Ini Ximin

Tuesday, July 09, 2013

'For Stella' Part 37 ; Balada Siswa Baru



‘For Stella’ adalah cerita fiksi bersambung dengan genre “komedi-romantis”. Penulis, Aziz Ramlie Adam, adalah seorang fans salah satu member JKT48 yang bernama Stella Cornelia. Berkat integritasnya dalam mengidolakan idol group yang satu ini, maka melahirkan inspirasi tersendiri untuk menghasilkan Fanfict for Idol ini.

Berikut adalah episode terbaru (part 37), happy reading, guys!




Balada Siswa Baru


"Ziz!"

"Ha?" Gue melihat ke arah sesosok makhluk astral yang membuyarkan lamunan gue. Abeck.

"Pegangin dong! Gue gugup nih" kata dia sambil memberikan beberapa berkas berupa data diri, ijazah SMP, dan lain sebagainya.

Iya... ini adalah cerita gue sewaktu awal mendaftarkan diri di SMA. Sudah hari kedua semenjak kemarin kita disuruh kumpul bareng dan dibagi waktu tes/interview untuk masing-masing murid baru. Hari ini ada tes interview dengan Bahasa Inggris. Untuk anak yang bahasa Indonesia-nya aja masih kecampur sama bahasa planet lain, ini jelas susah buat gue dan Abeck.

"Gue bingung ntar mau ngomong apaan kalo ditanya-tanya" keluh Abeck.

"Apalagi gue. Selama ini Bahasa Inggris yang gue tahu cuma 'Yes' 'No' aja. Agak nyesal juga kenapa pas SMP kemarin kita sering bolos pas pelajaran Bahasa Inggris".

Kami berdua menghela nafas. Kelihatan sekali dari raut wajah kami, seperti dua orang bodoh yang belum dapat imunisasi dari lahir. 

Untuk jadwal hari ini, yang gue kenal cuma Abeck, teman gue dari SMP. Yang lain pada kena jadwal besok dan lusa. Gue sempat berpikir kalau masuk SMA seharusnya tidak sesulit ingin mencalonkan diri jadi CapPres gini. Tapi apa daya, ini adalah sekolah favorit yang memang ketat dalam penyeleksian. Gue sempat libur boker beberapa hari saking tegangnya menunggu hari tes.

"Untuk calon siswa baru, Agung Bhekti Setiawan, silahkan memasuki ruang tes." Tersengar suara dari speaker ukuran pantat dinosaurus yang ada di dekat tempat duduk gue dan Abeck.

Abeck mulai sembelit. "Doain gue...."

"Yoi."

Akhirnya Abeck masuk sambil sibuk membenarkan celananya yang melorot. Gue menghela nafas karena giliran gue sepertinya masih lama. Memang ya, kegugupan itu sebenarnya datang di saat-saat terakhir sebelum kita memulai sesuatu. Semakin lama saat-saat terakhir itu, semakin gugup hati kita. Gue hanya berharap ini bisa berlalu lebih cepat.

"Eh, eh. Di sini ruangan yang buat nungguin tes speaking ya?"

Gue menoleh ke arah suara itu. Cewek.

"Ya. Loe mau tes juga?" tanya gue sembari memperhatikan penampilan cewek itu yang kelihatannya juga sangat gugup.

"Iya nih... gue... agak deg-degan aja." Lalu cewek itu duduk di sebelah gue. "Sendirian?"

"Oh... nggak. Gue bareng temen. Dia lagi tes di dalam. Semoga aja nggak kecipirit tuh anak. Hahahaha"

"Hiiiuhh... Hahhahaha."

Akhirnya gue dan cewek itu ngobrol banyak hal sambil nungguin Abeck keluar. Gue jadi tahu namanya adalah Sendy Ariani. Dia datang dari luar kota karena bokapnya pindah tugas kerja. Jadi, bisa dipastikan dia belum punya banyak teman di kota ini.




"AAAAAAAAA............."

Abeck keluar dengan kepala yang berasap. Gue perhatikan dia sambil berdoa dalam hati, 'semoga dia bukan habis ngebunuh guru'.

"Loe baik aja? Gimana? Serem nggak?" tanya gue.

"Haduh... gila! Loe tahu nggak? Gurunya..." Dia berhenti sebentar, karena kebetulan melihat ke arah Sendy. "Cantik banget...."

"Gurunya cantik? Betah dong loe! Hahhahaha"

"Bukan kampret!"

Abeck mearik tangan gue untuk berdiri. Dia lirik-lirik Sendy lalu berbisik ke gue, "Bro, ini makhluk cantik darimana? Loe duduk-duduk aja bisa ngegaet cewek cakep ye. Apalagi loe pake v-neck".

"Kampret...."

Gue pun memperkenalkan Sendy ke Abeck. Mereka mulai berbicara banyak hal. Gue nggak terlalu perduli.

"Untuk calon siswa baru, Abdul Aziz Ramlie Adam. Silahkan memasuki ruang tes."

Gue memukul jidat sebentar. "Doain!"

