Wah, cerita yang mengharukan. Dapet banget hikmahnya, ngena di hati.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaak... gue bakal ke sana lagi dalam waktu dekat ini. Hohoho.

      Thanks :)

      Delete
  5. begitulah hidup, kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi walaupun satu detik dari sekarang. Kisah hidupmu semakin membukakan mata hati ku akan selalu merindukan kedua orangtua ku. Maklum, anak perantauan ...

    Salam kenal yoo.. mengharukan dan semoga bisa menginspirasi banyak orang termasuk saya.

    @im_hp3
    husinpeng.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga anak perantauan, Mas. Yah... walaupun dalam kasus saya, sudah gak mungkin bertemu biarpun tanpa jadi perantau. Hehehe...

      Amin, amin... :)

      Delete
  6. Andai aku punya orang tua. Sayangnya gue ngak pernah liat orang tua gue ( dari bayi udah tinggal di panti dan ngak pernah ada yang adopsi. Oh tuhan, apakah itu karena kau memberiku wajah yang jelek. Tuhan pun berkata, "Ya iyalah, orang tua asuh itu maunya anak yang tampan dan berprestasi, coba lihat diri kamu, udah jelek, bodo, hidup lagi!" ).

    ReplyDelete
  7. :D
    Salam kenal Kak ^_^
    Saya Maudyna siswi kelas 11 dari Kediri
    kak maaf boleh sharing-sharing tentang Prodi HI? :)

    ReplyDelete

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)