"Yoi!" Abeck mengacungkan jempol tapi matanya tetap ke Sendy.

**

Gue keluar dari ruangan tes. Kepala gue lebih panas dari biasanya. Hapalan berapa kata kerja yang gue tau, wawancara tentang sehari-hari dalam Bahasa Inggris, sempat membuat gue mual.

"Gimana? Pengawasnya nggak loe sogok kan?" Abeck bertanya dengan sungguh-sungguh tapi bikin kesel.

"Matamu!"

Gue sakit perut untuk beberapa saat. Gue lihat Sendy malah lebih gugup dari pertama gue ketemu tadi. Dan semua berakhir ketika Sendy dipanggil untuk memasuki ruang tes. Tersisa gue dan Abeck lagi.

"Oh Tuhan... terima kasih untuk hari ini." Abeck berseru dengan senyum yang mengerikan.

"Kenapa loe? Bukannya tadi gugup sampe kayak bebek hamil..."

"Gue dapetin nomer hape tu cewek! Hahahaha"

Gue hanya bisa mengerutkan dahi. Apa yang bisa gue lakukan kalau Abeck sudah mulai beraksi? Padahal gue duluan kenal sama Sendy, tapi Abeck sudah meninggalkan gue satu langkah. Itulah gue. Cupu....

**

Tiga hari berlalu semenjak tes Bahasa Inggris yang membunuh itu. Gue lihat hasil dari tes di internet dan syukur banget karena DITERIMA jadi siswa di sekolah favorit itu. Gue menghela nafas. Setelah jauh hari sebelumnya tes tertulis dengan brutal, lalu disusul tes wawancara bahasa Inggris dengan jahanam, akhirnya gue berhasil jadi siswa di sana.

Handphone gue berbunyi. Iya... bukan dari pacar kok.

"Kenapa?" tanya gue ke Abeck yang menelepon.

"Gue diterima!"

"Gue juga... sama-sama lagi deh. Hahahaha"

"Tapi..." kata Abeck lagi, lalu menghentikan bicaranya. 

"Em?"

"Sendy nggak masuk Ziz"

"Oh.... cewek yang waktu itu...."

Ternyata komunikasi Abeck dan Sendy berlajan semulus pantat bayi. Gue senang karena teman gue yang satu ini sebenarnya baru saja bisa move on dari mantannya di SMP. Tapi yah, kasian juga saat sudah mulus begini, malah jadi rumit lagi karena Sendy nggak masuk ke sekolah yang sama.

Abeck juga bilang, kalau Sendy nggak jadi memilih sekolah manapun di kota ini. Dia pengin balik ke tempat asalnya, dimana semua temannya memang ada di sana. Persoalan....

"Yaudah... ke basecamp ya ntar." Abeck menutup telepon. Kesimpulan akhir, sepertinya gue harus menemani Abeck untuk ketemuan sama Sendy.

Sore yang indah. Gue agak iri dengan teman-teman gue yang sudah gue paksa buat nyari cewek. Sedangkan gue sendiri, sepertinya belum punya niat....


Gue akhirnya meminta jemput Adit yang sepertinya juga sukses masuk SMA yang sama kayak gue. Ya... sulit terpisah memang, karena sejak SD gue selalu ketemu dia. Satu kelas malah.

"Nggak apa nih, kita ikutan?" tanya Adit sambil menyetir. Kenapa 'kita'? Ya... di sebelahnya ada Melody yang sepertinya selalu nempel dimana-mana sama Adit.

"Nggak apa.... Toh kalian bisa milih meja lain" jawab gue sambil sibuk main game di hape.

"Abeck kalau diinget, udah hampir setahunan juga ya ngejomblo. Ahhahaha" seru Melody sambil sibuk ngemil.

"Iya... beda banget sama gue yang baru 15... tahun." Gue mulai tiduran di jok belakang.

"Hahahaha.... Loe itu cuma malas nyari doang" seru Adit.

"Loe juga kalau anak-anak gak ngejekin kalian dulu di SMP, nggak bakalan jadi." Gue mulai mengantuk.

Tawa menggema di dalam mobil Adit saat itu. Kita pun nggak sadar, sudah mendekati basecamp, tempat dimana Abeck pengin ketemuan sama Sendy.

Kami masuk dengan ganteng. Adit dan Melo memilih meja yang agak jauh dan tidak lama kemudian, mereka asik sendiri. Sedangkan gue, berjalan menuju sesosok makhluk yang sudah sangat tidak asing. Abeck. Dia lagi sendirian ditemani laptonya.

"Belum datang dia?" tanya gue.

Abeck cuma geleng-geleng kepala. Perlahan, dia mulai cerita tentang beberapa hari terakhir masa PDKT-nya. Dia bilang Sendy itu orang yang asik dan welcome banget. Dia juga bilang kalau Sendy itu beda dari yang lain. Saking semangatnya dia, Sendy habis pulsa aja dia beliin.

"Terus, cerita dia nggak masuk itu gimana?" tanya gue.

"Sebenernya lulus sih, tesnya. Loe tahu kan kita yang otaknya setipis silet aja bisa masuk. Masa dia yang kelihatan pinter nggak masuk..."

"Lah, terus?"

"Kan udah gue bilang... dia kangen sama semua temannya di kota asalnya. Dia takut sulit bergaul lagi kalau di sini. Dia memang agak pemalu kalau bergaul."

"Berarti semakin terbukti nih, kalo loe bukan manusia."

"Kenapa?"

"Habisnya dia enteng banget tuh, bergaul sama loe. Pake mau aja lagi, diajak ketemuan. Hahahaha"

"Kampret..."

Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Sendy. Dia datang sambil melemparkan senyum ke arah Abeck dan gue. Untuk kali ini gue akui kalau dia berhasil memberikan kesan cantik berkat penampilannya.

Sendy mengambil tempat duduk. Pembukaan dimulai dari Abeck dengan beberapa obrolan ringan. Basa-basi seperti 'kamu sama siapa ke sini?' atau 'Udah makan belum?' menjadi pokok pembicaraan di awal. Gue perhatikan sebenarnya Sendy dan Abeck bisa dibilang sudah sangat akrab untuk ukuran remaja yang baru saling kenal selama tiga hari.

Ternyata pembicaraan menjadi agak tidak nyaman setelah kami menyinggung tempat asal Sendy. Beberapa hal yang ingin gue dan Abeck tahu, seperti tentang teman-teman Sendy, kayaknya mulai malas banget untuk Sendy bahas.

Perlahan tapi pasti, banyak cerita lama yang keluar dari mulut Sendy juga. Tentang keluarganya sampai ke teman-teman sekolahnya. Namun saat suasana mulai mencair...

"Hey... rupanya di sini!"

Terdengar sebuah sapaan yang gema suaranya cukup berat. Seorang cowok yang menurut gue pasti umurnya termasuk tua di SMA, datang menghampiri kami bertiga.

Cowok itu mengambil tempat duduk juga. Gue dan Abeck sempat saling pandang untuk beberapa saat.

"Siapa ya?" tanya Abeck.

"Oh... sorry, gue lupa kenalin. Ini Kak Wina.... Pacar aku." Sendy bicara sambil tertunduk.

"Pa... pacar?!" seru Abeck.

"Pa... pantat?!" seru gue. Kebetulan saat itu gue sedang nonton video liputan hewan-hewan di laptonya Abeck.


***
Bersambung


34 comments:

  1. katanya dulu minggu ?? eeh molor sampe' slasa :D

    ReplyDelete
  2. ceritanya ringan tapi bagus banget ^^
    ga ada niat buat dibikin novel terus di terbitin, kak? *sekedar saran sih*
    salam kenal :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal balik :)
      Niat pernah ada, tapi seperti yg kamu lihat, siapalah saya ini? :D

      Delete
  3. Banyak yg saranin jadi novel itu zis, jadikanlah. Kalo novel insyaallah untuk kata "terealisasi" bisa. Kalo sudah tembus baru dijadikan short film :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. jangankan short film, sinetron pun bisa kali, haha

      Delete
    2. Tunggu episodenya udah sebanyak sinetron Bidadari atau Para Pencari Tuhan! Hahhahaha...

      Delete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  5. iya kak, ayodong di coba dulu :D *ngotot* hehehe
    kalo mau dicoba dulu self publishing di nulisbuku.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah... tunggu mikirin ending ceritanya dulu kali ya. Ahhaha... Liat aja entar :D

      Delete
  6. Addict sama stella ya?

    sama kaya gue adduct sama jeje :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Addict? Nggak juga ah... Stella itu sumber inspirasi aja buat gue :)

      Delete
  7. Bagus, simple dan ringan ceritanya. Jadi mudah dipahami, dan penggunaan katanya juga menarik^^
    keep writing bro ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf jika kata-kata dan tata penulisannya amburadul. Ahhahaha....
      Thanks bro :)

      Delete
  8. gue masih penasaran yang namanya si budi itu beneran ada atau hanya imaginasi belaka-__- btw gara gara baca ginian dari part satu, gue jadi gak tidur dari kemaren wkwkwk lanjutin ye ampe tamat :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Buahaha... Nggak nyangka tulisan gue bisa bikin orang insomnia =.=

      Budi? Hm... Itu orangnya ada, dan deket banget sama gue! Hahaha... Ini twitter-nya kalo mau modusin --> @Budistiawn :D

      Delete
  9. next part kapan nih gan? fanfiction nya keren :)
    salam kenal saya readers baru disini :x

    ReplyDelete
  10. Jadiin Novel & Pilem layar lebar kalo bisa Gan , ane dukung 100% hehe :D

    ReplyDelete
  11. Rilis lagi dong next partnya udah penasaran banget ahaha , ntar sekali rilis 5 part gitu kek jadi cepat *Nyiksa

    ReplyDelete
  12. Maaf-maaf nih ye, buat yang nunggu kelanjutannya. Banyak urusan yang menguras peluh dan bulu ketiak akhir-akhir ini. Tungguin aje ye :3

    ReplyDelete

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)